Pages

Minggu, 15 Agustus 2010

From Sivia's Notes 12

maaf yah agak lama,,,, check this out!!

From Sivia’s Notes 12

Langit malam itu bagai sebuah taman dengan hiasan bintang-bintang yang bertaburan, berkelap-kelip penuh semarak. Sinar bulan pun terpendar dengan indah, memantul dan terbiaskan oleh butir-butir partikel di udara malam yang sejuk. Sungguh sebenarnya setiap hati akan merasa damai menikmati keindahan malam hari, terlebih lagi di sini. Di sini, di kaki gunung, dimana tak ada polusi cahaya oleh lampu-lampu dan juga asap kota. Di sini, dimana tak ada kebisingan dan udara penuh polusi. Di sini, di sebuah teras rumah sederhana dengan suasana seperti surga, dimana kedamaian merasuk dalam tiap hati penghuninya, benar-benar tenang tanpa ada pertengkaran dan kegelisahan.

“Kakak belum tidur?” rahmi perlahan mendekati bu tina yang sedang duduk di teras.
“Belum mi..” jawab bu tina sambil tersenyum menatap adiknya yang sekarang telah duduk di kursi teras plastik di sebelahnya.
“Kenapa? Apa ada yang tidak nyaman?” Tanya rahmi sedikit khawatir, jangan-jangan dia benar-benar tidak bisa memuliakan kakaknya sebagai tamu di rumahnya yang sederhana ini.
“Enggak kok. Kakak malah merasa sangat nyaman.” Sanggah bu tina cepat, dia tak ingin adiknya merasa bersalah apa lagi sedih. Ibu tina paham benar bahwa adik kecilnya ini mudah merasa tak enak dan sedih.
“Terus kenapa kak? Kakak ada masalah? Rahmi merasa kakak sedang mengalami masalah yang cukup berat, sejak kakak bilang akan ke sini jujur rahmi merasakan ada sesuatu. Ada apa kak sebenarnya?”

Bu tina terdiam sejenak, menarik napasnya untuk beberapa saat. Inilah mungkin saatnya dia mulai berbagi, berbagi pada adiknya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti dahulu. Mungkin adiknya dapat membantunya seperti yang dia harapkan dengan datang ke sini.
Bu tina menghelakan napasnya kembali, matanya mulai menatap lembut ke arah adiknya dan bibirnya pun mulai bercerita.

“Jadi, penyakit ginjal gabriel kian parah kak? Dan dia harus terus menerus cuci darah?” Tanya rahmi meyakinkan dirinya. Bu tina hanya mengangguk, menghelakan napasnya dan kemudian tertunduk lemah. Berat rasanya mengatakan semua beban yang menghimpitnya. Penyakit Gabriel.. hanya itu yang sebenarnya menjadi bebannya. Bukan karena dia terbebani dengan Gabriel, justru penyakit itulah bebannya, seandainya dia bisa mengganti posisinya dengan Gabriel dia justru lebih merasa tak ada beban. Tapi Gabriel… dia benar-benar tak bisa melihat Gabriel terus menerus menderita karena penyakit itu, rasa sayangnya sungguh teramat besar kepada anak itu.

“Lalu bagaimana kak?” Tanya rahmi lagi, ingin sekali dia bisa meringankan beban kakaknya itu. Dia tahu kakaknya sangat menyayangi Gabriel, dan itu melebihi rasa sayang kakaknya terhadap dirinya sendiri. Masih terbayang di ingatannya ketika kakaknya dengan penuh cinta merawat Gabriel sejak dia kecil, walau anak itu tak pernah menganggapnya sebagai ibu. Pun ketika ayah Gabriel meninggal dan Gabriel berubah menjadi anak pendiam, kakaknya tidak pergi meninggalkan Gabriel, dia tetap ada.. menjaga Gabriel dan tetap berusaha menjadi ibu yang baik. Dan ketika Gabriel pertama kali jatuh sakit dan didiagnosa memiliki penyakit ginjal yang sudah cukup parah, kakaknyalah yang selalu ada di sampingnya. Tanpa pernah mengeluh dan merasa letih.. tapi kali ini, kakaknya terlihat begitu rapuh.

“Kakak sudah hampir tak punya apa-apa lagi mi. Semuanya sudah tak ada, semuanya untuk membiayai pengobatan Gabriel. Kami sekarang hanya punya rumah peninggalan ayah Gabriel dan itu adalah hak Gabriel. Semua milik kakak sudah kakak jual, dan gaji kakak tidaklah cukup lagi untuk pengobatan Gabriel. Gabriel tidak bisa tanpa cuci darah, dia akan tersiksa. Kakak ingin dia sembuh, dan kakak akan melakukan apa pun untuk itu..” denagn sangat lembut bu tina menceritakan kegundahannya, dia mengambil napas sejenak dan kemudian bertanya.

“Kakak pernah janji kan kepadamu?”

“Janji apa kak?” Tanya rahmi tak mengerti, yah dia tak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Bila kakaknya ingin meminta bantuan biaya, dia tanpa ragu akan berupaya membantu. Tapi janji? Kenapa kakaknya malah bertanya tentang janji?

“Kakak pernah berjanji kelak untuk menjadikan anakmu seperti anak kakak sendiri, dan semua milik kakak akan menjadi miliknya..”

Rahmi terhenyak mendengar kata-kata kakaknya. Itu.. itu janji lama yang tak pernah dia ingat lagi. Sebuah janji yang diucapkan kakaknya bertahun-tahun yang lalu, sebelum kakaknya akhirnya menikah dan memiliki Gabriel. Sebuah janji yang diucapkan kakaknya dengan linangan air mata, janji yang diucapkan setelah operasi itu di lakukan, operasi yang kemudian memastikan bahwa kakaknya tak akan bisa punya anak dari rahimnya sendiri.
Mata rahmi berkilat demi mendengar ucapan kakaknya itu, untuk apa dia mengatakan janji itu. Lagi pula dia telah ikhlas, kakaknya sudah punya anak sendiri. Gabriel..

“Maafkan kakak mi, kakak gak akan bisa menunaikan janji kakak. Kakak gak bisa memberi apa-apa pada Lisa.” Kata bu Tina lemah.

“Kakak ini bicara apa? Kakak punya Gabriel, anak kakak dan bila semuanya untuk Gabriel, Rahmi rela kak dan Lisa pun pasti rela..” kata rahmi mulai menatap kakaknya tak percaya.

“Tapi mi, kakak masih punya sebidang tanah.. dan itu sudah kakak niatkan untuk Lisa. Hanya saja….” Kata-kata bu Tina tercekat. Tak sanggup rasanya dia mengatakannya. Tapi, mungkin inilah yang terbaik.

“kakak,,..” rahmi tak yakin apa yang akan kakaknya katakana, dia benar-benar tak mempermasalahkan janji itu. Melihat kakaknya bingung memikirkan janji yang sudah ia ikhlaskan itu benar-benar membuatnya merasa tak enak.

“Hanya saja kakak butuh uang untuk pengobatan Gabriel. Hanya tanah itu yang kakak punya sekarang,. Kakak… bolehkah meminta kamu lah yang menerima tanah itu. Untuk lisa.. untuk Gabriel.” Akhirnya kata-kata itu keluar juga, entah harus bagaimana lagi dia menyusun kata agar pesannya bisa sampai dengan baik kepada rahmi, dia harap rahmi dapat mengerti bahwa dia ingin sekali memberikan tanah itu, harta satu-satunya yang dia miliki kepada Lisa, tapi.. tapi dia juga butuh uang untuk Gabriel.

Rahmi mengangguk, dia mengerti maksud kakaknya. Kakaknya ingin dialah yang membeli tanah itu. Kakaknya ingin Lisa dan Gabriel lah yang memiliki tanah itu. Kakaknya tetap ingin janji itu terlaksana. Dan dia.. dia akan berusaha mewujudkannya.

“Kakak… Rahmi akan mengusahakan semunya kak. Rahmi akan berusaha mewujudkan tanah itu sebagai milik Lisa dan juga agar tanah itu bisa membantu Gabriel.” Kata rahmi dengan yakin, perkara uang mereka cukup atau tidak biar nanti urusan dia dan bang tian, yang pasti dia yakin pasti ada jalan asal dia berusaha. Ini juga adalah satu-satunya cara untuk membantu kakaknya yang keras kepala, yang tak pernah mau menerima bantuannya.

“Terima kasih mi. terima kasih..” bu Tina kemudian serta merta memeluk tubuh adiknya itu, semua keraguan dan kegelisahannya hilang sudah. Semua beban mulai terasa ringan, tanpa ia sadari bulir-bulir air mata mengalir di pipinya, hangat pelukan itu benar-benar membuat semuanya lepas.. yah mungkin sebuah batu mulai terangkat dari bahunya untuk sesaat.

***

Kicau burung terdengar merdu bagai alunan sebuah melodi indah menyambut datangnya pagi, bersemangat dan riang. Perlahan sinar mentari mulai menerobos celah-celah jendela, mengintip dan akhirnya berpendar indah membentuk sebuah aurora.
Gabriel menatap hangat sinar mentari itu, perlahan diucapkannya salam paling hangat untuk sang ibu lewat bahasa kalbunya yang mengalun di dalam hatinya yang penuh dengan kerinduan, dan pagi itu dia juga menyelipkan salam untuk seseorang yang kembali masuk ke dalam mimpinya, dan ini untuk kesekian kalinya.

“Karena ibu akan selalu menyayangimu, Gabriel…” kata-kata itu kembali mengisi hatinya. Perlahan dipejamkannya kembali matanya untuk mengingat semua yang terjadi beberapa waktu yang lalu ketika kesehatannya kembali drop, ketika dia bersih keras tak mau di bawa ke rumah sakit, ketika semuanya terasa percuma, ketika harapan hidup tak pernah lagi bersinar di hatinya, dan ketika seseorang itu tetap berjuang dengan semua yang dia miliki hanya untuk Gabriel.. ketika itulah hatinya tiba-tiba merasakan sesuatu yang sungguh menggetarkan, sesuatu yang mengubah semuanya. Perasaan itu, semakin lama semakin kuat… tulus… sungguh sekarang dia sadar bahwa dia.. dia juga sayang ibu.. ibunya, tante tina.

“Tok.. tok..” dua ketukan di pintu itu cukup untuk membuat Gabriel sadar dan kembali membuka matanya untuk melihat sosok yang perlahan masuk dengan senyum manisnya yang khas sambil membawa sebuah papan pencatatnya.

“Pagi mas..” sapa sivia sambil tersenyum.

“Pagi via.” Sivia mengangkat wajahnya dari catatannya, kaget, jelas sekali sivia terlihat kaget. Gabriel tak pernah menjawab sapaannya dengan begitu akrab. Tak pernah sebelum kemarin. Dan semuanya terasa sangat mengagumkan, perubahan itu terasa seperti keajaiban. Gabriel yang selama ini selalu dingin dan diam.. dia.. sejak kemarin tak henti-hentinya secara mengejutkan menunjukkan sisi lain dari dirinya, yang sungguh terbalik 180 derajat.

“ Adakah yang salah? ” Tanya Gabriel melihat perubahan ekspresi di wajah sivia yang benar-benar terlihat bingung.

“ ha?? Oh gak kok mas.. gak ada yang salah.” Sivia mulai salah tingkah diperhatikan oleh Gabriel yang masih terus menatapnya lekat. Sebuah senyuman terukir di bibir Gabriel.
“Maaf kalau selama ini aku mengacuhkanmu, jujur sudah sejak lama aku selalu membalas sapaanmu, walau hanya dalam hati..” hembusan angin kemudian berhembus diantara mereka, sivia benar-benar semakin melihat Gabriel dalam sosok yang berbeda, kali ini begitu jujur, lembut dan ramah. Entah kenapa pipinya memanas, mungkin kata-kata Gabriel barusan yang telah menghangatkannya.

“Sarapan datang..” suara suster yang bertugas mengantarkan sarapan tiba-tiba mengangetkan mereka. Sivia segera tersenyum ke arah susuter itu, melanjutkan membereskan catatannya dan kemudian pamit keluar kamar setelah memastikan Gabriel telah memulai sarapannya. Gabriel hanya tersenyum melepas sivia kelaur dari ruangan itu. Gadis itu.. sungguh entah sejak kapan dia sudah menempati sebuah ruang di hatinya, dan itulah yang memantapkan hatinya untuk meminta bantuannya. Yah hanya sivia yang mungkin bisa..

****
Perlahan sivia membuka pintu kamar melati, tugasnya sudah selesai dan sekarang dia datang sebagai teman, mungkin sebagai keluarga. Gabriel membalikkan badannya dari menatap jendela, kedatangan sivia siang itu memang sudah lama dia nantikan dan kini ketika sivia sudah datang dan berdiri di pinggir ranjang rumah sakit itu dengan senyumnya Gabriel menyambutnya dengan sebuah senyum hangat yang mungkin mampu membuat sebuah es mencair.

“Maaf mas, tadi saya sholat dan makan dulu..” kata sivia, dia sadar Gabriel menunggunya kali ini.
“gak papa via..”

Diam sejenak, Gabriel tiba-tiba bingung harus memulai semuanya dari mana. Dia bingung bagaimana mengatakannya, bagaimana sebenarnya dia ingin meminta bantuan pada sivia. Detik-detik berlalu secara perlahan, suasana sangat hampa tanpa ada salah seseorang diatara mereka yang mampu melenyapkan kekakuan yang mulai tercipta.

“hm….. maaf mas, sebenarnya apa yang bisa Via bantu?” akhirnya sivia memberanikan diri mencairkan semuanya, tapi masalah baru bagi Gabriel untuk menentukan dari mana dia memulai semuanya. Gabriel menatap mata sivia sejenak, perasaan yang timbul seketika itu juga mulai menumbuhkan keyakinan di hatinya. Gabriel menarik napas sebelum akhirnya memulai semuanya.

“Aku ingin kamu membantuku membuat ibu bahagia.”

>>>Bersambung….<<<<

1 komentar: