Pages

Senin, 28 Maret 2011

Satu Mimpi Tentang Cinta

Satu Mimpi Tentang Cinta

Satu ruang di bumi, begitu sepi dan tak berpenghuni. Perlahan langkahku terhenti, menatap ruang itu dalam sunyi karena kenangan itu tak pernah mati. Perlahan kususuri kembali, setiap ruang dan memori.

*****

Setangkai tulip merah itu kini menghiasi hari-hariku. Tulip itu memang bukan tulip asli, hanya sebuah tiruan yang terbuat dari kayu tapi itu sebagai tanda kamu ingin tulip itu tak pernah layu.

“You can open your eyes.” perlahan aku membuka mataku, kulihat kamu sudah tersenyum dengan setangkai tulip yang ada di tanganmu.

“Just for you..” kini kamu memberikan bunga itu kepadaku, setangkai tulip merah dengan kelopaknya yang sempurna, begitu anggun dan mempesona.

“Untuk cintaku yang sempurna.. Maaf tulip ini tak sempurna, ini bukan tulip asli. Aku hanya ingin kamu memiliki tulip yang tak pernah layu dan mati, sebagai tanda cintaku yang tak akan pernah mati.” Tiba-tiba ribuan kupu-kupu terasa memenuhi dadaku, ini terlalu sempurna untuk sebuah mimpi.

“Thank you, thank you so much. Terima kasih untuk semua ini.” Air mataku tak terbendung lagi, dia jatuh begitu saja, bukan sebagai tanda kesedihan tapi sebuah tanda kebahagiaan.

“Hei, ayolah jangan menangis seperti ini. Aku melakukan semua ini bukan untuk melihat air matamu mengalir, aku hanya ingin melihat senyummu yang bersemi.”

*****

Memilikimu adalah hal terindah dalam hidupku. Hanya dengan melihatmu aku rasa sudah seperti berada di surga. Senyum tulusmu yang membuat hatiku berbunga-bunga, mata indahmu yang membuat hariku cerah, suaramu yang mengalun menerbitkan asa, serta cintamu yang terlalu indah. Sungguh, aku rasa aku bisa gila bila kamu tak ada.

“Apa kabarmu sayang?” sebuah kecupan menghapus semua gundah, begitu menentramkan dan memperkuat rasa.

“Sayang, bagaimana kalau kita pergi berkeliling dunia? Bukankah itu adalah salah satu mimpimu?” aku hanya bisa menatapmu dengan sebuah senyum yang tak pernah ingin pergi dari wajahku.

“Aku tahu mungkin kamu kira itu tak bisa lagi sekarang. Tapi tenanglah, aku sudah membawakan dunia untuk kita kelilingi sekarang.”

Sebuah globe kecil yang indah itu keluar begitu saja di kedua tanganmu, sungguh itu benar-benar terlihat seperti kamu menggenggam dunia dan mempersembahkannya untukku. Aku mungkin adalah wanita paling bahagia karena memilikimu.

“Sekarang, kita bahkan bisa mengelilingi dunia setiap kali kita mau. Ayo sayang, kita mulai dari mana?” kamu mendekatkan globe itu kepadaku, menyuruhku memilih satu tempat dengan jemariku. Aku hanya bisa tersenyum dengan tingkah lakumu yang begitu lucu, jemariku mulai memutar-mutar globe dan akhirnya mendaratkan jari telunjukku di sebuah kepulauan yang terlihat indah.

“Hm.. okay, mari kita mulai dari sini. Dari rumah kita, Indonesia. Bagaimana kalau selanjutnya kita terbang ke Jepang? Kita tak perlu takut akan kena radiasi nuklir sekarang, kita bisa ke sana dengan aman.” Kamu mengambil jari telunjukku dan mendekatkannya ke Jepang.

“Aku tahu kamu suka Jepang, kamu juga suka sakura maka sekarang aku memberikannya untukmu.” Kamu mengambil sesuatu dari saku kemejamu.

“Untuk cintaku yang tulus. Kamu tak usah khawatir tentang bunga sakura yang akan gugur dalam satu minggu, karena sakuraku ini tak akan gugur. Tidak akan gugur..” sebuah replika bunga sakura dalam botol kecil itu terlihat begitu indah. Kamu, bagaimana bisa kamu membuat aku begitu bahagia, terlalu bahagia.

*****

Bunga sakura dan tulip itu kini mewarnai hari-hariku, begitu indah di sudut ruang tidurku. Sebagai tanda cintamu, sebagai tanda ketulusanmu. Bagaimana bisa aku membalas cintamu yang begitu indah ini?

“Sayang, aku tidak meminta apapun darimu. Aku hanya meminta kamu tetap ada di sisiku. Hanya itu. Karena, tak ada lagi yang aku inginkan selain bahagia bersamamu. Jadi kumohon bertahanlah untukku.” Aku mendengar suaramu dalam mimpi panjangku, sungguh aku ingin berteriak saat itu juga bahwa akupun ingin terus bersamamu.

Perlahan aku membuka mataku, mendapati kamu tengah menggenggam tanganku dengan aliran air mata di kedua pipimu.

“Terima kasih sayang, terima kasih untuk tidak meninggalkanku.” Ada apa ini? Kamu terlihat begitu bahagia hanya karena aku bangun dari tidurku. Apakah aku harus terus terjaga agar kamu tak perlu menangis seperti ini?

“Sayang, berjanjilah kamu tak akan meninggalkanku.” Suaramu terdengar begitu memohon dan aku tak sanggup mengatakan lebih kecuali sebuah anggukan kecil dan senyuman tipis. Aku janji, selama Allah masih memberikan aku kehidupan aku tak akan menyerah untuk bertahan.

“Semoga Allah memberikan kamu kesembuhan. Semoga Allah menjaga cinta kita..”

Aku hanya bisa mengamini do’amu dalam hati. Sungguh do’aku tak pernah putus untuk kamu, untuk kita..

*****

Aku mencintaimu karena Allah dan begitu pula cintamu kepadaku. Maka, biarlah Allah yang menjaga cinta kita karena sesungguhnya Dialah sebaik-baiknya penjaga.

“Sayang aku mencintaimu..” perlahan bibirku yang keluh mulai bisa mengeluarkan suara, meski terdengar begitu lemah tapi aku cukup bahagia bisa mengatakannya. Karena, sungguh hatiku sedih ketika aku begitu lemah hingga tak berdaya meski untuk mengucapkan satu kata cinta.

“Aku juga mencintaimu sayang.” kamu tersenyum dan matamu terlihat mulai berkaca-kaca. Tanganmu menggenggam tanganku erat lalu melepaskan genggaman itu dengan enggan di pintu ruangan operasi. Lewat sebuah senyuman tulus kamu memberikan kepadaku banyak cinta. Kini, kita hanya bisa menyerahkan semuanya kepada pemilik Cinta, apakah Dia mengizinkan kita terus merayakan cinta di dunia atau menundanya untuk perayaan cinta yang lebih indah di sisi-Nya.

*****

Perlahan aku menuju meja di sudut ruangan itu, sebuah bunga tulip dan replika sakura masih setia tersimpan rapi di sana. Perlahan kuraih mereka dan kupeluk erat, sekedar untuk kembali merasakan cintamu yang begitu sempurna dan tulus.

“Sayang, ayo kita berangkat. Kita akan berkeliling dunia hari ini, meski mungkin kita tak bisa melihat sakura langsung tapi setidaknya kita masih bisa memetik tulip di Belanda..” Kamu tiba-tiba masuk dan memelukku dari belakang. Aku tersenyum kepadamu, menatapi wajahmu yang terlihat lebih indah meski kita terlihat sama pucatnya.

“Kamu terlihat begitu pucat sayang, tidakkah sebaiknya kita batalkan saja rencana ini?”

“Hei.. sekarang ini bukan hanya mimpimu. Ini mimpi kita, mari kita rayakan cinta dan terus mengambil hikmah dari dunia.” Kamu kembali tersenyum menggodaku, tapi sungguh aku tak bisa membohongi diriku bahwa kamu terlihat berbeda setelah operasi itu. Aku tahu aku telah membuatmu lemah.

“Maaf telah membuatmu seperti ini, maaf telah mengambil satu ginjalmu.” Aku menunduk dan menyesali diriku. Istri macam apa aku yang tega mengambil satu ginjal suaminya? Membuat suaminya tampak pucat dan lemah seperti ini.

“Aku malah sangat bahagia. Karena, sekarang aku telah memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan. Kini kita benar-benar telah menyatu karena salah satu bagian diriku terus berada pada dirimu, itu artinya kamu tak akan meninggalkanku.”

Aku memelukmu erat begitu erat hingga aku yakin kita tak akan pernah terpisahkan. Allah telah memberikan satu lagi kesempatan untuk kita tetap bersama, untuk kita merayakan cinta.

“Sayang, aku belum mengatakan kepadamu bahwa satu lagi mimpimu sudah tercapai.”

“Kali ini apa lagi itu? Kamu merampok buku catatan mimpiku dan mewujudkannya satu persatu. Bagaimana mungkin aku bisa membalasmu?”

“Sebuah rumah sakit gratis sudah terbangun atas namamu. Ah, mewujudkan mimpi-mimpimu adalah sama seperti mewujudkan mimpiku sendiri. Aku tidak meminta apapun untuk kamu membalasku, hanya terus berada di sisiku untuk membuatku bahagia adalah satu-satunya yang aku minta. Jadi, mari kita terus merayakan cinta.” aku mengangguk mantap dan kembali memelukmu. Sungguh aku tak akan menolak, tak akan pernah menolak untuk bersamamu karena kamu adalah cintaku. Mari kita merayakan cinta bersama.

Aku tak pernah menyangka akan memilikimu cinta..

Sebuah cinta yang begitu indah

Hanya lewat do’a kecil kepada Maha Pemilik Cinta

Kamu hadir dan memberi warna..

Jadi mari merayakan cinta

Atas cinta kepada Pemilik Cinta...

*****the end*****

Jumat, 11 Maret 2011

Ketika Mimpi Memanggil

Aku selalu percaya bahwa mimpi-mimpi akan bisa kuraih suatu saat, meski kadang terasa begitu berat dan begitu jauh tapi harapan akan mimpi-mimpi itu tak pernah mati. Mereka ada, tersimpan dan tetap hidup sampai benar-benar bisa diraih dalam genggaman.



Mungkin mimpi-mimpiku memang sudah lama tak kulihat, telah lama tak kuharap dan tak kukejar. Mereka mungkin akan tampak begitu menyedihkan karena sama sekali tak pernah aku pupuk atau aku sirami. Lalu samar-samar ku dengar mimpi-mimpi itu memanggilku.



Kau tahu, ini seperti mendengar suara peri-peri kecil yang begitu indah.



Perlahan tapi pasti, kususuri kembali satu persatu mimpiku. Lihatlah sekarang mereka tersenyum kepadaku karena aku kembali menjumpai mereka dalam gelap malamku.



Bukan tanpa alasan aku memilih untuk menyapa mereka kembali, semua ini karena panggilan mimpi-mimpi itu yang terasa begitu menghipnotisku. Mulanya aku hanya membaca kisah orang-orang yang hidup bersama mimpi mereka, lalu hatiku berkata, "Dulu aku juga hidup bersama mimpi tapi sekarang dimana mereka?".



Suara peri-peri itu mulai terdengar oleh hatiku, semakin lama semakin keras di telingaku. maka aku kembali mencari mimpiku, aku ingin kembali hidup bersama mereka, kembali berlari mengejar mereka agar suatu saat aku akan benar-benar menggenggam mereka.



Aku janji kali ini aku tak akan menyerah, tidak bila suara-suara peri itu terus memanggilku, tidak bila aku terus menjaga mimpiku. Maka sekarang, kutulis semua mimpiku agar aku bisa terus melihat mereka, mengingat mereka dan terus mengejar mereka.. karena mereka memanggilku.



11-3-2011

Yuliana Indriani

Menjuadi Penulis.

amin, semoga bisa.. harus bisa..! semangat!!!


Selasa, 01 Maret 2011

Target.. (Saatnya Memacu Diri)

Akhir-Akhir ini sedang sibuk-sibuknya bergaul dengan target.. dari menyusun 100 Target, Target Barang yang Ingin dimiliki, Target Semester ini, sampai ke Target Mingguan dan Target Harian .... dan hasilnya....... WaW!!! ternyata saya akan sangat-sangat sibuk!

kaget juga sebenarnya, karena selama ini hidup saya bisa dibilang sangat amat santai,. meski menuliksan target biasanya saya selalu realistis dan mencoba melonggarkannya. tapi kali ini beda.

saya punya banyak tanggung jawab di target-target ini. jika tidak tercapai, bukan hanya saya sendiri yang kecewa tetapi juga temen-temen yang percaya pada saya juga akan kecewa.. orang tua saya, dan bahkan Allah juga mungkin akan kecewa. jadi kali ini, saya benar-benar harus menakhlukkan semua target ini.. bagaimanapun hasilnya dan caranya.. saya hanya perlu berbuat yant terbaik!!

ini adalah saat untuk memacu diri, mengoptimalkan kemampuan dan meningkatkan kualitas.

SEMANGAT!!!! apapun Targetnya, mesti Lillahita'ala. :)