Pages

Jumat, 21 Januari 2011

my first drama.. :)

Hm, ini proyek asal banget.. baru coba-coba dan tanpa ilmu, maaf kalau salah.

Yeay, naskah drama! Pertamanya ku kira mesti buat skenario, sumpah ribet amat.. tapi karena katanya kayak buat pementasan gitu berarti naskah drama dong.. yah sudahlah apapun itu, hanya ini yang bisa aku tulis. So, check this out.

Putus Sekolah? (drama 20 menit)

Sinopsis

Di sebuah pinggiran kota hiduplah sebuah keluarga dengan seorang anak laki-laki yang baru saja putus sekolah karena kekurangan biaya. Dika memutuskan untuk berhenti sekolah agar bisa membantu orang tuanya, namun.. cita-citanya untuk menjadi insinyur tidak mati begitu saja, hanya saja mungkin dia perlu menundanya. Sahabat-sahabat dika datang untuk kembali mengingatkan dika bahwa apapun masalahnya pasti akan ada jalan keluarnya dan mereka ingin dika tidak menyerah pada keadaan hingga akhirnya jalan keluar itu terlihat dengan sangat jelas.

Tokoh

Andika : siswa SMA kelas X yang terpaksa putus sekolah, anak tertua dari lima bersaudara, pintar, bersemangat, tidak mudah putus asa, baik hati, penyayang dan bertanggung jawab.

Didit : sahabat Dika, teman sebangku dika dari SD hingga ketika dika memutuskan putus sekolah, perhatian, setia kawan.

Afifah : sahabat Dika sekaligus tetangga dika, perhatian, lemah lembut.

Evan : adik dika, baru SMP, pintar, pendiam, perhatian.

Orang tua dika : ayah yang tegas, sedikit berbicara dan ibu yang pasrah.

Adengan 1 (Durasi 5 menit) lokasi : rumah dika

Narator : Suatu malam, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Suasana rumah berubah menjadi tegang seketika, ibu yang sedang menidurkan putri bungsunya menatap tak percaya kepada putra tertuanya. Ayah yang baru saja pulang dari tempat bekerja sampai-sampai harus berdiri terpaku di pinggir pintu ketika putra tertuanya dengan sangat jelas memutuskan hal yang sangat berat.

Andika : (sambil menatap ibu dengan mantap) “Dika akan berhenti sekolah saja Bu.”

Ibu : (menatap andika dengan tatapan terkejut)

Ayah : (berdiri terpaku di pinggir pintu dengan wajah letih dan lusuh)

Andika : “Dika sudah putuskan, lebih baik dika berhenti sekolah saja dan bekerja membantu ayah dan ibu. Jadi, ibu dan ayah cukup mempersiapkan biaya untuk Evan melanjutkan ke SMP saja. Evan itu pintar bu, jadi sangat sayang kalau dia yang harus putus sekolah.”

Ibu : (menangis sambil merutuki dirinya sendiri, menatap evan yang sudah tidur bersama adik-adiknya yang lain)

Ayah : (masuk, menepuk bahu Dika dan berdehem) “kalau kamu kira itu yang terbaik maka lakukan, tapi jangan pernah kamu menyerah begitu saja pada keadaan. Ayah hanya minta kamu memikirkan keputusan kamu kembali. Dan.. soal biaya, maafkan ayah. Tapi, ingatlah bahwa Rezeki itu dari Allah. (tersenyum ke arah dika, masuk ke kamar)

Andika : (menunduk, dan akhirnya mengangguk mantap)

Evan : (posisi tidur menyamping, air matanya mengalir)

Adegan 2 ( durasi 5 menit) lokasi : ruang kelas

Narator : kelas X.1 geger, berita tentang Andika yang akan berhenti sekolah mulai tersebar. Seorang anak biasa-biasa saja yang berhasil masuk Sekolah Unggulan karena prestasinya itu tiba-tiba memutuskan akan berhenti sekolah! Ini benar-benar berita! Bagaimana mungkin dia membuang kesempatan emas untuk maju?

Ruang kelas masih sepi, hanya ada beberapa anak-anak yang baru tiba di sekolah dan asik dengan kegiatannya masing-masing.

Didit : (berlari-lari memasuki kelas) ifa! Afifah! (dengan napas terengah-engah memanggil afifah yang sedang duduk membaca buku di bangkunya.)

Afifah : ada apa dit?

Didit : Dika beneran berhenti?

Afifah : (dengan tatapan menyesal mengangguk)

Didit : (menghelakan napasnya) Anak itu! Tidak bisakah dia berasabar lebih lama sedikit saja! ah, pokoknya ntar kita harus ke rumah dika! (berbicara dengan penuh emosi)

Afifah : (menatap didit dengan tatapan tidak mengerti) ngapain?

Didit : mau nyeret anak itu balik ke sekolah!

Afifah : (mengangguk ragu-ragu)

Adegan 3 (durasi 3 menit) lokasi : pinggir jalan

Narator : Andika benar-benar sudah memilih untuk berhenti sekolah, dia.. demi berkorban untuk adiknya akhirnya mengalah. Dia memulai hari-hari pertamanya berhenti sekolah dengan bekerja sebagai loper koran, mencoba menjadi penjual asongan, hingga sempat pula dia mencoba mengamen bersama teman-teman yang juga senasib dengannya. Namun, ketika peluh semakin banyak mengalir dia semakin ingat bagaimana cita-citanya akan berhenti begitu saja di sini.

Andika : (menunduk, berbicara pada diri sendiri) yah.. calon insinyur yang akhirnya jadi pengamen. Ah.. tak apalah, aku tak boleh egois dan aku tetap harus bersyukur. Aku mungkin tak bisa mengejar cita-citaku menjadi insinyur sekarang, tapi bukan berarti aku akan menyerah! Ayah benar, rejeki itu dari Allah, kalau memang aku ditakdirkan jadi Insinyur maka aku tetap akan jadi insinyur nantinya.

Evan : (menatap Andika dari kejauhan, berkata pada diri sendiri) “kakak tidak perlu seperti ini. Pasti ada jalan lain.. pasti ada!”

Adengan 4 (durasi 7 menit) lokasi : pinggir jalan

Narator : ketika peluh sudah membanjir, ketika rupiah demi rupiah telah berhasil dikumpulkan, Andika memilih pulang untuk beristirahat di rumahnya. Tak sabar rasanya dia melihat ibu dan adik-adiknya, melihat mereka tersenyum menyambutnya pulang.. ini akan terasa berbeda, karena kali ini dia tak hanya pulang.. tapi kali ini dia bisa membawa sedikit uang yang akan mengangkat sedikit beban dari pundak ibunya, sedikit uang untuk menganjal perut adik-adiknya dengan makanan ringan sambil menunggu Ayah pulang.

Andika : (berjalan dengan senyum sambil memegang beberapa lembar uang, menatap lurus lalu terkejut ) “Didit? Afifah?”

Didit : (menepuk pundak dika) apa kabar dik?

Andika : (tersenyum) ada apa kalian ke sini?

Afifah : didit tuh, katanya mau nyeret kamu balik ke sekolah.

Andika : (ganti menatap didit)

Didit : iya, seenaknya aja kamu berhenti sekolah! Mau dikemanain cita-cita kamu?

Andika : (menunduk)

Didit : (menepuk bahu dika) dik, masalah gak akan selesai dengan masalah. Kamu kira berhenti sekolah itu bukan masalah? Hey! Kamu malah membuat masalah baru dengan keputusanmu itu! Kamu menyebabkan masalah untuk masa depanmu!

Afifah : (menatap andika iba) didit benar dik, kamu gak boleh berhenti sekolah.

Andika : tapi...

Didit : kamu ingat, kamu pernah bilang kepadaku bahwa keterbatasan tidak membatasi, jadi sekaranglah waktu kamu membuktikannya. Kalau kamu merasa sekarang tidak bisa menyelesaikan masalah kamu, maka jangan kabur.. mari kita hadapi bersama, lagi pula ada aku dan ifa..

Andika : (menghelakan napas) aku gak mau merepotkan orang lain. ini masalahku, jadi biarkan aku menyelesaikannya sendiri, dengan caraku sendiri. Maaf.

Mereka terdiam sesaat.. tak ada yang berani bicara lagi.

Evan : (berlari menuju dika dkk sambil memegang sebuah amplop) Kakak! Kakak!

Andika : Kenapa van? (dengan nada sedikit khawatir)

Evan : (memberikan Amplop itu pada kakaknya sambil tersenyum)

Andika : (membuka Ampop itu, membaca surat yang ada di amplop itu) Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah... (bersujud syukur lalu memeluk Evan)

Narator : ternyata Evan mendapatkan Beasiswa dari sebuah sekolah Unggulan, sehingga Andika dan keluarga tidak perlu mengkhawatirkan masalah biaya untuk sekolah Evan lagi. Andika pun akhirnya kembali ke sekolah. Andika, Didit dan Afifah kembali bersama saling menguatkan dan bergandengan tangan untuk mengejar cita-citanya masing-masing.

___selesai___

Aduh, maaf yah aku benar-benar gak biasa buat naskah drama gini. Lagi pula ini benar-benar dadakan, dan durasinya dibatasi 20 menit.. maaf yah.

Kalau ada yang bisa ngasih masukan, tolong di komentarin. Thanks

*naskah drama ini buat kiki yang SMS kemaren, maaf yah dek jadinya segitu. Kalau jelek gak usah di pakai yah. Dan soal pemainnya yang min 15, aku bingung juga.. ini Cuma bisa 6 mungkin yang lain bisa jadi narator dan jadi figuran di ceritanya (misal, jadi temen2 di sekolah, atau jadi orang-ornag di pinggir jalan --__--“). Maaf yah kalau mengecewakan. Sukses yah buat acaranya!.

1 komentar:

  1. thank you for your compliment :D
    you actually write better than me. teach me how to sew!!

    BalasHapus