Pages

Tampilkan postingan dengan label cerita idola cilik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita idola cilik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2011

Drama of me

“...hidup ini hidup yang penuh bahagia... tetap semangat dan jangan putus asa.. hidup ini hidup yang sangat berarti.. terus berjuang tuk menggapai impian..”

Handphoneku tiba-tiba bernyanyi di kesunyian kamar, dengan sangat malas akhirnya aku membuka pesan yang baru saja aku terima.

“Nilais udah keluar.. enjoy!”

Aku membelalakkan mataku yang tadinya masih setengah terbuka. Aku segera mengambil kacamataku dan dengan secepat kilat menyambar netbook dan modem yang ada di atas buffet di samping tempat tidurku. Ada sedikit rasa takut yang menggelitikku ketika membaca pesan singkat dari Sivia tadi, yah... aku sedikit takut ketika akhirnya kabar itu datang juga.

“SELAMAT DATANG DI SISTEM AKADEMIK UNIVERSITAS TARUMA NEGARA, SILAHKAN LOG IN”

Layar netbookku sekarang telah menampilkan halaman website kampus, sedikit gemetar akhirnya aku menarikan jariku di atas keypad untuk mengisi user id dan password yang biasa aku gunakan untuk masuk ke site sistem akademik. Peluh tiba-tiba membanjiri dahiku ketika loading untuk masuk ke site itu terasa terlalu lama.

“Arrrgh.. sial! Masa sekarang sih kumatnya! Ayolah... aku kan cuma pengen lihat hasilnya! Come on!” Aku menggerutu ketika loading itu gagal, kali ini signal sepertinya tidak bersahabat denganku. Atau mungkin sedang memberikanku pertanda buruk?

Aku menghelakan napasku, mencoba mengusir semua perasaan tak enak yang mulai menyelusup di benakku. Aku tak ingin berburuk sangka sekarang, lagi pula bukankah aku sudah mengikhlaskan semuanya? Aku menarik napasku dalam ketika jari telunjukku menekan keypad enter untuk reload.

“SELAMAT DATANG DI SISTEM AKADEMIK UNIVERSITAS TARUMA NEGARA, SILAHKAN LOG IN”

Akhirnya kalimat pembuka itu kembali hadir di layar netbookku dan tanpa pikir panjang aku kembali log in. “Semoga hasilnya yang terbaik..” aku berdo’a dalam hati sementara jemariku sibuk mengetik nomor induk mahasiswa dan tahun pelajaran untuk membuka KHS onlineku.

NAMA : Alyssa Saufika Umari

NIM : 011038110371

Halaman KHSku mulai muncul, aku masih berdo’a sambil perlahan menyusuri halaman KHS onlineku.

***

“Gimana tadi ujiannya?” aku sedang duduk di kantin dengan segelas es jeruk ketika seseorang menepuk bahuku sambil menodongku dengan pertanyaan yang sedang tak mau ku jawab. Aku hanya mengulas sebuah senyum kecil ke arahnya sambil mengangkat bahuku.

“Loh, kok? Tapi.. soal tadi emang susah sih. Aku aja gak selesai ngerjainnya.” Sivia mulai berceloteh sambil perlahan mengambil posisi duduk di hadapanku. Dia kemudian melambaikan tangannya kepada penjaga kantin dan mulai memesan makanan.

“Eh, fy.. yakin gak sama ujian kali ini?” Sivia kembali mengangkat topik pembicaraan yang tidak aku inginkan ketika dia selesai memesan makanan. Aku menghisap beberapa mililiter es jerukku sebelum akhirnya memilih menjawab pertanyaanya.

“Hm.. yah seperti biasa.” Aku mencoba menanggapinya dengan sangat biasa, meski aku tahu aku merasa tak biasa kali ini.

“Ah, ify mah enak. Hidup selalu dibawa nyantai, gak pernah takut soal nilai jeblok, gak pernah mikirin harus kerja keras buat tamat cepet, gak pernah stres kalau ujian.. ih enak banget yah jadi kamu.” Aku hanya tersenyum mendengar celotehan Via tentang diriku. Ah, apa aku benar seperti itu via?

“Fy, kok bisa sih kamu kayak gitu?” tanya Via.

“Kayak gimana maksudnya?” Aku balik bertanya pada Sivia, meski aku tahu maksud pertanyaannya. Aku hanya ingin menutupi rasa tak enak yang kembali menghampiriku karena sebetulnya aku tak pernah sesantai yang dia kira.

“Yah, kok bisa nyantai?”

“Mungkin udah dari sananya kali.. lagipula aku malas mikirinnya..” Aku mengangkat bahuku sambil tersenyum jahil.

“Kamu sih, apa-apa malas. Gimana mau maju negara ini kalau semua anak mudanya malas kayak kamu?”

“Yee... itu makanya ada kamu via, kalau semua anak muda pada malas kayak aku.. kan kamu yang jadi presiden. Yah harusnya ucapin terima kasih dong sama aku.” Sivia malah mencibirku karena jawaban super ngasal yang aku berikan, tapi toh akirnya kami bisa tertawa bersama.

***

Sivia_azizah : “Gimana nilainya?”

Tiba-tiba jendela YM hadir menghiasi layar dan menunjukkan sebuah pesan dari Sivia ketika aku baru saja sampai pada judul KHS-ku.

Alyssa_fy :“Sabar bu... baru online. Nilaimu gimana?”

Sivia_azizah : “Alhamdulillah, bagus. Wish you luck. :)”

Aku menutup jendela YM dan kembali ke halaman KHS-ku, mataku sedikit membulat metika hasil itu akhirnya benar-benar kutatap dengan mataku sendiri. Aku memejamkan mataku sesaat, sekedar untuk menetralisir gejolak yang hadir seketika di hatiku. Ini sesuai perkiraanku..

***

“Pa, maaf yah kalau semester ini agak nurun nilainya..” Aku memberanikan diri untuk buka suara ketika papa menanyakan bagaimana ujianku hari ini. Kulihat dahi papa sedikit berkerut mendengar jawabanku. Sebenarnya ini jawaban klasik yang selalu aku berikan setiap selesai ujian tapi kali ini mungkin nada biacara atau tatapan mataku memang sedikit berbeda.

“Kenapa?”

Sebuah kata tanya yang paling susah dijawab itu akhirnya meluncur dari bibir papa. Ini aneh, biasanya papa akan dengan santai tersenyum dan berkata “tidak apa-apa”. Aku memutar otak untuk mencari jawaban dari sebuah kata “kenapa?” dan nyatanya aku tak menemukan jawaban yang benar-benar bisa menjelaskan semuanya selain...

“yah... mungkin karena hanya seperti itulah kemampuanku.”

***

Alyssa_fy : “ASEP aku dapat nilai C. ”

Dengan pasti aku mengirim pesan itu di YM kepada Sivia, yah sekedar untuk membuatnya tenang atau sedikit berbagi tentang rasa yang mulai menyesakkan dada.

Sivia_azizah : “loh, kok bisa?”

Alyssa_fy : “bisa dong... yah gak papalah aku ikhlas kok. Toh aku gak selesai pas ujian. Kamu apa? Dapet A yah? selamat yah.”

Sivia_azizah : “iya alhamdulillah,.. Semoga yang lain bagus yah. : )”

Alyssa_fy : “iya”.

Aku kembali memberanikan diri menggulir halaman KHS-ku hingga nilai-nilai matakuliah lain bisa kulihat dengan jelas. Waktu terasa berhenti seketika, beberapa tetes peluh menetes dengan damai dari dahiku tanpa sedikitpun aku menghapusnya, hingga bercampur titik-titik air mata yang mengalir perlahan dan terjatuh di sisi wajahku.

Sivia_azizah : “nilai yang lain gimana? Udah dilihat?”

Tampilan YM kembali menyapa di layar netbookku, tapi aku terlanjur tenggelam dalam waktu yang berhenti, terkubur dalam bumi yang berhenti berputar, dan hanyut dalam lautan air mata yang membawaku pergi jauh.

***

Aku menundukkuan kepalaku sambil duduk menatapi kakiku yang bergerak bebas di dalam air sungai yang mengalir di bawahku.

“Ah... kenapa harus begitu hancur hanya karena aku tak yakin dengan hasil ujian itu? Bukankah aku sendiri yang menyebabkan semua ini.. “

Aku berbicara pada bayangan wajahku yang kemudian tercermin di air sungai yang tadi sempat ku kacaukan arusnya dengan kakiku. Aku menatapi diriku dari balik air, kulihat sebuah gambaran wajah kusut dan tak bercahanya sedang cemberut di sana.

“Hey.. ayolah, dunia tidak berakhir hanya karena nilaimu nanti akan mengecewakan. Ini hanya ujian penuh makna yang harus kamu lewati. Lalu, bagaimana mungkin kamu akan melewatinya dengan wajah seperti itu? Kamu harus melewatinya dengan baik.. karena inilah ujian sesungguhnya. Ayo tersenyumlah dan tunjukkanlah wajah berserimu padaku, agar aku pun bisa kuat melewatinya bersamamu.”

***

Detik kembali bergerak di sekitarku dan aku merasakan diriku perlahan kembali. Ku hirup dalam udara yang ada di sekitarku dan perlahan membiarkannya lepas, seperti melepas sebuah beban yang terasa menghimpitku, lalu perlahan aku membiarkan jariku mulai menari-nari.

Alyssa_fy : “hasilnya jelek.. IP-ku bawah tiga. Tapi gak papa kok. Oh ya, selamat yah nilainya bagus.”

Sivia_azizah : “haduh? Serius? Kok bisa? Makasih.”

Alyssa_fy : “iya. Aku off yah... sekali lagi selamat. you’re the best. :)”

Aku menutup jendela YM-ku sambil menahan perih yang tiba-tiba terasa begitu menyakitkan. Bukan karena aku iri pada Sivia, bukan. Hanya saja kecewa tiba-tiba menyelimutiku lewat rasa yang begitu gelap dan aku hanya takut tak sanggup bertahan hingga tak bisa mengakhiri percakapan ini dengan indah. Aku tak ingin merusak kebahagian yang sedang dirasakan oleh sahabatku, tapi aku tahu... aku mungkin tak sekuat itu untuk terus merayakan kebahagiannya di atas kehancuranku sendiri.

Aku terduduk lemas menatapi layar netbook yang telah kumatikan, tak ada apa-apa di sana kecuali layar hitam yang tiba-tiba menghadirkan bayang-bayang kejadian selama satu semester yang telah ku lewati.

Aku terdiam menatapi satu persatu adegan yang tampil di sana, aku yang tengah tertidur di kelas, aku yang sedang mengobrol selama jam pelajaran, aku sedang mengambar bebas selama dosen memberi penjelasan, aku sedang asik dengan handphoneku di saat aku merasa bosan bahkan adegan aku dengan malas mengerjakan tugas di subuh hari yang berakhir dengan tugas yang tak selesai dan tak ku kumpulkan.. semuanya kembali menari-nari berputar di layar netbookku. Aku menghelakan napasku, mengurut dadaku yang mulai terasa kembali sesak serta akhirnya menghapus air mata yang kembali membanjir di pipiku.

“Tak ada gunanya aku menyesalinya sekarang.. toh, tidak akan merubah hasil yang aku dapatkan. Ini semua kesalahanku dan tugasku selanjutnya adalah memperbaikinya,..”

Aku meraih handphoneku, membiarkan jempolku lincah mengetik sebuah “pengingat” yang akan selalu aku ingat untuk sekarang... dan mungkin untuk selamanya.

...”inilah ujian sesungguhnya, apa kau akan terus mengulangi kesalahan yang sama.. atau bangkit untuk mengalahkan dirmu sendiri agar bisa menjadi lebih baik”..

**** the end****

Selasa, 31 Agustus 2010

From Sivia's Notes 13

Maaf lama… enjoy yah, dan jangan lupa komen. Kritik dan saran sangat ditunggu. Thank you. ^_^

From Sivia’s Notes 13

Pernahkah kalian merasakan bahwa semua hal yang ada di sekitarmu seperti sedang berkonspirasi? mereka seakan-akan bersama-sama menyiapkan sebuah kejutan untukmu, burung-burung yang bernyanyi indah, sepoi angin yang perlahan mengayunkan ujung-ujung rambutmu, bunga-bunga yang bersemi dengan indahnya seakan selalu tersenyum untukmu, bahkan awan-awan yang berarak membuat langit seakan melukis sebuah pemandangan yang menawan. Semua seakan ingin memberikan yang terbaik untuk membuat hari mu menjadi berjuta kali lebih indah. Sebenarnya semua itu dapat dirasakan setiap saat, hanya saja mungkin aku baru saja melihat semuanya lebih jelas sekarang, ketika aku melihat semua itu terpancar dengan indah dari sosok disampingku yang dengan matanya yang berbinar menatap lembut awan yang berarak-arak di ujung langit.

“Aku selalu suka awan.. dengan hanya melihat kapas-kapas putih di langit biru yang cerah ini, semuanya terasa lebih damai.” gumam Mas Gabriel. Aku hanya mengangguk perlahan di sampingnya. Pagi ini aku kembali menemani mas Gabriel untuk sekedar berkeliling taman, dia yang memintaku, dan setelah pekerjaan pagiku yang dengan segera ku selesaikan aku menemaninya disini, menatap semua keajaiban yang diberikan oleh sang pencipta, Sang Maha Cinta.

“Besok ibu kembali..” tiba-tiba Mas Gabriel berkata pendek setelah beberapa saat kami kembali terhanyut dalam diam, menikmati keindahan taman ini.

“…Dan aku ingin memberikan kejutan, karena besok juga adalah hari ulang tahun ibu..” sambung mas gabriel, meski dia berkata dengan sangat datar aku bisa merasakan bahwa mas Gabriel sangat tulus, dia benar-benar ingin membuat ibunya bahagia.

“Wah, mas mau buat kejutan apa? Ada yang bisa via bantu?” kataku sambil tersenyum. Dia menatapku dingin, aku terkejut. Apa aku salah?

“Tentu saja kamu harus membantu, kamu kan memang ku minta untuk membantuku, lagi pula kamu kan suster pribadiku” katanya sambil tersenyum, dia sedang menggodaku. Dia.. dia benar-benar berbeda, entah kenapa. Tapi aku benar-benar menyukai perubahannya ini, sangat menyukainya.

Perlahan matahari mulai menanjak naik, aku dan mas Gabriel pun meninggalkan taman ini, sesegera mungkin kami harus membuat rencana dan mulai bekerja, besok harus ada kejutan paling manis untuk bu Tina.

***

Aku masih tak mengerti mengapa perubahan ini terasa begitu cepat, seseorang bisa berubah 180 derajat dalam sikap dan pemikirannya. Sangat sulit dipercaya, seseorang yang dahulu ku kenal sebagai sosok sedingin es yang hanya bisa memberikan sebuah senyum tipis dalam diamnya kini sosok itu sudah berubah menjadi sebuah sinar kecil yang hangat dan penuh cinta. Tapi aku percaya kalau ini kenyataan, ini nyata dan benar adanya, karena dari pertama melihat sinar kecil di matanya yang kelam, aku sudah merasa dia special, dia.. pasien yang pertama yang percaya padaku dan memberikan aku sebuah ruang dengan senyum tipisnya yang sekarang sudah menjelma sebagai senyuman pembawa kebahagiaan.. dia…. Gabriel.

***

Siang hari sambil menemani mas Gabriel makan siang di kamarnya, kami kembali membahas persiapan untuk kejutan besok. Dia diam sejenak, meletakkan satu sendok suapan nasi kembali ke dalam piringnya.

“Kamu tahu via, dulu aku selalu bermimpi untuk menghabiskan waktu di rumah sakit.. tapi sekarang aku malah merasa keinginan itu konyol, dan aku ingin segera keluar dari sini.”
Aku menatap mas Gabriel heran, apa maksudnya? Lagi pula apa kaitannya dengan persiapan kejutan yang aku bacakan ulang tadi, untuk sekedar memastikan bahwa semuanya sudah fix.

“Semuanya karena ini..” lanjut mas Gabriel sambil menunjukkan piring nasinya kepadaku.

“Loh, memangnya kenapa mas? Lagi pula mas memang aneh, kenapa juga mau menghabiskan waktu di rumah sakit? Mas kan kuliahnya tekhnik bukan kedokteran..” aku mencoba menanggapi pernyataan anehnya. Dia hanya tersenyum, melihat ekspresiku yang sepertinya terlalu serius.

“Dulu aku selalu bermimpi untuk sakit dan di rawat di rumah sakit, dengan begitu aku akan tahu siapa yang sebenarnya benar-benar menyayangiku. Karena bagiku, seseorang yang paling tulus menyayangi adalah seseorang yang ada ketika saat-saat paling tak mengenakkan dalam hidup kita. Aku rela melakukan apapun atau tinggal selama apapun untuk sekedar tahu dan bisa bersama dengan seseorang yang benar-benar menyayangiku.” Dia diam sejenak, sedikit memperhatikan aku yang mulai meresapi kata-katanya itu, sungguh bagiku kata-katanya seperti mantra yang membuat aku tak bisa berkata apa-apa.. dia, dia berfikir seperti aku berfikir.

“Tapi… sekarang aku malah merasa kalau teoriku ini konyol karena melupakan satu hal penting menyangkut betah atau tidaknya aku di sini.. yah ini, ternyata aku malah tidak betah di sini kalau harus terus memakan makanan yang sungguh tidak ada rasanya ini. Aku rasa kamu harus bilang ke koki rumah sakit ini untuk segera mengambil cooking class.. rasa makannya benar-benar buruk.” Kali ini dia tersenyum dan sedikit tertawa renyah, aku sedikit kaget namu akhirnya memilih tertawa bersamanya.

***

Sebuah senyuman terukir di wajahku, sungguh semua bayang-bayang itu masih terukir sangat jelas di hatiku. Tawa itu, tawa itu masih bisa aku ingat dan aku rasakan.. tawa bersama kami yang pertama. Tawa yang kemudian membuka lebih banyak lagi kesempatan untuk tertawa bersama, tawa yang menjadikan hatiku dan hatinya mulai merasa semakin nyaman untuk berbagi dalam suka maupun duka…

Aku kembali membalik halaman berikutnya dari diary coklatku dan hanya dalam hitungan milidetik kemudian aku kembali masuk ke dunia ku yang dulu, di saat-saat paling membahagiakan yang aku rasakan bersama seseorang yang aku rasa paling special selain ibuku.

***

Butir-butir embun membuat kaca jendela angkot yang aku tumpangi sedikit kabur, cahaya matahari pun masih sangat lembut menyapa, tidak terlalu hangat namun sangat indah pagi ini. Perlahan angkot sudah mulai mendekati sebuah stasiun kereta api, aku segera turun dari angkot itu dan membayar ongkos, setelah sedikit merapatkan kembali jaketku aku segera masuk kea rah stasiun, semoga aku tidak terlambat.

Tidak perlu lama menunggu ketika aku sampai ternyata kereta yang ditumpangi ibu mas Gabriel juga baru tida, dengan segera aku mendekati gerbong-gerbong kereta itu sambil memperhatikan satu persatu orang yang turun.

“Via!” sebuah suara memanggilku, aku tersenyum melihat ibu mas Gabriel yang baru saja turun dari sebuah gerbong dengan sebuah tas yang dijinjingnya. Segera aku menyambut ibu mas Gabriel, menyalaminya dan mengambil tasnya untuk aku bawakan… seperti yang selalu aku lakukan dulu kepada ibuku.

“Loh, kok bisa di sini? Kamu tidak kerja?” Tanya ibu mas Gabriel ketika kami sudah perlahan berjalan keluar dari stasiun.

“Mas Gabriel yang bilang kalau ibu akan pulang pagi ini, via sudah minta izin tadi bu, menjemput keluarga.. lagi pula ify bersedia bergantian shift tadi.” Jawabku sambil tersenyum.

“Terima kasih ya via.. oh ya, bagaimana keadaan Gabriel?” Tanya bu tina. Dia sebenarnya terlihat sangat lelah, tapi semuanya seakan tak menjadi masalah baginya yang dia pikirkan hanya Gabriel.

“Mas Gabriel sudah sangat baik bu, dokter bilang kesehatannya semakin meningkat..” jawabku, ingin rasanya aku bilang kalau mas Gabriel bahkan sangat membaik, dia bahkan sudah pintar menggoda dan yang paling penting dia sudah membuat kejutan unntuk ibu. Tapi aku sudah berjanji pada mas Gabriel untuk merahasiakannya, kejutan adalah kejutan.

Dari kejauhan, pagar putih rumah sakit terlihat bagai titik putih yang kemudian menjadi garis-garis putih dan kemudian terlihat dengan nyata menjadi sebuah pagar putih yang kokoh. Bu tina memang ingin langsung ke rumah sakit terlebih dahulu, dia ingin memastikan keadaan mas Gabriel, dan ini akan membuat kejutan dari kami terasa lebih manis, aku yakin.

***

Langkah bu tina seakan berpacu dengan waktu, entah kenapa bagiku dia seperti berlari-lari kecil seperti tak sabar untuk melihat mas Gabriel, mungkin dia khawatir atau mungkin merasa bersalah karena sudah meninggalkan mas Gabriel beberapa hari ini, itulah ibu… aku hanya bisa terus mengikuti langkahnya yang seperti langkah-langkah bidadari itu, langkah yang seperti sebuah tarian kasih sayang yang indah..

Aku sengaja membiarkan ibu tina membuka pintu kamar melati. Dia terlihat sedikit heran karena tidak menemukan mas Gabriel di ranjangnya yang terlihat rapi. Kemudian dia perlahan masuk dan meneliti setiap sudut kamar dan perlahan mengetuk pintu kamar mandi.. tak ada jawaban, mas Gabriel menghilang..

“Via, Gabriel kemana? Apa dia ada jadwal cuci darah sepagi ini?” Tanya bu tina sedikit heran. Aku diam.. ini apakan bagian dari kejutan? Tak ada jadwal cuci darah sepagi ini.. tapi mas Gabriel dimana, bukankah seharusnya dia tersenyum menyambut ibunya di depan pintu sambil membawa sebuah kue yang sudah ku buat dan kami hias kemarin sore dan aku antarkan pagi tadi? Jadi kemana dia.. aku hanya bisa mengangkat bahuku untuk memberikan isyarat kepada bu tina kalau aku juga tidak tahu kemana mas Gabriel..

“hm.. bu via akan coba tanya sama suster yang lain yah..” kataku sambil meletakkan tas milik bu tina dan kemudian menuju pintu. Baru saja aku ingin membuka pintu kamar itu, sayup-sayup mulai terdengar sebuah suara gitar.. aku perlahan memutar knop pintu kamar itu, suara gitar dan sebuah suara merdu kemudian dengan sangat indah memenuhi kamar ini,

“… menatap senyuman diwajahmu, membuatku terdiam dan terpaku… mengerti akan hadirnya cinta terindah.. saat kau peluk erat tubuhku…” aku terdiam.. sungguh ini kejutannya, mas gabriel perlaham masuk ke dalam kamar, masih dengan suara merdu dan gitarnya.. dia tersenyum kepadaku.

“…banyak kata.. yang tak mampu ku ungkapkan.. kepada dirimu….” Dia, meski hanya dengan pakaian rumah sakit yang sederhana, bagiku… dia terlihat seperti seorang pangeran. Perlahan dia melewatiku dan kemudian menuju bu tina yang sepertinya tidak kalah kaget denganku. Bu tina juga terdiam, hanya menatap penuh kepada mas Gabriel yang sekarang ada di hadapannya..
“Aku ingin engkau slalu… hadir dan temani aku.. disetiap langkah yang meyakiniku.. kau tercipta untukku.. spanjang hidupku….”. mas Gabriel langsung memeluk bu tina.. membisikka banyak kata cinta dan mungkin permintaan maaf yang paling tulus kepada seseorang yang bagi mas Gabriel adalah bidadari keduanya itu. Mereka berdua hanyut dalam tangis haru yang kemudian bagai sihir yang membuat bulir-bulir air mataku tanpa terasa mengalir di kedua pipiku. Aku.. aku benar-benar merasa seperti melihat sebuah adegan paling indah dalam episode kehidupan ini. Ketika cinta sudah mengikat dua hati, meski bukan oleh ikatan darah.. aku yakin ini ikatan paling tulus yang ada, ini ikatan cinta..

Aku baru saja hendak keluar dari kamar ini, mungkin ini adalah waktu yang paling bahagia untuk mereka.. tapi, suara gitar terdengar kembali, lebih keras dan lebih indah.. kali ini bu tina merangkulku, mas Gabriel bahkan kini ada di depan kami berdua… dengan suara merdunya yang seperti suara surga.

“…Aku ingin engkau slalu… hadir dan temani aku.. disetiap langkah yang meyakiniku.. kau tercipta untukku.. meski waktu akan mampu,, memanggil sluruh ragaku, kuingin kau tau.. ku slalu milikmu yang menyayangimu… spanjang hidupku..” dan dunia terasa seperti di negeri dongeng,.. aku hanya ini menikmati tiap milidetik yang terjadi sekarang, merasakan semua cinta yang seakan ikut menyelimutiku, merasakan sebuah kehangatan keluarga yang sudah lama tak ku rasakan semenjak ibu pergi.. dan demi apapun aku langsung memeluk bu tina yang ada di sampingku dan dalam hati aku sangat berterima kasih kepada mas Gabriel yang kini tersenyum dengan sangat hangat kepadaku.

Setelah beberapa saat paling indah itu.. kejutan belum selesai. Segera aku mengerling kepada mas Gabriel yang kemudian sepertinya juga mulai tersadar dengan cepat dia meletakkan gitarnya dan kemudian mengambil kue yang dia sembunyikan di lemari kecilnya.
“Selamat ulang tahun bu…” kata mas Gabriel dan aku setelah melepas pelukan dari bu tina. Ku lihat bu tina bagai tak percaya, matanya berbinar indah menatap sebuah kue sederhana dengan hiasan seadanya yang kami buat kemarin, tidak terlalu cantik memang.. tapi tulisan tangan kami yang penuh seni dengan kream di atasnya cukup membuktikan bahwa kue ini kami buat dengan penih cinta,. Hanya untuk ibu..

Bu tina benar-benar terharu, secara bergantian dia memeluk kami.. dia membisikkan banyak kata cinta dan terimakasih kepadaku.. aku membalas dengan membisikkan kata cinta dan do’a kepadanya. Semua rencanaku dan mas Gabriel sepertinya berhasil, setelah makan kue bersama-sama kami pun kemudian memberikan masing-masing kado yang sudah kami persiapkan kepada bu tina, lagi-lagi dia tanpak terharu dan kemudian bilang kalau kami benar-benar mengejutkannya dan membuatnya bahagia walau dengan cara memperlakukannya seperti anak kecil. Kami berdua hanya tertawa.. hanya ini yang bisa kami lakukan, kami hanya ingin membuat ibu bahagia.. mas Gabriel beberapa kali menatapku, matanya seakan-akan berkata bahwa dia sangat berterima kasih kepadaku, semua kekhawatirannya tentang bagaimana harus membuat ibunya bahagia dan bagaimana dia harus memulai semuanya sama sekali sudah dijawab tuntas oleh dirinya sendiri.. kini aku benar-benar yakin, dia… dia adalah seseorang yang special, penuh cinta dan ketulusan.. aku ingin saat-saat membahagiakan baginya tak pernah berakhir..

Aku baru saja ingin mengucapkan banyak terimakasih dan selamat kepada mas Gabriel ketika ku dapati dia sedang menekan perutnya dengan tangan kanannya.. aku terkejut, disaat-saat paling membahagiakan seperti ini… mungkinkah??

*****bersambung*****

Tolong masukkannya yah,. Karena saya masih mau belajar menulis, terima kasih. Dan maaf kalau seandainya belum sempat untuk di tag, semoga nanti aka nada kesempata.. jadi yang mau di tag, tetep tinggalin koment ya tentang cerita dan cara penulisannya..
Terima kasih..
_Yuliana Indriani._

Minggu, 15 Agustus 2010

From Sivia's Notes 12

maaf yah agak lama,,,, check this out!!

From Sivia’s Notes 12

Langit malam itu bagai sebuah taman dengan hiasan bintang-bintang yang bertaburan, berkelap-kelip penuh semarak. Sinar bulan pun terpendar dengan indah, memantul dan terbiaskan oleh butir-butir partikel di udara malam yang sejuk. Sungguh sebenarnya setiap hati akan merasa damai menikmati keindahan malam hari, terlebih lagi di sini. Di sini, di kaki gunung, dimana tak ada polusi cahaya oleh lampu-lampu dan juga asap kota. Di sini, dimana tak ada kebisingan dan udara penuh polusi. Di sini, di sebuah teras rumah sederhana dengan suasana seperti surga, dimana kedamaian merasuk dalam tiap hati penghuninya, benar-benar tenang tanpa ada pertengkaran dan kegelisahan.

“Kakak belum tidur?” rahmi perlahan mendekati bu tina yang sedang duduk di teras.
“Belum mi..” jawab bu tina sambil tersenyum menatap adiknya yang sekarang telah duduk di kursi teras plastik di sebelahnya.
“Kenapa? Apa ada yang tidak nyaman?” Tanya rahmi sedikit khawatir, jangan-jangan dia benar-benar tidak bisa memuliakan kakaknya sebagai tamu di rumahnya yang sederhana ini.
“Enggak kok. Kakak malah merasa sangat nyaman.” Sanggah bu tina cepat, dia tak ingin adiknya merasa bersalah apa lagi sedih. Ibu tina paham benar bahwa adik kecilnya ini mudah merasa tak enak dan sedih.
“Terus kenapa kak? Kakak ada masalah? Rahmi merasa kakak sedang mengalami masalah yang cukup berat, sejak kakak bilang akan ke sini jujur rahmi merasakan ada sesuatu. Ada apa kak sebenarnya?”

Bu tina terdiam sejenak, menarik napasnya untuk beberapa saat. Inilah mungkin saatnya dia mulai berbagi, berbagi pada adiknya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti dahulu. Mungkin adiknya dapat membantunya seperti yang dia harapkan dengan datang ke sini.
Bu tina menghelakan napasnya kembali, matanya mulai menatap lembut ke arah adiknya dan bibirnya pun mulai bercerita.

“Jadi, penyakit ginjal gabriel kian parah kak? Dan dia harus terus menerus cuci darah?” Tanya rahmi meyakinkan dirinya. Bu tina hanya mengangguk, menghelakan napasnya dan kemudian tertunduk lemah. Berat rasanya mengatakan semua beban yang menghimpitnya. Penyakit Gabriel.. hanya itu yang sebenarnya menjadi bebannya. Bukan karena dia terbebani dengan Gabriel, justru penyakit itulah bebannya, seandainya dia bisa mengganti posisinya dengan Gabriel dia justru lebih merasa tak ada beban. Tapi Gabriel… dia benar-benar tak bisa melihat Gabriel terus menerus menderita karena penyakit itu, rasa sayangnya sungguh teramat besar kepada anak itu.

“Lalu bagaimana kak?” Tanya rahmi lagi, ingin sekali dia bisa meringankan beban kakaknya itu. Dia tahu kakaknya sangat menyayangi Gabriel, dan itu melebihi rasa sayang kakaknya terhadap dirinya sendiri. Masih terbayang di ingatannya ketika kakaknya dengan penuh cinta merawat Gabriel sejak dia kecil, walau anak itu tak pernah menganggapnya sebagai ibu. Pun ketika ayah Gabriel meninggal dan Gabriel berubah menjadi anak pendiam, kakaknya tidak pergi meninggalkan Gabriel, dia tetap ada.. menjaga Gabriel dan tetap berusaha menjadi ibu yang baik. Dan ketika Gabriel pertama kali jatuh sakit dan didiagnosa memiliki penyakit ginjal yang sudah cukup parah, kakaknyalah yang selalu ada di sampingnya. Tanpa pernah mengeluh dan merasa letih.. tapi kali ini, kakaknya terlihat begitu rapuh.

“Kakak sudah hampir tak punya apa-apa lagi mi. Semuanya sudah tak ada, semuanya untuk membiayai pengobatan Gabriel. Kami sekarang hanya punya rumah peninggalan ayah Gabriel dan itu adalah hak Gabriel. Semua milik kakak sudah kakak jual, dan gaji kakak tidaklah cukup lagi untuk pengobatan Gabriel. Gabriel tidak bisa tanpa cuci darah, dia akan tersiksa. Kakak ingin dia sembuh, dan kakak akan melakukan apa pun untuk itu..” denagn sangat lembut bu tina menceritakan kegundahannya, dia mengambil napas sejenak dan kemudian bertanya.

“Kakak pernah janji kan kepadamu?”

“Janji apa kak?” Tanya rahmi tak mengerti, yah dia tak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Bila kakaknya ingin meminta bantuan biaya, dia tanpa ragu akan berupaya membantu. Tapi janji? Kenapa kakaknya malah bertanya tentang janji?

“Kakak pernah berjanji kelak untuk menjadikan anakmu seperti anak kakak sendiri, dan semua milik kakak akan menjadi miliknya..”

Rahmi terhenyak mendengar kata-kata kakaknya. Itu.. itu janji lama yang tak pernah dia ingat lagi. Sebuah janji yang diucapkan kakaknya bertahun-tahun yang lalu, sebelum kakaknya akhirnya menikah dan memiliki Gabriel. Sebuah janji yang diucapkan kakaknya dengan linangan air mata, janji yang diucapkan setelah operasi itu di lakukan, operasi yang kemudian memastikan bahwa kakaknya tak akan bisa punya anak dari rahimnya sendiri.
Mata rahmi berkilat demi mendengar ucapan kakaknya itu, untuk apa dia mengatakan janji itu. Lagi pula dia telah ikhlas, kakaknya sudah punya anak sendiri. Gabriel..

“Maafkan kakak mi, kakak gak akan bisa menunaikan janji kakak. Kakak gak bisa memberi apa-apa pada Lisa.” Kata bu Tina lemah.

“Kakak ini bicara apa? Kakak punya Gabriel, anak kakak dan bila semuanya untuk Gabriel, Rahmi rela kak dan Lisa pun pasti rela..” kata rahmi mulai menatap kakaknya tak percaya.

“Tapi mi, kakak masih punya sebidang tanah.. dan itu sudah kakak niatkan untuk Lisa. Hanya saja….” Kata-kata bu Tina tercekat. Tak sanggup rasanya dia mengatakannya. Tapi, mungkin inilah yang terbaik.

“kakak,,..” rahmi tak yakin apa yang akan kakaknya katakana, dia benar-benar tak mempermasalahkan janji itu. Melihat kakaknya bingung memikirkan janji yang sudah ia ikhlaskan itu benar-benar membuatnya merasa tak enak.

“Hanya saja kakak butuh uang untuk pengobatan Gabriel. Hanya tanah itu yang kakak punya sekarang,. Kakak… bolehkah meminta kamu lah yang menerima tanah itu. Untuk lisa.. untuk Gabriel.” Akhirnya kata-kata itu keluar juga, entah harus bagaimana lagi dia menyusun kata agar pesannya bisa sampai dengan baik kepada rahmi, dia harap rahmi dapat mengerti bahwa dia ingin sekali memberikan tanah itu, harta satu-satunya yang dia miliki kepada Lisa, tapi.. tapi dia juga butuh uang untuk Gabriel.

Rahmi mengangguk, dia mengerti maksud kakaknya. Kakaknya ingin dialah yang membeli tanah itu. Kakaknya ingin Lisa dan Gabriel lah yang memiliki tanah itu. Kakaknya tetap ingin janji itu terlaksana. Dan dia.. dia akan berusaha mewujudkannya.

“Kakak… Rahmi akan mengusahakan semunya kak. Rahmi akan berusaha mewujudkan tanah itu sebagai milik Lisa dan juga agar tanah itu bisa membantu Gabriel.” Kata rahmi dengan yakin, perkara uang mereka cukup atau tidak biar nanti urusan dia dan bang tian, yang pasti dia yakin pasti ada jalan asal dia berusaha. Ini juga adalah satu-satunya cara untuk membantu kakaknya yang keras kepala, yang tak pernah mau menerima bantuannya.

“Terima kasih mi. terima kasih..” bu Tina kemudian serta merta memeluk tubuh adiknya itu, semua keraguan dan kegelisahannya hilang sudah. Semua beban mulai terasa ringan, tanpa ia sadari bulir-bulir air mata mengalir di pipinya, hangat pelukan itu benar-benar membuat semuanya lepas.. yah mungkin sebuah batu mulai terangkat dari bahunya untuk sesaat.

***

Kicau burung terdengar merdu bagai alunan sebuah melodi indah menyambut datangnya pagi, bersemangat dan riang. Perlahan sinar mentari mulai menerobos celah-celah jendela, mengintip dan akhirnya berpendar indah membentuk sebuah aurora.
Gabriel menatap hangat sinar mentari itu, perlahan diucapkannya salam paling hangat untuk sang ibu lewat bahasa kalbunya yang mengalun di dalam hatinya yang penuh dengan kerinduan, dan pagi itu dia juga menyelipkan salam untuk seseorang yang kembali masuk ke dalam mimpinya, dan ini untuk kesekian kalinya.

“Karena ibu akan selalu menyayangimu, Gabriel…” kata-kata itu kembali mengisi hatinya. Perlahan dipejamkannya kembali matanya untuk mengingat semua yang terjadi beberapa waktu yang lalu ketika kesehatannya kembali drop, ketika dia bersih keras tak mau di bawa ke rumah sakit, ketika semuanya terasa percuma, ketika harapan hidup tak pernah lagi bersinar di hatinya, dan ketika seseorang itu tetap berjuang dengan semua yang dia miliki hanya untuk Gabriel.. ketika itulah hatinya tiba-tiba merasakan sesuatu yang sungguh menggetarkan, sesuatu yang mengubah semuanya. Perasaan itu, semakin lama semakin kuat… tulus… sungguh sekarang dia sadar bahwa dia.. dia juga sayang ibu.. ibunya, tante tina.

“Tok.. tok..” dua ketukan di pintu itu cukup untuk membuat Gabriel sadar dan kembali membuka matanya untuk melihat sosok yang perlahan masuk dengan senyum manisnya yang khas sambil membawa sebuah papan pencatatnya.

“Pagi mas..” sapa sivia sambil tersenyum.

“Pagi via.” Sivia mengangkat wajahnya dari catatannya, kaget, jelas sekali sivia terlihat kaget. Gabriel tak pernah menjawab sapaannya dengan begitu akrab. Tak pernah sebelum kemarin. Dan semuanya terasa sangat mengagumkan, perubahan itu terasa seperti keajaiban. Gabriel yang selama ini selalu dingin dan diam.. dia.. sejak kemarin tak henti-hentinya secara mengejutkan menunjukkan sisi lain dari dirinya, yang sungguh terbalik 180 derajat.

“ Adakah yang salah? ” Tanya Gabriel melihat perubahan ekspresi di wajah sivia yang benar-benar terlihat bingung.

“ ha?? Oh gak kok mas.. gak ada yang salah.” Sivia mulai salah tingkah diperhatikan oleh Gabriel yang masih terus menatapnya lekat. Sebuah senyuman terukir di bibir Gabriel.
“Maaf kalau selama ini aku mengacuhkanmu, jujur sudah sejak lama aku selalu membalas sapaanmu, walau hanya dalam hati..” hembusan angin kemudian berhembus diantara mereka, sivia benar-benar semakin melihat Gabriel dalam sosok yang berbeda, kali ini begitu jujur, lembut dan ramah. Entah kenapa pipinya memanas, mungkin kata-kata Gabriel barusan yang telah menghangatkannya.

“Sarapan datang..” suara suster yang bertugas mengantarkan sarapan tiba-tiba mengangetkan mereka. Sivia segera tersenyum ke arah susuter itu, melanjutkan membereskan catatannya dan kemudian pamit keluar kamar setelah memastikan Gabriel telah memulai sarapannya. Gabriel hanya tersenyum melepas sivia kelaur dari ruangan itu. Gadis itu.. sungguh entah sejak kapan dia sudah menempati sebuah ruang di hatinya, dan itulah yang memantapkan hatinya untuk meminta bantuannya. Yah hanya sivia yang mungkin bisa..

****
Perlahan sivia membuka pintu kamar melati, tugasnya sudah selesai dan sekarang dia datang sebagai teman, mungkin sebagai keluarga. Gabriel membalikkan badannya dari menatap jendela, kedatangan sivia siang itu memang sudah lama dia nantikan dan kini ketika sivia sudah datang dan berdiri di pinggir ranjang rumah sakit itu dengan senyumnya Gabriel menyambutnya dengan sebuah senyum hangat yang mungkin mampu membuat sebuah es mencair.

“Maaf mas, tadi saya sholat dan makan dulu..” kata sivia, dia sadar Gabriel menunggunya kali ini.
“gak papa via..”

Diam sejenak, Gabriel tiba-tiba bingung harus memulai semuanya dari mana. Dia bingung bagaimana mengatakannya, bagaimana sebenarnya dia ingin meminta bantuan pada sivia. Detik-detik berlalu secara perlahan, suasana sangat hampa tanpa ada salah seseorang diatara mereka yang mampu melenyapkan kekakuan yang mulai tercipta.

“hm….. maaf mas, sebenarnya apa yang bisa Via bantu?” akhirnya sivia memberanikan diri mencairkan semuanya, tapi masalah baru bagi Gabriel untuk menentukan dari mana dia memulai semuanya. Gabriel menatap mata sivia sejenak, perasaan yang timbul seketika itu juga mulai menumbuhkan keyakinan di hatinya. Gabriel menarik napas sebelum akhirnya memulai semuanya.

“Aku ingin kamu membantuku membuat ibu bahagia.”

>>>Bersambung….<<<<

Minggu, 25 Juli 2010

from sivia's notes 11

Hai all… wah udah 1 bulan yah saya rehat nulisnya. Maaf yah. Semoga masih ada yang mau baca lanjutannya. Maaf yah pendek..
Just enjoy! Dan jangan lupa di koment. ^_^

From Sivia’s Notes 11

Semilir angin sore itu kembali mengusik poni sivia untuk kesekian kalinya. Perlahan sivia membereskan poninya yang sedikit berantakan tapi matanya masih saja menatap Gabriel yang sedang menceritakan masa lalunya itu. Gabriel berhenti sejenak, mengalihkan pandangannya pada sosok cantik yang sedari tadi mendengarkan dengan sabar semua ceritanya. Kemudian, sebuah senyuman terukir tulus di wajahnya.

“Maaf kalau aku terpaksa membuatmu mendengarkan semua itu.” Kata Gabriel sambil tetap tersenyum ke arah sivia. Sivia segera membalas senyumannya.

“Gak perlu minta maaf mas.. via malah seneng karena mas Gabriel udah mau cerita.”
Gabriel kembali mengukir sebuah garis melengkung tipis dengan bibirnya ketika mendengar jawaban dari sivia.

“Aku mau kamu membantuku vi..”

“Membantu mas Gabriel? Apa yang bisa via Bantu mas?” kata sivia sedikit heran sambil menatap lembut ke arah Gabriel.

Gabriel diam sejenak, mengalihkan pandangannya dari wajah sivia yang masih menatap heran ke arahnya.

“…. Hm.. udah sore. Kamu pulang aja dulu. Besok kita bicarakan lagi..” setelah beberapa saat hanya kata-kata itu yang akhirnya keluar dari bibir Gabriel. Sungguh ada perasaan kecewa yang melanda hati sivia seketika itu juga. Perlahan sivia menghelakan napasnya, ia tak ingin memaksa Gabriel mengatakan tentang apa yang sebenarnya bisa dia bantu. Gabriel sudah mau cerita banyak sekali sore ini saja sudah begitu menyenangkan bagi sivia.

“ Besok aku akan mengatakannya. Ku lihat temanmu sudah cape menunggu kita dari tadi. Lihatlah dia terlihat letih menunggumu dengan skuter pink-nya itu.” Kata Gabriel sambil memandang ify yang sudah siap dengan skuternya, menunggu di depan taman. Sivia mengikuti arah pandangan Gabriel dan menyadari bahwa ify terlihat letih dan sudah tak sabar lagi. Gabriel tersenyum ketika melihat wajah sivia mulai panik, sivia jadi tak enak sendiri pada ify, tapi mau bagaimana lagi.. tak mungkin meninggalkan Gabriel begitu saja.

“Pulanglah… aku bisa kembali ke kamar sendiri.” Kata Gabriel yang seolah mengerti perasaan sivia.
“Gak mas, biar sivia antar mas Gabriel dulu.” Perlahan sivia melepas rem kursi roda Gabriel dan kemudian mengantarnya menuju kamar melati.

“Thanks for listened to me, via. nice talk with you.. see you tomorrow.” Kata Gabriel ketika sivia sudah akan meninggalkan kamarnya. Sivia membalikkan badannya dan tersenyum manis ke arah Gabriel.

“you’re welcome.”

***
“Hayo loh yang pacaran…. Lama bener di taman, sampe lupa kalau ini sudah sore dan bentar lagi maghrib!” goda ify ketika via sudah siap berdiri di depan skuter matik pink miliknya itu. Tapi via hanya diam dan sesaat kemudian tersenyum sendiri. Ify menatap heran ke arah temannya yang sekarang malah serta merta mulai berjalan ke arah gerbang rumah sakit, menginggalkan dirinya tanpa rasa berdosa sama sekali.

“… via,..! hey! Kamu mau kemana?” kata ify sambil meraih bahu sivia. Sivia kemudian perlahan menoleh ke arah ify.

“Pulang.. kemana lagi?” kata via dengan polos.

“Ha? Kenapa gak bareng? Aku kan dari tadi nungguin kamu..”

“Habisnya kamu malah ngobrol sama pohon cemara. Aku kira masih lama, jadi daripada aku kesorean mending aku jalan sendirian.” ify geleng-geleng kepala mendengar jawaban asal yang keluar dari bibir sivia.

“Dasar! Kamu sebenarnya udah tau kan kalau aku ngegodain kamu? Gitu deh kalau mau digoda, pinter banget nyerang balik, bikin mood aku hilang aja buat ngegodain kamu. Yah udah, pulang yuk..” kata ify yang setengah menyerah sambil kemudian menstarter skuter matiknya.

“ayuk pulang… gak ada acara goda-menggoda yah hari ini. Cape soalnya. hehehe” kata sivia sambil tersenyum penuh kemenangan dan kemudian segera naik ke skuter itu. Ify hanya sedikit mencibir ke arah sivia. Kemudian, perlahan melajukan motornya keluar dari gerbang rumah sakit.

***

Di kamarnya, Gabriel masih duduk di kursi rodanya. Pikirannya jauh melayang pada sosok yang sekarang telah perlahan tapi pasti ada di hatinya. Dia sudah bertekad meminta bantuan sivia, dia harus melakukannya… sebelum semuanya terlambat.

***

Deru suara berisik terdengar dari mesin kereta yang perlahan berhenti di sebuah stasiun itu membangunkan seorang ibu yang tanpa sadar telah tidur selama beberapa jam perjalannya. Perlahan dia mengemasi barang-barangnya, tak banyak memang, hanya sebuah tas dan juga jaket yang segera dia pakai karena udara sore itu sudah mulai dingin. Yah, daerah ini memang dingin karena terletak di daerah kaki pengunungan. Ibu itu berjalan perlahan keluar dari kereta yang penuh sesak.

“Kak Tina!” sebuah suara terdengar nyaring diantara banyak suara yang memenuhi stasiun itu.

Perlahan ibu itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang perempuan berkerudung putih tengah melambaikan tangan ke arahnya dia tersenyum melihatnya. Adik kecilnya itu kini terlihat seperti seorang ibu yang bahagia dengan seorang anak perempuan lucu yang ada di sampingnya. Perlahan dia berjalan mendekati adik kesayangannya itu.

“Kakak…kenapa sudah lama sekali gak pulang ke sini..” kata adiknya sambil memeluk ibu tina dengan erat.

“Kakak belum punya waktu, mi.” jawab ibu tina sambil melepaskan pelukannya dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah seorang lelaki di samping adiknya itu.

“Apa kabar tian?”

“Baik kak..”

Setelah sedikit melepas kangen dengan adik dan iparnya, Bu tina ikut ke rumah adik satu-satunya yang selisih umurnya 10 tahun dari bu tina.

Selama perjalanan, bu tina lebih banyak diam. Dia sedang merangkai kata untuk menyampaikan niatannya. Sedikit malu sebenarnya, tapi harus dia lakukan. Mungkin memang dia harus mempersiapkan semuanya, mempersiapkan kekuatannya untuk menceritkan semuanya.

***

Perlahan mobil keluarga Tian berhenti di rumah mungil sederhana, Istana mereka.

“Sudah sampai.. mari kak turun.” Ajak rahmi. Perlahan Bu Tina turun dari mobil kijang berwarna hijau keluaran tahun 1995 itu, matanya memandang lurus ke arah rumah sederhana itu. Mungkinkah? Tapi segera ditepisnya beberapa pertanyaan pesimistik yang mulai menyelimutinya.

“Mari kak, masuk..” kata tian sambil mengendong si kecil yang tertidur, membawanya masuk ke dalam rumah tanpa membangunkannya. Bu tina tersenyum ke arah iparnya itu.

“Kakak istirahat saja dulu di kamar Lisa, biar lisa tidurnya nanti sama kami. maaf yah kak kamarnya kecil.” Kata rahmi sambil membuka pintu sebuah kamar dengan nuansa biru dan beberapa boneka kecil.

“Gak apa-apa rahmi.. kakak malah mau berterima kasih banget sama kamu.maaf jadi merepotkan.”

“Ah kakak, rahmi malah seneng banget kakak mau ke sini. Tapi maaf kak kalau terlalu sederhana.” Kata rahmi sambil tersenyum, dia paham benar kalau kakaknya itu terbiasa hidup mewah. Dulu bu Tina adalah wanita karir dan kemudian menikah dengan konglomerat kaya, duda dengan satu anak. Mungkin tinggal di rumah ini akan sangat jauh dari bayangan kakaknya itu. Bu Tina hanya tersenyum. Belum saatnya dia membuka semuanya.. sebaiknya dia memang istirahat dulu sekarang.

Rahmi kemudian meninggalkan bu Tina sendirian di kamar lisa. Membiarkan kakaknya itu beristirahat sejenak setelah mengalami perjalanan jauh, terlebih kali ini dia tidak menggunakan mobil pribadinya.. kakaknya pasti cape sekali.

***

Bintang bertaburan dengan indahnya, membentuk jutaan formasi mengagumkan yang menghiasi langit malam yang tengah dipandang oleh dua bola mata indah sivia. Bersama hembusan angin malam dititipkannya salam rindu buat ibunya yang dulu amat suka memandang bintang bersamanya.

Perlahan dia menutup jendela kamarnya dan mulai duduk di ranjangnya. Tanggannya kemudian meraih diary coklat dan sebuah pena yang ada di atas lemari kecil di dekat ranjangnya itu.

Detik kemudian, tangannya mulai menari-nari menuliskan pengalamannya hari ini, kejutan-kejutan yang dia dapat hari ini, dan yang pasti adalah cerita masalalu Gabriel yang secara mengejutkan Gabriel ceritakan hari ini.

Tangannya kemudian mulai berhenti menulis. Tanpa sivia sadari dia mulai berfikir, mulai menyusun semua kejadian yang terjadi selama ini tentang pasien yang sejak awal dia anggap special itu.

Semuanya mulai sedikit jelas baginya, penyebab selama ini mengapa Gabriel diam dan juga sikap dinginnya kepada ibunya sendiri.. perlahan dia mulai mengerti dan semuanya terasa lebih masuk akal, tapi masih ada yang mengganggu pikirannya. Sebenarnya Gabriel mau dia membantu apa?

Sivia perlahan menutup diarynya dan perlahan meletakkannya kembali di samping ranjangnya sambil kemudian membaringkan tubuhnya. Dia mulai mengusir semua tanya yang mulai merasukinya tentang apa yang sebenarnya Gabriel mau dia lakukan, toh besok dia juga akan tau. Tapi apapun itu sivia berharap dia bisa melakukannya. Dia mulai memejamkan matanya dan berdo’a dalam hati. Beberapa saat kemudian dia sudah pergi ke alam mimpinya yang indah.

****bersambung****
Thanks udah mau baca.. kritiknya ditunggu. dan tetep tungguin lanjutannya yah. ^_^

Sankyou
_Yuliana Indriani_

Senin, 21 Juni 2010

From Sivia's Notes 10

Hai all…. Ini lanjutannya, maaf yah pendek, semoga part selanjutnya bisa lebih panjang. Enjoy….

From Sivia’s Notes … 10

Desiran angin pagi itu berhasil mengoyang-goyangkan rambut Gabriel yang jatuh lemas karena kepalanya tertunduk, dia sudah kehabisan tenanganya sekarang. Setelah berteriak dan meluapkan semua kekesalannya dia sekarang terduduk dengan posisi kepala menunduk di tengah taman yang sepi itu. Dari arah timur, Matahari mulai menebarkan sinar hangatnya, namun tak cukup membuat hangat batin Gabriel,.. dia berubah menjadi sosok sedingin es sekarang. Matanya hanya memancarkan sinar redup dan sendu. Perlahan dia bangkit, masih dalam diam dia berjalan kembali menuju motornya..
Gabriel baru saja hendak kembali ke motornya ketika handphonenya berdering, entah kenapa.. sepertinya tiba-tiba batinnya merasakan sebuah perasaan yang sangat mengganggu. Kemudian perasaan itu memaksanya untuk menerima panggilan di handphonenya, meski hatinya sendiri lebih memilih untuk menonaktivkan handphone itu. Untuk sejenak gabriel bimbang, jarinya ragu untuk memilih dua buah tombol yang saling bersebrangan itu terlebih ketika dia melihat nama yang tertera di layar handphonenya.. tapi akhirnya dia memutuskan menekan salah satu tombol itu lalu mendekatkan handphone itu ke telinganya.
“Gabriel... ayah.......“ sebuah suara dengan penuh isak tangis mulai berbicara.
Tak begitu jelas kata-kata yang gabriel tangkap, tapi yang pasti hatinya hancur seketika itu juga. Dia tak tahu apa-apa lagi, yang dia tahu dia hanya harus memacu motornya secepatnya kembali ke rumah.
Gabriel diam terpaku, tubuhnya lemah seketika, tulang-tulangnya terasa melepuh, rapuh dan tak mampu menahan tubuhnya, wajahnya pucat dan dia hanya bisa diam terpaku ketika menatap seseorang yang pagi tadi menepisnya itu kini terbaring kaku, seseorang yang sangat dia sayangi meski sering bertentangan dengannya itu kini tak berdaya lagi, seseorang... seseorang yang menjadi satu-satunya orang tua kandungnya yang masih hidup itu kini...... kini pun telah meninggalkan dirinya sendirian.
Gabriel masih diam, sinar di matanya yang sejak tadi redup dan sendu sekarang bahkan tak tersisa lagi. Dia hancur, dia menangis sejadi-jadinya ketika tanah itu ditutup dan memisahkan dirinya dengan sang ayah untuk selama-lamanya, dan sampai semua itu terjadi dia tak sempat mengucapkan sebuah kata maaf... dan sepertinya dia memang tak akan mengucapkan satu kata lagi karena semenjak itulah dia hanya hidup dalam dunianya, dalam diam..
*****
Malam telah pekat, bintang-bintang sudah membentuk ribuan formasi indah di langit yang gelap, bahkan bulan pun sudah muncul untuk menggantikan sang mentari yang telah selesai tugasnya. Suasana duka masih meliputi rumah ini, meski tadi puluhan orang datang untuk memberikan do’a dan berusaha memberikan kekuatan agar duka tak perlu berlarut-larut.
Untuk kesekian kalinya pintu kamar gabriel di ketuk, tapi Gabriel sama sekali tak perduli. Dia hanya diam, terduduk lemah di samping ranjangnya dengan kepala tertunduk. Perasaan aneh itu tiba-tiba kembali menyerangnya, dan sungguh menyiksa batinnya. Dia sama sekali tak pernah membayangkan semuanya akan terjadi, dia masih belum bisa menerimanya..
Pertama ibunya… lalu sekarang ayahnya… mengapa semua orang yang sangat dia sayangi itu selalu diambil darinya? Apa salahnya? Ataukah benar dia harus menyalahkan wanita yang masih terus mengetuk pintu kamarnya itu? Menyalahkannya seperti yang selama ini dia lakukan. Tidak… mungkin memang dirinyalah yang paling bersalah. Ayah …. Ayahnya marah karena dirinya dan penyakit jantungnya pasti kambuh juga karena dirinya. Sedangkan ibunya, ibunya kecelakaan… bukankah waktu itu dia juga yang menyebabkannya. Meski selama ini dia terus menyalahkan wanita itu. Wanita yang menjadi istri ayahnya sekarang, tante tina, tante yang adalah sahabat ibunya sekaligus yang menyetir ketika kecelakaan itu terjadi. Tapi, bukankah dia yang memaksa ibunya pulang hari itu, padahal hari itu ibu masih ada pekerjaan di luar kota bersama tante tina, dan tante tina terpaksa harus ngebut hingga kecelakaan itu terjadi.
Jadi… semuanya sebenarnya adalah kesalahannya,.. kesalahan dirinya… kesalahannyalah ayah dan ibunya tiada sekarang. Semua adalah kesalaannya…
“Gabriel.... buka pintunya sayang, seharian ini kamu belum makan..“ suara lembut itu, meski terdengar serak sehabis menangis namun suara itu menunjukkan betapa pemilik suara itu sungguh berusaha keras menahan semua perih di batinnya.
Tak ada jawaban, gabriel masih diam. Matanya hanya menatap kosong karpet yang terbentang di depannya. Pikirannya kacau.. perasaan bersalah itu kembali menyiksa batinnya.
Wanita di balik pintu itu hanya bisa menghelakan napasnya sambil sesekali menahan isak tangis yang seolah-olah akan pecah lagi.
“Iel.. ayah gak akan senang kalau kamu begini terus. Kamu harus makan...“
Tak ada jawaban, hanya sebuah bantingan benda keras yang terdengar dari dalam kamar itu. gabriel kembali meraih apa saja yang ada di dekatnya untuk sekedar melampiaskan kekesalannya, dia masih belum bisa menerima semuanya.. belum bisa menerimanya... terutama karena ayahnya pergi ketika dia tak ada di sisinya dan terlebih lagi dialah yang membuat ayahnya pergi.. dan dia juga yang menyebabkan ibunya pergi... semua itu kesalahannya. Matanya kemudian menatap datar pada pecahan-pecahan kaca dari sebuah pigura gambar dirinya yang dia lemparkan tadi.
“Gabriel.... ibu mohon jangan hancurkan apapun lagi. Ibu mohon buka pintunya gabriel...“ airmatanya mulai mengalir, dia takut gabriel berbuat lebih nekat. Segera dipanggilnya mang ujang untuk mendobrak pintu kamar gabriel.
Benar saja gabriel hampir saja mengoreskan pecahan kaca pada pergelangan tangannya ketika pintu berhasil di buka. Tangan wanita itu segera menepis pecahan kaca dari tangan gabriel.
“PLAAK..!“ sebuah tamparan keras mendarat di pipi gabriel.
“Apa kamu sudah gila? Kamu boleh saja marah pada ibu! Marah pada diri kamu sendiri, tapi jangan pernah kamu berusaha membunuh diri kamu sendiri gabriel!! Kalau kamu marah, kamu boleh bentak ibu, kamu bahkan boleh menampar ibu! Ibu rela... asal kamu jangan pernah berfikir untuk menyakiti diri kamu sendiri!“ bibir itu bergetar ketika mengucapkan kata-kata barusan, tapi keyakinan dalam tiap kata itu tak tergetarkan, itu memang suara hatinya.. dan dia tidak berbohong dengan kata-kata itu.
Gabriel hanya diam, tangannya masih kaku.. tak ada reaksi, meski pasti dia masih bisa mendengarkan kata-kata barusan.
“Kamu berhak menyalakan ibu atas semua yang terjadi.... tapi jangan pernah kamu menyakiti dirimu gabriel, sungguh ibu hanya meminta itu. tolong ibu untuk tetap menjagamu seperti pesan ibumu..“
Dua buah tangan itu kemudian memeluknya erat, membiarkannya sejenak kemudian merasakan sebuah kehangatan yang sudah lama tak dia rasakan, membiarkan dia sejenak merasakan bahwa tak ada yang menyalahkannya atas semua yang terjadi. Namun, gabriel diam tanpa membalas sedikitpun pelukan hangat itu..

***** bersambung*****

_Yuliana Indriani_

Koment please.... saran dan kritik juga ditunggu.. please,, thanks udah mau bacanya. ^_^

Minggu, 20 Juni 2010

From Sivia's Notes 9

Sorry kalau lama ngelanjutinnya…. Tapi seperti janji saya kepada diri saya sendiri. Saya akan tetap berusaha menyelesaikan cerita ini. Karena sebuah cerita tak akan bisa diambil hikmahnya bila belum selesai, lengkap dan sempurnya… so, enjoy this story!! Kalo lupa baca lagi aja yah part sebelumnya.. ^_^

From Sivia’s Notes … 9

Mas Gabriel menatap ke arahku, mata itu... dua bola mata itu sendu seperti biasanya namun senyum yang terukir di bibirnya membuat aku heran. Kenapa dia tersenyum?
“Via,.. Aku ingin minta tolong….” sebuah kalimat yang berhasil membuat dahi ku berkerut itu keluar langsung dari bibirnya yang tengah tersenyum kepadaku.
“Mas Gabriel mau minta tolong apa? Kalau via bisa bantu akan via bantu. ” jawabku. Ku lihat dia kembali tersenyum, matanya mulai menatap jauh ke depan ke arah matahari yang kian merendah dan bait-bait masalalunya yang mulai meluncur dari bibirnya perlahan menyelimutiku, membawa aku ke dalam perasaan yang dia rasakan.. membawaku melihat kembali cerita hidupnya.
**yuli**
Deru suara motor Tiger yang kencang itu tiba-tiba berhenti. Seorang pemuda turun dari motor yang dia parkir di depan rumah yang cukup mewah. Pemuda itu segera membuka pintu rumah dengan kunci yang memang sudah dia siapkan dan kemudian berjalan santai masuk ke dalam rumah yang sudah gelap itu.
Tiba-tiba sinar putih menyebar dari sebuah lampu yang tiba-tiba menyala. Seorang bapak menatap tajam ke arah pemuda itu.
“Gabriel!!! Kamu dari mana saja?! Pulang kuliah bukannya langsung ke rumah, malah keluyuran! Ini sudah tengah malam!! Mau jadi apa kamu?!“ bentak bapak itu. Di sampingnya sang istri sibuk mengusap-usap dadanya untuk sekedar sedikit menentramkan amarahnya.
Langkah gabriel terhenti sesaat ketika suara itu menggema. Namun, kemudian tanpa menoleh dia kembali melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
“Gabriel!!! Dasar anak kurang ajar!“
“Sabar yah... mungkin gabriel sedang capek. Biarkan saja dia istirahat dulu... kita bicarakan saja besok.“ kembali sang istri mencoba mencoba menenangkan suaminya yang mulai terhuyung. Penyakit jantung suaminya itu bisa kambuh kapan saja terutama bila terus-menerus marah dan stres seperti ini. Dengan sabar sang istri mengajak suaminya itu untuk kembali ke kamar.
Gabriel membating pintu kamarnya. Sebagian batinnya tak terima dengan bentakkan yang dia terima tadi, dia lalu menghempaskan tubuhnya ke sebuah kasur dengan badcover hitam-putih seperti papan catur di kamarnya yang nyaman itu. Diliriknya sebuah jam weker yang ada di buffet di samping kasurnya. Ini memang sudah larut malam, angka di jam itu menunjukkan pukul 00.40. Tapi apa pedulinya.. Dia berhak pulang jam berapa pun, ini adalah rumahnya. Gabriel bangkit dan duduk di kasurnya, jemari tangannya mulai mengacak-acak bebas rambut yang memang dia biarkan sedikit panjang.
“Aarrrrrgh…!!!” erangnya. Dia benar-benar pusing sekarang. Semua yang terjadi hari ini sangat mengesalkan. Hari ini... entah mengingatnya pun dia enggan, dan tadi melihat wajah ayahnya bersama wanita itu sungguh membuat gabriel semakin membenci hari ini!
“Semuanya karena wanita itu!“ batin gabriel sambil kembali mengacak-acak rambutnya. Mata gabriel kemudian menatap lurus ke sebuah foto yang ada di samping jam wekernya. Sebuah foto wanita yang amat dia cintai.
“Ibu, kenapa mesti dia yang sekarang ada di sini ? gabriel hanya mau ibu, bukan dia! dia hanya membawa petaka di rumah ini. Sekarang bahkan iel dan ayah tak pernah bisa akur! Iel hanya mau ibu...“ gabriel kemudian mengambil bingkai foto itu, memeluknya erat. Dia seperti berubah menjadi anak kecil kembali, dia tersenyum ke arah bingkai foto itu dan kemudian membawanya tidur.
**yuli**
Sinar matahari mengetuk-ngetuk jendela kamar gabriel, sebagian dari sinar itu bisa menerobos masuk selalui sela-sela tirai yang terbuka dan kemudian berhasil jatuh ke wajah gabriel yang masih terlelap. Tapi gabriel tetap saja tidur. Di tangannya, sebuah bingkai foto masih terjepit dalam pelukannya.
“Tok...tok..tok... gabriel.. bangun sayang.. sudah siang.. bukannya kamu ada kuliah?“ sebuah suara mulai menggelitik indra pendengaran gabriel. Dia sedikit menggeliatkan tubuhnya, namun tetap enggan untuk sekedar membuka matanya.
“Iel... bangun sayang...“ lagi-lagi suara itu mengganggu tidurnya.
“BERISIK!!!! Pergi jauh dari kamar gue! Gue gak suka!!!“ teriak gabriel. Seseorang di balik pintu itu terdiam seketika, tangannya yang tadinya hendak kembali mengetok pintu kamar itu menjadi lemas seketika. Tubuhnya dengan terpaksa diam, berdiri dengan kaku. Namun, dia menarik napas sejenak dan kemudian berusaha mengukir sebuah senyuman di wajahnya.
“Kalau begitu cepat bangun dan sarapan yah.. jangan sampai telat..“ kata-kata itu terucap lembut dari bibirnya. Tapi sebuah teriakkan kembali menjawab suara lembutnya itu.
“Gue udah gede!! Gak usah peduliin gue! “ wanita itu hanya kembali hanya bisa tetap berusaha mengukir senyuman tipis di wajahnya dan perlahan berjalan meninggalkan kamar itu.
Beberapa saat kemudian, Gabriel dengan malas bangun dari tidurnya, diliriknya sekilas jam weker yang ada di sampingnya. Angka yang tertera di sana adalah pukul 07.23.
“SHIT!!!!” Gabriel memukul bantalnya.. ini terlalu pagi untuknya, harusnya dia masih bisa menikmati mimpinya bersama sang ibu. Secara tak sengaja mata Gabriel kemudian menatap foto yang ada di atas tempat tidurnya itu terjatuh ketika dia menggeliatkan badannya tadi. Segera diraihnya bingkai foto itu. Gabriel tersenyum menatap potret wajah ibunya yang juga sedang tersenyum .
Setelah selesai mandi, dengan buru-buru Gabriel menyambar jaket kulit juga tas ranselnya dan kemudian berjalan santai keluar dari kamarnya sambil memegang erat kunci motornya. Dari meja makan, dua pasang mata mengamati Gabriel yang sedang menuruni tangga. Namun, dengan cuek Gabriel melewati meja makan itu dan menuju pintu depan. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika suara berat yang sempat membentaknya semalam itu memanggil namanya.
“Gabriel!”
Gabriel menoleh sesaat, mengamati ayahnya yang duduk di meja makan ditemani istrinya tercinta. Bibir Gabriel kemudian membentuk sebuah senyum sinis ketika matanya beradu dengan pandangan wanita yang sedang menemani ayahnya itu.
“Gabriel, kita harus bicara!” kembali suara berat itu memecahkan kesunyian yang ada. Terlihat sang istri sedikit kaget dan kemudian menunduk. Tak tahan mungkin dengan semua ini, bisa ditebak setelah ini aka nada adu mulut lagi… entah untuk yang keberapa kalinya.
“Aku sibuk.” Jawab Gabriel dingin. Ayahnya terlihat geleng-geleng kepala dan menghelakan napas guna menahan amarahnya.
“Kamu gak bisa seperti ini terus! kelakuan kamu itu semakin membuat ayah marah! Kalau kamu begini terus kesabaran ayah bisa habis!!“
“Kesabaran ayah? Apa ayah punya kesabaran??“ gabriel sedikit tertawa kecil. Sikapnya itu seolah benar-benar sedang mengejek ayahnya.
“Kamu ini!!!“ tiba-tiba dada ayahnya terasa sangat sakit. Sebuah tombak seolah ditancapkan tepat di jantungnya. Dia berusaha menekan dadanya untuk menahan sakitnya itu. Istrinya sudah mulai panik dan mengusap-usap dadanya.
“Bibi... ambilin obat tuan yah di laci.. cepat bi.. !! “ perintah sang istri.
Gabriel sedikit tersentak melihat ayahnya yang terlihat sangat lemah dan kesakitan, segera dia mendekat ke arah ayahnya. Namun sebuah tepisan dari sang ayah tiba-tiba menyambutnya. Semuanya kaget, termasuk istri ayahnya, wanita yang sekarang sedang memapah ayahnya untuk kembali ke kamar itu. Gabriel terdiam sesaat, namun sedetik kemudian dengan tergesa-gesa berjalan meninggalkan ruang makan itu. Sepasang mata menatap iba kepadanya, namun tak ada kata-kata yang keluar dari pemilik mata itu.
Gabriel kemudian meninggalkan rumahnya, dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Helm fullfacenya membuat semua orang tak tau bahwa sebuah bulir air mata jatuh di pipinya. Gabriel tak peduli.. dia terus memacu sepeda motornya hingga akhirnya menghentikan laju motornya di sebuah taman yang cukup sepi dan kemudian cepat-cepat membuka helmnya, dia berlari ke tengah taman dan kemudian berteriak sekencang yang dia bisa. Semua rasa yang ada di dalam batinnya selama ini mendadak berontak untuk segera keluar saat itu juga.
“AAAAArrrrrrghhhh...........!!!!!!!!!“
“Bahkan sekarang ayah tak mengizinkan aku membantu ayah..! Ayah lebih memilih wanita itu..!!!! Semuanya gara-gara dia…!! Dia !!!“
Gabriel kembali berteriak sekencang-kencangnya, ingin rasaanya dia meluapkan semua kemarahannya itu kepada ayahnya dan kepada wanita yang menjadi pendamping ayahnya sekarang tapi tak bisa, sesuatu selalu menahannya. Dia hanya bisa menjadi seorang anak yang pemberontak, anak yang nakal dan tak pernah menurut tanpa pernah memberi tahu sebab atas semua perilakunya itu. Dalam hatinya, Dia hanya benci satu orang. Orang yang membuat kehidupannya menjadi kacau seperti sekarang. Dan orang itu adalah wanita itu, wanita yang mendampingi ayahnya sekarana, istri dari ayahnya sekarang yang seharusnya dia panggil IBU….

**** bersambung****

Hua…. Maaf yah di-cut di sini…
koment please,..
Dengan segala keterbatasan, akhirnya saya kembali mencoba menulis. Jadi mohon diingatkan kalau saya banyak melakukan kesalahan yang dulu-dulu pernah saya lakukan, atau juga kesalahan baru dalam penulisan, tolong juga sarannya agar bisa menulis lebik baik.

Thanks… di tunggu komentnya yah. love you all…. ^_^
Semoga masih pada setia nungguin lanjutannya, karena ceritanya belum selesai!!..

_Yuliana indriani_

Senin, 07 Juni 2010

From Sivia's Notes 8

Hai all... sorry lama ngepost part 8-nya, maaf.... tapi udah tau kan kalo semuanya karena UAS. So, forgive me please… Now please enjoy this story, hope all of you love this story.
From Sivia’s Notes ... 8
Aku masih terdiam di tempatku, dua buah bola mata bening itu masih menatapku, masih bersinar, sejuk dan menentramkan batinku. Sungguh dimensi waktu terasa berhenti saat ini juga, hanya ada aku dan pemilik dua buah bola mata bening itu, semilir angin pun tak sanggup membuat dimensi berjalan di sekitarku. Semuanya hanya diam dan terpaku… dan bahkan bibirku tak mampu bergerak meski untuk satu milimeter sekalipun.
“Kenapa matamu sembab? Menangis semalaman?“ suara itu kembali terdengar dan membuyarkan semuanya, dimensi waktu perlahan kembali berjalan dan mulai berlari di sekitarku. Dua buah bola mata bening itu juga telah menghilang dari pandanganku, sepertinya sang pemilik sudah kembali mengalihkan pandangannya dari diriku yang masih menatap ke arahnya dalam diam.
“Eng... enggak kok mas. Mungkin cuma karena kekurangan tidur.“ Jawabku ragu-ragu sambil sedikit menyeka mataku, begitu sembabkah sampai semua orang bisa tahu bahwa aku menangis semalaman?.
Dia kembali diam, sepertinya sudah cukup puas dengan jawabanku. Aku tersenyum ke arahnya, sedikit mengangguk memberi syarat bahawa aku akan pamit keluar. Dia masih diam, tak menatapku lagi. Aku melangkahkan kakiku pasti keluar dari kamar melati itu, perlahan ku tutup pintu kamar itu dan semuanya selesai. Dan entah kenapa pertahananku luluh seketika... Sebuah bulir air mata jatuh dari mataku.. Segera ku hapus air mata itu agar tak ada seorangpun yang melihatnya.
*****
Matahari bersinar terlalu cerah hari ini, belum tengah hari saja suasana sudah sangat panas. Aku dan ify sedang duduk di kantin ketika waktu istirahat, mencoba menghilangkan dahaga dengan segelas es jeruk yang memang menjadi minuman faforit kami berdua.
“Via, udah mau cerita?“ Tanya ify sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya bisa kembali mengaduk-ngaduk es jeruk yang ada dihadapanku sambil menggeleng pelan. Ify menghelakan napasnya, sedikit kecewa sepertinya dengar tanggapan yang kuberikan.
“Maaf fy, tapi memang tak ada yang perlu diceritakan saat ini..” Aku mencoba menatapnya dan tersenyum ke arahnya. Dia hanya kembali menghelakan napasnya dan kemudian menikmati es jeruknya. Aku diam, mataku tiba-tiba menangkap sosok yang sangat ku kenal tengah berjalan ke arah kantin. Sosok itu tersenyum ke arahku dan kemudian bergegas menuju mejaku dan ify.
“Via. Ibu boleh bicara sebentar? ” tanya ibu mas gabriel ke padaku. Aku mengangguk dan pamit pada ify, kemudian mengikuti langkah kaki ibu mas Gabriel yang sedikit menjauh dari meja kami tadi.
“Via, ibu mau minta tolong.. ” ibu mas gabriel mulai berbicara, aku mengangguk mantap. “Iya bu, kalau via bisa bantu akan via bantu...“
“Begini, ibu mau minta tolong agar kamu menjaga gabriel untuk beberapa hari ini. Ibu ada urusan ke luar kota sehingga tak bisa menjaganya. Lagi pula sepertinya Gabriel hanya bisa nyaman bersama kamu.“ Aku sedikit tersentak, sejumlah pertanyaan tiba-tiba hadir dibenakku. Apa maksudnya menjaga mas gabriel untuk beberapa hari ini? Urusan apa sebenarnya yang bisa membuat ibu mas gabriel terpaksa meninggalkan mas gabriel meski hanya bebarapa hari? Dan apa maksudnya mas gabriel hanya bisa nyaman bersamaku? Tapi... ah sudahlah, tak ada salahnya aku menolong, lagi pula hanya beberapa hari.. tak mungkin lama.
“Baik bu, via akan menjaga mas gabriel.“ Ibu mas gabriel tersenyum mendengar jawabanku.
“Terima kasih via. Kamu memang baik. Ibu pamit yah..“ ibu mas gabriel memelukku sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi. Aku hanya mengangguk dan kemudian menatap kepergian ibu mas gabriel. Sosok itu kembali mengingatkanku pada ibuku.
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju mejaku dan ify tadi. Ify melihat ke arahku sambil mendelik sepertinya ingin tahu apa yang tadi kami bicarakan.
“Kenapa via?“ tanya ify, aku tersenyum ke arahnya dan menceritakan apa yang tadi disampaikan oleh ibu mas gabriel.
“Jadi untuk beberapa hari ini kamu yang akan menjaganya?“ Aku mengangguk mantap dan ify hanya tersenyum ke arahku.
*****
Jemariku perlahan membuka halaman selanjutnya dari diary yang ku pegang. Baris-baris kata kembali mulai menyapaku, huruf demi huruf yang terukir di kertas itu pun mulai menari-nari dihadapanku, dan kemudian bagai sihir semuanya kembali membawaku menyususri lorong waktu dan kemudian membawaku ke masalalu..
*****
Harum dedaunan pohon cemara di sore hari segera menyambutku dan mas gabriel ketika kami sampai di taman sore itu. Mas gabriel sengaja memintaku untuk mengantarnya ke taman sebelum kembali ke kamarnya sehabis menjalani cuci darah. Di tangannya MP4 playerku masih tergenggam erat dan earphone-nya masih terpasang di kedua telinganya. Aku menghentikan laju kursi roda itu di dekat sebuah kursi taman dan menaruhnya persis disamping kursi itu. Aku sendiri kemudian duduk di kursi taman itu..
Sesaat kami berdua hanya diam, menatap lurus ke arah sebuah diorama indah lukisan sang alam yang terbentang indah di depan kami. Sebuah potret matahari yang mulai concong hendak terbenam dibalik gedung rumah sakit dan juga sekelompok burung yang terbang mencari jalan pulang ke rumahnya berhasil membuat semua orang yang menatapnya akan merasa tenang dan tentram.
Mas gabriel melepas earphone-nya dan mulai memejamkan matanya sejenak, menghirup udara sore hari itu lalu menggumam pelan... “selamat sore ibu....“ Aku tersentak saat itu juga, ku tatap dirinya yang masih duduk dikursi rodanya dengan mata tertutup. Kulihat dia mulai membuka matanya perlahan dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku yang masih menatapnya tak percaya.
“Mengapa memandangku seperti itu?“
“A... enggak, mas gabriel… tadi mas.. hm, tadi mas bilang….“ Dia tersenyum tipis melihat aku yang mulai terbata-bata, tak bisa melanjutkan kata-kataku. Sungguh aku bingung bagaimana mengatakannya.. apa benar dia merindukan ibunya ? bukankah baru beberapa jam yang lalu ibunya pergi,..
“Aku hanya bilang, ‘selamat sore ibu…‘ aneh kah ? “ Aku diam, dia masih menatapku. Kali ini dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya, senyum tipisnya telah berganti sebuah senyum berbeda, sebuah senyum hangat untuk sahabat.
“Enggak, tapi.... ibu mas gabriel kan tidak ada di sini, lagi pula baru beberapa jam saja beliau tak ada di sini. Apakah sangat rindu?.“ Mas gabriel kembali mengukir senyuman di wajahnya ketika mendengar kata-kataku.
“Ibuku.....“
Dia diam sejenak. Ada perasaan aneh yang mulai muncul ketika mendengar sebuah kata yang keluar dari bibirnya barusan, entah perasaan apa itu. Tapi sepertinya hati ini mengenal nada ketika kata itu disebut, hati ini mengenal iramanya, bahkan hati ini sepertinya sanggup menyusun irama selanjutnya. Aku masih menatapnya ketika dia kemudian mengalihkan pandangannya dariku dan kembali menatap lurus ke depan, menatap sekelompok burung yang terbang semakin menjauh ke arah matahari yang mulai memerah dan membuat langit menjadi jingga.
“Ibuku sudah ada di tempatnya yang terindah...“
Aku terdiam. Hatiku tiba-tiba mengalunkan irama dan nada yang selama ini hanya menemani malam-malamku dan entah kenapa hatiku seperti tak dapat dikendalikan kali ini, irama itu mulai mengisi ruang-ruang di hati dan nada-nada itu mulai mengetuk-ngetuk palung hatiku. Hanya sebuah kalimat yang menjadi syairnya...
...IBU... di tempatnya yang terindah...
*****bersambung*****
Thanks udah mau baca. Maaf dikit, masih sibuk UAS... thanks a lot. Masih berlanjut kok ceritanya, koment please…
Maaf kalo gak sempat di-tag yah. ^_^ Love u all..

Selasa, 25 Mei 2010

From Sivia's Notes 7

Maaf yah kalau part 7 ini sangat amat lama di post. Saya benar-benar minta maaf.
So, enjoy this story. ^^

From sivia’s notes... 7

“tin… tin..” suara klakson skuter matic Ify terdengar lagi. Rasanya sudah lebih dari tiga kali dia membunyikannya. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk menungguku di dalam saja tapi tetap saja dia ngotot menungguk di luar. Aku baru saja selesai meminum teh ku lengkap dengan adegan tersedak ketika dia kembali membunyikan klaksonnya. Yah, tidak biasanya dia terpaksa menungguku seperti sekarang.
“lama banget vi?“ tanya Ify ketika aku, sambil membetulkan sepatu flat putihku, sedikit terburu-buru menujunya.
“kesiangan.“ Jawabku pendek. Segera kubereskan sepatu yang tadi kupakai asal-asalan. Ify menatapku heran.
“kok bisa? Mata kamu bengkak lagi. Ada apa sih?“
“gak ada apa-apa kok. Cepetan jalan, ntar kesiangan nih. “ ku paksa ify untuk segera berangkat, aku tak mau dia kembali menanyakan perihal apa yang terjadi padaku semalam. Cukup aku, diaryku dan Tuhan saja yang tahu.
Ify menstarter skuter maticnya setelah sempat memberikan helm pink kebanggaannya kepadaku. Kami pun akhirnya berangkat ke rumah sakit, kali ini dalam diam. Biasanya kami tak pernah sediam ini, aku dan ify selalu berbagi cerita sepanjang perjalanan, walau kami selalu bersama entah kenapa sepertinya kami tak pernah kehabisan bahan cerita. Tapi kali ini tidak, aku tak ingin bercerita apapun padanya sekarang dan mungkin dia mengerti itu, bukankah dia sudah lama mengenalku..
Suasana rumah sakit masih sepi ketika kami sampai. Belum ada keluarga pasien yang membesuk dan juga kesibukan lainnya, hanya beberapa keluarga pasien yang bertugas menjaga pasienlah yang terlihat sedang beraktifitas. Aku dan ify segera menuju ruangan perawat, mengisi absen sebentar dan mengambil catatan masing-masing, kemudian kami berjalan menuju kamar-kamar pasien yang seharusnya kami periksa.
Aku melangkahkan kakiku gontai, tak ada semangat.. tidak aku tak boleh seperti ini. Cukup semalam saja aku lemah dan menangis. Matahari sudah bersinar dan seharusnya aku pun kembali kuat dan bersemangat, yah seharusnya begitu, agar dapat kubagikan senyumku hari ini. Aku mengangguk kecil setelah bicara pada diriku sendiri. Ku letakkan jari telunjuk dan jari manis tangan kananku ke dekat bibir sementara tangan kiriku memgang catatan, lalu kucoba sedikit mendorong otot-otot pipiku dengan jemariku itu, mencoba membuat bibirku tersenyum.
Beginilah seharusnya dan ku yakin ibu pasti lebih suka kalau aku tersenyum. Ku helakan napasku dan ku buka pintu kamar melati.
“pagi...“ sapaku ketika memasuki kamar melati. Ku lihat mas gabriel mengerjapkan matanya kemudian sedikit menguceknya, sepertinya aku baru saja membangunkannya. Aku melirik ke arah sofa, Ibu mas gabriel masih tidur, sama seperti kemarin, sepertinya dia kelelahan. Ku pelankan suaraku agar tak membangunkannya.
“maaf mas, cek dulu yah..“ kataku sambil mulai memasangkan alat untuk mengukur tekanan darahnya. Dia hanya mengangguk, sedetik menatapku, lalu kembali diam. Ada yang aneh, dia tidak tersenyum tipis padaku. Ada apa? Apa aku berbuat salah karena telah membangunkannya? Ah, entahlah... Aku tak mau memikirkannya sekarang.
Setelah selesai mencatat aku segera pamit keluar, ku lihat Ibu mas Gabriel masih tidur. Sungguh dia terlihat sangat kelelahan, wajahnya terlihat letih, ada gurat-gurat halus yang semakin tampak membayang diwajah itu, dia letih. Setahuku memang selama satu minggu ini hanya Ibu gabriel yang menjaganya, tak ada satu pun keluarga yang lainnya. Ku yakin dia kelelahan, aku putuskan segera menyelesaikan tugasku dan kemudian akan kembali ke sini untuk sarapan bersamanya nanti.
......
Aku kembali masuk ke kamar melati, kali ini dengan sebuah nampan yang berisi penuh. Sarapan untuk Ibu mas Gabriel dan juga Mas gabriel. Aku sengaja menawarkan diri untuk membawakan sarapan mas gabriel pada suster yang bertugas untuk membawakan sarapan mas gabriel. Yah sekalian saja, toh aku memang mau ke kamar itu, dan sepertinya suster itu senang karena secara tidak langsung aku sudah meringankan sedikit pekerjaannya. Mas gabriel menatapku heran ketika aku mendekatinya setelah menaruh satu mangkuk bubur kacang hijau untuk ibunya di atas meja.
“sarapan mas.“ Kataku sambil mulai menyiapkan makanan untuknya di atas lemari kecil di samping ranjangnya. Dia menatapku sejenak, dalam, tapi kemudian kembali datar. Kulirik ibu mas gabriel yang masih tertidur, ah.. tak tega kalau aku membangunkannya sekarang. Ku putuskan untuk keluar dari kamar ketika sudah kupastikan mas gabriel sudah dalam posisi duduk dan siap sarapan. Ketika aku selesai berikan piring makanannya pada mas gabriel, aku melangkahkan kakiku menuju pintu. Namun, langkahku terhenti ketika tiba-tiba..
“kamu menangis?“ sebuah suara yang terdengar asing tiba-tiba hadir memecah kesunyian yang ada. Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Kulihat lelaki yang ada di ranjang itu masih diam di tempatnya, masih duduk dengan santai di ranjangnya. Tak ada perubahan apapun, dan dia masih diam tanpa menatapku. Apa aku salah dengar? Suara itu... tapi bukankah dia masih diam. Sepertinya aku memang salah. Aku menggeleng kecil kemudian kembali berniat melangkahkan kakiku.
“kenapa menangis semalaman?“ lagi-lagi suara itu. Cepat-cepat aku menoleh padanya. Kali ini, mata bening itu sedang menatapku, dalam dan sejuk. Seakan-akan mata itu bicara bahwa sang pemilik mata ingin aku percaya padanya, seakan-akan dia menawarkan sebuah ketentraman, seakan-akan dia ingin mengatakan kalau dia ingin aku membagi ceritaku padanya. Aku terdiam. Mungkinkah aku sedang bermimpi ?. Seseorang yang selama ini aku kenal hanya dalam diam dan hanya bisa memberikanku senyum tipis, dia.. dia sekarang sedang bertanya padaku ‘kenapa aku menangis ?’. Aku sungguh tak akan pernah percaya hal itu terjadi bila tidak kulihat sendiri mata itu masih menatapku lekat, masih diam, menunggu jawaban yang keluar dari bibirku.

***** bersambung *****

Maaf kalau masih dikit. Sedang sibuk, padahal sudah ngetik di laptop nih,.. nangung. Tapi yah biarlah, dari pada saya banyakin tapi feelnya gak dapet.
Thanks sudah mau baca cerita iseng yang sekarang jadi proyek serius ini. ^^
Kalau ada waktu, masukan dan kritikannya di tunggu. Sankyu.

Minggu, 23 Mei 2010

From Sivia's Notes 5-6

from sivia's notes...5

Ibu mas Gabriel menatapku, ku lihat dua bola mata bening itu memancarkan kesedihan. Sungguh aku ingat Ibuku. aku menggenggam tangannya, aku tahu dia butuh seseorang sekarang.“Ibu kenapa?“ Ibu mas Gabriel mengalihkan pandangannya dariku, kepalanya sedikit menggeleng.“tidak apa-apa Via..”
“kalau ada apa-apa Ibu boleh kok cerita sama Via,Via mau dengerin cerita Ibu.“ ku lihat Ibu mas Gabriel sedikit terkejut tapi sedetik kemudian dia kembali menatapku, kali ini ada sebuah senyum tipis diwajahnya.
“terima kasih Via, tapi benar tidak apa kali ini.“
“tapi tadi, Via lihat Ibu menangis, ada apa bu sebenarnya?“
“ enggak, nanti kalau ada apa-apa Ibu akan cerita.. tapi tidak sekarang. “ aku tersenyum lega. semoga benar tidak ada apa-apa.
“iya bu, Ibu gak usah ragu buat cerita ke Via. “ Ibu mas Gabriel mengangguk kecil dan kemudian tersenyum. semoga senyum itu terus menghiasi wajahmu bu.
“Via!!” aku menoleh kearah sumber suara. ku lihat Ify sudah siap di skuter matiknya. aku pamit pulang kepada Ibu mas Gabriel dan kemudian berjalan cepat menuju Ify.
Ify memberikan helm pink yang senada dengan skuter matiknya, Ify memang suka warna pink. aku agak miris menerimanya. yah jaketku sudah pink, helm pink juga ditambah dibonceng dengan skuter pink..aduh bisa dikira pinky girl nih, padahal yang gila pink itu kan Ify bukan aku.“fy, boleh gak lain kali helm-nya ganti warna lain? hitam kek, kuning kek. pokoknya jangan pink, gak enak banget kalau aku lagi pake jaket ini.” Ify tertawa kecil melihat kearahku dari ujung kaki sampe ujung kepala.
“kagak bisa, gak matcing sama skuternya. kamu aja tuh yang ganti jaket. katanya gak suka pink tapi doyan banget pake jaket itu.”
“ah Ify, ini jaket dari Ibu..gak tergantikan.”Ify hanya tersenyum.
“yah udah buruan naik,ntar kemaleman.” aku naik ke boncengan dan kami pun berangkat meninggalkan rumah sakit itu untuk hari ini.
...seusai mandi, aku menuju dapur. membuka isi kulkas kecil yang ada di dapur, mengambil satu butir telur, sedikit sayur sawi, dan bawang merah, lalu mengambil mie instan dari lemari. yah aku putuskan akan makan malam dengan mie instan, meski tidak terlalu sehat tapi sudahlah..kali ini aku malas berkreasi.
setelah selesai masak, kubawa satu mangkuk mie itu ke ruang makan, aku duduk di kursi lalu makan dalam diam. sendiri..
seusai makan malam, aku kembali ke kamar, mengambil buku diary coklat dan mulai menulisnya. menulis tentang Ibu mas Gabriel. air mataku mengalir, teringat Ibu,
..aku kangen Ibu..

from sivia”s notes...6

mataku basah ketika aku membaca barisan kata di diary itu, tiap kata yang tertulis disana kembali membawaku menyusuri ruang dan waktu. membawaku menemui Ibu.***demi sinar cinta di mata bening seorang Ibu yang mencintai anaknya, perasaan cinta ku pada Ibuku juga sebesar itu. tak ada yang lebih ku cintai didunia ini selain Ibuku....masih lekat diingatanku bagaimana Ibu mengasuhku ketika kecil, menyuapiku makanan, menggantikan pakaianku, bahkan Ibu kerap kali merapikan rambutku.lalu aku mulai tumbuh dewasa, mulai bandel, mulai tak mengindahkannya, tapi Ibu tak pernah marah, baginya aku hanya sedang manja ketika nakalku kumat.bagiku Ibu segalanya,dari kecil keluargaku hanya Ibu, yah Ibulah yang berperan sebagai Ibu, ayah, dan juga saudara ku.aku tak pernah kesepian meski kami cuma berdua.“Ibu, siVia lulus tes depkes untuk lanjut di akper!” aku berlari memeluk Ibuku ketika aku membuka surat penerimaanku sebagai siswa di akper depkes. Ibu balas memelukku, diciumnya kedua pipiku serta keningku, diusapnya kepalaku. dia bahagia untukku..“alhamdulillah Via, alhamdulillah” hanya itu yang Ibu ucapkan. tapi bagiku lebih dari cukup. kami menangis haru hari itu, menangis bahagia berdua, tapi... untuk terakhir kali.menjadi perawat adalah impianku, impian yang tertanam sejak kecil karena Ibu.“bu, kenapa Ibu jadi perawat?” tanyaku ketika aku masih suka ikut Ibu bekerja dirumah sakit. aku masih ingat Ibu tersenyum manis dan tulus sekali waktu itu.“karena Ibu ingin membantu orang-orang disini, membantu mereka bukan hanya dalam kesehatan tapi lebih dari itu, Ibu ingin membantu menghadirkan senyum diwajah mereka, hanya senyum, dan Ibu berharap dengan senyumlah mereka akan lebih semangat untuk sembuh”.. aku mengangguk kecil waktu itu, tak terlalu mengerti.. tapi entah sadar atau tidak sejak saat itu aku selalu bermimpi menjadi seorang perawat, bidadari yang membagi senyuman diwajah pasien, seperti Ibu.dan kini, impianku sudah tercapai. tapi... Ibu tak ada disampingku, tak ada untuk memeluk dan menciumku, namun aku tahu. ditempatnya yang indah, Ibu sedang tersenyum bangga melihatku..Ibu, ijinkan aku menangis malam ini untuk mu, menangis untuk kebersamaan kita yang tak berwujud nyata lagi, menangis untuk kerinduanku padamu.. Ibu, ijinkan airmata ini mengalir, menyusuri tiap liku hati yang merindu.ijinkan bu, ijinkan aku meluapkannya malam ini, agar besok aku bisa kembali tersenyum dan membagi senyumku.

Ibu,aku akan selalu mencintaimu.

***bersambung***

Rabu, 19 Mei 2010

From Sivia's Notes 1-4

ini ada cerbung saya yang saya tulis lewat hape di notes facebook.... yah idenya ngalir gitu aja pada waktu bengong, dan herannya banyak yang bilang bagus... so enjoy yah !!

>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<

from sivia's notes... 1

aku menatap sebuah buku diary kecil yang sekarang ada dipangkuanku, perlahan ku buka cover berwarna coklatnya. halaman pertama, 'sebuah pertemuan'. yah itulah judul yang tertera dihalaman pertama diary itu.. mataku kemudian menelusuri kata demi kata yang tertulis dihalaman itu.

***
hari ini, entah kenapa aku memutuskan menulis diary ini dihari ini. sudah lama sebenarnya aku memiliki diary ini, tapi entah kenapa aku tak pernah mau menulisnya. bagiku diary ini terlalu berharga jika hanya ditulis dengan cerita yang biasa, diary ini harus diisi oleh cerita yang tak biasa.. dan hari ini aku memulainya.
matahari bersinar cerah ketika aku mengayunkan langkah kakiku pagi tadi, sinarnya hangat sehangat senyum yang hendak ku bagi hari ini..
ini adalah hari pertamaku bertugas sebagai seorang perawat, yah akhirnya aku menjadi perawat, persis seperti ibuku yang sekarang sedang tersenyum bangga kepadaku dari tempatnya yang indah.
'pagi suster via..' sapa ify, teman ku dari SMA dan juga di akademi keperawatan. sekarang kami juga bekerja ditempat yang sama.. sebuah rumah sakit daerah. aku tersenyum manis ke arahnya.
'pagi suster ify..'
kami berdua lalu tertawa bersama, geli sendiri rasanya saling memanggil dengan sebutan suster.
....

siang hari, aku mulai bertugas mengecek keadaan para pasien. aku masuk ke sebuah kamar, tersenyum kearah seorang pasien yang sedang ditemani keluarganya.
'siang mas, cek dulu' kataku sambil mulai menyiapkan catatan dan mulai memeriksa pasien itu. tak banyak yg ku periksa hanya infus, tekanan darah dan juga suhu tubuhnya. aku juga menanyakan keadaanya.. yah hanya hal-hal biasa yang dilakukan sesuai prosedur keperawatan.
tapi ada yang aneh dengan pasien yang satu ini, dia hanya diam.. seorang ibu yang mendampinginyalah yang lebih banyak bicara padaku.
entah kenapa mataku masih menatapnya, dia.. dia terlihat asing, terlihat kosong. aku diam dan mulai melanjutkan mencatat lagi. setelah selesai mencatat, aku pamit kepada pasien itu dan ibunya.
'keadaanya stabil, cepat sembuh ya mas. permisi bu'.. ibunya tersenyum dan berterimakasih kepadaku, tapi dia.. dia tetap diam.
aku keluar dari kamar itu, ku helakan napasku.. aku masih mengingat ekspresi datar pasien tadi. kulirik berkas catatanku tadi..
kamar melati nomor 1, Gabriel, 23 tahun..

***

aku menutup mataku, mulai menutup halaman pertama diary itu dan beralih pada halaman keduanya. aku kembali melihat barisan kata yang dulu aku tuliskan disela-sela waktu istirahatku.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

from sivia's notes.... 2

aku menatap halaman kedua diary itu dan mulai membaca barisan kata yang terukir disana.ini masih tentang pertemuan itu.
***
aku sedang makan siang dikantin bersama dengan ify ketika mataku tak sengaja menatap ke arah kamar melati,kamar itu memang terletak tak jauh dari kantin.ibu pasien yang ku periksa tadi baru saja keluar dari kamar itu.kulihat wajah ibu yang ramah itu terlihat sendu,aku bahkan sempat melihat tangan kanannya menyeka air matanya ketika dia menutup pintu kamar.dia menangis..
'vi, kamu ngeliatin apa?' tanya ify membuyarkan lamunanku. sempat kulihat kembali kamar melati,sepi.. ibu itu sudah pergi.
'oh, enggak kok..' aku berusaha bersikap biasa. ify tersenyum kearahku,untunglah dia percaya dan tak mengusikku.
waktu istirahatku selesai.aku kembali menjalankan tugasku,kembali mengecek keadaan pasien,dan kebetulan dari jadwal yg kuterima,aku sekarang bertugas mengantarkan mas gabriel keruang cuci darah. setelah aku mengecek semua file pasien yang bernama gabriel itu, akhirnya aku tahu kalau dia menderita gagal ginjal, kondisinya sempat drop beberapa hari yang lalu.pantas saja dia terlihat lemah dan pucat.
aku mendorong kursi roda,mas gabriel duduk dengan tenang.aku memanggilnya mas karna umurnya memang lebih tua dariku,lagi pula ku rasa panggilan itulah yang paling pantas dan sopan.
sepanjang perjalanan menuju ruang cuci darah,mas gabriel hanya diam,matanya menatap kosong lurus ke depan.. beberapa kali aku mencoba mengajaknya bicara tapi dia tetap diam. akhirnya aku pun memilih diam walau aku tak ingin,tapi aku memang tak berhak memaksanya bicara.
sampai diruang cuci darah,aku membantunya naik ke ranjang, seorang perawat lain mulai memasangkan selang yang terhubung dengan sebuah mesin besar disamping ranjang itu,tak berapa lama kemudian kulihat darah mulai mengalir di selang-selang itu,sempat kulihat wajah mas gabriel sempat menahan sakit pada awalnya namun kemudian terlihat biasa saja..dia tetap diam.
ibu mas gabriel belum juga datang,aku berinisiatif menjaganya..lagi pula shiftku sudah selesai. tak tega rasanya kalau aku harus meninggalkan mas gabriel sendiri dengan selang-selang yang masih mengalirkan darah keluar dan masuk ke dalam tubuhnya..
mas gabriel masih diam, sesekali kudapati dia memejamkan matanya. proses cuci darah memang tidak sebentar butuh waktu beberapa jam. aku mengeluarkan mp4 playerku. ku tawarkan padanya, dia hanya diam.
dengan hati-hati ku pasangkan headset ke telinganya. dia tersenyum tipis..

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

from sivia's notes... 3

aku tersenyum tipis membaca catatanku,setipis senyum mas gabriel waktu itu..entah kenapa aku masih mengingatnya,aku bahkan tak dapat melupakan tiap lekuk wajah dan ekspresinya. 'symphoni yang indah',halaman berikutnya mengukir judul lagu itu dibarisan paling atas,aku kembali menyusuri lorong waktu ketika kubaca kata perkata yang tertulis dihalaman itu.
***
sudah seminggu aku bertugas sebagai perawat,aku senang.. ini impianku sejak dulu,menjadi seperti ibuku. bidadari yang berusaha membagi senyuman diwajah-wajah lemah itu...
aku kembali melangkahkan kaki dengan santai ke kamar melati,mas gabriel belum pulih benar..dia masih harus dirawat,jadwal cuci darahnya juga masih rutin.
perlahan ku buka pintu kamar itu,ku berikan senyum ku pada mas gabriel yang diam diranjangnya.
'pagi mas, cek dulu yah'
dia masih diam, tapi senyum tipisnya mulai bisa menyapaku.. sepertinya dia sudah mulai terbiasa denganku.
aku membalas senyum tipisnya itu,mulai memeriksa infus, tekanan darah dan suhu tubuhnya.. membubuhkan beberapa catatan,dia semakin membaik.
mataku kemudian tak sengaja melihat kearah mas gabriel,kulihat matanya sayu menatap kearah sofa,kuikuti arah pandangannya..
aku mengerti,disofa kamar itu seorang ibu tertidur,dia terlihat benar-benar lelah. aku mendekati sofa itu,membenarkan letak selimut yang sudah tak karuan itu,ingin sekali aku membangunkanya dan menyuruhnya istirahat dirumah,tapi wajah tulus ibu itu membuat aku tak sanggup berbuat lebih.
aku pamit keluar dari kamar itu, kulihat mas gabriel masih menatap ibunya, dia kasihan melihat ibunya..
tiba-tiba dadaku sesak,segera ku tutup pintu kamar itu.
aku kangen ibuku..
...
setelah tugasku memeriksa pasien selesai,aku buru-buru menuju kantin,memesan dua mangkuk bubur ayam dan air mineral,kulihat dari kaca dikamar melati masih ada bayangan ibu mas gabriel. seusai membayar pesananku,aku langsung membawa nampan itu ke kamar melati.. ibu mas gabriel pasti belum makan.
aku mengetuk pintu kamar itu dan coba membukanya dengan tangan kiriku,agak susah dengan nampan ditangan kananku,ibu mas gabriel akhirnya membukakan pintu untukku. wajahnya sedikit terkejut ketika melihatku datang dengan nampan,aku tersenyum ke arahnya.
'bu, belum makan kan..?' ibu mas gabriel hanya mengangguk kecil. ku taruh dua mangkuk bubur ayam itu di meja kecil didepan sofa, kamar ini kamar vip jadi punya sofa dan meja.
kulirik mas gabriel, dia tersenyum tulus kearahku seakan ingin berterima kasih. aku membalas senyumnya..

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

from sivia's notes... 4

ibu mas gabriel makan bersamaku dengan lahap,mas gabriel hanya menatap kami.pagi tadi dia sudah memakan sarapannya,menu khusus rumah sakit.
aku tersenyum dan pamit keluar setelah kami selesai makan.
'terima kasih suster,suster baik sekali.'kata ibu mas gabriel sambil menatap ku tulus.
'pangil via saja bu, saya cuma melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.'
aku keluar dari kamar itu sambil membawa nampan yang berisi dua buah mangkuk yang sudah kosong.
di kantin ku lihat ify sedang makan sendirian, aku lupa.. tadinya aku janji akan sarapan bareng.
ify nampak sedikit cemberut menatap aku yang berjalan ke arah kantin. sepertinya kali ini aku harus merayunya.
'pagi suster ify yang cantik..'
'pagi'
aku tersenyum kecil, sahabatku ini sedang ngambek. aku duduk disampingnya, menatapi setiap gerakanya.. ify batal menyuap sesendok nasi goreng yang tadinya hendak dia makan dan kemudian menatapku.
'ah via, jangan diliatin gitu..' aku tertawa geli. dia memang gak bisa makan kalau diliatin.
'makanya jangan ngambeg yah, ntar cantiknya hilang..' dia hanya mencibir kearahku dan mulai melanjutkan makannya.
'hm, dari kamar melati lagi?' aku mengangguk.
'gimana keadaan mas gabriel mu itu?' goda ify. aku memang sering cerita tentang mas gabriel padanya, tapi hanya sebagai pasien yang paling menarik perhatianku.
'hus, ngomong sembarangan.. dia bukan punya aku, punya ibunya tuh'
ify tertawa kecil, dia berhasil menggodaku..
'yah gimana keadaanya?'
'hm.. semakin membaik walau dia masih diam. hanya sekarang dia sudah mulai tersenyum meski sangat tipis..'
'semenjak lagu itu yah?'
aku mengangguk.. yah setiap aku menemaninya cuci darah aku selalu memasangkan headset ke telinganya, entah kenapa.. tapi aku ingin, melihatnya tanpa ekspresi hanya membuat aku pilu. dia juga tak pernah menolak, tetap diam.
hanya senyum tipisnyalah yang bicara kalau dia menyukai lagu itu.
sempat kulihat mp4 playerku ketika senyumnya kembali mengembang..
dia sedang mendengarkan 'symphony yang indah'.. dan itu juga lagu favoritku.
semenjak itu kulihat dia lebih sering tersenyum walau tipis.
....
aku baru keluar dari ruang ganti, shift ku selesai sore ini. aku masih mengenakan baju putih perawat, hanya ada tambahan jaket pink yang aku pakai untuk sekedar tambahan.
aku melewati taman rumah sakit, kulihat ibu mas gabriel sedang duduk sendirian disana..
entah apa yang mendorongku, ku arahkan kakiku menuju taman.
aku duduk disampingnya, kulihat dia menyeka air matanya kemudian menapku..

Minggu, 25 April 2010

Brother From Heaven

*Special for Alyssa Saufika Umari dan Mario Stevano Aditya Haling…*
Hope all of you like this story..

Brother from Heaven…

Sebuah taxi perlahan berhenti di sebuah rumah yang terlihat sederhana. Seorang ibu muda turun dan diiringi dua orang anak yang ikut turun dibelakangnya. Seorang adalah anak perempuan manis yang berumur 10 tahun yang sedang memeluk erat bonekanya sedangkan seorang lagi adalah anak laki-laki beurmur 12 tahun yang berdiri tegak disampingnya. Mereka bertiga menatap rumah baru mereka itu. Sang ibu tersenyum dan berbisik kepada keduanya..
“ini adalah syurga kita yang baru sayang…” kata sang ibu yang kemudian memeluk keduanya. Mereka pun masuk ke dalam rumah itu. Rumah itu memang sudah memiliki perabotan yang lumayan lengkap meski sangat sederhana. Yah ini memang adalah rumah baru yang mereka beli dari seorang saudara jauh, lengkap dengan semua yang ada di dalamnya, lagi pula mama sudah sempat membereskan rumah itu.
Sang anak laki-laki langsung berlari memasuki rumah itu, wajahnya cukup ceria meski rumah yang dia masuki sangat jauh bila dibandingkan dengan rumah lamanya yang jauh lebih besar.
“mama…. Rio tidur di kamar sendiri yah?” tanya anak laki-laki itu sambil melihat-lihat ruangan-ruangan yang ada.
“iya sayang.. kamu dapat kamar sendiri di sebelah kamar ify. Tapi sayang maaf tidak sebesar kamar kalian yang dulu. “ kata sang mama sambil tersenyum. Anak perempuan yang ada di sampingnya langsung berlari menyusul kakaknya.
Rio sudah masuk ke sebuah kamar yang terlihat minimalis. Hanya ada sebuah kasur kecil dan meja belajar yang sekaligus punya lemari pakaian dan juga sebuah kursi kecil. Yah hanya itu yang ada, gak ada lagi televisi 29 inci, playstasion dan satu rak kaset PSnya dulu. Tapi rio tersenyum.. ify yang mengikutinya dari belakang duduk di kasur rio.
“kecil kak....“ katanya sambil memegangi barbienya.
“yah gak papa fy, tapi jauh lebih nyaman..sekarang kita lihat kamar kamu yuk..“ kata rio sambil tersenyum. Mereka berdua keluar dari kamar itu dan mulai masuk ke kamar yang ada disebelahnya. Ruang kamar itu sedikit lebih besar memang dari kamar rio.
Di kamar ify semuanya juga sama dengan yang ada di kamar rio, hanya satu yang membedakannya, di kamar ify ada sebuah cermin yang cukup besar. Cermin itu mampu menampilkan bayangan ify dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ify tersenyum lebar.. dia suka cermin itu. Dia memutar-mutar badannya di depan cermin. Rio tersenyum melihatnya. Mama mereka yang sekarang berdiri di depan pintu juga tersenyum melihat tingkah ify yang seperti seorang model cilik. Ify senang dan sepertinya tidak jadi protes tentang ukuran kamar dan kelengkapan isinya.. cermin itu sudah berhasil mengganti semuanya.
Mereka pun keluar dari kamar itu. Sekarang mereka menuju ke ruang keluarga. Disana hanya ada TV kecil berukuran 14 inci, jauh lebih kecil dari yang dulu ada di rumah mereka. Di ruang itu mereka bertiga duduk.. menatap sebuah foto keluarga yang sudah terpasang di dinding.. menatap seseorang yang sekarang sudah tidak ada bersama mereka.. papa..
******
“ma, rio pergi dulu yah.. yuk fy“ kata rio salim ke mamanya setelah selesai menyantap sarapan sederhanya. Sepiring nasi goreng dengan telur dadar yang diris tipis-tipis, buatan sang mama. mamanya tersenyum dan memberikan sebuah kotak bekal untuk rio. Ify mengikuti rio menyalami mamanya..
“ma, ify sekolah dulu yah.. dah mama ..“ kata ify sambil mencium tangan mamanya. Mamanya juga membekali ify dengan kotak makanan yang bergambar barbie, kesukaan ify.. ify tersenyum meraihnya.
Rio dan ify akhirnya berangkat kesekolah. Rio mengambil sepedanya. Dia memang punya sepeda di sini, sepeda yang diberikan oleh om-nya yang ada di jakarta. Dan rio sangat senang punya sepeda itu. Dia sekarang selalu bersepeda kemana pun. Ify naik ke boncengan rio.
“siap??!!“ tanya rio sambil menoleh ke arah adiknya itu..
“tancap kak!!!!!!“ kata ify sambil tertawa. Rio langsung memacu sepedanya ngebut. Mereka berdua tersenyum ketika rambut mereka bergoyang-goyang ditiup angin. Sesekali mereka juga bernyanyi selama perjalanan..
“bila cinta.. mengunggah hasrat.. begitu indah mengukir hatiku.. menyentuh jiwa ku.. hapuskan semua gelisah.... duhai adikku.. sahabat hatiku.. terus dekatku.. tetap disampingku.. kuingin hidupku selalu dalam peluknya...“ rio menyanyikan lagu begitu indah..
“terang saja aku menantinya.. terang saja aku mendambanya.. terang saja aku menantinya.. karna dia.. karena dia.. begitu indah...“ ify mengiringi rio menyanyikannya. Ini memang lagu favorit mereka..
“duhai kakakku sahabat hatiku... peluk diriku,.. dekaplah jiwaku...bawa raga ku melayang... memeluk bintang...“ ify membalas rio..
“terang saja aku menantinya.. terang saja aku mendambanya.. terang saja aku merindunya... karna dia.. karena dia... begituindah... begitu indah.... begitu indah... begitu... begitu indah...“
Mereka berdua tersenyum bersama.. yah suka banget mereka menyanyikan lagu itu. Lagu begitu indah yang dulunya sering dinyanyiin papanya untuk mereka. Sayang mereka sekarang hanya bisa menyanyikan lagu itu berdua..
******
Dua tahun yang lalu ketika mereka harus pindah..
Rio, ify dan mamanya terburu-buru berlari menuju sebuah kamar di rumah sakit. Papa masuk rumah sakit karena serangan jantung. Rupanya perusahaan papa pailid dan harus menanggung kerugian besar. Papa mungkin shock mendengar kabar itu dan penyakit jantungnya kambuh.
Mama sudah menangis dari tadi, air matanya tak henti-hentinya mengalir, matanya sudah bengkak.., sambil menggandeng ify mama mengajak rio berjalan cepat-cepat menuju kamar papa.
Di kamar tampak papa sudah terbaring lemah. Ada banyak alat dipasang di tubuhnya. Bahkan tabung oksigen juga ada di sebelahnya.. mama menatap papa, ada bulir air mata yang langsung menetes ketika melihat wajah orang yang mereka sayangi itu sekarang pucat pasih. Rio dan ify diam di samping papanya. Sesekali tangan ify menyentuh tangan papanya. Gadis kecil itu seakan ingin memberi tahu papanya kalau dia ada di sampingnya sekarang. Rio melihat papanya dalam diam. Ada perasaan takut yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Tanpa dia sadari dia menahan sesak yang sesaat kemudian menjadi semakin menyesak di dadanya ketika mengamati tak ada reaksi dari papanya ketika dia memanggil papanya lemah.
“pa..“ mama kembali mencoba memanggil papa... papa hanya diam. Tapi kelopak matanya sedetik kemudian bergerak lembut. Mama menghapus air matanya dan kemudian mendekatkan kepalanya kearah papa, sangat dekat sampai akhirnya menyentuh kening papanya..
“ma..“ papa berkata lemah. Mama langsung menatap papa. Papa melepas masker oksigen yang terpasang di wajahnya. Mama tersenyum ke arah papa yang mulai menatap mereka sambil tersenyum.
“maafin papa yah... papa gagal ma..“ kata papa terbata-bata. Mama menggeleng.
“enggak pa. papa g salah,Papa g gagal. Mungkin rejeki kita memang cuma sampai sini. Lagi pula semuanya hanya titipan pa.. “ kata mama sambil menggenggam tangan papa, papa tersenyum.
“ma….. jaga anak-anak yah.. papa mau pergi. Maafin papa ..“ kata papa lemah.
“papa.. papa jangan bilang gitu…“ tangis mama pecah seketika. Air matanya yang tadi sempat dia hapus kini sudah kembali mengalir deras. Rio dan ify jadi ikut menangis. G sanggup rasanya kalau semua ini harus terjadi. Papa mengangkat tangannya. Mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipi mama..
“mama jangan nangis… kasihan anak-anak..mama mesti kuat yah. Papa titip mereka.. “ mama mengangguk mendengarkan papa yang berkata dengan sangat lembut. Elusan tangan itu memang menguatkannya.
Kemudian Papa mencoba meraih rio.. rio melangkah mendekat ke papanya, air matanya mengalir melihat papa yang biasanya kuat sekarang malah terbaring lemah.
“kak rio jaga mama sama ify yah… papa percaya sama kakak. kakak memang anak laki-laki papa yang hebat.. “ kata papa sambil tersenyum ke arah rio. Rio gak tahu apa yang memberinya kekuatan mungkin senyum itu atau mungkin juga pesan itu. Yang pasti dengan mantap rio bisa mengangguk meski air mata mengalir deras di pipinya.
Ify pun mendekat ke arah papanya, dia sesegukan melihat papanya yang lemah. Papa yang selalu memanjakannya. Papa yang selalu menciumnya ketika dia tidur. Papa yang selalu membuatnya tertawa.. sekarang papa hanya bisa tersenyum dengan wajah pucatnya.
“adek… ify jangan nangis yah….. ntar cantiknya hilang. Papa gak papa kok.. papa cuma mau pergi.. Adek baik-baik yah sama mama dan kak rio.. adek juga mesti semangat, katanya pengen jadi artis.. pengen jadi penyanyi.. model dan pianis.. adek mesti semangat biar impiannya jadi kenyataan..“ kata papa sambil membelai lembut rambut ify.
“papa jangan pergi.. ify mau papa sama-sama dengan ify, kak rio dan mama.. “
“papa akan terus ada kok… papa akan selalu ada dan melihat kalian.. papa sanyang sama kalian..“
Papa mulai bernyanyi meski dengan lemah... papa memang paling suka menyanyi bersama mereka..
“...terang saja aku menantinya.. terang saja aku mendambanya.. terang saja aku menantinya.. karna dia.. karena dia.. begitu indah...“ ...
Itu lagu terakhir yang dinyanyikan papa karena setelah itu papa tak pernah bisa bernyanyi lagi. Papa sudah pergi.. ke surga...
Semenjak papa pergi mereka harus berjuang bertiga. Hanya ada mama, rio dan ify.. karena perusahaan papa bangkrut, semua milik mereka harus disita.. hanya tersisa sedikit tabungan yang kemudian di gunakan mama untuk membeli sebuah rumah sederhana di bandung ini dan membuat usaha ketering.
Dan di sinilah mereka sekarang... di bandung...
******
Rio menghentikan laju sepedanya. Ify kemudian turun dari boncengan dan tersenyum kearahnya. Mengambil tangan rio dan menciumnya.
“ify masuk dulu ya kak... dah kakak..“ kata ify sambil tersenyum. Rio juga tersenyum sambil mengacak-acak rambut ify.
“yah udah kakak pergi dulu yah.. hati-hati yah dek.. dah” kata rio yang kemudian kembali mengayuh sepedanya menuju sekolahnya. Ify sekarang sudah kelas 6 SD sedangkan rio sudah SMP.
Ify menatap punggung kakaknya dengan tatapan sendu. Masih terbayang dulu kakaknya tidak pernah menggunakan sepeda, setiap hari ketika mereka berangkat ke sekolah mereka pasti dianter sama papa, dengan mobil Mercedes papa yang berwarna hitam.. tapi sekarang mereka harus ke sekolah dengan sepeda.
“hai fy... “ seseorang menepuk bahu ify. Ify tersenyum ke arah sahabatnya itu.
“hai via... “ kata ify sambil tersenyum. Di sekolah yang ini sudah dua tahun ify bersahabat dengan sivia. Gadis manis mojang bandung asli ini memang ramah banget sama dia. Via juga yang membuat ify suka tinggal di bandung ini.
“fy, pulang sekolah ke rumah aku yah, kamu kan belum pernah ke rumah aku.“
“hm, ntar deh aku ijin sama kak rio dulu.“
“siiip!! kan g jauh juga dari rumah kamu.“
Mereka berdua pun berjalan masuk ke kelasnya.
******
Ify di bonceng rio dari rumah sivia, dia tadi bener-bener jadi mampir ke rumah sivia dan sekarang rio sudah menjemputnya dengan sepeda kesayangannya. Dari rumah sivia tadi ify terlihat diam terus.
“fy ada apa?“ tanya rio yang masih mengayuh sepedanya. Ify yang di belakang punggung rio masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikirannya masih lekat pada Grand Piano yang ada di rumah sivia. tadi ify sempat mainin piano itu. Sudah sangat lama semenjak semuanya terjadi. Dulu ify punya piano di rumahnya. Biasanya ify selalu main piano dan rio menyanyi untuknya. Papa dan mama suka sekali mendengarkan kolaborasi keduanya. Papa dan mama sempat bilang, “mendengar kalian bagaikan mendengar suara dari surga..“ tanpa ify sadari air matanya sudah mengalir..
“fy.. ada apa?“ tanya rio lagi karena dari tadi ify gak nyahutin dia. Rio kaget ketika dia mendengar isak tangis dari belakang. Rio langsung menghentikan kayuhanya.. dia turun dari sepeda dan melihat ify yang sekarang menunduk di belakangnya..
“ada apa fy?“ tanya rio lembut sambil membelai lembut rambut adeknya itu. Ify akhirnya sesegukan dan langsung memeluk rio.
“ify kangen papa kak.. ify kangen rumah kita yang dulu.. kangen saat-saat kita nyanyi bareng papa, kangen saat-saat ify main piano dan kakak nyanyi.. mama dan papa dengerin kita, tersenyum ke arah kita.. memeluk kita dan bangga pada kita..“ tangis ify pecah. Rio diam.. dia mengerti perasaan ify. Dia juga merasakannya, melihat rumah via tadi memang seperti melihat rumah mereka yang dulu. Meski berbeda tapi suasananya memang sama. Papa dan mama sivia tadi ada, menyimak permainan piano ify, rio sempat melihatnya tadi ketika dia menjemput ify jam 3 seperti yang sudah di janjikan.
Rio membelai rambut ify lembut dalam diam, mencoba menenangkan adik kesayangannya itu yang sekarang sedang menangis dalam pelukannya. Sudah lama dia g ngelihat ify nangis semenjak papa pergi dua tahun lalu dan mereka pindah ke bandung. Mereka memang berubah menjadi anak-anak yang kuat karena mereka sadar hanya mama lah yang sekarang berjuang untuk mereka, mereka sama sekali g mau membuat mama semakin susah dan sedih.
“sudah yah fy.. kita pulang sekarang, kasihan mama nanti khawatir..“ kata rio beberapa saat kemudian. Ify langsung melepaskan diri dari pelukan rio. Tangannya mulai menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya.
“sudah.. sekarang senyum yah..” kata rio sambil tersenyum mengangkat wajah ify mencoba menatap lembut mata bening itu, mengalirkan energi agar sang pemilik mata bening itu bisa lebih tegar. Ify akhirnya mencoba tersenyum. Mereka pun pulang ke rumahnya. Yah, hanya seperti itu cara rio menenangkan ify, memeluknya, membiarkan ify menangis sejenak lalu kemudian mengajaknya untuk kembali tersenyum. Meski hati rio juga menangis, dia tidak akan pernah membahas perasaan sedihnya.. cukup dengan diam dan dia yakin itu akan lebih baik bagi ify..
“aduh.. kalian dari mana aja sih?” kata mama ketika mereka masuk ke dalam rumah.
“dari rumah temen ma, oh iya ma tadi bu ima bilang mau minta tambahan jumlah kroketnya..“ kata ify sambil salim ke mamanya. Mama ify cuma mengangguk. Rio sudah pergi ke kamarnya. Mulai asik dengan bukunya.. rio memang kutu buku. Semenjak tidak ada PS yang biasa menemaninya, rio jadi anak yang seneng banget baca. Apa pun dia baca, dari mulai Koran, majalah, buku pelajaran, semua yang bisa dibaca akan dia baca. Rio bahkan rela menyisihkan uang saku yang diberikan mamanya untuk membeli buku di pasar loak. Berkat buku-buku itu rio tumbuh menjadi anak yang berwawasan luas dan berkat buku juga dia bisa jadi juara terus dan dapat beasiswa.
Ify membantu mamanya di dapur. Menyiapkan makanan-makanan ringan pesanan warung-warung yang akan diantarkan rio pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke sekola bersama ify.
******
Hari ini ify dan rio berangkat ke pasar setelah tadi menyebarkan makanan-makanan yang sudah dipesan. Rio mau beli buku lagi katanya. Sedangkan ify, uangnya selalu dia tabung.. entah sudah berapa sekarang. Sepertinya dia punya keinginan untuk membeli sesuatu. Tapi dia g pernah bilang mau beli apa..
Rio sedang melihat-lihat buku yang ada di pasar itu… Ify juga.. dia juga suka membaca buku, tapi biasanya dia cukup pinjam dari rio. Rio sendiri terkadang membelikan satu buku pilihan ify dengan uang sakunya. Rio memang kakak yang baik..
“kak ini bagus deh..” kata ify sambil menunjukkan sebuah buku berjudul ‘Essensial Song : Love Standards’.. rio mengambil buku itu dari tangan ify. Mencoba meneliti buku itu, buku itu adalah buku lagu, buku yang memuat banyak lagu, buku yang berisi lagu-lagu yang dimainkan dengan piano…itu buku piano... rio menatap ify sejenak. Mengerti kalau sang adik masih suka banget sama piano.
“tapi fy.. kita g punya piano lagi..” kata rio akhirnya. Wajah ify berubah sendu. Harusnya memang dari awal dia sadar kalau dia g punya piano. Untuk apa beli buku yang sama sekali g bisa dia pake dan praktekin.
“yah.. gak papa sih kita beli aja“ kata rio lagi dia g tega melihat wajah adiknya yang tadi sudah bersinar cerah seketika berubah sendu .. Ify menggigit bibirnya dan kemudian menggeleng.
“gak usah kak“
Rio tersenyum menatap ify yang sekarang tertunduk lesu.. “gak papa fy, siapa tau mungkin kita nanti punya piano lagi.. who knows??“ kata rio yang langsung membayar buku itu. Buku itu memang bukan buku sembarangan. Bukan buku murah.. tapi untungnya mereka mendapatkannya di pasar itu. Jadi masih terjangkau dengan uang saku rio yang sama sekali gak gede.
Ify tersenyum menatap rio yang memberikan bungkusan plastik buku piano itu kepada ify. Kak... kakak baik banget.. ify bahagia punya kakak.. kakak memang kakak yang paling baik.. kakak yang dikirimkan dari surga untuk ify......
*****
Rio membaringkan tubuhnya di kasur.. dia masih memikirkan apa yang terjadi tadi sore…
“uang tabungan ify hilang kak?” ify terisak. Rio memeluk ify yang sedang menangis di taman. Rio g sengaja tadi melihat sosok adiknya sedang duduk di taman sendirian ketika dia mau mengambil tempat makanan dan uang dari makanan yang dititip ke warung-warung tadi pagi. Rio terkejut ketika melihat ify ternyata sedang menangis..
“sudah yah fy… mungkin memang bukan rejeki ify.” Kata rio yang membelai lembut rambut ify. Ify masih saja terus terisak.
“tapi kak…. Ify udah nabung uang itu sejak lama. Ify mau beli piano kak.. tapi tadi uang itu malah dicopet..” ify kembali terisak. Rio terdiam di tempatnya dia sama sekali g tahu kalau ternyata yang diinginkan ify ternyata hanya piano.. yah piano..
Sepertinya semenjak pulang dari rumah sivia waktu itu hanya piano yang ify inginkan. Rio membelai lembut rambut ify lagi, melepaskan pelukannya sesaat dan menghapus air mata ify..
“hm.. jangan nangis dek. Mungkin nanti akan dig anti dengan yang lebih baik.. percaya deh..” kata rio sambil tersenyum. Melihat rio tersenyum, ada perasaan tenang yang langsung meliputi hatinya yang kacau. Kak rio benar, mungkin ini ujian.. dan mungkin nanti akan diganti dengan yang lebih baik..
Hm… fy,,, lo g perlu nangis lagi. Kakak bakal usahain supaya ify dapet apa yang ify inginin……. Karena kakak sayang kamu dek..
Rio kemudian mengangguk mantap.. gue harus nabung…!!!
******
Hari ini adalah hari ulang tahun ify yang ke 13 tahun.. mama sudah membuatkan sebuah kue tart coklat yang cantik banget, kue yang diatasnya ada hiasan bunga dan buah cherry, di atas kue itu ada duah buah lilin yang berbentuk angka satu dan tiga yang diatasnya juga ada tulisan nama ify,, Alyssa saufika umari. Ify duduk di ruang keluarga dengan mata tertutup. Rio sengaja menutup mata ify. Mama sudah meletakkan tart itu di meja yang ada di depan ify.
Perlahan rio membuka penutup mata ify.. ify langsung membuka matanya yang kemudian langsung berbinar-binar melihat kue yang ada di depannya.
“selamat ulang tahun sayang…” kata mama ify sambil menyodorkan kue tart coklat yang ada lilin berbentuk angka 13 diatasnya. Rio mengambil posisi di samping ify.
“thanks ma.. thanks kak..” kata ify sambil menatap mama dan kakaknya satu persatu. Ada sebuah senyuman manis yang lekat di wajahnya dan juga kedua orang yang paling dia sayangi itu..
“tiup lilinnya fy.. tapi jangan lupa make a wish dulu..” kata rio sambil menepuk pundak ify. Ify mengangguk. Dia memejamkan matanya dan mulai berdo’a sambil menengadahkan tangannya. Sesaat kemudian.. “amin..” ify mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya. Ify kemudian mencondongkan mukanya.. “huhhhhhhhhhhhhff”.. dia meniup lilin yang ada di depannya..
Rio kemudian berlari ke ujung ruangan.. “tada…” kata rio sambil memperlihatkan sesuatu yang terlihat seperti sebuah kotak besar yang ada di atas sebuah meja yang ditutupi oleh selembar kain penutup berwarna putih.. ify terpana melihat rio dan hadiahnya itu.
“apa ini kak?” tanya ify ambil mendekati rio.
“kado dari kakak dan mama..” jawab rio sambil tersenyum.
Ify berjalan mendekati kado dari rio dan mamanya itu. Perlahan tangan ify mencoba menyentuh kotak besar itu... dan akhirny mencoba membuka kain penutup berwarna putih yang menutupi benda berbentuk kotak itu.
Ify menutup mulutnya dengan kedua tanggannya. Matanya terbelalak, air mata haru mengalir di pipinya. Ify benar-benar tak bisa menahan perasaannya. Seakan-akan ribuan kupu-kupu ingin keluar dari tubuhnya saat itu juga. Ify langsung memeluk mamanya dan juga kak rio. “Thanks ma..” …“thanks kak.”
Rio dan mamanya hanya tersenyum dan membalas pelukan ify.
“fy, ayo dicoba..” kata rio sambil menarik kursi dan meletakkannya di depan benda itu. Ify duduk dengan santai. Jemari tangannya mulai menyentuh bagian putih dari benda hitam itu.. dan akhirnya jemarinya itu mulai menari di atasnya..
Benda berbentuk kotak hitam itu adalah organ yang dibeli oleh rio dan mamanya kemaren. Rio sudah menabung untuk membeli organ itu. Dan mamanya.. mama rio membelikan table stand untuk organ baru ify. Yah mereka memang g sanggup jika harus membeli grand piano yang bisa sampai 100 juta itu.. hanya organ yang bisa mereka belikan untuk ify.. tapi bagi ify, organ yang diberikan oleh mama dan kakaknya itu bahkan lebih berharga dari pada grand piano paling mahal sekali pun.
Jari-jari ify terus menari mengiringi kebahagian yang ada dihatinya.. yah bahagia karena di umurnya yang ke 13 tahun dia masih diberikan kesempatan untuk bersama dengan mama dan kakaknya.. dan meski sekarang papa g bisa bersama dengannya ify yakin papa melihat dia dengan bahagia disana..
Terima kasih ya Allah, engkau telah memberikan anugerah kepada ku untuk memiliki keluarga yang benar-benar menyayangiku.
Papa yang selalu menyayangiku, yang akan selalu ada untukku… selalu ada di hatiku sampai kapan pun..
Mama yang selalu berjuang untuk ku dan kak rio.. mama yang selalu menyayangi dan perhatian padaku.. mama yang hebat dan akan selalu jadi yang terhebat…….
Dan Engkau bahkan memberikan seorang kakak paling baik di dunia ini untukku...
seorang kakak dari surga.... kak rio..
Sejenak ify menutup matanya, mencoba terhanyut dalam alunan organnya, mencoba menyalurkan rasa syukurnya lewat alunan nada yang dia alirkan dari jemari-jemari tangannya..... ify ingin saat ini tak pernah berakhir.. kebahagian ini....
thanks pa.. thanks ma.. thanks kak rio... kalian akan selalu menjadi orang-orang paling berharga bagi ify.,, selamanya.....
******
Jakarta... 24 April 2010.. Konser “voice of heaven“
Suasana MGK Jakarta benar-benar ramai hari itu.. sebuah konser tunggal akan dilakukan oleh seorang penyanyi, model sekaligus pianis muda bernama Alyssa Saufika Umari..
Lampu sorot mengarah ke tengah panggung. Suara tepuk tangan dan sorak sorai penonton yang memenuhi MGK itu pun terus membahana.. tiba-tiba semuanya sunyi senyap ketika denting pertama dari piano dialunkan… tampak ditengah panggung seorang wanita cantik duduk di depan sebuah grand piano berwarna putih.. jemari tangannya menari mengalunkan alunan denting piano yang amat merdu. Wajahnya yang cantik kemudian tersenyum ke arah sisi panggung yang lain..
Di sisi panggung yang lain sesosok laki-laki mulai disorot oleh lampu.... laki-laki itu kemudian mengangkat kepalanya dan mulai bernyanyi dengan diiringi denting piano sang pianis… dibelakang panggung seorang ibu tersenyum menatap keduanya… bangga..
....Dan sekarang semua menjadi kenyataan…
Impian ku... tercapai......

.....Papa, sekarang papa bisa lihat..., ify sudah jadi pianis..pa..
.. dan sekarang ify dan kak rio sedang menyanyikan sebuah lagu untuk papa..
semoga papa bisa mendengarkannya...
mendengarkan suara kami dari surga......
karena ify yakin sekarang papa sudah ada di surga...

...Thanks kak rio..
Karena kakak adalah kakak terbaik untuk ify...
Kakak yang dikirim dari surga untuk ify..

>>>>>>>>>>penampilan Mario Stevano Aditya Haling dan Alyssa Saufika Umari<<<<<<<<< ******* “saudara adalah anugerah paling berharga yang pernah kau miliki..“ “Karena saudaramu adalah orang yang diutus Tuhan untuk selalu menyayangi dan mendampingimu.. Orang yang akan selalu menerima mu dengan segala yang ada pada dirimu... ...Maka sayangilah saudaramu seperti kau menyayangi dirimu sendiri Karena dia adalah hadiah dari surga untuk mu..“ ***** Special For my beloved brothers... Muhammad Dani Suarman, Ahmad Syukri, Muhammad Rizki and all my brothers n sisters that I can’t mention one by one…. I love all of u… you are the gifts that Allah gave for me from the heaven… 25 April 2010 With love… Yuliana indriani..
______________The END___________________

*special for Alyssa and Mario.. ..I always love both of you and all idola cilik… hope everyone of you will be a successful person in the future…. Chayo!!!! >>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Hua.. maaf yah kalau kurang puas.. lagi-lagi alur saya, bolak-balik maaf kalau jadi pusing.. yah karena memang jalan pikiran saya suka bolak-balik gitu deh jadi mungkin menurun juga sama anak saya ini.. (loh???)
Sebenarnya saya mau masukin adegan penampilan rio dan ify kemaren, yang katanya malah ada adegan tangan rio ngarah ke ify, tapi karena g bisa nonton kemaren jadi g bisa nulisinnya.. maaf yah.. but yah dengan segala kekurangan yang ada saya harap semuanya suka membaca cerita ini.. thanks.. saran dan kritiknya ditunggu. ^^