Pages

Tampilkan postingan dengan label friends. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friends. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Januari 2011

Dongeng...

Aku ingat ketika aku memaksamu bercerita tentang cerita yang indah dan penuh bahagia. Aku bahkan masih ingat tiap detail dari dongeng yang kamu sampaikan, yang selalu mampu membuat aku tersenyum dalam hitungan detik.. yah hanya dongengmu.

---

Pada jaman dahulu hiduplah seekor kelinci..

Dan dia hidup bahagia selamanya..

tamat..!

---

Dan begitulah.. aku jelas tak setuju dengan dongeng itu, hingga kamu menjelaskan maksud dari dongeng itu.

'Hidup bahagia selamanya hanya ada di dongeng, dan bila kamu tetap memaksa untuk selalu bahagia maka hiduplah di dongeng yang seperti itu.. hanya ada awal dan akhir, dan ketika kamu sadar, ternyata kamu sudah melewatkan banyak hal penting yang harusnya mengajarkanmu apa itu hidup bahagia selamanya.'

terimakasih untukmu yang menceritakan dongen itu padaku. :)

Jumat, 21 Januari 2011

my first drama.. :)

Hm, ini proyek asal banget.. baru coba-coba dan tanpa ilmu, maaf kalau salah.

Yeay, naskah drama! Pertamanya ku kira mesti buat skenario, sumpah ribet amat.. tapi karena katanya kayak buat pementasan gitu berarti naskah drama dong.. yah sudahlah apapun itu, hanya ini yang bisa aku tulis. So, check this out.

Putus Sekolah? (drama 20 menit)

Sinopsis

Di sebuah pinggiran kota hiduplah sebuah keluarga dengan seorang anak laki-laki yang baru saja putus sekolah karena kekurangan biaya. Dika memutuskan untuk berhenti sekolah agar bisa membantu orang tuanya, namun.. cita-citanya untuk menjadi insinyur tidak mati begitu saja, hanya saja mungkin dia perlu menundanya. Sahabat-sahabat dika datang untuk kembali mengingatkan dika bahwa apapun masalahnya pasti akan ada jalan keluarnya dan mereka ingin dika tidak menyerah pada keadaan hingga akhirnya jalan keluar itu terlihat dengan sangat jelas.

Tokoh

Andika : siswa SMA kelas X yang terpaksa putus sekolah, anak tertua dari lima bersaudara, pintar, bersemangat, tidak mudah putus asa, baik hati, penyayang dan bertanggung jawab.

Didit : sahabat Dika, teman sebangku dika dari SD hingga ketika dika memutuskan putus sekolah, perhatian, setia kawan.

Afifah : sahabat Dika sekaligus tetangga dika, perhatian, lemah lembut.

Evan : adik dika, baru SMP, pintar, pendiam, perhatian.

Orang tua dika : ayah yang tegas, sedikit berbicara dan ibu yang pasrah.

Adengan 1 (Durasi 5 menit) lokasi : rumah dika

Narator : Suatu malam, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Suasana rumah berubah menjadi tegang seketika, ibu yang sedang menidurkan putri bungsunya menatap tak percaya kepada putra tertuanya. Ayah yang baru saja pulang dari tempat bekerja sampai-sampai harus berdiri terpaku di pinggir pintu ketika putra tertuanya dengan sangat jelas memutuskan hal yang sangat berat.

Andika : (sambil menatap ibu dengan mantap) “Dika akan berhenti sekolah saja Bu.”

Ibu : (menatap andika dengan tatapan terkejut)

Ayah : (berdiri terpaku di pinggir pintu dengan wajah letih dan lusuh)

Andika : “Dika sudah putuskan, lebih baik dika berhenti sekolah saja dan bekerja membantu ayah dan ibu. Jadi, ibu dan ayah cukup mempersiapkan biaya untuk Evan melanjutkan ke SMP saja. Evan itu pintar bu, jadi sangat sayang kalau dia yang harus putus sekolah.”

Ibu : (menangis sambil merutuki dirinya sendiri, menatap evan yang sudah tidur bersama adik-adiknya yang lain)

Ayah : (masuk, menepuk bahu Dika dan berdehem) “kalau kamu kira itu yang terbaik maka lakukan, tapi jangan pernah kamu menyerah begitu saja pada keadaan. Ayah hanya minta kamu memikirkan keputusan kamu kembali. Dan.. soal biaya, maafkan ayah. Tapi, ingatlah bahwa Rezeki itu dari Allah. (tersenyum ke arah dika, masuk ke kamar)

Andika : (menunduk, dan akhirnya mengangguk mantap)

Evan : (posisi tidur menyamping, air matanya mengalir)

Adegan 2 ( durasi 5 menit) lokasi : ruang kelas

Narator : kelas X.1 geger, berita tentang Andika yang akan berhenti sekolah mulai tersebar. Seorang anak biasa-biasa saja yang berhasil masuk Sekolah Unggulan karena prestasinya itu tiba-tiba memutuskan akan berhenti sekolah! Ini benar-benar berita! Bagaimana mungkin dia membuang kesempatan emas untuk maju?

Ruang kelas masih sepi, hanya ada beberapa anak-anak yang baru tiba di sekolah dan asik dengan kegiatannya masing-masing.

Didit : (berlari-lari memasuki kelas) ifa! Afifah! (dengan napas terengah-engah memanggil afifah yang sedang duduk membaca buku di bangkunya.)

Afifah : ada apa dit?

Didit : Dika beneran berhenti?

Afifah : (dengan tatapan menyesal mengangguk)

Didit : (menghelakan napasnya) Anak itu! Tidak bisakah dia berasabar lebih lama sedikit saja! ah, pokoknya ntar kita harus ke rumah dika! (berbicara dengan penuh emosi)

Afifah : (menatap didit dengan tatapan tidak mengerti) ngapain?

Didit : mau nyeret anak itu balik ke sekolah!

Afifah : (mengangguk ragu-ragu)

Adegan 3 (durasi 3 menit) lokasi : pinggir jalan

Narator : Andika benar-benar sudah memilih untuk berhenti sekolah, dia.. demi berkorban untuk adiknya akhirnya mengalah. Dia memulai hari-hari pertamanya berhenti sekolah dengan bekerja sebagai loper koran, mencoba menjadi penjual asongan, hingga sempat pula dia mencoba mengamen bersama teman-teman yang juga senasib dengannya. Namun, ketika peluh semakin banyak mengalir dia semakin ingat bagaimana cita-citanya akan berhenti begitu saja di sini.

Andika : (menunduk, berbicara pada diri sendiri) yah.. calon insinyur yang akhirnya jadi pengamen. Ah.. tak apalah, aku tak boleh egois dan aku tetap harus bersyukur. Aku mungkin tak bisa mengejar cita-citaku menjadi insinyur sekarang, tapi bukan berarti aku akan menyerah! Ayah benar, rejeki itu dari Allah, kalau memang aku ditakdirkan jadi Insinyur maka aku tetap akan jadi insinyur nantinya.

Evan : (menatap Andika dari kejauhan, berkata pada diri sendiri) “kakak tidak perlu seperti ini. Pasti ada jalan lain.. pasti ada!”

Adengan 4 (durasi 7 menit) lokasi : pinggir jalan

Narator : ketika peluh sudah membanjir, ketika rupiah demi rupiah telah berhasil dikumpulkan, Andika memilih pulang untuk beristirahat di rumahnya. Tak sabar rasanya dia melihat ibu dan adik-adiknya, melihat mereka tersenyum menyambutnya pulang.. ini akan terasa berbeda, karena kali ini dia tak hanya pulang.. tapi kali ini dia bisa membawa sedikit uang yang akan mengangkat sedikit beban dari pundak ibunya, sedikit uang untuk menganjal perut adik-adiknya dengan makanan ringan sambil menunggu Ayah pulang.

Andika : (berjalan dengan senyum sambil memegang beberapa lembar uang, menatap lurus lalu terkejut ) “Didit? Afifah?”

Didit : (menepuk pundak dika) apa kabar dik?

Andika : (tersenyum) ada apa kalian ke sini?

Afifah : didit tuh, katanya mau nyeret kamu balik ke sekolah.

Andika : (ganti menatap didit)

Didit : iya, seenaknya aja kamu berhenti sekolah! Mau dikemanain cita-cita kamu?

Andika : (menunduk)

Didit : (menepuk bahu dika) dik, masalah gak akan selesai dengan masalah. Kamu kira berhenti sekolah itu bukan masalah? Hey! Kamu malah membuat masalah baru dengan keputusanmu itu! Kamu menyebabkan masalah untuk masa depanmu!

Afifah : (menatap andika iba) didit benar dik, kamu gak boleh berhenti sekolah.

Andika : tapi...

Didit : kamu ingat, kamu pernah bilang kepadaku bahwa keterbatasan tidak membatasi, jadi sekaranglah waktu kamu membuktikannya. Kalau kamu merasa sekarang tidak bisa menyelesaikan masalah kamu, maka jangan kabur.. mari kita hadapi bersama, lagi pula ada aku dan ifa..

Andika : (menghelakan napas) aku gak mau merepotkan orang lain. ini masalahku, jadi biarkan aku menyelesaikannya sendiri, dengan caraku sendiri. Maaf.

Mereka terdiam sesaat.. tak ada yang berani bicara lagi.

Evan : (berlari menuju dika dkk sambil memegang sebuah amplop) Kakak! Kakak!

Andika : Kenapa van? (dengan nada sedikit khawatir)

Evan : (memberikan Amplop itu pada kakaknya sambil tersenyum)

Andika : (membuka Ampop itu, membaca surat yang ada di amplop itu) Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah... (bersujud syukur lalu memeluk Evan)

Narator : ternyata Evan mendapatkan Beasiswa dari sebuah sekolah Unggulan, sehingga Andika dan keluarga tidak perlu mengkhawatirkan masalah biaya untuk sekolah Evan lagi. Andika pun akhirnya kembali ke sekolah. Andika, Didit dan Afifah kembali bersama saling menguatkan dan bergandengan tangan untuk mengejar cita-citanya masing-masing.

___selesai___

Aduh, maaf yah aku benar-benar gak biasa buat naskah drama gini. Lagi pula ini benar-benar dadakan, dan durasinya dibatasi 20 menit.. maaf yah.

Kalau ada yang bisa ngasih masukan, tolong di komentarin. Thanks

*naskah drama ini buat kiki yang SMS kemaren, maaf yah dek jadinya segitu. Kalau jelek gak usah di pakai yah. Dan soal pemainnya yang min 15, aku bingung juga.. ini Cuma bisa 6 mungkin yang lain bisa jadi narator dan jadi figuran di ceritanya (misal, jadi temen2 di sekolah, atau jadi orang-ornag di pinggir jalan --__--“). Maaf yah kalau mengecewakan. Sukses yah buat acaranya!.

Kamis, 13 Januari 2011

Penonton VS Pemain

hm, ini order dari my big bro, walau ilmu untuk nulisnya cetek banget tapi harus tetep dilanjutkan, namanya juga belajar :)

check this out... kalau ada yang salah atau ingin ditambahkan silakeun dibenerin ^_^


penonton vs pemain


Masih inget pertandingan AFF beberapa waktu lalu? Masih inget insiden laser yang dilakukan oleh penonton Malaysia? eits, kita bukan mau ngebahas AFF dan laser-nya penonton malaysia, yang pasti pemain kita sudah melakukan yang terbaik yang mereka bisa, hidup indonenesia!

Bicara soal penonton, kita sendiri sebenarnya sudah sangat sering menjadi penonton, mulai dari jadi penonton sepak bola, penonton acara musik, penonton film, sampe penonton acara dangdutan *hayo ngaku!!

kalau ditanya apa itu artinya penonton pasti bisa jawab kan?


Penonton itu kalau menurut saya berarti orang yang menikmati, mengawasi, dan terlibat secara pasif dari suatu kegiatan. Tapi, bukan berarti penonton itu tidak penting,coba bayangkan permainan sepak bola tanpa penonton, acara musik tanpa penonton, film tanpa penonton, dan acara dangdut tanpa penonton? -_-"


Penonton bisa jadi penonton yang baik dan yang buruk, yang sportif dan yang curang. Penonton yang baik adalah penonton yang menikmati, mengawasi dan terlibat pasif dalam kegiatan serta memberikan feedback yang baik dan sportif juga. Misal, penonton sepak bola yang baik itu yang tidak menganggu pertandingan, yang tidak membenci pemain karena kalah, yang tidak hanya bisa ngedumel sendirian atau marah-marah gak jelas. Penonton yang baik justru akan menikmati pertandingan dengan tertib, tetap mendukung pemainnya, dan juga memberikan saran, dukungan dan tanggapan positif agar kelak pemain dapat bermain lebih baik dan penonton akan lebih menikmati pertandingan.


Lalu, coba misalkan hal tersebut pada diri sendiri dan di kehidupan sendiri, sudahkah kita menjadi penonton yang baik? dimanapun kita berada dan dalam kegiatan apapun yang kita ikuti.. Apakah kita cenderung hanya suka menonton tanpa menjadi penonton yang baik?


Sekarang kita beralih ke pemain..

Inget C. Gonzales? inget Irfan Bachdim? inget Arif Suyono? Nasuha? Markus?

Itu pemain timnas.. hehe


Pemain adalah orang yang berperan aktif dalam suatu kegiatan. berperan aktif di sini berarti adalah orang yang terlibat langsung, menikmati sekaligus menentukan semua yang terjadi dengan usahanya. :)


Kalau penonton ada yang baik dan ada yang buruk, pemain juga begitu. ada yang baik dan buruk serta ada yang curang dan ada yang sportif.


Karena dari awal sudah pake permisalan sepak bola, jadi kita bayangkan dirikita sebagai pemain sepak bola. Ketika kita menjalani pertandingan, apakah kita sudah berbuat semaksimal mungkin? sudahkah kita memanfaatkan peluang-peluang yang datang kepada kita?, sudahkah kita bermain sportif tanpa melakukan pelanggaran? lalu apakah kita sudah menerima dengan lapang dada bagaimana hasil pertandingan kita? dan yang tak kalah penting, bagaimana sikap kita terhadap penonton, sudahkah kita menerima masukan yang diberikan dan memaafkan semua hal jelek yang dilakukan penonton?


Hm, sekali lagi mari kita misalkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam kehidupan kita sendiri, sudahkah kita menjadi pemain yang baik?


Selesai soal renungannya soal baik dan buruk, sekarang waktunya pertanyaan

"kalau di suruh milih antara jadi penonton atau jadi pemain, kita pilih yang mana?"


Jawabannya bisa jadi penonton.. atau bisa juga jadi pemain..

Kita memilih jadi penonton saja ketika kita merasa tidak bisa terlibat langsung sebagai pemain, dan kita memilih menjadi pemain ketika kita yakin bahwa kitabisa! ingat sekarang penekannya pada kata bisa.


Coba kita lihat pada kehidupan kita, di sini kita berperan sebagai pemain atau penonton? jelas saja kita berperan sebagai pemain. Bagaimana mungkin kita hanya mau menjadi penonton? kita menonton hidup kita berjalan tanpa melakukan apapun, kita hanya mengawasi dan menikmatinya.. mau jadi apa kita?


Lalu coba kita renungkan pada kegiatan kita sehari-hari, pada aktivitas kita, pada pikiran dan kemauan kita... apa kita sudah cukup kriteria untuk dikatakan sebagai pemain? saya cuma ingin mengingatkan pada paragraf sebelumnya tentang mengapa kita memilih sebagai pemain, itu karena kita merasa kalau kita bisa. Jadi kuncinya hanya pada diri kita, apakah kita merasa bisa atau tidak, kita yakin pada diri kita atau tidak?


Jadi dalam kehidupan kita, dalam kegiatan kita, dalam mimpi kita... sebaiknya kita harus menumbuhkan rasa percaya diri dan yakin bahwa kita bisa dan mampu menjadi pemain! kita harus terlibat aktif dan tidak hanya berperan pasif sebagai penonton. Karena semuanya ada di tangan kita, usaha kita.


Kita tidak bisa menjadi penonton selamanya, karena penonton pun jika dia mau belajar dan berusaha untuk bisa kelak dia akan menjadi pemain. *Irfan Bachdim dulu juga cuma anak kecil yang sering menonton ayahnya bermain bola sebagai pemain bola di persema tapi sekarang ternyata irfan juga bisa menjadi pemain bola yang baik di persema. :)


"..kalau mau pintar belajar, kalau mau berhasil usaha.." - tuk bayang tulah (LASKAR PELANGI)-


Jadi setujukah bahwa mulai sekarang kita akan belajar bersama untuk menjadi pemain yang baik? Menjadi pemain yang menentukan kemenangan yang akan kita genggam bersama?! Semangat! KITA yakin KITA BISA!!


*Bila masih belum yakin bisa dan ingin menjadi penonton.. jadilah penonton yang baik. tapi, tetap ingatlah bila kita mau dan yakin bisa setiap penonton pasti bisa menjadi pemain!!


(Yuliana Indriani)

Jumat, 26 November 2010

my newest hobby...

hm, ketularan nia nih,... jadi sekarang punya hobby baru deh...

ngedit foto!
masih belajar sih, karena yah,... namanya juga hobby baru. so, check it out... my first photo...


konsepnya sih gak tau kayaknya persahabatan dalam foto jaman dulu... tapi kayaknya masih hancur banget hasilnya. gak papalah namanya juga belajar ^_^

oh iya di foto ini cuma ada aku, nisa sama nia... bukan karena apa-apa sih, tapi emang cuma kita bertiga yang kemarin2 sering foto di leppy. ntar deh edit fotonya yang bareng2 sama yang lain, dan semoga nanti hasilnya bisa lebih baik.. :DD

*diedit pake photoscape... catatan: menurut aku photoscape, not bad sih.. walau masih banyak keterbatasan..

Rabu, 10 November 2010

ada dan selamanya (sahabat)



Ada dan selamanya..



..”tak ada sahabat selamanya...”...

Aku masih menenggelamkan wajahku dalam, mencoba menekan semua perasaan sedih dan kecewa yang mulai menyiksaku. Pipiku basah, napasku tak teratur, tapi yang lebih parah adalah aku merasakan ada yang sakit didiriku. Yah, hatiku sakit. Ada gemuruh besar yang mengguncang semua pertahananku dan entah bagaimana mengatakannya, ini benar-benar menyakitkan..

Bulir-bulir air mata itu masih mengalir membetuk aliran yang semakin deras di kedua pipiku, ini benar-benar tak pernah aku harapkan, kali ini mataku semakin pedih. Aku ingin mengakhiri rasa yang menyakitkan ini, tapi sakit di hati ini benar-benar membuat aku tidak berdaya. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Bagaimana bisa aku kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku? Dan bagaimana bisa aku bertahan?

“huh... lagi-lagi ada yang menangis di sini? Apa tak ada tempat yang benar-benar damai di bumi ini?..” kata-kata yang terdengar penuh ejekan itu tiba-tiba saja mengagetkanku.

Aku menoleh ke arah suara itu, masih dengan mata yang merah dan aliran air mata yang belum sempat aku hapus. Aku pikir tak kan ada orang di tempat ini.. tapi, dia..

“sudah menangisnya anak kecil? Aku yakin ini pasti hanya masalah sepele. Aku heran kenapa orang mudah sekali menangis hanya karena hal sepele..” kali ini kata-katanya itu terdengar seperti pertanyaan sinis.

Aku diam, memandang tajam ke arah seseorang yang menyebalkan ini. Dia benar-benar menyebalkan, dalam keadaan bagaimanapun harusnya orang akan prihatin atau bahkan merasa iba kalau ada yang menangis, paling jahat juga cuma akan pura-pura tidak peduli. Tapi dia... huh!

“kau memang anak kecil, sudah hapus air matamu dan pergi dari sini. Menatapku seperti itu? Huh, kau kira aku akan kasihan padamu? Pergilah, aku benci orang menangis dihadapanku.” Kata-katanya itu membuat aku benar-benar tak bisa menahan emosiku. Dia menganggu singa yang sedang terluka, itu kesalahan besar!

“Hey! Kau kira kau siapa? Orang dewasa? Kau sendiri hanya seorang bocah laki-laki sok dewasa yang menyebalkan!!” aku berteriak dihadapannya , menatap tajam matanya dengan penuh kemarahan.

“hh... terserah kau saja, aku tak suka berdebat dengan anak perempuan kecil yang cengeng dan menyebalkan. Kalau kau masih mau di sini, terserah. Aku sudah malas, kau bisa si sini sampai kapanpun.” Dia beranjak pergi dari taman ini, dengan caranya yang angkuh dan menyebalkan. Aku benci dia.

***

Aku sedang berjalan dengan lemas menuju rumahku, perlahan ku alihkan pandanganku ke sebuah rumah yang ada persis di hadapanku, aku tak tahu apa itu tapi yang pasti hatiku rasanya dihujam dengan sebuah paku besar yang benar-benar membuat aku tak mampu bertahan lebih lama untuk berdiri. Aku berlari sekuat yang ku bisa meski ku tahu aku tak bisa mengubah semuanya dengan hanya berlari masuk ke rumahku.. karena ku tahu setelah ini aku hanya akan sendirian.

“kamu?...” aku baru saja mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah ketika aku menemukan dirinya sedang duduk di ruang tamu. Dia hanya tersenyum kepadaku.

“iya, maaf yah yang kemarin. Gak seharusnya aku berkata kasar ke kamu.” Dia masih tersenyum kepadaku. Bagaimana bisa dia melakukan semua ini?

“aku tahu kamu masih marah, tapi maaf aku tetap tak bisa mengubah semuanya. Maaf, aku tetap harus pergi. Aku harap kamu gak marah lagi, karena bagiku kamu adalah teman terbaik.. sahabat selamanya.” Kali ini aku merasa senyumnya itu tak berarti apa-apa. Aku tak mau mendengar lebih banyak lagi tentang semua ini, maka aku hanya bisa berlari menuju kamarku dan mengunci diri di sana.

“ kamu.. bagaimana bisa kamu bilang kalau kamu gak akan selamanya bersamaku? Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja? Kamu bilang kita sahabat.. tapi bagaimana bisa kamu seperti itu? Kamu gak mau berteman denganku lagi.. kamu cape dengan semua persahabatan kita. Dan sekarang, kamu bilang kamu harus pergi. Sahabat macam apa itu?”

Aku menangis sejadi-jadinya, aku tetap tak pernah bisa menerima semua ini terjadi. Ares menginggalkanku begitu saja? Aku tidak bisa percaya. Dia yang selalu bersamaku semenjak kelas 1 SMP, sekarang dia mau pergi begitu saja ketika baru saja lulus SMP, oh ini begitu menyakitkan. Mimpi kita masih panjang, kita bermimpi untuk selalu bersama sampai kapanpun, SMA di sekolah yang sama lalu lulus dan kuliah juga di fakultas serta universitas yang sama. Bahkan bekerja nanti pun kita tetap ingin bersama. Lalu kenapa sekarang dia memilih pergi?

“cha.., dengerin aku dulu..” ares bicara dari balik pintu kamarku, suaranya seperti menyesal. Tapi percuma kalau dia masih berniat pergi.

“cha, kamu harus ngerti. Kadang kita memang tak bisa selalu bersama. Dan kali ini, mungkin memang kita harus berpisah.. tapi kamu tetap sahabatku selamanya.” Kali ini ku dengar suaranya sedikit melemah, entah karena dia juga merasa sedih atau memang dia sudah akan pergi.

“kamu sendiri yang bilang res, kalau sahabat gak akan ninggalin sahabatnya. Kamu pembohong!” aku hanya bisa melampiaskan semua yang aku rasakan hanya dengan cara ini berteriak sekuat yang ku bisa. aku benar-benar benci merasakannya, kecewa, sedih, marah.. aku benci ares!

“cha... mengertilah. Maafin aku. Aku harus pergi, jaga diri yah cha. Jangan nangis lagi, semoga nanti aku bisa main ke sini lagi. Maaf cha..” ares sepertinya sudah menyerah sekarang, yah dia menyerah dan meninggalkanku. Tapi jika benar harus berpisah, apa harus berakhir seperti ini? Aku berlari menuju pintu, membuka kunci pintu kamarku dan berlari keluar untuk menemui ares, setidaknya aku ingin ada salam perpisahan yang dapat aku kenang.

“cha, maaf...” aku hanya diam menatap ares, walau aku ingin sekali bicara banyak hal tapi kali ini aku ingin diam, aku hanya ingin melihatnya lebih lama.. mencoba menyimpan semua kenangan dan juga gambar dirinya dalam hatiku sebagai sahabat terbaikku.

Dan dia pergi, yah pergi begitu saja meninggalkan aku.. sahabatnya. Mungkin ini saatnya aku percaya bahwa tak ada sahabat selamanya yang akan selalu bersamaku.

***

Aku berjalan perlahan menuju belakang sekolahku, yah ini sekolah baruku. Sebuah SMA dimana aku tinggal sendiri... tanpa Ares. Kaki ku terus melangkah, tadi aku sempat melihat halaman belakang sekolah dari jendela kelas, halaman yang sepi dan tenang. Aku rasa ini akan menjadi tempat yang menyenangkan, terutama jika aku hanya ingin sendiri menatap awan. Aku duduk di rumput, dibawah sebuah pohon yang cukup rindang, mataku memandang lurus ke arah awan yang terlihat indah itu, sesaat aku merasa ares masih ada di sampingku mencoba mengangguku dan melakukan banyak ke konyolan dihadapanku.

“mau nangis lagi anak kecil?” suara itu... aku mengarahkan pandanganku ke arah belakangku, seseorang yang menyebalkan itu ternyata sedang duduk dengan santai bersender ke pohon yang juga jadi tempat aku berteduh. Sejak kapan dia ada di situ?

“lagi-lagi menatapku seperti itu. Dasar anak kecil..” dia terlihat acuh dan kemudian sibuk dengan ipone-nya.

“hhuh!.” Aku tidak habis pikir ada orang seperti ini di dunia. Dia harusnya ada di planet lain.. dasar Alien!

“hey, kalau kau hanya mau menatapku seperti itu lebih baik kau pergi dari sini. Itu sungguh mengangguku. Tadinya ku kira anak kecil sepertimu hanya mau menangis sendirian lagi di sini, tapi kalau kau sudah mengangguku seperti ini lebih baik kau pergi..” dia, berkata dengan sangat cuek bahkan tanpa menatapku seperti itu, dia pikir dia siapa?!

“kamu pikir dirimu siapa? Pemilik tempat ini? Seenaknya saja mengusir orang!!” aku sedikit berteriak kepadanya, gayanya yang seenaknya dan seperti orang gila mengayun-ayunkan tangan sambil menikmati musik dari iponenya itu sungguh membuatku kesal.

“hah? Apa aku butuh alasan untuk mengusirmu? Kau sendiri yang harusnya tahu diri. Aku sudah dari tadi ada di sini, dan kau tiba-tiba datang mengusik pemandanganku serta menatapku seperti itu. Sekarang kau bilang aku tak berhak mengusirmu? Dasar anak kecil!.”

“berhenti memanggilku anak kecil, aku punya nama!”

“oh ya?? Siapa? Anak kecil....” dengan penekanan di kata ‘anak kecil’, aku merasa dia benar-benar orang yang menyebalkan. Aku rasanya ingin menyumpal mulutnya dengan daun-daun kering ini.

Aku diam, lalu dengan keyakinan melangkahkan kakiku melewatinya. Aku pergi dari tempat itu, percuma memperpanjang masalah dengan orang yang menyebalkan ini. Kalau aku bertahan lebih lama, mungkin dia yang akan pergi dan menertawakan aku seperti kemarin sebagai anak kecil. Aku tak ingin dia menganggapku seperti anak kecil.

***

“elang? Jadi namanya elang? Hm.. senior yang paling terkenal karena sikapnya yang seenaknya dan juga karena nilainya yang benar-benar hancur.” Aku bergumam dalam hati ketika teman-temanku, sesama anak baru di SMA ini, sibuk membicarkan anak laki-laki menyebalkan yang sedang di hukum di lapangan upacara itu karena ketahuan membolos. Aku heran dengan teman-temanku ini, padahal mereka tahu elang bukan anak yang baik, rajin membolos, seenaknya dan juga tak punya rekor bagus di pelajaran, tapi masih saja mereka membicarakan dengan heboh orang seperti itu. Mereka bilang dia itu keren? Huh! Apanya yang keren? Tunggu sampai mereka melihat ares, aku yakin mereka tak bisa berhenti bicara sedetik pun.

Aku kembali duduk berteduh di bawah pohon di halaman belakang sekolah, mencoba untuk menenangkan diri. Yah.. aku merindukan ares. Apa yang sedang dia lakukan di sana yah? kenapa dia belum mengabariku? Terakhir minggu lalu dia menelponku semalaman untuk mengeluhkan sekolahnya dan teman-teman barunya. Tapi semenjak itu tak ada lagi kabar, apa sekarang dia sudah punya sahabat yang lain?

“eh anak kecil, sudah nongkrong aja di sini. Kali ini beneran gak niat nangis kan?” lagi-lagi suara itu... apa yang dia lakukan? Bukankah beberapa saat yang lalu dia masih di hukum?

“hey, sudah berapa kali ku bilang jangan menatapku seperti itu! Ini tempatku, sudah satu tahun aku selalu ke sini, jadi jangan harap aku akan merelakan tempat ini jadi tempatmu, apa lagi kalau hanya digunakan untuk menangis.” Dia tersenyum mengejek kepadaku, sungguh benar-benar gila kalau aku masih bisa bertahan di sini.

“baguslah kalau kau berniat pergi. tempat ini akan kembali tenang tanpa kehadiranmu di sini.” Mendengarkannya telingaku rasanya sakit, tidak bisakah dia diam saja. Tapi dibilang seperti itu entah mengapa aku tak rela, lagi pula harus ada yang menghentikan dia berbuat seenaknya seperti ini. Maka aku kembali duduk di tempatku. Anehnya dia diam sekarang, mungkin sudah kehabisan kata-kata untuk mengejekku. Yah dia sudah tidak punya alasan.

Aku kembali menatap awan, dan entah apa yang dikerjakan elang yang menyebalkan itu yang pasti sekarang suasananya tenang. Bel tanda istirahat terdengar dari kejauhan, ini saatnya kembali ke kelas, aku membersihkan seragamku dari rumput dan dedaunan kering. Aku baru saja berniat melangkah menuju kelasku ketika ku dapati sosok yang menyebalkan itu sedang tertidur dengan damai, hm.. kalau dia diam seperti ini dia jadi terlihat berbeda. Ide jahilku muncul seketika, entah karena aku masih kesal atau malah sedikit merasa nyaman karena melihatnya yang begitu berbeda aku langsung mengambil setumpuk daun kering lalu dengan tiba-tiba ku jatuhkan di wajahnya

“bangun!! Masuk kelas woyyy!” lalu secepat kilat aku kabur, ku lihat di belakang dia sedang marah-marah sendiri membersihkan rambut dan seragamnya dari daun-daun kering yang tadi aku jatuhkan.. rasakan!

***

Aku sedang di kamarku dengan handphone di telingaku, yah... ini ares, dia sedang menelponku dan menceritakan sekolah barunya yang menyebalkan dengan segala tugas yang menyebabkan dia tak punya banyak waktu luang, tapi demi mendengar ceritaku... dia menelpon, ares masih yang terbaik.

“jadi gimana cha di sekolah barumu yang baru? Seru yah..?”

“gak asik.” Aku hanya menjawab pendek, yah memang kenyataanya kesan yang aku dapat dari sekolah baruku hanya itu, ‘gak asik’.

“loh kok gitu, yah.. harusnya kamu ke sini aja kalau di sana gak asik.”

“heh, mana punya uang aku nyusulin kamu ke amerika!”

“yah...” ares terdegar sangat kecewa. Yah aku juga kecewa dengan hal ini, hanya karena keluarga kita berbeda kita jadi terpisah begini. Ayah ares benar-benar ingin ares mendapatkan pendidikan terbaik untuk mempersiapkannya sebagai pewaris perusahaannya, dan aku.. yah aku cukup kuliah di sini saja agar tak terlalu memberatkan orang tuaku. Dan jadilah aku hanya bisa mengutuki perbedaan yang memaksa kami terpisah.

“eh, tapi di sini ada yang lebih nyebelin dari pada kamu res. Bener-bener bikin aku kesel setengah mampus deh tuh orang, masa iya dia selalu manggil aku ‘anak kecil’, apaan coba?.. trus..”

“wait... tunggu dulu cha, aku nyebelin??” dia terdengar sangat tidak yakin dengan apa yang dia dengar. Hey, kau kira dirimu bergitu sempurna?? Dasar ares!

“hehehe, dikit res.. tapi yang ini suer deh aku rasanya bisa gila kalau tersu-terusan ketemu dia.”

“lah, masa dia berani sama cha-cha yang ban hitam?”

“yeay.. mana dia tahu aku ban hitam, masa iya aku pake tulisan ‘awas ban hitam’ dijidat sih res? Ada-ada aja, dikira herder ntar.”

“hahhahaha beneran jadi kangen kamu deh cha.”

“halah... bisanya cuma ngomong doang. Kalau kangen yah pulang dong ke sini!”

“belum bisa, maaf cha.... Eh, lanjut lagi tuh cerita orang nyebelin yang lebih nyebelin dari aku itu..” aku diam sejenak, ternyata kita memang terpisah jauh, dan entah kapan kamu baru akan pulang ke sini.

“cha...”

“oh iya res, namanya itu elang.. dia itu senior yang gak banget. Kerjaannya bolos mulu, seenaknya aja ngomong dan bersikap dan aku dengar sih dia hampir aja gak naik tahun lalu.”

“elang? Kamu sekolah di SMA yang waktu itu kita janjian daftar bareng kan?”

“he.. eh. Kenapa res?”

“oh, gak. Cuma sepertinya aku tahu dia.”

“serius res? Kok bisa sih kamu kenal sama orang yang kayak gitu?”

Dan akhirnya aku tahu semua tentang elang.. hm, ternyata dia berbeda. Yah berbeda.. dan aku rasa ares benar, dia mungkin tidak seburuk yang aku kira. Dari cerita ares sih, elang memang punya sesuatu yang spesial..

***

Bel istrirahat baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu, aku kembali melangkahkan kakiku menuju halaman belakang sekolah. Entah kenapa walau disana mungkin akan ada elang lagi, aku tetap ingin ke sana. Hanya di sana aku bisa kembali merasa tenang dan bisa melihat awan.

“hm.. anak kecil sudah datang. Yah.. mari kita saksikan dia akan menatap awan dan dengan matanya yang bersinar-sinar itu mungkin kali ini dia akan menangis lagi di sini.” Elang ternyata sudah duduk dengan nyaman di bawah pohon itu ketika aku mengambil tempat jauh di depannya. Sepertinya dia masih kesal karena kejadian kemarin.

“huh.. yah setidaknya aku masih lebih baik ketimbang elang yang justru selalu takut ruang sempit.” Dia terlihat kaget mendengar kata-kataku, aku berhasil kali ini! Thanks ares!

“dari mana kau tahu tentang hal itu?” tanya elang yang sepertinya tak bisa menebak dari mana aku tahu hal ini. Yah ares sendiri bilang, kalau elang adalah tipe orang yang tertutup, tak banyak yang orang tahu tentang dirinya.

“hm.. apa yang tidak aku tahu? Kau pasti terkejut anak kecil ini ternyata tahu banyak hal.” Kali ini aku ingin membalas semua keangkuhannnya yang menyebalkan itu.

“anak kecil, sejak kapan kau belajar lebih berani.. bukankah biasanya kau hanya bisa menangis?” elang.. kau salah besar jika meremehkanku kali ini.

“hahaha, masih mengira aku anak kecil biasa. Dasar elang, BIG MAN, aku bahkan tahu kalau kau takut ketinggian! Pantas saja kau tak bisa memanjat pagar sekolah ini untuk kabur jika membolos.”

Kali ini ku lihat wajahnya merah padam, dia pasti benar-benar tidak menyangka aku tahu phobia-phobia yang tak terlihat dari sikapnya yang cuek itu, tapi inilah kenyataannya.. aku tahu semua itu.

“anak kecil....” sepertinya dia geram dengan sikapku, harusnya dia mengerti betapa tidak enaknya diperlakukan seperti itu.

“aku bukan anak kecil, jadi berhentilah memanggilku anak kecil. Aku punya naman, cha-cha.. dan kau harus berhenti memanggilku seenaknya seerti itu.”

Dia menatapku begitu saja, lalu pergi.. yah aku kira elang sudah mengetahui kalau aku bukan anak kecil biasa seperti yang dia kira, dan semoga dia berhenti memanggilku anak kecil.

***

Awan sedang terlihat indah hari ini, aku kembali duduk di tempat biasa, di bawah pohon, di halaman belakang sekolah.. elang? Hah dia pemalas sekali, siang-siang begini dia bisa dengan santainya tidur di sini. Bagaimana kalau guru menemukannya, dasar bodoh. Dia pasti akan kena hukum lagi.

“hey PRSPT! Bangun... kau tak bisa lihat awan seindah itu? Kau malah memilih tidur!”

Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, mungkin sedikit kaget dengan teriakanku. Lalu beberapa detik kemudian dia mengacak-acak rambutnya dan duduk di sampingku.

“hey anak kecil! Apa maksudmu PRSTUV itu tadi.. kau belajar mengeja?” orang ini.. baru saja bangun tidur sudah membuat kesal, kalau tak ingat kata-kata ares mungkin sudah ku bantai.

“PRSPT!”

“iya apalah itu.. kau mencoba mengeja namaku? Namaku itu E.L.A.N.G!”

“garing dodol! P.R.S.P.T itu... Penakut Ruang Sempit Penakut keTingian.” Lalu ku julurkan lidahku padanya. Dia mengacak-acak rambutnya, mungkin dia kira aku sudah melupakan semua yang aku tahu.. huh mana mungkin!

“berhenti mengumumkan pada dunia tentang phobiaku! Dasar anak kecil.!” Dia terlihat kesal, tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur tahu semuanya.

“fine, asal kau juga berhenti memanggilku ‘anak kecil’. Ok?” dia terlihat ragu. Tapi kemudian,

“okay cha-cha..” aku tersenyum puas.

Dan begitulah... kami kemudian menjadi teman, yah ares benar dia tak seburuk yang aku kira.. dia spesial.

***

Elang sedang duduk di sampingku, masih menikmati alunan musik dari iponenya. Ku lirik dia sekilas, dia masih terlalu asik dengan dunianya sendiri. Ku tarik salah satu earphonenya.

“hei.. ada apaan sih cha? Lagi chorus-nya nih..”

“aku mau nanya lang, kenapa sih kamu selalu seenaknya? Sekolah kamu gak kamu urusin sama sekali, kamu Cuma malsa-malasan gini, belum lagi sikap kamu ke orang-orang. Kenapa sih? Gak mungkin kan gak ada sebabnya.” Dia masih terlihat cuek.

“elang!!” aku sedikit berteriak di sampingnya.

“iye.. apaan sih nanya gituan. Gak penting banget.”

“serius itu kenapa? Padahal kata kamu kamu tuh gak bodoh.” Aku sengaja mengingatkannya pada kata-katanya sendiri tentang dirinya bahwa nilai jebloknya itu bukan karena dia bodoh.

“karena aku gak suka, itu aja.”

“hah? Kok bisa? Kalau kamu gak suka, ngapain kamu masih sekoalh disini lang?” aku tetap tak percaya, walau sudah tahu semua ceritanya dari ares aku tetap tak percaya elang benar-benar melakukannya hanya karena dia gak suka.

“bukan tempatnya yang disini yang gak aku suka, tapi aku gak suka ada di kelas seperti di sini, kau tahu.. aku lebih tertarik pada seni, pada alam dan pada kebebasa. Tapi sekolah disini benar-benar membosankan, semuanya diatur.. disiplin, nilai-nilai, aku lelah dengan semua hal yang menurutku tidak terlalu penting ini. Nilai bukan hanya soal kemampuan kau menjawab soal cha, tapi nilai harusnya ketika kau berhasil menyelesaikan sebuah persoalan.”

“hah?” aku sedikit tidak mengerti dengan jalan pikiran elang yang aneh ini. Dia menundukkan kepalanya, sepertinya sedikit menyesali diri.

“makanya aku gak mau cerita sama anak kecil.. kau belum ngerti apa-apa, nak.” Sedetik kemudian elang berdiri dari tempat duduknya.

“mau kemana lang, ih main tinggal.. katanya temenan?”

“mau ke kelas... ada kelas kesenian.” Dia tersenyum ke arahku.. yah hanya dengan kelas kesenian dia bisa begitu senang dan bersemangat masuk ke kelas.

...Aku gak tahu apa ini benar... tapi rasanya ares benar, kamu berbeda tidak sebeuruk yang aku kira pertama kali dan berteman denganmu mungkin menyenangkan...

***

Aku datang ke halaman belakang dengan wajah yang di tekuk-tekuk. Yah aku sedang kesal kali ini, gosip itu benar-benar mengangguku. Bagaimana mungkin aku dan elang... dasar anak-anak kurang kerjaan!

“woy cha.. itu muka kenapa? Kusut amat, mau disetrika?” bagaimana bisa dia masih becanda seperti ini. Dasar elang, yah aku lupa dia cuek setengah mati. Mana peduli dia hal beginian.

“gosip tentang kita, gak kesel?”

“hah? Kau ini.. katanya bukan anak kecil lagi, tapi hal sepele gitu aja udah dibikin pusing. Dasar cha-cha.” dia terlihat santai dan dengan santai menyuruhku duduk di sampingnya.

“iya tapi kan, tetep aja ganggu. Annoying banget sih. Bahkan temen-temen deketku pada ngeselin semua. Mereka malah bilang yang macem-macem tentang aku. padahal mereka teman, bisa-bisanya teman seperti itu.”

“hey, jangan nangis gara-gara ginian. Gak mutu banget deh cha.” Dia terlihat memperhatikan ekspresi wajahku yang masih terlihat sangat kesal.

“siapa juga yang mau nangis? Cuma... ah, aku cuma kecewa aja sama semuanya, mereka sekarang sudah tak seperti teman. Lalu harus gimana?”

“cuekin aja.”

“yey! Situ sih enak bisa cuek. Lah aku... mana bisa.”

“denegrin aku deh cha, kalau memang mereka begitu yah udah gak usah peduliin mereka dan hapus semua ingatan tentang yang mereka omongin tentang kamu.”

Aku diam sesaat, yah mau bagaimana lagi. Elang benar, percuma juga aku bersih keras kesal dan marah-marah sendiri, mending juga dicuekin.

“yah udah.. aku ada kerjaan, dah cha-cha..”

Dia pergi. yah sepertinya ada yang sedang dia kerjakan entah apa itu.. semoga saja sesuatu yang baik, sesuatu yang bisa membuat dia bahagia menjalaninya.

***

Aku lihat di pengumuman... ada kabar gembira. Elang juara! Yah dia.. walau bukan juara kelas, dia hebat! dia juara lomba menulis lagu. Dan itu tingkat nasional!

Aku mencoba menemuinya di halaman belakang sekolah, tapi dia tidak ada.. aku bingung kemana lagi dia kalau bukan di sini?.. hm, kelas seni.

Aku melangkahkan kakiku menuju ruang seni, ku lihat banyak siswa sedang menyalami elang karena keberhasilannya. Aku hanya melihatnya dari jauh... yah mungkin ini masih saatnya dia bersama yang lain karena keberhasilannya atas sesuatu yang memang bisa membuat dia bahagia, sesuatu yang dia sukai.

Aku kembali ke halaman belakang, menunggunya.. yah mengunggu hanya untuk menyampaikan selamat padanya, tapi kenyataannya dia tak pernah datang. Bahkan sampai selanjutnya.

“entah apa salahku.. dia pergi begitu saja. Lagi-lagi aku kehilangan orang yang paling dekat denganku.. tapi kali ini lebih menyakitkan, tanpa kata..”

***

Aku bukan tak berusaha mencarinya, aku bertanya pada teman-temannya, pada guru-guru tapi yang aku dapat hanya keterangan dia sudah pindah sekolah.

Ini menyakitkan, kau tahu... ini benar-benar menyakitkan. Ketika aku sudah mulai percaya bahwa akan ada sahabat yang selamanya akan bersamaku dan sekarang dia pergi. Lebih menyakitkan lagi kali ini, karena aku pernah menceritakan semua yang aku rasakan termasuk aku benci ketika ditinggalkan.. terutama oleh orang yang paling dekat denganku, sahabatku. Tapi kenyataanya dia sendiri yang melakukannya, aku tidak percaya!

Ares menghubungiku ketika sudah beberapa kali aku menghubunginya tetapi tak pernah bisa, aku menceritakan semua yang terjadi. Dia diam.. mungkin kaget, tapi harusnya dia tahu lebih banyak hal dibandingkan aku.. karena elang adalah kakaknya.

“Cha..” suara itu. Itu elang... jadi dia ke amerika juga? Oh hebat sekali dua orang kakak beradik ini. Aku baru saja ingin menutup telpon itu ketika elang tiba-tiba teriak.

“Berhenti jadi anak kecil cha..!” air mataku jatuh tiba-tiba. Dia... bisa-bisanya dia masih bicara seperti itu kepadaku.

“cha, maaf aku salah karena pergi tiba-tiba. Tapi ini juga bukan karena kemauanku. Aku mungkin memang pemberontak, tapi kali ini tak bisa... kau harus tahu, ini tanggung jawabku. Aku tak bisa mementingkan diriku sendiri sekarang.”

“cha, maaf.. aku tahu kau kecewa. Tapi kau sendiri yang pernah bilang kalau aku tak boleh terus menerus menjadi pemberontak. Kau sendiri yang bilang bahwa aku harus bahagia, atau setidaknya membawa kebahagiaan untuk orang lain.”

“hm.. kau tahu cha, kau bukan anak kecil biasa.. ares sudah menceritakan semuanya. Kau sangat luar biasa, teman terbaik yang pernah kami miliki. Maaf cha... tap kau tetap harus mengerti satu hal..” dia seperti menarik napas sejenak, lalu ku dengar suara itu menjadi dua... yah ada dua suara yang selanjutnya bicara padaku.

“sahabat ada selamanya, meski tak bersama bukan berarti selesai. Kau sahabat kerbaik cha, sahabat kami selamanya..”

Air mata itu masih mengalir deras dan semakin deras, bagaimana bisa aku kehilangan dua orang sahabat terbaikku. Bagaimana bisa? tak bisa..

“cha, ku mohon jangan menangis hanya karena ini. Nanti setelah semuanya selesai aku rasa kita pasti bisa kembali ke sana. Untuk terus bersamamu,..”

“okay anak kecil, dewasalah! Karena kau harus belajar menghadapi persoalan bukan hanya menghadapi soal-soal. Karen hidup tak selamanya sama dengan yang kita inginkan.”

Yah aku harus merelakan keduanya.. kedua sahabatku itu, mereka punya kehidupan sendiri yang harus mereka jalani. Aku tak mungkin memaksa mereka mejadi pemberontak dan membuat orang tua mereka sedih, sahabat yang baik tidak seperti itu.. sahabat yang baik adalah yang selalu mendukung sahabatnya.

“Ok, PRSPT dan ares.... awas aja yah ntar gak balik-balik.. aku susulin ke amerika ntar!”

Terdengar dari jauh ares bertanya pada kakaknya apa itu PRSPT dan elang malah balik marah ke ares ketika menyadari pasti adiknya itu yang sudah membocorkan rahasia hidupnya kepadaku..

... sahabat ada selamanya... meski tak bersama, tapi akan selalu ada...

*** the end***



Teruntuk sahabat-sahabatku... thanks all

Love you guys.

*buat cha-cha.. pinjem nama yah.. habis keinget kamu dan elang ketika nulis ini. Hehhe gak papa yah. maaf kalau gak suka, tapi dari pada elangnya sama yang lain?? Hehehe :D



Yuliana indirani

9/11/2010 23:19

Rabu, 27 Oktober 2010

Goodluck for Sonia Novita,,,,

hm, minggu ini ada lomba MTQ tingkat universitas, dan alhamdulillah salah satu dari sahabat terbaikku bisa ambil bagian dalam acara ini. Sonia novita, -Nia- , memang dianugerahi bersuara emas dan juga bakat dalam bidang MTQ, dia sudah beberapa kali memang ikut dalam lomba MTQ seperti ini. tahun lalu alhamdulillah Nia dapet juara 2 di UNSRI, yah walau agak kecewa juga karena dia jadi gak bisa ikut ke Aceh tapi kami yakin Nia tetep yang terbaik.. karena jujur bisa mengaji seperti Nia tidaklah mudah, perlu ilmu, latihan dan juga pengamalan.. dan Nia berhasil untuk menguasai bidang ini..
salut deh buat Nia...

Cantik, Pinter, Rajin, Sholiha dan punya suara merdu...
bagaimana aku gak iri sama dia???

dan tadi siang, setelah kuliah Auditing akhirnya tadi sempet nyaksiin Nia lomba...

sayang tadi Phia gak sempet ikut, dia sakit jadilah supporter nia cuma kami bertiga, aku-nisa-vanie...

kita sempet nemenin dia latihan sebentar juga sesaat di bangku belakang sebelum tampil.






dan akhirnya....
Nia selesai juga ikut lomba MTQ nya. Suaranya merdu banget tadi... semoga saja juri juga berpendapat demikian.

good luck nia... wish you all the best! semoga bisa menang dan berangkat ke makassar tahun ini ^_^

love you always sist...

...." tiap orang punya rejekinya masing-masing.... dan Nia rejekinya di MTQ......" -annisa rachmi-

AAAAMMMIIIIIIIINNN