Selasa, 22 November 2011
Andai...
Senin, 28 Maret 2011
Satu Mimpi Tentang Cinta
Satu Mimpi Tentang Cinta
Satu ruang di bumi, begitu sepi dan tak berpenghuni. Perlahan langkahku terhenti, menatap ruang itu dalam sunyi karena kenangan itu tak pernah mati. Perlahan kususuri kembali, setiap ruang dan memori.
*****
Setangkai tulip merah itu kini menghiasi hari-hariku. Tulip itu memang bukan tulip asli, hanya sebuah tiruan yang terbuat dari kayu tapi itu sebagai tanda kamu ingin tulip itu tak pernah layu.
“You can open your eyes.” perlahan aku membuka mataku, kulihat kamu sudah tersenyum dengan setangkai tulip yang ada di tanganmu.
“Just for you..” kini kamu memberikan bunga itu kepadaku, setangkai tulip merah dengan kelopaknya yang sempurna, begitu anggun dan mempesona.
“Untuk cintaku yang sempurna.. Maaf tulip ini tak sempurna, ini bukan tulip asli. Aku hanya ingin kamu memiliki tulip yang tak pernah layu dan mati, sebagai tanda cintaku yang tak akan pernah mati.” Tiba-tiba ribuan kupu-kupu terasa memenuhi dadaku, ini terlalu sempurna untuk sebuah mimpi.
“Thank you, thank you so much. Terima kasih untuk semua ini.” Air mataku tak terbendung lagi, dia jatuh begitu saja, bukan sebagai tanda kesedihan tapi sebuah tanda kebahagiaan.
“Hei, ayolah jangan menangis seperti ini. Aku melakukan semua ini bukan untuk melihat air matamu mengalir, aku hanya ingin melihat senyummu yang bersemi.”
*****
Memilikimu adalah hal terindah dalam hidupku. Hanya dengan melihatmu aku rasa sudah seperti berada di surga. Senyum tulusmu yang membuat hatiku berbunga-bunga, mata indahmu yang membuat hariku cerah, suaramu yang mengalun menerbitkan asa, serta cintamu yang terlalu indah. Sungguh, aku rasa aku bisa gila bila kamu tak ada.
“Apa kabarmu sayang?” sebuah kecupan menghapus semua gundah, begitu menentramkan dan memperkuat rasa.
“Sayang, bagaimana kalau kita pergi berkeliling dunia? Bukankah itu adalah salah satu mimpimu?” aku hanya bisa menatapmu dengan sebuah senyum yang tak pernah ingin pergi dari wajahku.
“Aku tahu mungkin kamu kira itu tak bisa lagi sekarang. Tapi tenanglah, aku sudah membawakan dunia untuk kita kelilingi sekarang.”
Sebuah globe kecil yang indah itu keluar begitu saja di kedua tanganmu, sungguh itu benar-benar terlihat seperti kamu menggenggam dunia dan mempersembahkannya untukku. Aku mungkin adalah wanita paling bahagia karena memilikimu.
“Sekarang, kita bahkan bisa mengelilingi dunia setiap kali kita mau. Ayo sayang, kita mulai dari mana?” kamu mendekatkan globe itu kepadaku, menyuruhku memilih satu tempat dengan jemariku. Aku hanya bisa tersenyum dengan tingkah lakumu yang begitu lucu, jemariku mulai memutar-mutar globe dan akhirnya mendaratkan jari telunjukku di sebuah kepulauan yang terlihat indah.
“Hm.. okay, mari kita mulai dari sini. Dari rumah kita, Indonesia. Bagaimana kalau selanjutnya kita terbang ke Jepang? Kita tak perlu takut akan kena radiasi nuklir sekarang, kita bisa ke sana dengan aman.” Kamu mengambil jari telunjukku dan mendekatkannya ke Jepang.
“Aku tahu kamu suka Jepang, kamu juga suka sakura maka sekarang aku memberikannya untukmu.” Kamu mengambil sesuatu dari saku kemejamu.
“Untuk cintaku yang tulus. Kamu tak usah khawatir tentang bunga sakura yang akan gugur dalam satu minggu, karena sakuraku ini tak akan gugur. Tidak akan gugur..” sebuah replika bunga sakura dalam botol kecil itu terlihat begitu indah. Kamu, bagaimana bisa kamu membuat aku begitu bahagia, terlalu bahagia.
*****
Bunga sakura dan tulip itu kini mewarnai hari-hariku, begitu indah di sudut ruang tidurku. Sebagai tanda cintamu, sebagai tanda ketulusanmu. Bagaimana bisa aku membalas cintamu yang begitu indah ini?
“Sayang, aku tidak meminta apapun darimu. Aku hanya meminta kamu tetap ada di sisiku. Hanya itu. Karena, tak ada lagi yang aku inginkan selain bahagia bersamamu. Jadi kumohon bertahanlah untukku.” Aku mendengar suaramu dalam mimpi panjangku, sungguh aku ingin berteriak saat itu juga bahwa akupun ingin terus bersamamu.
Perlahan aku membuka mataku, mendapati kamu tengah menggenggam tanganku dengan aliran air mata di kedua pipimu.
“Terima kasih sayang, terima kasih untuk tidak meninggalkanku.” Ada apa ini? Kamu terlihat begitu bahagia hanya karena aku bangun dari tidurku. Apakah aku harus terus terjaga agar kamu tak perlu menangis seperti ini?
“Sayang, berjanjilah kamu tak akan meninggalkanku.” Suaramu terdengar begitu memohon dan aku tak sanggup mengatakan lebih kecuali sebuah anggukan kecil dan senyuman tipis. Aku janji, selama Allah masih memberikan aku kehidupan aku tak akan menyerah untuk bertahan.
“Semoga Allah memberikan kamu kesembuhan. Semoga Allah menjaga cinta kita..”
Aku hanya bisa mengamini do’amu dalam hati. Sungguh do’aku tak pernah putus untuk kamu, untuk kita..
*****
Aku mencintaimu karena Allah dan begitu pula cintamu kepadaku. Maka, biarlah Allah yang menjaga cinta kita karena sesungguhnya Dialah sebaik-baiknya penjaga.
“Sayang aku mencintaimu..” perlahan bibirku yang keluh mulai bisa mengeluarkan suara, meski terdengar begitu lemah tapi aku cukup bahagia bisa mengatakannya. Karena, sungguh hatiku sedih ketika aku begitu lemah hingga tak berdaya meski untuk mengucapkan satu kata cinta.
“Aku juga mencintaimu sayang.” kamu tersenyum dan matamu terlihat mulai berkaca-kaca. Tanganmu menggenggam tanganku erat lalu melepaskan genggaman itu dengan enggan di pintu ruangan operasi. Lewat sebuah senyuman tulus kamu memberikan kepadaku banyak cinta. Kini, kita hanya bisa menyerahkan semuanya kepada pemilik Cinta, apakah Dia mengizinkan kita terus merayakan cinta di dunia atau menundanya untuk perayaan cinta yang lebih indah di sisi-Nya.
*****
Perlahan aku menuju meja di sudut ruangan itu, sebuah bunga tulip dan replika sakura masih setia tersimpan rapi di sana. Perlahan kuraih mereka dan kupeluk erat, sekedar untuk kembali merasakan cintamu yang begitu sempurna dan tulus.
“Sayang, ayo kita berangkat. Kita akan berkeliling dunia hari ini, meski mungkin kita tak bisa melihat sakura langsung tapi setidaknya kita masih bisa memetik tulip di Belanda..” Kamu tiba-tiba masuk dan memelukku dari belakang. Aku tersenyum kepadamu, menatapi wajahmu yang terlihat lebih indah meski kita terlihat sama pucatnya.
“Kamu terlihat begitu pucat sayang, tidakkah sebaiknya kita batalkan saja rencana ini?”
“Hei.. sekarang ini bukan hanya mimpimu. Ini mimpi kita, mari kita rayakan cinta dan terus mengambil hikmah dari dunia.” Kamu kembali tersenyum menggodaku, tapi sungguh aku tak bisa membohongi diriku bahwa kamu terlihat berbeda setelah operasi itu. Aku tahu aku telah membuatmu lemah.
“Maaf telah membuatmu seperti ini, maaf telah mengambil satu ginjalmu.” Aku menunduk dan menyesali diriku. Istri macam apa aku yang tega mengambil satu ginjal suaminya? Membuat suaminya tampak pucat dan lemah seperti ini.
“Aku malah sangat bahagia. Karena, sekarang aku telah memberikan yang terbaik yang bisa aku berikan. Kini kita benar-benar telah menyatu karena salah satu bagian diriku terus berada pada dirimu, itu artinya kamu tak akan meninggalkanku.”
Aku memelukmu erat begitu erat hingga aku yakin kita tak akan pernah terpisahkan. Allah telah memberikan satu lagi kesempatan untuk kita tetap bersama, untuk kita merayakan cinta.
“Sayang, aku belum mengatakan kepadamu bahwa satu lagi mimpimu sudah tercapai.”
“Kali ini apa lagi itu? Kamu merampok buku catatan mimpiku dan mewujudkannya satu persatu. Bagaimana mungkin aku bisa membalasmu?”
“Sebuah rumah sakit gratis sudah terbangun atas namamu. Ah, mewujudkan mimpi-mimpimu adalah sama seperti mewujudkan mimpiku sendiri. Aku tidak meminta apapun untuk kamu membalasku, hanya terus berada di sisiku untuk membuatku bahagia adalah satu-satunya yang aku minta. Jadi, mari kita terus merayakan cinta.” aku mengangguk mantap dan kembali memelukmu. Sungguh aku tak akan menolak, tak akan pernah menolak untuk bersamamu karena kamu adalah cintaku. Mari kita merayakan cinta bersama.
Aku tak pernah menyangka akan memilikimu cinta..
Sebuah cinta yang begitu indah
Hanya lewat do’a kecil kepada Maha Pemilik Cinta
Kamu hadir dan memberi warna..
Jadi mari merayakan cinta
Atas cinta kepada Pemilik Cinta...
*****the end*****
Selasa, 01 Februari 2011
Drama of me
“...hidup ini hidup yang penuh bahagia... tetap semangat dan jangan putus asa.. hidup ini hidup yang sangat berarti.. terus berjuang tuk menggapai impian..”
Handphoneku tiba-tiba bernyanyi di kesunyian kamar, dengan sangat malas akhirnya aku membuka pesan yang baru saja aku terima.
“Nilais udah keluar.. enjoy!”
Aku membelalakkan mataku yang tadinya masih setengah terbuka. Aku segera mengambil kacamataku dan dengan secepat kilat menyambar netbook dan modem yang ada di atas buffet di samping tempat tidurku. Ada sedikit rasa takut yang menggelitikku ketika membaca pesan singkat dari Sivia tadi, yah... aku sedikit takut ketika akhirnya kabar itu datang juga.
“SELAMAT DATANG DI SISTEM AKADEMIK UNIVERSITAS TARUMA NEGARA, SILAHKAN LOG IN”
Layar netbookku sekarang telah menampilkan halaman website kampus, sedikit gemetar akhirnya aku menarikan jariku di atas keypad untuk mengisi user id dan password yang biasa aku gunakan untuk masuk ke site sistem akademik. Peluh tiba-tiba membanjiri dahiku ketika loading untuk masuk ke site itu terasa terlalu lama.
“Arrrgh.. sial! Masa sekarang sih kumatnya! Ayolah... aku kan cuma pengen lihat hasilnya! Come on!” Aku menggerutu ketika loading itu gagal, kali ini signal sepertinya tidak bersahabat denganku. Atau mungkin sedang memberikanku pertanda buruk?
Aku menghelakan napasku, mencoba mengusir semua perasaan tak enak yang mulai menyelusup di benakku. Aku tak ingin berburuk sangka sekarang, lagi pula bukankah aku sudah mengikhlaskan semuanya? Aku menarik napasku dalam ketika jari telunjukku menekan keypad enter untuk reload.
“SELAMAT DATANG DI SISTEM AKADEMIK UNIVERSITAS TARUMA NEGARA, SILAHKAN LOG IN”
Akhirnya kalimat pembuka itu kembali hadir di layar netbookku dan tanpa pikir panjang aku kembali log in. “Semoga hasilnya yang terbaik..” aku berdo’a dalam hati sementara jemariku sibuk mengetik nomor induk mahasiswa dan tahun pelajaran untuk membuka KHS onlineku.
NAMA : Alyssa Saufika Umari
NIM : 011038110371
Halaman KHSku mulai muncul, aku masih berdo’a sambil perlahan menyusuri halaman KHS onlineku.
***
“Gimana tadi ujiannya?” aku sedang duduk di kantin dengan segelas es jeruk ketika seseorang menepuk bahuku sambil menodongku dengan pertanyaan yang sedang tak mau ku jawab. Aku hanya mengulas sebuah senyum kecil ke arahnya sambil mengangkat bahuku.
“Loh, kok? Tapi.. soal tadi emang susah sih. Aku aja gak selesai ngerjainnya.” Sivia mulai berceloteh sambil perlahan mengambil posisi duduk di hadapanku. Dia kemudian melambaikan tangannya kepada penjaga kantin dan mulai memesan makanan.
“Eh, fy.. yakin gak sama ujian kali ini?” Sivia kembali mengangkat topik pembicaraan yang tidak aku inginkan ketika dia selesai memesan makanan. Aku menghisap beberapa mililiter es jerukku sebelum akhirnya memilih menjawab pertanyaanya.
“Hm.. yah seperti biasa.” Aku mencoba menanggapinya dengan sangat biasa, meski aku tahu aku merasa tak biasa kali ini.
“Ah, ify mah enak. Hidup selalu dibawa nyantai, gak pernah takut soal nilai jeblok, gak pernah mikirin harus kerja keras buat tamat cepet, gak pernah stres kalau ujian.. ih enak banget yah jadi kamu.” Aku hanya tersenyum mendengar celotehan Via tentang diriku. Ah, apa aku benar seperti itu via?
“Fy, kok bisa sih kamu kayak gitu?” tanya Via.
“Kayak gimana maksudnya?” Aku balik bertanya pada Sivia, meski aku tahu maksud pertanyaannya. Aku hanya ingin menutupi rasa tak enak yang kembali menghampiriku karena sebetulnya aku tak pernah sesantai yang dia kira.
“Yah, kok bisa nyantai?”
“Mungkin udah dari sananya kali.. lagipula aku malas mikirinnya..” Aku mengangkat bahuku sambil tersenyum jahil.
“Kamu sih, apa-apa malas. Gimana mau maju negara ini kalau semua anak mudanya malas kayak kamu?”
“Yee... itu makanya ada kamu via, kalau semua anak muda pada malas kayak aku.. kan kamu yang jadi presiden. Yah harusnya ucapin terima kasih dong sama aku.” Sivia malah mencibirku karena jawaban super ngasal yang aku berikan, tapi toh akirnya kami bisa tertawa bersama.
***
Sivia_azizah : “Gimana nilainya?”
Tiba-tiba jendela YM hadir menghiasi layar dan menunjukkan sebuah pesan dari Sivia ketika aku baru saja sampai pada judul KHS-ku.
Alyssa_fy :“Sabar bu... baru online. Nilaimu gimana?”
Sivia_azizah : “Alhamdulillah, bagus. Wish you luck. :)”
Aku menutup jendela YM dan kembali ke halaman KHS-ku, mataku sedikit membulat metika hasil itu akhirnya benar-benar kutatap dengan mataku sendiri. Aku memejamkan mataku sesaat, sekedar untuk menetralisir gejolak yang hadir seketika di hatiku. Ini sesuai perkiraanku..
***
“Pa, maaf yah kalau semester ini agak nurun nilainya..” Aku memberanikan diri untuk buka suara ketika papa menanyakan bagaimana ujianku hari ini. Kulihat dahi papa sedikit berkerut mendengar jawabanku. Sebenarnya ini jawaban klasik yang selalu aku berikan setiap selesai ujian tapi kali ini mungkin nada biacara atau tatapan mataku memang sedikit berbeda.
“Kenapa?”
Sebuah kata tanya yang paling susah dijawab itu akhirnya meluncur dari bibir papa. Ini aneh, biasanya papa akan dengan santai tersenyum dan berkata “tidak apa-apa”. Aku memutar otak untuk mencari jawaban dari sebuah kata “kenapa?” dan nyatanya aku tak menemukan jawaban yang benar-benar bisa menjelaskan semuanya selain...
“yah... mungkin karena hanya seperti itulah kemampuanku.”
***
Alyssa_fy : “ASEP aku dapat nilai C. ”
Dengan pasti aku mengirim pesan itu di YM kepada Sivia, yah sekedar untuk membuatnya tenang atau sedikit berbagi tentang rasa yang mulai menyesakkan dada.
Sivia_azizah : “loh, kok bisa?”
Alyssa_fy : “bisa dong... yah gak papalah aku ikhlas kok. Toh aku gak selesai pas ujian. Kamu apa? Dapet A yah? selamat yah.”
Sivia_azizah : “iya alhamdulillah,.. Semoga yang lain bagus yah. : )”
Alyssa_fy : “iya”.
Aku kembali memberanikan diri menggulir halaman KHS-ku hingga nilai-nilai matakuliah lain bisa kulihat dengan jelas. Waktu terasa berhenti seketika, beberapa tetes peluh menetes dengan damai dari dahiku tanpa sedikitpun aku menghapusnya, hingga bercampur titik-titik air mata yang mengalir perlahan dan terjatuh di sisi wajahku.
Sivia_azizah : “nilai yang lain gimana? Udah dilihat?”
Tampilan YM kembali menyapa di layar netbookku, tapi aku terlanjur tenggelam dalam waktu yang berhenti, terkubur dalam bumi yang berhenti berputar, dan hanyut dalam lautan air mata yang membawaku pergi jauh.
***
Aku menundukkuan kepalaku sambil duduk menatapi kakiku yang bergerak bebas di dalam air sungai yang mengalir di bawahku.
“Ah... kenapa harus begitu hancur hanya karena aku tak yakin dengan hasil ujian itu? Bukankah aku sendiri yang menyebabkan semua ini.. “
Aku berbicara pada bayangan wajahku yang kemudian tercermin di air sungai yang tadi sempat ku kacaukan arusnya dengan kakiku. Aku menatapi diriku dari balik air, kulihat sebuah gambaran wajah kusut dan tak bercahanya sedang cemberut di sana.
“Hey.. ayolah, dunia tidak berakhir hanya karena nilaimu nanti akan mengecewakan. Ini hanya ujian penuh makna yang harus kamu lewati. Lalu, bagaimana mungkin kamu akan melewatinya dengan wajah seperti itu? Kamu harus melewatinya dengan baik.. karena inilah ujian sesungguhnya. Ayo tersenyumlah dan tunjukkanlah wajah berserimu padaku, agar aku pun bisa kuat melewatinya bersamamu.”
***
Detik kembali bergerak di sekitarku dan aku merasakan diriku perlahan kembali. Ku hirup dalam udara yang ada di sekitarku dan perlahan membiarkannya lepas, seperti melepas sebuah beban yang terasa menghimpitku, lalu perlahan aku membiarkan jariku mulai menari-nari.
Alyssa_fy : “hasilnya jelek.. IP-ku bawah tiga. Tapi gak papa kok. Oh ya, selamat yah nilainya bagus.”
Sivia_azizah : “haduh? Serius? Kok bisa? Makasih.”
Alyssa_fy : “iya. Aku off yah... sekali lagi selamat. you’re the best. :)”
Aku menutup jendela YM-ku sambil menahan perih yang tiba-tiba terasa begitu menyakitkan. Bukan karena aku iri pada Sivia, bukan. Hanya saja kecewa tiba-tiba menyelimutiku lewat rasa yang begitu gelap dan aku hanya takut tak sanggup bertahan hingga tak bisa mengakhiri percakapan ini dengan indah. Aku tak ingin merusak kebahagian yang sedang dirasakan oleh sahabatku, tapi aku tahu... aku mungkin tak sekuat itu untuk terus merayakan kebahagiannya di atas kehancuranku sendiri.
Aku terduduk lemas menatapi layar netbook yang telah kumatikan, tak ada apa-apa di sana kecuali layar hitam yang tiba-tiba menghadirkan bayang-bayang kejadian selama satu semester yang telah ku lewati.
Aku terdiam menatapi satu persatu adegan yang tampil di sana, aku yang tengah tertidur di kelas, aku yang sedang mengobrol selama jam pelajaran, aku sedang mengambar bebas selama dosen memberi penjelasan, aku sedang asik dengan handphoneku di saat aku merasa bosan bahkan adegan aku dengan malas mengerjakan tugas di subuh hari yang berakhir dengan tugas yang tak selesai dan tak ku kumpulkan.. semuanya kembali menari-nari berputar di layar netbookku. Aku menghelakan napasku, mengurut dadaku yang mulai terasa kembali sesak serta akhirnya menghapus air mata yang kembali membanjir di pipiku.
“Tak ada gunanya aku menyesalinya sekarang.. toh, tidak akan merubah hasil yang aku dapatkan. Ini semua kesalahanku dan tugasku selanjutnya adalah memperbaikinya,..”
Aku meraih handphoneku, membiarkan jempolku lincah mengetik sebuah “pengingat” yang akan selalu aku ingat untuk sekarang... dan mungkin untuk selamanya.
...”inilah ujian sesungguhnya, apa kau akan terus mengulangi kesalahan yang sama.. atau bangkit untuk mengalahkan dirmu sendiri agar bisa menjadi lebih baik”..
**** the end****
Minggu, 30 Januari 2011
Writing Competition
Jumat, 28 Januari 2011
Aku dan Gadis Berumur Tujuh Tahun di Arena Permainan
... Lihatlah wajah berseri itu hari ini dan lihatlah bagaimana wajah itu beberapa tahun ke depan... ...Semuanya berawal dari hari ini dan akan tergantung pada hari ini...
Angin semilir menerpa wajahku ketika aku duduk dengan manis di pinggir arena permainan yang baru saja aku buat. Di area permainan Lia, gadis kecil berumur tujuh tahun, sedang meloncat-loncat dengan riang. Lia adalah gadis kecil berumur tujuh tahun yang akhir-akhir ini selalu datang ke rumahku untuk bermain denganku.
Tiba-tiba, kaki Lia menyentuh batas arena permainan dan itu artinya Lia harus berhenti bermain dan aku akan mendapat giliran bermain. Tapi, sepertinya Lia tidak rela.
“Satu kali lagi yah,yang tadi gak sah, ya yuk, yah..” aku hanya bisa tersenyum tipis ketika Lia kembali membujukku. Matanya yg membulat dan bersinar-sinar akhirnya bisa membuat aku tak berkutik. Aku mengalah pada anak kecil berumur tujuh tahun yang mengajakku bermain itu. Aku kembali duduk diluar arena permainan dan melihat gadis kecil itu kembali melompat-lompat dengan lincah sampai ku lihat kakinya kembali melanggar batas arena permainan.
“Wah, kaki Lia menginjak garis tuh..” Lia tercenung sesaat dan akhirnya dengan sedikit berteriak dia membantahnya, “Wee, enggak tuh ayuk tuh yang salah lihat..” Aku menghelakan napas dan kemudian hanya bisa kembali tersenyum. Entah ini sudah yang keberapa kali Lia menyangkal kesalahannya, dan entah juga yang keberapa kali dia bisa dikatakan curang. Menggeserkan buah permainan, mengeserkan kaki yang tidak sengaja menginjak garis, meminta permainan diulang bila dia melakukan kesalahan, sampai dia membuat peraturan permainan sendiri, Lia benar-benar sudah banyak melakukan kecurangan.
“Ah lia kan masih anak kecil” salah satu bisikan lembut dihatiku kembali terdengar tapi bagian lain di nuraniku terasa digelitik keras.
“Anak sekecil lia saja sudah belajar curang, bagaimana nantinya? Mungkinkah dia akan tumbuh jadi seseorang yang egois dan terbiasa berbuat curang? Semuanya kan berawal dari masa kecil, apa yg dia dapat di masa kecil akan membekas dan membentuk dirinya di masa depan.”
Aku kembali terdiam, entah apa yang Lia pelajari selama ini. Bagaimana awalanya dia belajar curang? Mungkinkah orang-orang di sekitarnya yang mengajarkannya berbuat curang? Lalu bagaimana Lia nantinya? Aku kembali menatapi Lia yang masih asik melompat-lompat di arena permainan.
Tiba-tiba di mataku Lia berubah menjadi dewasa, mengenakan pakaian resmi di ruang sidang DPR. Lia sibuk berdebat, sibuk menyalahkan dan sibuk mengungkit-ungkit peraturan undang-undang yang bahkan dia tidak tahu isinya. Lia yang tersenyum penuh kemenangan ketika berhasil mengelabuhi banyak orang dengan gaya sok pintarnya, Lia yang tiba-tiba tertawa ketika menaiki mobil mewah yang entah didapat dari mana.
“Ayuk, kok diem aja? ayo main..” Aku tersadar dari lamunanku ketika Lia menarik-narik pergelangan tanganku.
“Enggak lia, ayuk gak mau main” Lia sedikit terkejut, ditatapnya aku dengan tatapan tak percaya.
“Kenapa?” dia bertanya sambil membulatkan matanya.
“Ayuk gak ngerti permainan Lia. Ayuk gak ngerti peraturan mainnya.” Aku menjawab sebiasa mungkin dan mencoba tak menyakiti hatinya. Dia terdiam sesaat, menatapku dan kemudian menatap arena permainan di mana dia sudah menang jauh dariku karena beberapa kecurangan kecil yang dia lakukan. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran anak kecil seperti Lia, tapi aku harap dia akan mengerti sesuatu dengan perkataanku itu.
Lia melangkahkan kakinya ke arena permainan dan mengambil buah permainan lalu mengembalikannya ke titik awal.
“Kita mulai baru aja permainannya..” kata Lia sambil tersenyum manis dan tatapan berbinarnya. Lia, gadis berumur tujuh tahu tersebut sepertinya mengerti bahwa aku tak nyaman dengan gaya bermainnya, mungkin perlahan dia mengerti bahwa aku tak ingin dia berbuat curang. Aku hanya bisa tersenyum lega, “Ok, tapi Lia janji yah gak curang dan buat peraturan sendiri hanya untuk menang? Kali ini kita bermain dengan jujur dan begitu pula untuk permainan-permainan lainnya, janji?”
“Iya, janji..” Lia berteriak senang dan mantap.
Hm, aku mempersilahkan Lia mengambil giliran pertama karena dia menang dalam usit untuk memulai permaianan. Aku melakukan semua ini bukan agar aku menang dari Lia, hanya saja aku ingin Lia belajar untuk tidak bermain curang lagi.. meski hanya di arena permainan, dia tak boleh belajar curang. Karena, apa jadinya Lia di masa depan adalah buah dari apa yang diajarkan padanya sekarang. Dan aku bertanggung jawab untuk saat sekarang, di sini.. di arena permaianan ini. Semoga dia belajar sesuatu dari permaianan ini, dan membawanya tumbuh bersamanya hingga dia dewasa dan menjadi Lia yang lebih baik kelak.
“Seandainya ketika besar Lia benar menjadi anggota DPR, aku harap dia bisa menjadi anggota Dewan yang jujur, yang memihak kepada rakyat, yang menegakkan Undang-Undang, dan anti kecurangan dan korupsi... Amin..” aku tersenyum ketika Lia menghentikan permainannya ketika gilirannya berakhir kali ini.
****__****
# Ayuk : Panggilan untuk kakak perempuan.
# Usit : permaianan untuk menentukan menang atau kalah dengan mengadu jari tangan.
***__***
HIKMAH :
Cerita ini sebenarnya diambil dari kisah nyata sehari-hari, betapa banyak kita lihat anak kecil belajar bermain curang dalam permaianan sederhana. Hal ini bisa membuat anak kecil itu terbiasa berbuat curang, dari mulai melakukan kebohongan kecil tentang uang jajan dan akan meluas hingga berbuat curang dalam ujian di sekolah.
Saya tidak ingin mecoba menyalahkan siapa-siapa lewat cerita ini, hanya saja saya ingin memberikan gagasan bahwa kadang yang perlu kita lakukan adalah merubahnya dengan usaha kita sebagai orang terdekat anak kecil tersebut agar kita dapat mengajarkan dan memberikan contoh yang baik pada generasi yang akan datang.
Karena bagaimana generasi penerus bangsa ini, sebenarnya ditentukan bagaimana dia diajari dan diberikan contoh sejak masih kecil. Jadi, mari kita mengajarkan dan memberikan contoh yang baik demi masa depan bersama yang lebih baik.
hikmah yang saya coba sampaikan di cerita ini :
1. kejujuran harus di tanamkan sejak kecil (jangan membiarkan dan membiasakan anak kecil berbuat curang )
2. kita harus mengajarkan dan memberi contoh yang baik kepada anak kecil
3. masa depan bergantung pada bagaimana masa kecil, jadi,.. pentingnya pendidikan dan pembentukan sikap sejak dini agar menjadikan pribadi yang baik di masa yang akan datang.
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.
Selasa, 25 Januari 2011
Dongeng...
Jumat, 21 Januari 2011
my first drama.. :)
Hm, ini proyek asal banget.. baru coba-coba dan tanpa ilmu, maaf kalau salah.
Yeay, naskah drama! Pertamanya ku kira mesti buat skenario, sumpah ribet amat.. tapi karena katanya kayak buat pementasan gitu berarti naskah drama dong.. yah sudahlah apapun itu, hanya ini yang bisa aku tulis. So, check this out.
Putus Sekolah? (drama 20 menit)
Sinopsis
Di sebuah pinggiran kota hiduplah sebuah keluarga dengan seorang anak laki-laki yang baru saja putus sekolah karena kekurangan biaya. Dika memutuskan untuk berhenti sekolah agar bisa membantu orang tuanya, namun.. cita-citanya untuk menjadi insinyur tidak mati begitu saja, hanya saja mungkin dia perlu menundanya. Sahabat-sahabat dika datang untuk kembali mengingatkan dika bahwa apapun masalahnya pasti akan ada jalan keluarnya dan mereka ingin dika tidak menyerah pada keadaan hingga akhirnya jalan keluar itu terlihat dengan sangat jelas.
Tokoh
Andika : siswa SMA kelas X yang terpaksa putus sekolah, anak tertua dari lima bersaudara, pintar, bersemangat, tidak mudah putus asa, baik hati, penyayang dan bertanggung jawab.
Didit : sahabat Dika, teman sebangku dika dari SD hingga ketika dika memutuskan putus sekolah, perhatian, setia kawan.
Afifah : sahabat Dika sekaligus tetangga dika, perhatian, lemah lembut.
Evan : adik dika, baru SMP, pintar, pendiam, perhatian.
Orang tua dika : ayah yang tegas, sedikit berbicara dan ibu yang pasrah.
Adengan 1 (Durasi 5 menit) lokasi : rumah dika
Narator : Suatu malam, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Suasana rumah berubah menjadi tegang seketika, ibu yang sedang menidurkan putri bungsunya menatap tak percaya kepada putra tertuanya. Ayah yang baru saja pulang dari tempat bekerja sampai-sampai harus berdiri terpaku di pinggir pintu ketika putra tertuanya dengan sangat jelas memutuskan hal yang sangat berat.
Andika : (sambil menatap ibu dengan mantap) “Dika akan berhenti sekolah saja Bu.”
Ibu : (menatap andika dengan tatapan terkejut)
Ayah : (berdiri terpaku di pinggir pintu dengan wajah letih dan lusuh)
Andika : “Dika sudah putuskan, lebih baik dika berhenti sekolah saja dan bekerja membantu ayah dan ibu. Jadi, ibu dan ayah cukup mempersiapkan biaya untuk Evan melanjutkan ke SMP saja. Evan itu pintar bu, jadi sangat sayang kalau dia yang harus putus sekolah.”
Ibu : (menangis sambil merutuki dirinya sendiri, menatap evan yang sudah tidur bersama adik-adiknya yang lain)
Ayah : (masuk, menepuk bahu Dika dan berdehem) “kalau kamu kira itu yang terbaik maka lakukan, tapi jangan pernah kamu menyerah begitu saja pada keadaan. Ayah hanya minta kamu memikirkan keputusan kamu kembali. Dan.. soal biaya, maafkan ayah. Tapi, ingatlah bahwa Rezeki itu dari Allah. (tersenyum ke arah dika, masuk ke kamar)
Andika : (menunduk, dan akhirnya mengangguk mantap)
Evan : (posisi tidur menyamping, air matanya mengalir)
Adegan 2 ( durasi 5 menit) lokasi : ruang kelas
Narator : kelas X.1 geger, berita tentang Andika yang akan berhenti sekolah mulai tersebar. Seorang anak biasa-biasa saja yang berhasil masuk Sekolah Unggulan karena prestasinya itu tiba-tiba memutuskan akan berhenti sekolah! Ini benar-benar berita! Bagaimana mungkin dia membuang kesempatan emas untuk maju?
Ruang kelas masih sepi, hanya ada beberapa anak-anak yang baru tiba di sekolah dan asik dengan kegiatannya masing-masing.
Didit : (berlari-lari memasuki kelas) ifa! Afifah! (dengan napas terengah-engah memanggil afifah yang sedang duduk membaca buku di bangkunya.)
Afifah : ada apa dit?
Didit : Dika beneran berhenti?
Afifah : (dengan tatapan menyesal mengangguk)
Didit : (menghelakan napasnya) Anak itu! Tidak bisakah dia berasabar lebih lama sedikit saja! ah, pokoknya ntar kita harus ke rumah dika! (berbicara dengan penuh emosi)
Afifah : (menatap didit dengan tatapan tidak mengerti) ngapain?
Didit : mau nyeret anak itu balik ke sekolah!
Afifah : (mengangguk ragu-ragu)
Adegan 3 (durasi 3 menit) lokasi : pinggir jalan
Narator : Andika benar-benar sudah memilih untuk berhenti sekolah, dia.. demi berkorban untuk adiknya akhirnya mengalah. Dia memulai hari-hari pertamanya berhenti sekolah dengan bekerja sebagai loper koran, mencoba menjadi penjual asongan, hingga sempat pula dia mencoba mengamen bersama teman-teman yang juga senasib dengannya. Namun, ketika peluh semakin banyak mengalir dia semakin ingat bagaimana cita-citanya akan berhenti begitu saja di sini.
Andika : (menunduk, berbicara pada diri sendiri) yah.. calon insinyur yang akhirnya jadi pengamen. Ah.. tak apalah, aku tak boleh egois dan aku tetap harus bersyukur. Aku mungkin tak bisa mengejar cita-citaku menjadi insinyur sekarang, tapi bukan berarti aku akan menyerah! Ayah benar, rejeki itu dari Allah, kalau memang aku ditakdirkan jadi Insinyur maka aku tetap akan jadi insinyur nantinya.
Evan : (menatap Andika dari kejauhan, berkata pada diri sendiri) “kakak tidak perlu seperti ini. Pasti ada jalan lain.. pasti ada!”
Adengan 4 (durasi 7 menit) lokasi : pinggir jalan
Narator : ketika peluh sudah membanjir, ketika rupiah demi rupiah telah berhasil dikumpulkan, Andika memilih pulang untuk beristirahat di rumahnya. Tak sabar rasanya dia melihat ibu dan adik-adiknya, melihat mereka tersenyum menyambutnya pulang.. ini akan terasa berbeda, karena kali ini dia tak hanya pulang.. tapi kali ini dia bisa membawa sedikit uang yang akan mengangkat sedikit beban dari pundak ibunya, sedikit uang untuk menganjal perut adik-adiknya dengan makanan ringan sambil menunggu Ayah pulang.
Andika : (berjalan dengan senyum sambil memegang beberapa lembar uang, menatap lurus lalu terkejut ) “Didit? Afifah?”
Didit : (menepuk pundak dika) apa kabar dik?
Andika : (tersenyum) ada apa kalian ke sini?
Afifah : didit tuh, katanya mau nyeret kamu balik ke sekolah.
Andika : (ganti menatap didit)
Didit : iya, seenaknya aja kamu berhenti sekolah! Mau dikemanain cita-cita kamu?
Andika : (menunduk)
Didit : (menepuk bahu dika) dik, masalah gak akan selesai dengan masalah. Kamu kira berhenti sekolah itu bukan masalah? Hey! Kamu malah membuat masalah baru dengan keputusanmu itu! Kamu menyebabkan masalah untuk masa depanmu!
Afifah : (menatap andika iba) didit benar dik, kamu gak boleh berhenti sekolah.
Andika : tapi...
Didit : kamu ingat, kamu pernah bilang kepadaku bahwa keterbatasan tidak membatasi, jadi sekaranglah waktu kamu membuktikannya. Kalau kamu merasa sekarang tidak bisa menyelesaikan masalah kamu, maka jangan kabur.. mari kita hadapi bersama, lagi pula ada aku dan ifa..
Andika : (menghelakan napas) aku gak mau merepotkan orang lain. ini masalahku, jadi biarkan aku menyelesaikannya sendiri, dengan caraku sendiri. Maaf.
Mereka terdiam sesaat.. tak ada yang berani bicara lagi.
Evan : (berlari menuju dika dkk sambil memegang sebuah amplop) Kakak! Kakak!
Andika : Kenapa van? (dengan nada sedikit khawatir)
Evan : (memberikan Amplop itu pada kakaknya sambil tersenyum)
Andika : (membuka Ampop itu, membaca surat yang ada di amplop itu) Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah... (bersujud syukur lalu memeluk Evan)
Narator : ternyata Evan mendapatkan Beasiswa dari sebuah sekolah Unggulan, sehingga Andika dan keluarga tidak perlu mengkhawatirkan masalah biaya untuk sekolah Evan lagi. Andika pun akhirnya kembali ke sekolah. Andika, Didit dan Afifah kembali bersama saling menguatkan dan bergandengan tangan untuk mengejar cita-citanya masing-masing.
___selesai___
Aduh, maaf yah aku benar-benar gak biasa buat naskah drama gini. Lagi pula ini benar-benar dadakan, dan durasinya dibatasi 20 menit.. maaf yah.
Kalau ada yang bisa ngasih masukan, tolong di komentarin. Thanks
*naskah drama ini buat kiki yang SMS kemaren, maaf yah dek jadinya segitu. Kalau jelek gak usah di pakai yah. Dan soal pemainnya yang min 15, aku bingung juga.. ini Cuma bisa 6 mungkin yang lain bisa jadi narator dan jadi figuran di ceritanya (misal, jadi temen2 di sekolah, atau jadi orang-ornag di pinggir jalan --__--“). Maaf yah kalau mengecewakan. Sukses yah buat acaranya!.
Kamis, 02 Desember 2010
satu menit...
tubuhku terpaku didepan seorang wanita yang terbaring tak berdaya bersimba darah di samping sebuah sepeda motor yang sudah tak berbentuk, tubuhku kemudian bergetar hebat dan air mata mengalir deras di kedua pipiku,.
--
aku menangis sendirian, berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan ditengah hujan deras...
aku terus menangis dan berteriak meski nyatanya tak ada tanda-tanda sama sekali akan ada yang mendengarkanku tapi aku tak peduli.. harus ada seseorang yang menolong kami, harus ada! karena aku tak mau kehilangan kakakku.
'siapapun tolong selamatkan kakakku!'
aku kembali berteriak sambil menangis memeluk kakakku yang terbaring lemah dengan bersimba darah.. aku tak mau kehilangan kakakku! tak pernah mau!..
--
'siapa pun tolong selamatkan wanita ini!' tanpa sadar aku berteriak sekeras-kerasnya membuat kerumunan orang yang sibuk sendiri itu terdiam sesaat.
'paman, tolong telepon rumah sakit dan minta ambulan secepatnya..' aku menunjuk seorang paman yang berada paling dekat denganku. namun paman itu tetap terdiam, aku sempat kesal dengan sikapnya tapi mungkin dia masih terkejut.
'yah paman.. mohon bantuannya.' paman itu akhirnya mengerti dan segera mengambil handphone yang terletak di pinggangnya dan segera menghubungi rumah sakit.
aku menahan napasku sejenak, mencoba menenangkan diri, satu menit saja.. aku butuh satu menit saja untuk meyakinkan diriku.
aku kembali mendekatkan diri kearah wanita yang malang ini, dia tetap tak berdaya, ku raba denyut nadinya dan ku pastikan napasnya.
dia.. dia sudah tidak bernapas.
tidak mungkin! tadi ku lihat dia masih setengah sadar dan juga nadinya masih berdenyut meski lemah.
mungkinkah aku terlambat satu menit?
ku coba melakukan bantuan pernapasan, mencoba melakukan pertolongan pertama pada wanita ini.
'hai! apa yang kau lakukan? apa kau dokter?' salah seorang dari kerumunan itu bertanya padaku, tapi aku tak menghiraukannya aku tak punya waktu untuk menjelaskan apapun..
--
'apa kau dokter?' aku bertanya pada seseorang yang sekarang berusaha menolong kakakku, entah bagaimana dia adalah satu-satunya orang yang mendengar teriakanku dan akhirnya bersedia membantu.
'kau punya pisau dan pipet atau pena?' dia malah bertanya kepadaku.
--
'aku hanya berusaha menyelamatkanya.. maka tolong percaya padaku. tolong berikan pisau dan pipet!'
--
--
dengan hati-hati aku membuat sebuah sayatan kecil di lehernya setelah sebelumnya memastikan bahwa itu adalah tempat yang tepat, lalu dengan hati-hati ku masukan pipet itu ke sayatan yang ada di leher itu lalu perlahan ku alirkan pernapasan bantuan dari pipet itu.. 'dia harus bernapas, dia harus mendapatkan oksigen dan aku tak boleh terlambat satu menit pun'.. aku berdo'a dalam hati agar semua yang aku lakukan ini bisa menyelamatkan wanita ini.
beberapa saat, akhirnya bisa ku rasakan dia mulai bernapas.. yah dia bernapas.. dia selamat.
--
'kau menyelamatkan kakak ku.' aku duduk di samping seseorang yang ku anggap pahlawan. dia menatapku sekilas lalu tersenyum.
'aku hanya mencoba melakukan yang terbaik, tapi semuanya adalah kuasa Allah.' dia kemudian berdiri, dan mulai beranjak.
'terima kasih sudah melakukan yang terbaik..!' aku setengah berteriak berterima kasih kepadanya, dia membalikkan tubuhnya dan kembali tersenyum. 'terimakasih sudah mempercayaiku.'
--
'terima kasih sudah menyelamatkan ku.' wanita itu tersenyum ketika aku menjenguknya sore itu.
'aku hanya mencoba melakukan yang terbaik.' aku mencoba tersenyum padanya.
'hm.. yah, terima kasih sudah melakukan yang terbaik, andai kau terlambat menolongku satu menit saja maka aku tidak akan ada di sini.' dia menatapku tulus, ah dia benar-benar mengingatkanku pada seseorang, pada diriku.
'semuanya karena kuasa Allah.. dia yang telah mengatur semuanya.'
'tapi bolehkah aku bertanya bagaimana kau bisa yakin untuk menyelamatkanku dan yakin untuk melakukan pertolongan seperti itu.. apa kau dokter?'
--
'tapi apa yang membuatmu yakin untuk melakukan hal itu pada kakakku?' aku mencoba menahannya dengan pertanyaanku.
dia mengalihkan pandangannya padaku, 'aku tak boleh terlambat satu menitpun untuk menolong kakakmu bernapas... ah kau terlalu kecil untuk mengerti, maka bila kau ingin mengerti belajarlah menjadi dokter dan lakukanlah yang terbaik untuk membantu orang-orang.. dan aku pun sedang belajar.' dia mengusap kepalaku dan akhirnya benar-benar pergi.
--
'apa kau dokter?'.. dia mengulangi pertanyaanya padaku, aku tersenyum kepada wanita itu, 'aku sedang belajar.. dan aku rasa aku harus siap suatu saat nanti..'
'... yah aku harus siap, tanpa perlu menangis tanpa harus menunda satu menit pun aku harus siap melakukan yang terbaik...'
..yang diajarkan seorang teman kepada ku..
'hey! apa yang salah?ada apa ini? tidak kah kau lihat kakek tadi juga ingin menumpang? apa kau buta!' ingin sekali aku berteriak pada kondektur dan supir bis ini,walau kata-kata itu nyatanya tak keluar sama sekali dari bibirku. aku hanya diam dan tetap menatap kasihan kakek yang tertinggal di halte tadi.
pikiranku melayang pada sebuah artikel yang kubaca beberapa waktu yang lalu. sebuah sindiran tentang ketidakpedulian orang-orang jaman sekarang, disampaikan lewat kisah seorang kakek yg salah naik bis dan tak punya uang lebih. aku kembali merenungi kisah itu dan juga kejadian tadi.
ah, ini mengesalkan ketika aku harus mengakui bahwa mungkin aku mulai keracunan pola pikir orang jaman sekarang yang punya ketidakpedulian tingkat tinggi khususnya pada orang2 sekitar yang tak berdaya dan tak dikenal.
hm, artikel itu bilang harusnya kita merenung.. bagaimana kalau kakek itu adalah kakek kita? bagaimana kalau orang yg tak dipedulikan siapa pun itu adalah keluarga kita?
tapi aku tak punya..
bis berhenti di halte berikutnya, kulangkahkan kakiku keluar dari bis itu. perlahan aku berjalan menyusuri jalan setapak yang pernah aku lewati bersama sahabatku.
langkahku berhenti di depan sebuah pohon besar tempat aku pertama kali bertemu dengan sahabatku itu.
'kenapa kau sendiri disini?' aku diam ketika pertama kali dia menegur aku yg duduk sendirian.
'kau tak sedang kabur dari rumah kan? kau terlihat berantakan.' dia tanpa peduli bagaimana aku tak mengacuhkannya tetap saja menanyaiku banyak hal dan terlihat begitu peduli padaku.. aku rasa mulai saat itulah kami menjadi sahabat.
'kau harus pulang. kau punya keluarga..'
itu adalah kata-kata terakhirnya setelah mendengarkan semua ceritaku. yah..seorang berambut putih itu yg tak pernah aku kenal itu yang berhasil membuat aku pulang ke rumahku yg kacau itu.
dia.. dia bukan kakekku dan aku bahkan tak mengenalnya, tapi dia peduli padaku yg hancur saat itu.
aku mempercepat langkahku, dari kejauhan ku lihat seorang kakek terlihat letih menunggu di halte.
yah mungkin aku tak punya kakek untuk bisa membuat aku peduli,. tapi aku pernah belajar dari seorang sahabat tentang apa itu peduli..
mimpi...
entah bagaimana aku bertemu denganmu, semuanya terasa begitu mendadak. aku memang sedang memikirkanmu, tapi.. entah bagaimana kamu bisa ada dihadapanku.
tubuhku terpaku beberapa saat, mungkin terkejut atau mungkin juga aku hanya tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bagiku ini benar-benar sulit dipercaya ketika kamu ada dihadapanku. kamu hanya diam, sedikit menunduk tanpa menatapku. untuk beberapa saat, tak ada yang terjadi.. mungkin kita bicara lewat bahasa yang lain atau mungkin kita benar-benar hanya diam.
beberapa saat berlalu dan kamu tetap dalam diam, sedangkan aku tetap bingung dengan semua ini..
semua keadaan ini membuat aku jengah, kamu hanya berdiri dihadapanku dengan kepala menunduk, dalam diam.. begitu saja. dan aku.. aku diam menatapmu yang seperti itu, ini mengesalkan! tak bisakah kamu bicara satu kata pun? setidaknya katakan lewat matamu, lewat raut wajahmu.. tapi kamu tak mengizinkan aku tahu apapun.
aku rasa ini saatnya aku pergi, meninggalkanmu dalam diam. meski ini lebih menyesakkan tapi setidaknya aku mencoba melakukan sesuatu untuk keluar dari keadaan ini.
'kita sudahi saja semuanya.. semua ini... rasanya lebih baik kalau tak seperti ini. aku pergi..'
kamu, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu ketika langkahku melewatimu. aku berbalik, ingin rasanya mendengar kata-kata itu sambil melihatmu, mendengar semua itu sambil menatap mata itu.. karena aku tak percaya ini harus terjadi!
setidaknya izinkan aku mencari penjelasan apa maksud semua ini, kenapa harus pergi ketika masih bisa bersama?
tapi kamu.. kamu sudah pergi. dan aku hanya bisa menatap punggungmu dalam diam..
perlahan aku merasa tubuhku melayang, aku merasa ringan.. tanpa beban. apakah ini akhirnya? aku pergi ketika kamu tak ada disampingku..
cahaya putih itu tiba-tiba begitu menyilaukan. perlahan aku membuka mataku,apa ini artinya aku sudah di surga?
mataku menatap semua gambar tempat ini, langit-langit yg berwarna pink, dinding putih dengan hiasan bunga-bunga.. ini kamarku.
apa ini artinya semua yang terjadi tadi hanya mimpi? lalu apa ini pertanda kamu memang akan meninggalkan ku?
secepat kilat tanganku mencari-cari handphone, mencoba menghubungimu.. tapi kamu tak ada, kamu sudah pergi, tanpa kata.
air mataku tak terbendung, mimpi itu.. kamu.. mengapa tak katakan sesuatupun untukku?
dan semuanya berubah gelap.
Jumat, 26 November 2010
my newest hobby...
ngedit foto!
masih belajar sih, karena yah,... namanya juga hobby baru. so, check it out... my first photo...

konsepnya sih gak tau kayaknya persahabatan dalam foto jaman dulu... tapi kayaknya masih hancur banget hasilnya. gak papalah namanya juga belajar ^_^
oh iya di foto ini cuma ada aku, nisa sama nia... bukan karena apa-apa sih, tapi emang cuma kita bertiga yang kemarin2 sering foto di leppy. ntar deh edit fotonya yang bareng2 sama yang lain, dan semoga nanti hasilnya bisa lebih baik.. :DD
*diedit pake photoscape... catatan: menurut aku photoscape, not bad sih.. walau masih banyak keterbatasan..
Rabu, 24 November 2010
cameo.... why not???
selalu bermimpi untuk mejadi pemeran utama? aku kira itu hal yang wajar. lagi pula ini kehidupan ku, jadi sangat wajar kalau aku ingin menjadi pemeran utama.
yah, pemeran utama dimana semua kisah, semua kejadian dan semua hal yang terjadi hanya berfokus pada ku... ah seperti benar-benar hidup dalam sebuah dongeng, dimana aku berperan sebagai putri yang baik hati, lemah-lembut lagi cantik rupawan. tak ada cacat...! putri yang mendapatkan semua hal terbaik, semua hal yang diinginkan.. tapi bukankah itu seperti sandiwara?
bisakah aku terus membohongi diri seperti ini? apa benar aku pemeran utama?
apa benar aku sesempurna itu untu jadi pemeran utama dalam episode kehidupan yang aku jalani?
aku merenungi ini.. entah sudah berapa lama, tapi yang pasti rasanya kemarin aku sudah sampai ke titik untuk menghelakan napas dan menekan semua kekerasankepala-ku untuk mengaku sebagai pemeran utama.. sepertinya aku hanya cameo.
yah hanya cameo... sepertinya karakterku lebih cocok untuk jadi cameo. aku mencoba membandingkan diriku dengan beberapa cameo di film atau juga cerita di novel dan sepertinya cocok.
* aku selalu bermimpi mendapatkan semua hal yang didapat oleh pemeran utama, bersikap seperti pemeran utama eski terkadang cendrun memaksakan diri. (cameo banget!! karena pemeran utama tak pernah bermimpi seperti ini, dia mendapatkannya begitu saja dengan sikap dan prilakunya tanpa dibuat2..)
* aku bersikap keras kepala menganggap semua yang kulakukan itu benar dan harus menjadi yang terbaik dalam segala hal, bahkan terkadang ingin mengenyampingkan orang lain. (cameo yang cenderung antagonis! pemeran utama biasanya tidak pernah seperti ini... dia rendah hati dan tetap bersinar tanpa harus mengesampingkan siapa pun..)
* meski berusaha dan memimpikan semua yang menjadi milik pemeran utama, namun nyatanya aku tak selalu mendapatkannya, (nasib cameo banget... --__--)
yah.... sepertinya aku memang cameo...
tapi, hey.. apa yang salah dengan menjadi cameo???
sepertinya jadi seorang cameo tidak terlalu buruk. cameo.... tanpa cameo, bukankah tidak akan ada pemeran utama!? tak ada cerita yang bagus!
yah... cameo juga penting dalam cerita... dalam setiap episode film... dalam setiap penggalan kisah di dalam novel.. dalam setiap kejadian dalam kehidupan.
Tak ada salahnya menjadi cameo, bukan? bukankah banyak cameo yang baik? bukankah masih banyak cameo yang mendapatkan banyak hal terbaik dalam kisahnya...? jadi, cameo... why not?
tak mungkin semua orang menjadi pemeran utama.. karena itu artinya tak pernah ada pemeran utama. mengambil peran menjadi cameo yang baik, cameo yang membantu peran utama.. cameo yang melakukan peran kecil yang berkesan... sepertinya terdengar cukup baik. ^_^, dan mungkin terdengar lebih realistis untukku.
cameo... yah, menjadi cameo yang terbaik mungkin adalah salah satu pilihan yang tidak buruk ketimbang terus menerus memaksa menjadi pemeran utama... lagi pula cameo mungkin akan menjadi pemeran utama suatu saat, tapi tak perlu memaksakan diri, jalani saja peran ini. dan mungkin peran utamalah yang akan menemukan cameo untuk memerankannya.
bukankah sebenarnya kita memang memiliki peran masing-masing... entah menjadi cameo atau pemeran utama... tapi yang pasti melakukan hal yang terbaiklah yang paling penting. tak perlu menjadi pemeran utama bila bisa menjadi cameo terbaik.. karena memaksa menjadi pemeran utama itu sangat menyedihkan, seperti menjadi cameo terburuk yang mengambil peran antagonis..!
hm,... cameo??? why not!
asalkan menjadi cameo yang terbaik, aku rasa pilihan hidup menjadi cameo bukanlah sesuatu yang buruk ^_^
ok.... ready???
Cameo... Action!!!
Sabtu, 13 November 2010
Mianhae (my first 2nd POV)
Suara detak jantungmu yang berdetak tak karuan itu terasa membahana di seluruh ruangan ini, entah apa wanita itu mendengarnya atau tidak tapi suara detak jantung itu semakin kencang, sepertinya hatimu benar-benar tidak tenang.
Berkali-kali kamu mencoba mlirik ke arahnya, mencoba memastikan keadaan agar kamu bisa merasa sedikit nyaman dengan semua yang terjadi. Tapi, semakin kamu mencoba bagimu keadaan menjadi lebih sulit.
Dia sedang berbicara di telephone dan kamu jelas sekali mendengar setiap kata yang dia bicarakan, hatimu sepertinya semakin tak karuan, andai waktu bisa kamu kendalikan mungkin kamu sudah memutar ulang waktu ke masa dimana semua ini belum terjadi, tapi kamu tetap harus sadar kalau semua itu tidaklah mungkin.
Kali ini detak jam yang menganggumu, suasana yang terlalu senyap ini terasa sedikit memperesuit keadaan. Kamu mecoba mengacak-acak rambutmu seakan keadaan akan membaik hanya karena rambutmu berantakan atau sekedar bisa membuatnya mengalihkan perhatiannya padamu agar kamu bisa bicara.
Kamu berharap bibirmu bisa bicara, walau satu kata saja kamu ingin kamu punya kekuatan untuk megatakannya.
"Mengapa mengatakan satu kata ini begitu sulit, bahkan aku tak bisa memaksa diriku untuk sekedar membuka bibirku.." kamu terlihat putus asa, terlihat frustasi dengan keadaan yang semakin jengah.
Matamu menatap diam-diam kembali perempuan yang masih duduk diam di tempatnya itu, "hm.. kamu benar-benar keras kepala dan hanya ingin aku yang memperbaiki keadaan.Tapi tahukan kamu kalau ini begitu sulit." kamu mencoba menyampaikan apa yang ada di hatimu tanpa membuka bibirmu dan mengeluarkan suara sama sekali, bagaimana bisa perempuan itu mendengarnya?
Satu kata, bukankah harusnya itu sangat mudah bagimu untuk melakukannya. "Ayolah, tidak sampai beberapa detik, tidak sampai satu menit.. lakukanlah, seprti seseorang yang berjiwa besar." kamu mecoba berbisik pada hatimu sendiri, mencoba meyakinkan pikiranmu bahwa ini tidaklah sulit. Tapi nyatanya kamu hanya bisa tertunduk lemah menyesali dirimu.
Detik demi detik yang meningalkanmu semakin membuat hatimu resah, berkali-kali kamu mencoba menggerakan hatimu untuk berani, tapi berkali-kali juga kamu akan mundur satu langkah. Betapa kamu semakin menyesali dirimu sendiri dengan rasa takut yang selalu membuatmu lemah.
"ku hidup dengan siapa... ku tak tahu kau siapa..." dia bernyanyi, kamu paham benar apa maksud nyanyian itu, apa maksud sikap itu. Kamu bahkan benar-benar mengerti bahwa kamu hanya punya satu cara untuk membuat semuanya menjadi lebih baik, tapi rasa takutmu itu membelenggumu.
Kamu menoba mengalihan perhatian dengan cara yang unik, mencoba mencari sesuatu yang kamu tidak tahu itu, tapi nyatanya hatimu menuntunmu.. sebuah lirik lagu yang kamu cari sebagai pengalih perhatian itu bahkan menjawab dengan jelas sesuatu yang amat sulit kamu ungkapkan itu.
"Mianhae..." lirik laguyang kamu sukai itu jusru memiliki arti lebih bagi dirimu saat ini, walau berbeda bahasa tapi artinya tetap sama. Kali ini, hatimu memaksamu, benar-benar memaksa untuk mengatakannya, sau kata saja.. kata ini saja.
Tapi keadaan semakin sulit ketika kamu melihat dia tetap baik-baik saja tanpa perlu kamu mengatakan kata itu. Dia tetap bisa tertawa, tetap bisa berbicara tanpa kamu perlu mengungkapkannya.. tapi hatimu berkata lain, mungkinkah dia hanya menunggu kamu mengataknnya.
Langkahmu terlihat ragu, namun akhirnya kamu sampai di hadapannya. Kamu menatap matanya yang terlihat sendu, tapi dia masih berbicara, soalah kamu tak ada disana.. kamu menghelakan napas, mencoba mengatur emosi yang mugkin akan mempengaruhi semuaya, mempengaruhi sikap dan keadaan nantinya,tapi entahlah... kamu tetap sulit untuk mengatakan satu kata itu meski kamu mencoba.
"Mianhae" kata itu akhirnya keluar dari bibirmu, meski dengan sagat samar, meski dengan sangat lemah tapi kamu berhasil mengatakan satu kata itu. Tapi seseorang dihadapanmu itu menatapmu tak mengerti, kamu menyesali diri karena berharap dia bisa mengerti arti kata itu begitu saja tanpa petunjuk apapun. Kamu berhenti bertengkar dengan dirimu sendiri tentang satu kata yang lebih sederhana ini, hanya kata sederhana yang begitu sulit untuk dikatakan bila egomu masih brtengkar dengan hatimu.Tapi inilah saatnya... berhenti memperburuk keadaan, kamu harus menyelesaikannya, kamu harus memperbaiki segalanya. Maka untuk itulah kamu disini, menatap tulus ke arah dua bola mata dihadapanmu, mencoa mencari arti dari tatapan itu, mencoba mengatakan kalau kamu tuluskali ini..
"Maaf" dan kata sederhana itu akhirnya dengan mulus keluar dengan suara lembut dari kedua bibirmu. Sebuah kata yang bisa membuat hatimu menjadi lega hingga ribuan ton rasa bahagia bisa memasuiya. Yah, hanya satu kata itu yang kemudan membuat keadaamu lebih baik. Jadi berhentilah berhayal dan lakukanlah, kamu hanya perlu mengatakannya sebuah kata maaf, dan kamu akan mnyadari bahwa benar semuanya segera membaik dan kembali seperti biasa dan hatimu menjadi bersih dan tenang, dan hatinya pun menjadi tenang.. hatimu dan sahabatmu terbaikmu.
"Mianhae..."
Rabu, 10 November 2010
ada dan selamanya (sahabat)
Ada dan selamanya..
..”tak ada sahabat selamanya...”...
Aku masih menenggelamkan wajahku dalam, mencoba menekan semua perasaan sedih dan kecewa yang mulai menyiksaku. Pipiku basah, napasku tak teratur, tapi yang lebih parah adalah aku merasakan ada yang sakit didiriku. Yah, hatiku sakit. Ada gemuruh besar yang mengguncang semua pertahananku dan entah bagaimana mengatakannya, ini benar-benar menyakitkan..
Bulir-bulir air mata itu masih mengalir membetuk aliran yang semakin deras di kedua pipiku, ini benar-benar tak pernah aku harapkan, kali ini mataku semakin pedih. Aku ingin mengakhiri rasa yang menyakitkan ini, tapi sakit di hati ini benar-benar membuat aku tidak berdaya. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Bagaimana bisa aku kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku? Dan bagaimana bisa aku bertahan?
“huh... lagi-lagi ada yang menangis di sini? Apa tak ada tempat yang benar-benar damai di bumi ini?..” kata-kata yang terdengar penuh ejekan itu tiba-tiba saja mengagetkanku.
Aku menoleh ke arah suara itu, masih dengan mata yang merah dan aliran air mata yang belum sempat aku hapus. Aku pikir tak kan ada orang di tempat ini.. tapi, dia..
“sudah menangisnya anak kecil? Aku yakin ini pasti hanya masalah sepele. Aku heran kenapa orang mudah sekali menangis hanya karena hal sepele..” kali ini kata-katanya itu terdengar seperti pertanyaan sinis.
Aku diam, memandang tajam ke arah seseorang yang menyebalkan ini. Dia benar-benar menyebalkan, dalam keadaan bagaimanapun harusnya orang akan prihatin atau bahkan merasa iba kalau ada yang menangis, paling jahat juga cuma akan pura-pura tidak peduli. Tapi dia... huh!
“kau memang anak kecil, sudah hapus air matamu dan pergi dari sini. Menatapku seperti itu? Huh, kau kira aku akan kasihan padamu? Pergilah, aku benci orang menangis dihadapanku.” Kata-katanya itu membuat aku benar-benar tak bisa menahan emosiku. Dia menganggu singa yang sedang terluka, itu kesalahan besar!
“Hey! Kau kira kau siapa? Orang dewasa? Kau sendiri hanya seorang bocah laki-laki sok dewasa yang menyebalkan!!” aku berteriak dihadapannya , menatap tajam matanya dengan penuh kemarahan.
“hh... terserah kau saja, aku tak suka berdebat dengan anak perempuan kecil yang cengeng dan menyebalkan. Kalau kau masih mau di sini, terserah. Aku sudah malas, kau bisa si sini sampai kapanpun.” Dia beranjak pergi dari taman ini, dengan caranya yang angkuh dan menyebalkan. Aku benci dia.
***
Aku sedang berjalan dengan lemas menuju rumahku, perlahan ku alihkan pandanganku ke sebuah rumah yang ada persis di hadapanku, aku tak tahu apa itu tapi yang pasti hatiku rasanya dihujam dengan sebuah paku besar yang benar-benar membuat aku tak mampu bertahan lebih lama untuk berdiri. Aku berlari sekuat yang ku bisa meski ku tahu aku tak bisa mengubah semuanya dengan hanya berlari masuk ke rumahku.. karena ku tahu setelah ini aku hanya akan sendirian.
“kamu?...” aku baru saja mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah ketika aku menemukan dirinya sedang duduk di ruang tamu. Dia hanya tersenyum kepadaku.
“iya, maaf yah yang kemarin. Gak seharusnya aku berkata kasar ke kamu.” Dia masih tersenyum kepadaku. Bagaimana bisa dia melakukan semua ini?
“aku tahu kamu masih marah, tapi maaf aku tetap tak bisa mengubah semuanya. Maaf, aku tetap harus pergi. Aku harap kamu gak marah lagi, karena bagiku kamu adalah teman terbaik.. sahabat selamanya.” Kali ini aku merasa senyumnya itu tak berarti apa-apa. Aku tak mau mendengar lebih banyak lagi tentang semua ini, maka aku hanya bisa berlari menuju kamarku dan mengunci diri di sana.
“ kamu.. bagaimana bisa kamu bilang kalau kamu gak akan selamanya bersamaku? Bagaimana bisa kamu pergi begitu saja? Kamu bilang kita sahabat.. tapi bagaimana bisa kamu seperti itu? Kamu gak mau berteman denganku lagi.. kamu cape dengan semua persahabatan kita. Dan sekarang, kamu bilang kamu harus pergi. Sahabat macam apa itu?”
Aku menangis sejadi-jadinya, aku tetap tak pernah bisa menerima semua ini terjadi. Ares menginggalkanku begitu saja? Aku tidak bisa percaya. Dia yang selalu bersamaku semenjak kelas 1 SMP, sekarang dia mau pergi begitu saja ketika baru saja lulus SMP, oh ini begitu menyakitkan. Mimpi kita masih panjang, kita bermimpi untuk selalu bersama sampai kapanpun, SMA di sekolah yang sama lalu lulus dan kuliah juga di fakultas serta universitas yang sama. Bahkan bekerja nanti pun kita tetap ingin bersama. Lalu kenapa sekarang dia memilih pergi?
“cha.., dengerin aku dulu..” ares bicara dari balik pintu kamarku, suaranya seperti menyesal. Tapi percuma kalau dia masih berniat pergi.
“cha, kamu harus ngerti. Kadang kita memang tak bisa selalu bersama. Dan kali ini, mungkin memang kita harus berpisah.. tapi kamu tetap sahabatku selamanya.” Kali ini ku dengar suaranya sedikit melemah, entah karena dia juga merasa sedih atau memang dia sudah akan pergi.
“kamu sendiri yang bilang res, kalau sahabat gak akan ninggalin sahabatnya. Kamu pembohong!” aku hanya bisa melampiaskan semua yang aku rasakan hanya dengan cara ini berteriak sekuat yang ku bisa. aku benar-benar benci merasakannya, kecewa, sedih, marah.. aku benci ares!
“cha... mengertilah. Maafin aku. Aku harus pergi, jaga diri yah cha. Jangan nangis lagi, semoga nanti aku bisa main ke sini lagi. Maaf cha..” ares sepertinya sudah menyerah sekarang, yah dia menyerah dan meninggalkanku. Tapi jika benar harus berpisah, apa harus berakhir seperti ini? Aku berlari menuju pintu, membuka kunci pintu kamarku dan berlari keluar untuk menemui ares, setidaknya aku ingin ada salam perpisahan yang dapat aku kenang.
“cha, maaf...” aku hanya diam menatap ares, walau aku ingin sekali bicara banyak hal tapi kali ini aku ingin diam, aku hanya ingin melihatnya lebih lama.. mencoba menyimpan semua kenangan dan juga gambar dirinya dalam hatiku sebagai sahabat terbaikku.
Dan dia pergi, yah pergi begitu saja meninggalkan aku.. sahabatnya. Mungkin ini saatnya aku percaya bahwa tak ada sahabat selamanya yang akan selalu bersamaku.
***
Aku berjalan perlahan menuju belakang sekolahku, yah ini sekolah baruku. Sebuah SMA dimana aku tinggal sendiri... tanpa Ares. Kaki ku terus melangkah, tadi aku sempat melihat halaman belakang sekolah dari jendela kelas, halaman yang sepi dan tenang. Aku rasa ini akan menjadi tempat yang menyenangkan, terutama jika aku hanya ingin sendiri menatap awan. Aku duduk di rumput, dibawah sebuah pohon yang cukup rindang, mataku memandang lurus ke arah awan yang terlihat indah itu, sesaat aku merasa ares masih ada di sampingku mencoba mengangguku dan melakukan banyak ke konyolan dihadapanku.
“mau nangis lagi anak kecil?” suara itu... aku mengarahkan pandanganku ke arah belakangku, seseorang yang menyebalkan itu ternyata sedang duduk dengan santai bersender ke pohon yang juga jadi tempat aku berteduh. Sejak kapan dia ada di situ?
“lagi-lagi menatapku seperti itu. Dasar anak kecil..” dia terlihat acuh dan kemudian sibuk dengan ipone-nya.
“hhuh!.” Aku tidak habis pikir ada orang seperti ini di dunia. Dia harusnya ada di planet lain.. dasar Alien!
“hey, kalau kau hanya mau menatapku seperti itu lebih baik kau pergi dari sini. Itu sungguh mengangguku. Tadinya ku kira anak kecil sepertimu hanya mau menangis sendirian lagi di sini, tapi kalau kau sudah mengangguku seperti ini lebih baik kau pergi..” dia, berkata dengan sangat cuek bahkan tanpa menatapku seperti itu, dia pikir dia siapa?!
“kamu pikir dirimu siapa? Pemilik tempat ini? Seenaknya saja mengusir orang!!” aku sedikit berteriak kepadanya, gayanya yang seenaknya dan seperti orang gila mengayun-ayunkan tangan sambil menikmati musik dari iponenya itu sungguh membuatku kesal.
“hah? Apa aku butuh alasan untuk mengusirmu? Kau sendiri yang harusnya tahu diri. Aku sudah dari tadi ada di sini, dan kau tiba-tiba datang mengusik pemandanganku serta menatapku seperti itu. Sekarang kau bilang aku tak berhak mengusirmu? Dasar anak kecil!.”
“berhenti memanggilku anak kecil, aku punya nama!”
“oh ya?? Siapa? Anak kecil....” dengan penekanan di kata ‘anak kecil’, aku merasa dia benar-benar orang yang menyebalkan. Aku rasanya ingin menyumpal mulutnya dengan daun-daun kering ini.
Aku diam, lalu dengan keyakinan melangkahkan kakiku melewatinya. Aku pergi dari tempat itu, percuma memperpanjang masalah dengan orang yang menyebalkan ini. Kalau aku bertahan lebih lama, mungkin dia yang akan pergi dan menertawakan aku seperti kemarin sebagai anak kecil. Aku tak ingin dia menganggapku seperti anak kecil.
***
“elang? Jadi namanya elang? Hm.. senior yang paling terkenal karena sikapnya yang seenaknya dan juga karena nilainya yang benar-benar hancur.” Aku bergumam dalam hati ketika teman-temanku, sesama anak baru di SMA ini, sibuk membicarkan anak laki-laki menyebalkan yang sedang di hukum di lapangan upacara itu karena ketahuan membolos. Aku heran dengan teman-temanku ini, padahal mereka tahu elang bukan anak yang baik, rajin membolos, seenaknya dan juga tak punya rekor bagus di pelajaran, tapi masih saja mereka membicarakan dengan heboh orang seperti itu. Mereka bilang dia itu keren? Huh! Apanya yang keren? Tunggu sampai mereka melihat ares, aku yakin mereka tak bisa berhenti bicara sedetik pun.
Aku kembali duduk berteduh di bawah pohon di halaman belakang sekolah, mencoba untuk menenangkan diri. Yah.. aku merindukan ares. Apa yang sedang dia lakukan di sana yah? kenapa dia belum mengabariku? Terakhir minggu lalu dia menelponku semalaman untuk mengeluhkan sekolahnya dan teman-teman barunya. Tapi semenjak itu tak ada lagi kabar, apa sekarang dia sudah punya sahabat yang lain?
“eh anak kecil, sudah nongkrong aja di sini. Kali ini beneran gak niat nangis kan?” lagi-lagi suara itu... apa yang dia lakukan? Bukankah beberapa saat yang lalu dia masih di hukum?
“hey, sudah berapa kali ku bilang jangan menatapku seperti itu! Ini tempatku, sudah satu tahun aku selalu ke sini, jadi jangan harap aku akan merelakan tempat ini jadi tempatmu, apa lagi kalau hanya digunakan untuk menangis.” Dia tersenyum mengejek kepadaku, sungguh benar-benar gila kalau aku masih bisa bertahan di sini.
“baguslah kalau kau berniat pergi. tempat ini akan kembali tenang tanpa kehadiranmu di sini.” Mendengarkannya telingaku rasanya sakit, tidak bisakah dia diam saja. Tapi dibilang seperti itu entah mengapa aku tak rela, lagi pula harus ada yang menghentikan dia berbuat seenaknya seperti ini. Maka aku kembali duduk di tempatku. Anehnya dia diam sekarang, mungkin sudah kehabisan kata-kata untuk mengejekku. Yah dia sudah tidak punya alasan.
Aku kembali menatap awan, dan entah apa yang dikerjakan elang yang menyebalkan itu yang pasti sekarang suasananya tenang. Bel tanda istirahat terdengar dari kejauhan, ini saatnya kembali ke kelas, aku membersihkan seragamku dari rumput dan dedaunan kering. Aku baru saja berniat melangkah menuju kelasku ketika ku dapati sosok yang menyebalkan itu sedang tertidur dengan damai, hm.. kalau dia diam seperti ini dia jadi terlihat berbeda. Ide jahilku muncul seketika, entah karena aku masih kesal atau malah sedikit merasa nyaman karena melihatnya yang begitu berbeda aku langsung mengambil setumpuk daun kering lalu dengan tiba-tiba ku jatuhkan di wajahnya
“bangun!! Masuk kelas woyyy!” lalu secepat kilat aku kabur, ku lihat di belakang dia sedang marah-marah sendiri membersihkan rambut dan seragamnya dari daun-daun kering yang tadi aku jatuhkan.. rasakan!
***
Aku sedang di kamarku dengan handphone di telingaku, yah... ini ares, dia sedang menelponku dan menceritakan sekolah barunya yang menyebalkan dengan segala tugas yang menyebabkan dia tak punya banyak waktu luang, tapi demi mendengar ceritaku... dia menelpon, ares masih yang terbaik.
“jadi gimana cha di sekolah barumu yang baru? Seru yah..?”
“gak asik.” Aku hanya menjawab pendek, yah memang kenyataanya kesan yang aku dapat dari sekolah baruku hanya itu, ‘gak asik’.
“loh kok gitu, yah.. harusnya kamu ke sini aja kalau di sana gak asik.”
“heh, mana punya uang aku nyusulin kamu ke amerika!”
“yah...” ares terdegar sangat kecewa. Yah aku juga kecewa dengan hal ini, hanya karena keluarga kita berbeda kita jadi terpisah begini. Ayah ares benar-benar ingin ares mendapatkan pendidikan terbaik untuk mempersiapkannya sebagai pewaris perusahaannya, dan aku.. yah aku cukup kuliah di sini saja agar tak terlalu memberatkan orang tuaku. Dan jadilah aku hanya bisa mengutuki perbedaan yang memaksa kami terpisah.
“eh, tapi di sini ada yang lebih nyebelin dari pada kamu res. Bener-bener bikin aku kesel setengah mampus deh tuh orang, masa iya dia selalu manggil aku ‘anak kecil’, apaan coba?.. trus..”
“wait... tunggu dulu cha, aku nyebelin??” dia terdengar sangat tidak yakin dengan apa yang dia dengar. Hey, kau kira dirimu bergitu sempurna?? Dasar ares!
“hehehe, dikit res.. tapi yang ini suer deh aku rasanya bisa gila kalau tersu-terusan ketemu dia.”
“lah, masa dia berani sama cha-cha yang ban hitam?”
“yeay.. mana dia tahu aku ban hitam, masa iya aku pake tulisan ‘awas ban hitam’ dijidat sih res? Ada-ada aja, dikira herder ntar.”
“hahhahaha beneran jadi kangen kamu deh cha.”
“halah... bisanya cuma ngomong doang. Kalau kangen yah pulang dong ke sini!”
“belum bisa, maaf cha.... Eh, lanjut lagi tuh cerita orang nyebelin yang lebih nyebelin dari aku itu..” aku diam sejenak, ternyata kita memang terpisah jauh, dan entah kapan kamu baru akan pulang ke sini.
“cha...”
“oh iya res, namanya itu elang.. dia itu senior yang gak banget. Kerjaannya bolos mulu, seenaknya aja ngomong dan bersikap dan aku dengar sih dia hampir aja gak naik tahun lalu.”
“elang? Kamu sekolah di SMA yang waktu itu kita janjian daftar bareng kan?”
“he.. eh. Kenapa res?”
“oh, gak. Cuma sepertinya aku tahu dia.”
“serius res? Kok bisa sih kamu kenal sama orang yang kayak gitu?”
Dan akhirnya aku tahu semua tentang elang.. hm, ternyata dia berbeda. Yah berbeda.. dan aku rasa ares benar, dia mungkin tidak seburuk yang aku kira. Dari cerita ares sih, elang memang punya sesuatu yang spesial..
***
Bel istrirahat baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu, aku kembali melangkahkan kakiku menuju halaman belakang sekolah. Entah kenapa walau disana mungkin akan ada elang lagi, aku tetap ingin ke sana. Hanya di sana aku bisa kembali merasa tenang dan bisa melihat awan.
“hm.. anak kecil sudah datang. Yah.. mari kita saksikan dia akan menatap awan dan dengan matanya yang bersinar-sinar itu mungkin kali ini dia akan menangis lagi di sini.” Elang ternyata sudah duduk dengan nyaman di bawah pohon itu ketika aku mengambil tempat jauh di depannya. Sepertinya dia masih kesal karena kejadian kemarin.
“huh.. yah setidaknya aku masih lebih baik ketimbang elang yang justru selalu takut ruang sempit.” Dia terlihat kaget mendengar kata-kataku, aku berhasil kali ini! Thanks ares!
“dari mana kau tahu tentang hal itu?” tanya elang yang sepertinya tak bisa menebak dari mana aku tahu hal ini. Yah ares sendiri bilang, kalau elang adalah tipe orang yang tertutup, tak banyak yang orang tahu tentang dirinya.
“hm.. apa yang tidak aku tahu? Kau pasti terkejut anak kecil ini ternyata tahu banyak hal.” Kali ini aku ingin membalas semua keangkuhannnya yang menyebalkan itu.
“anak kecil, sejak kapan kau belajar lebih berani.. bukankah biasanya kau hanya bisa menangis?” elang.. kau salah besar jika meremehkanku kali ini.
“hahaha, masih mengira aku anak kecil biasa. Dasar elang, BIG MAN, aku bahkan tahu kalau kau takut ketinggian! Pantas saja kau tak bisa memanjat pagar sekolah ini untuk kabur jika membolos.”
Kali ini ku lihat wajahnya merah padam, dia pasti benar-benar tidak menyangka aku tahu phobia-phobia yang tak terlihat dari sikapnya yang cuek itu, tapi inilah kenyataannya.. aku tahu semua itu.
“anak kecil....” sepertinya dia geram dengan sikapku, harusnya dia mengerti betapa tidak enaknya diperlakukan seperti itu.
“aku bukan anak kecil, jadi berhentilah memanggilku anak kecil. Aku punya naman, cha-cha.. dan kau harus berhenti memanggilku seenaknya seerti itu.”
Dia menatapku begitu saja, lalu pergi.. yah aku kira elang sudah mengetahui kalau aku bukan anak kecil biasa seperti yang dia kira, dan semoga dia berhenti memanggilku anak kecil.
***
Awan sedang terlihat indah hari ini, aku kembali duduk di tempat biasa, di bawah pohon, di halaman belakang sekolah.. elang? Hah dia pemalas sekali, siang-siang begini dia bisa dengan santainya tidur di sini. Bagaimana kalau guru menemukannya, dasar bodoh. Dia pasti akan kena hukum lagi.
“hey PRSPT! Bangun... kau tak bisa lihat awan seindah itu? Kau malah memilih tidur!”
Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, mungkin sedikit kaget dengan teriakanku. Lalu beberapa detik kemudian dia mengacak-acak rambutnya dan duduk di sampingku.
“hey anak kecil! Apa maksudmu PRSTUV itu tadi.. kau belajar mengeja?” orang ini.. baru saja bangun tidur sudah membuat kesal, kalau tak ingat kata-kata ares mungkin sudah ku bantai.
“PRSPT!”
“iya apalah itu.. kau mencoba mengeja namaku? Namaku itu E.L.A.N.G!”
“garing dodol! P.R.S.P.T itu... Penakut Ruang Sempit Penakut keTingian.” Lalu ku julurkan lidahku padanya. Dia mengacak-acak rambutnya, mungkin dia kira aku sudah melupakan semua yang aku tahu.. huh mana mungkin!
“berhenti mengumumkan pada dunia tentang phobiaku! Dasar anak kecil.!” Dia terlihat kesal, tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur tahu semuanya.
“fine, asal kau juga berhenti memanggilku ‘anak kecil’. Ok?” dia terlihat ragu. Tapi kemudian,
“okay cha-cha..” aku tersenyum puas.
Dan begitulah... kami kemudian menjadi teman, yah ares benar dia tak seburuk yang aku kira.. dia spesial.
***
Elang sedang duduk di sampingku, masih menikmati alunan musik dari iponenya. Ku lirik dia sekilas, dia masih terlalu asik dengan dunianya sendiri. Ku tarik salah satu earphonenya.
“hei.. ada apaan sih cha? Lagi chorus-nya nih..”
“aku mau nanya lang, kenapa sih kamu selalu seenaknya? Sekolah kamu gak kamu urusin sama sekali, kamu Cuma malsa-malasan gini, belum lagi sikap kamu ke orang-orang. Kenapa sih? Gak mungkin kan gak ada sebabnya.” Dia masih terlihat cuek.
“elang!!” aku sedikit berteriak di sampingnya.
“iye.. apaan sih nanya gituan. Gak penting banget.”
“serius itu kenapa? Padahal kata kamu kamu tuh gak bodoh.” Aku sengaja mengingatkannya pada kata-katanya sendiri tentang dirinya bahwa nilai jebloknya itu bukan karena dia bodoh.
“karena aku gak suka, itu aja.”
“hah? Kok bisa? Kalau kamu gak suka, ngapain kamu masih sekoalh disini lang?” aku tetap tak percaya, walau sudah tahu semua ceritanya dari ares aku tetap tak percaya elang benar-benar melakukannya hanya karena dia gak suka.
“bukan tempatnya yang disini yang gak aku suka, tapi aku gak suka ada di kelas seperti di sini, kau tahu.. aku lebih tertarik pada seni, pada alam dan pada kebebasa. Tapi sekolah disini benar-benar membosankan, semuanya diatur.. disiplin, nilai-nilai, aku lelah dengan semua hal yang menurutku tidak terlalu penting ini. Nilai bukan hanya soal kemampuan kau menjawab soal cha, tapi nilai harusnya ketika kau berhasil menyelesaikan sebuah persoalan.”
“hah?” aku sedikit tidak mengerti dengan jalan pikiran elang yang aneh ini. Dia menundukkan kepalanya, sepertinya sedikit menyesali diri.
“makanya aku gak mau cerita sama anak kecil.. kau belum ngerti apa-apa, nak.” Sedetik kemudian elang berdiri dari tempat duduknya.
“mau kemana lang, ih main tinggal.. katanya temenan?”
“mau ke kelas... ada kelas kesenian.” Dia tersenyum ke arahku.. yah hanya dengan kelas kesenian dia bisa begitu senang dan bersemangat masuk ke kelas.
...Aku gak tahu apa ini benar... tapi rasanya ares benar, kamu berbeda tidak sebeuruk yang aku kira pertama kali dan berteman denganmu mungkin menyenangkan...
***
Aku datang ke halaman belakang dengan wajah yang di tekuk-tekuk. Yah aku sedang kesal kali ini, gosip itu benar-benar mengangguku. Bagaimana mungkin aku dan elang... dasar anak-anak kurang kerjaan!
“woy cha.. itu muka kenapa? Kusut amat, mau disetrika?” bagaimana bisa dia masih becanda seperti ini. Dasar elang, yah aku lupa dia cuek setengah mati. Mana peduli dia hal beginian.
“gosip tentang kita, gak kesel?”
“hah? Kau ini.. katanya bukan anak kecil lagi, tapi hal sepele gitu aja udah dibikin pusing. Dasar cha-cha.” dia terlihat santai dan dengan santai menyuruhku duduk di sampingnya.
“iya tapi kan, tetep aja ganggu. Annoying banget sih. Bahkan temen-temen deketku pada ngeselin semua. Mereka malah bilang yang macem-macem tentang aku. padahal mereka teman, bisa-bisanya teman seperti itu.”
“hey, jangan nangis gara-gara ginian. Gak mutu banget deh cha.” Dia terlihat memperhatikan ekspresi wajahku yang masih terlihat sangat kesal.
“siapa juga yang mau nangis? Cuma... ah, aku cuma kecewa aja sama semuanya, mereka sekarang sudah tak seperti teman. Lalu harus gimana?”
“cuekin aja.”
“yey! Situ sih enak bisa cuek. Lah aku... mana bisa.”
“denegrin aku deh cha, kalau memang mereka begitu yah udah gak usah peduliin mereka dan hapus semua ingatan tentang yang mereka omongin tentang kamu.”
Aku diam sesaat, yah mau bagaimana lagi. Elang benar, percuma juga aku bersih keras kesal dan marah-marah sendiri, mending juga dicuekin.
“yah udah.. aku ada kerjaan, dah cha-cha..”
Dia pergi. yah sepertinya ada yang sedang dia kerjakan entah apa itu.. semoga saja sesuatu yang baik, sesuatu yang bisa membuat dia bahagia menjalaninya.
***
Aku lihat di pengumuman... ada kabar gembira. Elang juara! Yah dia.. walau bukan juara kelas, dia hebat! dia juara lomba menulis lagu. Dan itu tingkat nasional!
Aku mencoba menemuinya di halaman belakang sekolah, tapi dia tidak ada.. aku bingung kemana lagi dia kalau bukan di sini?.. hm, kelas seni.
Aku melangkahkan kakiku menuju ruang seni, ku lihat banyak siswa sedang menyalami elang karena keberhasilannya. Aku hanya melihatnya dari jauh... yah mungkin ini masih saatnya dia bersama yang lain karena keberhasilannya atas sesuatu yang memang bisa membuat dia bahagia, sesuatu yang dia sukai.
Aku kembali ke halaman belakang, menunggunya.. yah mengunggu hanya untuk menyampaikan selamat padanya, tapi kenyataannya dia tak pernah datang. Bahkan sampai selanjutnya.
“entah apa salahku.. dia pergi begitu saja. Lagi-lagi aku kehilangan orang yang paling dekat denganku.. tapi kali ini lebih menyakitkan, tanpa kata..”
***
Aku bukan tak berusaha mencarinya, aku bertanya pada teman-temannya, pada guru-guru tapi yang aku dapat hanya keterangan dia sudah pindah sekolah.
Ini menyakitkan, kau tahu... ini benar-benar menyakitkan. Ketika aku sudah mulai percaya bahwa akan ada sahabat yang selamanya akan bersamaku dan sekarang dia pergi. Lebih menyakitkan lagi kali ini, karena aku pernah menceritakan semua yang aku rasakan termasuk aku benci ketika ditinggalkan.. terutama oleh orang yang paling dekat denganku, sahabatku. Tapi kenyataanya dia sendiri yang melakukannya, aku tidak percaya!
Ares menghubungiku ketika sudah beberapa kali aku menghubunginya tetapi tak pernah bisa, aku menceritakan semua yang terjadi. Dia diam.. mungkin kaget, tapi harusnya dia tahu lebih banyak hal dibandingkan aku.. karena elang adalah kakaknya.
“Cha..” suara itu. Itu elang... jadi dia ke amerika juga? Oh hebat sekali dua orang kakak beradik ini. Aku baru saja ingin menutup telpon itu ketika elang tiba-tiba teriak.
“Berhenti jadi anak kecil cha..!” air mataku jatuh tiba-tiba. Dia... bisa-bisanya dia masih bicara seperti itu kepadaku.
“cha, maaf aku salah karena pergi tiba-tiba. Tapi ini juga bukan karena kemauanku. Aku mungkin memang pemberontak, tapi kali ini tak bisa... kau harus tahu, ini tanggung jawabku. Aku tak bisa mementingkan diriku sendiri sekarang.”
“cha, maaf.. aku tahu kau kecewa. Tapi kau sendiri yang pernah bilang kalau aku tak boleh terus menerus menjadi pemberontak. Kau sendiri yang bilang bahwa aku harus bahagia, atau setidaknya membawa kebahagiaan untuk orang lain.”
“hm.. kau tahu cha, kau bukan anak kecil biasa.. ares sudah menceritakan semuanya. Kau sangat luar biasa, teman terbaik yang pernah kami miliki. Maaf cha... tap kau tetap harus mengerti satu hal..” dia seperti menarik napas sejenak, lalu ku dengar suara itu menjadi dua... yah ada dua suara yang selanjutnya bicara padaku.
“sahabat ada selamanya, meski tak bersama bukan berarti selesai. Kau sahabat kerbaik cha, sahabat kami selamanya..”
Air mata itu masih mengalir deras dan semakin deras, bagaimana bisa aku kehilangan dua orang sahabat terbaikku. Bagaimana bisa? tak bisa..
“cha, ku mohon jangan menangis hanya karena ini. Nanti setelah semuanya selesai aku rasa kita pasti bisa kembali ke sana. Untuk terus bersamamu,..”
“okay anak kecil, dewasalah! Karena kau harus belajar menghadapi persoalan bukan hanya menghadapi soal-soal. Karen hidup tak selamanya sama dengan yang kita inginkan.”
Yah aku harus merelakan keduanya.. kedua sahabatku itu, mereka punya kehidupan sendiri yang harus mereka jalani. Aku tak mungkin memaksa mereka mejadi pemberontak dan membuat orang tua mereka sedih, sahabat yang baik tidak seperti itu.. sahabat yang baik adalah yang selalu mendukung sahabatnya.
“Ok, PRSPT dan ares.... awas aja yah ntar gak balik-balik.. aku susulin ke amerika ntar!”
Terdengar dari jauh ares bertanya pada kakaknya apa itu PRSPT dan elang malah balik marah ke ares ketika menyadari pasti adiknya itu yang sudah membocorkan rahasia hidupnya kepadaku..
... sahabat ada selamanya... meski tak bersama, tapi akan selalu ada...
*** the end***
Teruntuk sahabat-sahabatku... thanks all
Love you guys.
*buat cha-cha.. pinjem nama yah.. habis keinget kamu dan elang ketika nulis ini. Hehhe gak papa yah. maaf kalau gak suka, tapi dari pada elangnya sama yang lain?? Hehehe :D
Yuliana indirani
9/11/2010 23:19