Sabtu, 26 November 2011
Selasa, 22 November 2011
Tak lupa dan tak melupakan... hanya saja..
Andai...
Kamis, 12 Mei 2011
Kertas Warna
kau tahu, itu hanya selembar kertas putih pada awalnya
lalu tergores oleh sebuah pena warna
kemudian terwarnai oleh tinta-tinta yang entah datang dari mana
dan itu terlihat tidak seperti kertas putih seperti awalnya
kau bisa lihat gambar abstrak mulai memenuhi halamannya
garis-garis asimetriis mulai membelahnya
titik-titik memberinya tampilan tana rasa
dan tinta-tinta tersebar tak merata
dengan warna tanpa karsa
ah, aku ingin sekali merematnya
mengubahnya menjadi sebuah bola yang akan segera ku lembar ketempat sampah
aku bahkan ingin sekali merobeknya
bagiku kertas itu begitu kotor, begitu tak berharga
dan aku mulai menyesali diri atas setiap garis, titik dan warna yang aku torehkan di sana.
tapi jemariku tak sanggup meraihnya,
tak sanggup menghancurkannya
kau tahu kenapa?
karena aku hanya punya satu kertas
yah itulah sat-satunya kertas yang aku punya.
dan, aku tak akan bisa membuatnya kembali menjadi putih seperti semula.
hanya menatapiinya,
hanya bisa menyusuri kembali setiap goresan dan tinta yang telah menempel di sana
hanya bisa merana...
ah, bagaimana mungkin ini berakhir begitu saja?
apa aku harus sekalian mencelupkan kertas ini ke tinta agar warnanya hitam saja?
tidakkah akan terlihat lebih baik begitu saja?
setidaknya kertas itu tidak akan terlihat begitu menyedihkan dan seperti sampah.
tapi, untuk apa memiliki selembar kertas hitam?
bukankah di atas kertas hitam kau tak bisa melihat warna-warna yang indah dari tinta?
lalu buat apa?
aku yakin aku akan jadi lebih merana..
garis, titik dan torehan tinta itu masih melekat di sana
dan mataku hanya bisa kembali terpaku ada mereka
lalu pikiranku mulai berubah arah..
ah, mungkin ini tidak terlalu buruk,
mungkin aku masih bisa memperbaikinya.
mungkin nanti aku bisa menghasilkan sebuah gambar utuh yang lebih baik
bahkan mungkin akan menjadi sebuah masterpiece yang indah..
yah, aku hanya punya satu kertas
maka aku tak bisa membuangnya, merusaknya, apalagi mencoba untuk menghancurkannya.
aku hanya butuh lebih banyak garis, lebih banyak titik dan lebih banyak tinta untuk memberi warna
hingga nanti kertasku berubah warna
hingga akhir kertasku menjadi indah...
Jumat, 11 Maret 2011
Ketika Mimpi Memanggil
Mungkin mimpi-mimpiku memang sudah lama tak kulihat, telah lama tak kuharap dan tak kukejar. Mereka mungkin akan tampak begitu menyedihkan karena sama sekali tak pernah aku pupuk atau aku sirami. Lalu samar-samar ku dengar mimpi-mimpi itu memanggilku.
Kau tahu, ini seperti mendengar suara peri-peri kecil yang begitu indah.
Perlahan tapi pasti, kususuri kembali satu persatu mimpiku. Lihatlah sekarang mereka tersenyum kepadaku karena aku kembali menjumpai mereka dalam gelap malamku.
Bukan tanpa alasan aku memilih untuk menyapa mereka kembali, semua ini karena panggilan mimpi-mimpi itu yang terasa begitu menghipnotisku. Mulanya aku hanya membaca kisah orang-orang yang hidup bersama mimpi mereka, lalu hatiku berkata, "Dulu aku juga hidup bersama mimpi tapi sekarang dimana mereka?".
Suara peri-peri itu mulai terdengar oleh hatiku, semakin lama semakin keras di telingaku. maka aku kembali mencari mimpiku, aku ingin kembali hidup bersama mereka, kembali berlari mengejar mereka agar suatu saat aku akan benar-benar menggenggam mereka.
Aku janji kali ini aku tak akan menyerah, tidak bila suara-suara peri itu terus memanggilku, tidak bila aku terus menjaga mimpiku. Maka sekarang, kutulis semua mimpiku agar aku bisa terus melihat mereka, mengingat mereka dan terus mengejar mereka.. karena mereka memanggilku.
11-3-2011
Yuliana Indriani
Selasa, 01 Maret 2011
Target.. (Saatnya Memacu Diri)
Senin, 28 Februari 2011
Atmosphere Hidayah..
Senin, 14 Februari 2011
apa jadinya semester 6?
Sabtu, 12 Februari 2011
Kamis, 03 Februari 2011
writing is the way to tell something
Rabu, 02 Februari 2011
...do'a untuk orang-orang tercinta...
Selasa, 01 Februari 2011
Drama of me
“...hidup ini hidup yang penuh bahagia... tetap semangat dan jangan putus asa.. hidup ini hidup yang sangat berarti.. terus berjuang tuk menggapai impian..”
Handphoneku tiba-tiba bernyanyi di kesunyian kamar, dengan sangat malas akhirnya aku membuka pesan yang baru saja aku terima.
“Nilais udah keluar.. enjoy!”
Aku membelalakkan mataku yang tadinya masih setengah terbuka. Aku segera mengambil kacamataku dan dengan secepat kilat menyambar netbook dan modem yang ada di atas buffet di samping tempat tidurku. Ada sedikit rasa takut yang menggelitikku ketika membaca pesan singkat dari Sivia tadi, yah... aku sedikit takut ketika akhirnya kabar itu datang juga.
“SELAMAT DATANG DI SISTEM AKADEMIK UNIVERSITAS TARUMA NEGARA, SILAHKAN LOG IN”
Layar netbookku sekarang telah menampilkan halaman website kampus, sedikit gemetar akhirnya aku menarikan jariku di atas keypad untuk mengisi user id dan password yang biasa aku gunakan untuk masuk ke site sistem akademik. Peluh tiba-tiba membanjiri dahiku ketika loading untuk masuk ke site itu terasa terlalu lama.
“Arrrgh.. sial! Masa sekarang sih kumatnya! Ayolah... aku kan cuma pengen lihat hasilnya! Come on!” Aku menggerutu ketika loading itu gagal, kali ini signal sepertinya tidak bersahabat denganku. Atau mungkin sedang memberikanku pertanda buruk?
Aku menghelakan napasku, mencoba mengusir semua perasaan tak enak yang mulai menyelusup di benakku. Aku tak ingin berburuk sangka sekarang, lagi pula bukankah aku sudah mengikhlaskan semuanya? Aku menarik napasku dalam ketika jari telunjukku menekan keypad enter untuk reload.
“SELAMAT DATANG DI SISTEM AKADEMIK UNIVERSITAS TARUMA NEGARA, SILAHKAN LOG IN”
Akhirnya kalimat pembuka itu kembali hadir di layar netbookku dan tanpa pikir panjang aku kembali log in. “Semoga hasilnya yang terbaik..” aku berdo’a dalam hati sementara jemariku sibuk mengetik nomor induk mahasiswa dan tahun pelajaran untuk membuka KHS onlineku.
NAMA : Alyssa Saufika Umari
NIM : 011038110371
Halaman KHSku mulai muncul, aku masih berdo’a sambil perlahan menyusuri halaman KHS onlineku.
***
“Gimana tadi ujiannya?” aku sedang duduk di kantin dengan segelas es jeruk ketika seseorang menepuk bahuku sambil menodongku dengan pertanyaan yang sedang tak mau ku jawab. Aku hanya mengulas sebuah senyum kecil ke arahnya sambil mengangkat bahuku.
“Loh, kok? Tapi.. soal tadi emang susah sih. Aku aja gak selesai ngerjainnya.” Sivia mulai berceloteh sambil perlahan mengambil posisi duduk di hadapanku. Dia kemudian melambaikan tangannya kepada penjaga kantin dan mulai memesan makanan.
“Eh, fy.. yakin gak sama ujian kali ini?” Sivia kembali mengangkat topik pembicaraan yang tidak aku inginkan ketika dia selesai memesan makanan. Aku menghisap beberapa mililiter es jerukku sebelum akhirnya memilih menjawab pertanyaanya.
“Hm.. yah seperti biasa.” Aku mencoba menanggapinya dengan sangat biasa, meski aku tahu aku merasa tak biasa kali ini.
“Ah, ify mah enak. Hidup selalu dibawa nyantai, gak pernah takut soal nilai jeblok, gak pernah mikirin harus kerja keras buat tamat cepet, gak pernah stres kalau ujian.. ih enak banget yah jadi kamu.” Aku hanya tersenyum mendengar celotehan Via tentang diriku. Ah, apa aku benar seperti itu via?
“Fy, kok bisa sih kamu kayak gitu?” tanya Via.
“Kayak gimana maksudnya?” Aku balik bertanya pada Sivia, meski aku tahu maksud pertanyaannya. Aku hanya ingin menutupi rasa tak enak yang kembali menghampiriku karena sebetulnya aku tak pernah sesantai yang dia kira.
“Yah, kok bisa nyantai?”
“Mungkin udah dari sananya kali.. lagipula aku malas mikirinnya..” Aku mengangkat bahuku sambil tersenyum jahil.
“Kamu sih, apa-apa malas. Gimana mau maju negara ini kalau semua anak mudanya malas kayak kamu?”
“Yee... itu makanya ada kamu via, kalau semua anak muda pada malas kayak aku.. kan kamu yang jadi presiden. Yah harusnya ucapin terima kasih dong sama aku.” Sivia malah mencibirku karena jawaban super ngasal yang aku berikan, tapi toh akirnya kami bisa tertawa bersama.
***
Sivia_azizah : “Gimana nilainya?”
Tiba-tiba jendela YM hadir menghiasi layar dan menunjukkan sebuah pesan dari Sivia ketika aku baru saja sampai pada judul KHS-ku.
Alyssa_fy :“Sabar bu... baru online. Nilaimu gimana?”
Sivia_azizah : “Alhamdulillah, bagus. Wish you luck. :)”
Aku menutup jendela YM dan kembali ke halaman KHS-ku, mataku sedikit membulat metika hasil itu akhirnya benar-benar kutatap dengan mataku sendiri. Aku memejamkan mataku sesaat, sekedar untuk menetralisir gejolak yang hadir seketika di hatiku. Ini sesuai perkiraanku..
***
“Pa, maaf yah kalau semester ini agak nurun nilainya..” Aku memberanikan diri untuk buka suara ketika papa menanyakan bagaimana ujianku hari ini. Kulihat dahi papa sedikit berkerut mendengar jawabanku. Sebenarnya ini jawaban klasik yang selalu aku berikan setiap selesai ujian tapi kali ini mungkin nada biacara atau tatapan mataku memang sedikit berbeda.
“Kenapa?”
Sebuah kata tanya yang paling susah dijawab itu akhirnya meluncur dari bibir papa. Ini aneh, biasanya papa akan dengan santai tersenyum dan berkata “tidak apa-apa”. Aku memutar otak untuk mencari jawaban dari sebuah kata “kenapa?” dan nyatanya aku tak menemukan jawaban yang benar-benar bisa menjelaskan semuanya selain...
“yah... mungkin karena hanya seperti itulah kemampuanku.”
***
Alyssa_fy : “ASEP aku dapat nilai C. ”
Dengan pasti aku mengirim pesan itu di YM kepada Sivia, yah sekedar untuk membuatnya tenang atau sedikit berbagi tentang rasa yang mulai menyesakkan dada.
Sivia_azizah : “loh, kok bisa?”
Alyssa_fy : “bisa dong... yah gak papalah aku ikhlas kok. Toh aku gak selesai pas ujian. Kamu apa? Dapet A yah? selamat yah.”
Sivia_azizah : “iya alhamdulillah,.. Semoga yang lain bagus yah. : )”
Alyssa_fy : “iya”.
Aku kembali memberanikan diri menggulir halaman KHS-ku hingga nilai-nilai matakuliah lain bisa kulihat dengan jelas. Waktu terasa berhenti seketika, beberapa tetes peluh menetes dengan damai dari dahiku tanpa sedikitpun aku menghapusnya, hingga bercampur titik-titik air mata yang mengalir perlahan dan terjatuh di sisi wajahku.
Sivia_azizah : “nilai yang lain gimana? Udah dilihat?”
Tampilan YM kembali menyapa di layar netbookku, tapi aku terlanjur tenggelam dalam waktu yang berhenti, terkubur dalam bumi yang berhenti berputar, dan hanyut dalam lautan air mata yang membawaku pergi jauh.
***
Aku menundukkuan kepalaku sambil duduk menatapi kakiku yang bergerak bebas di dalam air sungai yang mengalir di bawahku.
“Ah... kenapa harus begitu hancur hanya karena aku tak yakin dengan hasil ujian itu? Bukankah aku sendiri yang menyebabkan semua ini.. “
Aku berbicara pada bayangan wajahku yang kemudian tercermin di air sungai yang tadi sempat ku kacaukan arusnya dengan kakiku. Aku menatapi diriku dari balik air, kulihat sebuah gambaran wajah kusut dan tak bercahanya sedang cemberut di sana.
“Hey.. ayolah, dunia tidak berakhir hanya karena nilaimu nanti akan mengecewakan. Ini hanya ujian penuh makna yang harus kamu lewati. Lalu, bagaimana mungkin kamu akan melewatinya dengan wajah seperti itu? Kamu harus melewatinya dengan baik.. karena inilah ujian sesungguhnya. Ayo tersenyumlah dan tunjukkanlah wajah berserimu padaku, agar aku pun bisa kuat melewatinya bersamamu.”
***
Detik kembali bergerak di sekitarku dan aku merasakan diriku perlahan kembali. Ku hirup dalam udara yang ada di sekitarku dan perlahan membiarkannya lepas, seperti melepas sebuah beban yang terasa menghimpitku, lalu perlahan aku membiarkan jariku mulai menari-nari.
Alyssa_fy : “hasilnya jelek.. IP-ku bawah tiga. Tapi gak papa kok. Oh ya, selamat yah nilainya bagus.”
Sivia_azizah : “haduh? Serius? Kok bisa? Makasih.”
Alyssa_fy : “iya. Aku off yah... sekali lagi selamat. you’re the best. :)”
Aku menutup jendela YM-ku sambil menahan perih yang tiba-tiba terasa begitu menyakitkan. Bukan karena aku iri pada Sivia, bukan. Hanya saja kecewa tiba-tiba menyelimutiku lewat rasa yang begitu gelap dan aku hanya takut tak sanggup bertahan hingga tak bisa mengakhiri percakapan ini dengan indah. Aku tak ingin merusak kebahagian yang sedang dirasakan oleh sahabatku, tapi aku tahu... aku mungkin tak sekuat itu untuk terus merayakan kebahagiannya di atas kehancuranku sendiri.
Aku terduduk lemas menatapi layar netbook yang telah kumatikan, tak ada apa-apa di sana kecuali layar hitam yang tiba-tiba menghadirkan bayang-bayang kejadian selama satu semester yang telah ku lewati.
Aku terdiam menatapi satu persatu adegan yang tampil di sana, aku yang tengah tertidur di kelas, aku yang sedang mengobrol selama jam pelajaran, aku sedang mengambar bebas selama dosen memberi penjelasan, aku sedang asik dengan handphoneku di saat aku merasa bosan bahkan adegan aku dengan malas mengerjakan tugas di subuh hari yang berakhir dengan tugas yang tak selesai dan tak ku kumpulkan.. semuanya kembali menari-nari berputar di layar netbookku. Aku menghelakan napasku, mengurut dadaku yang mulai terasa kembali sesak serta akhirnya menghapus air mata yang kembali membanjir di pipiku.
“Tak ada gunanya aku menyesalinya sekarang.. toh, tidak akan merubah hasil yang aku dapatkan. Ini semua kesalahanku dan tugasku selanjutnya adalah memperbaikinya,..”
Aku meraih handphoneku, membiarkan jempolku lincah mengetik sebuah “pengingat” yang akan selalu aku ingat untuk sekarang... dan mungkin untuk selamanya.
...”inilah ujian sesungguhnya, apa kau akan terus mengulangi kesalahan yang sama.. atau bangkit untuk mengalahkan dirmu sendiri agar bisa menjadi lebih baik”..
**** the end****
Minggu, 30 Januari 2011
Writing Competition
Selasa, 18 Januari 2011
The Place to Keep

sebelum mimpi
sebelum mimpi..
aku kembali membaringkan tubuhku, mencoba kembali membuat diriku nyaman. tapi tak bisa..
ini terjadi tiap malam sekarang, ah entah mengapa.. tapi perasaan ini selalu menghampiri.
perasaan tentang betapa dangkalnya ilmu, betapa kecilnya diri, betapa jauhnya dari mimpi.
ini menyiksa, bayangkan saja ketika setiap malam kau mengalami hal ini. mengetahui bahwa ilmumu masih teramat dangkal untuk diamalkan, mengetahui bahwa dirimu teramat kecil untuk berbuat besar, dam mengetahui bahwa mimpimu terlalu jauh untuk digapai..
mungkin aku pesimis atau mungkin aku hanya realistis.
tapi aku hanya tak mau berpuas diri,
aku masih terlampau jauh dari bayanganku.. dan aku khawatir tak bisa menangkapnya.
tapi aku tak boleh menyerah.. tak akan menyerah.
aku memejamkan mataku, seperti malam-malam sebelumnya, mulai berdo'a dan mulai berbisik pada hatiku..
aku menerima diriku apa adanya, dan aku tak keberatan dengan segala kekuranganku.. karna hanya dengan semua hal yang aku miliki inilah aku adalah aku..
hari ini, esok dan seterusnya.. biarkan rasa itu tetap ada, agar aku ingat bahwa aku adalah aku.. yang dangkal ilmunya, yang kecil dirinya dan yang jauh mimpinya.. juga aku yang tak akan menyerah atas semua kekurangan itu..
lalu aku mulai berjalan ringan menuju mimpiku,.
Minggu, 16 Januari 2011
Yang Pertama Bukan Yang Terakhir..
Jumat, 14 Januari 2011
Keterbatasan Tidak Membatasi..

Kamis, 13 Januari 2011
Penonton VS Pemain
hm, ini order dari my big bro, walau ilmu untuk nulisnya cetek banget tapi harus tetep dilanjutkan, namanya juga belajar :)
check this out... kalau ada yang salah atau ingin ditambahkan silakeun dibenerin ^_^
penonton vs pemain
Masih inget pertandingan AFF beberapa waktu lalu? Masih inget insiden laser yang dilakukan oleh penonton Malaysia? eits, kita bukan mau ngebahas AFF dan laser-nya penonton malaysia, yang pasti pemain kita sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa, hidup indonenesia!
Bicara soal penonton, kita sendiri sebenarnya sudah sangat sering menjadi penonton, mulai dari jadi penonton sepak bola, penonton acara musik, penonton film, sampe penonton acara dangdutan *hayo ngaku!!
kalau ditanya apa itu artinya penonton pasti bisa jawab kan?
Penonton itu kalau menurut saya berarti orang yang menikmati, mengawasi, dan terlibat secara pasif dari suatu kegiatan. Tapi, bukan berarti penonton itu tidak penting,coba bayangkan permainan sepak bola tanpa penonton, acara musik tanpa penonton, film tanpa penonton, dan acara dangdut tanpa penonton? -_-"
Penonton bisa jadi penonton yang baik dan yang buruk, yang sportif dan yang curang. Penonton yang baik adalah penonton yang menikmati, mengawasi dan terlibat pasif dalam kegiatan serta memberikan feedback yang baik dan sportif juga. Misal, penonton sepak bola yang baik itu yang tidak menganggu pertandingan, yang tidak membenci pemain karena kalah, yang tidak hanya bisa ngedumel sendirian atau marah-marah gak jelas. Penonton yang baik justru akan menikmati pertandingan dengan tertib, tetap mendukung pemainnya, dan juga memberikan saran, dukungan dan tanggapan positif agar kelak pemain dapat bermain lebih baik dan penonton akan lebih menikmati pertandingan.
Lalu, coba misalkan hal tersebut pada diri sendiri dan di kehidupan sendiri, sudahkah kita menjadi penonton yang baik? dimanapun kita berada dan dalam kegiatan apapun yang kita ikuti.. Apakah kita cenderung hanya suka menonton tanpa menjadi penonton yang baik?
Sekarang kita beralih ke pemain..
Inget C. Gonzales? inget Irfan Bachdim? inget Arif Suyono? Nasuha? Markus?
Itu pemain timnas.. hehe
Pemain adalah orang yang berperan aktif dalam suatu kegiatan. berperan aktif di sini berarti adalah orang yang terlibat langsung, menikmati sekaligus menentukan semua yang terjadi dengan usahanya. :)
Kalau penonton ada yang baik dan ada yang buruk, pemain juga begitu. ada yang baik dan buruk serta ada yang curang dan ada yang sportif.
Karena dari awal sudah pake permisalan sepak bola, jadi kita bayangkan dirikita sebagai pemain sepak bola. Ketika kita menjalani pertandingan, apakah kita sudah berbuat semaksimal mungkin? sudahkah kita memanfaatkan peluang-peluang yang datang kepada kita?, sudahkah kita bermain sportif tanpa melakukan pelanggaran? lalu apakah kita sudah menerima dengan lapang dada bagaimana hasil pertandingan kita? dan yang tak kalah penting, bagaimana sikap kita terhadap penonton, sudahkah kita menerima masukan yang diberikan dan memaafkan semua hal jelek yang dilakukan penonton?
Hm, sekali lagi mari kita misalkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam kehidupan kita sendiri, sudahkah kita menjadi pemain yang baik?
Selesai soal renungannya soal baik dan buruk, sekarang waktunya pertanyaan
"kalau di suruh milih antara jadi penonton atau jadi pemain, kita pilih yang mana?"
Jawabannya bisa jadi penonton.. atau bisa juga jadi pemain..
Kita memilih jadi penonton saja ketika kita merasa tidak bisa terlibat langsung sebagai pemain, dan kita memilih menjadi pemain ketika kita yakin bahwa kitabisa! ingat sekarang penekannya pada kata bisa.
Coba kita lihat pada kehidupan kita, di sini kita berperan sebagai pemain atau penonton? jelas saja kita berperan sebagai pemain. Bagaimana mungkin kita hanya mau menjadi penonton? kita menonton hidup kita berjalan tanpa melakukan apapun, kita hanya mengawasi dan menikmatinya.. mau jadi apa kita?
Lalu coba kita renungkan pada kegiatan kita sehari-hari, pada aktivitas kita, pada pikiran dan kemauan kita... apa kita sudah cukup kriteria untuk dikatakan sebagai pemain? saya cuma ingin mengingatkan pada paragraf sebelumnya tentang mengapa kita memilih sebagai pemain, itu karena kita merasa kalau kita bisa. Jadi kuncinya hanya pada diri kita, apakah kita merasa bisa atau tidak, kita yakin pada diri kita atau tidak?
Jadi dalam kehidupan kita, dalam kegiatan kita, dalam mimpi kita... sebaiknya kita harus menumbuhkan rasa percaya diri dan yakin bahwa kita bisa dan mampu menjadi pemain! kita harus terlibat aktif dan tidak hanya berperan pasif sebagai penonton. Karena semuanya ada di tangan kita, usaha kita.
Kita tidak bisa menjadi penonton selamanya, karena penonton pun jika dia mau belajar dan berusaha untuk bisa kelak dia akan menjadi pemain. *Irfan Bachdim dulu juga cuma anak kecil yang sering menonton ayahnya bermain bola sebagai pemain bola di persema tapi sekarang ternyata irfan juga bisa menjadi pemain bola yang baik di persema. :)
"..kalau mau pintar belajar, kalau mau berhasil usaha.." - tuk bayang tulah (LASKAR PELANGI)-
Jadi setujukah bahwa mulai sekarang kita akan belajar bersama untuk menjadi pemain yang baik? Menjadi pemain yang menentukan kemenangan yang akan kita genggam bersama?! Semangat! KITA yakin KITA BISA!!
*Bila masih belum yakin bisa dan ingin menjadi penonton.. jadilah penonton yang baik. tapi, tetap ingatlah bila kita mau dan yakin bisa setiap penonton pasti bisa menjadi pemain!!
(Yuliana Indriani)
Jumat, 26 November 2010
my newest hobby...
ngedit foto!
masih belajar sih, karena yah,... namanya juga hobby baru. so, check it out... my first photo...

konsepnya sih gak tau kayaknya persahabatan dalam foto jaman dulu... tapi kayaknya masih hancur banget hasilnya. gak papalah namanya juga belajar ^_^
oh iya di foto ini cuma ada aku, nisa sama nia... bukan karena apa-apa sih, tapi emang cuma kita bertiga yang kemarin2 sering foto di leppy. ntar deh edit fotonya yang bareng2 sama yang lain, dan semoga nanti hasilnya bisa lebih baik.. :DD
*diedit pake photoscape... catatan: menurut aku photoscape, not bad sih.. walau masih banyak keterbatasan..