Hai all… wah udah 1 bulan yah saya rehat nulisnya. Maaf yah. Semoga masih ada yang mau baca lanjutannya. Maaf yah pendek..
Just enjoy! Dan jangan lupa di koment. ^_^
From Sivia’s Notes 11
Semilir angin sore itu kembali mengusik poni sivia untuk kesekian kalinya. Perlahan sivia membereskan poninya yang sedikit berantakan tapi matanya masih saja menatap Gabriel yang sedang menceritakan masa lalunya itu. Gabriel berhenti sejenak, mengalihkan pandangannya pada sosok cantik yang sedari tadi mendengarkan dengan sabar semua ceritanya. Kemudian, sebuah senyuman terukir tulus di wajahnya.
“Maaf kalau aku terpaksa membuatmu mendengarkan semua itu.” Kata Gabriel sambil tetap tersenyum ke arah sivia. Sivia segera membalas senyumannya.
“Gak perlu minta maaf mas.. via malah seneng karena mas Gabriel udah mau cerita.”
Gabriel kembali mengukir sebuah garis melengkung tipis dengan bibirnya ketika mendengar jawaban dari sivia.
“Aku mau kamu membantuku vi..”
“Membantu mas Gabriel? Apa yang bisa via Bantu mas?” kata sivia sedikit heran sambil menatap lembut ke arah Gabriel.
Gabriel diam sejenak, mengalihkan pandangannya dari wajah sivia yang masih menatap heran ke arahnya.
“…. Hm.. udah sore. Kamu pulang aja dulu. Besok kita bicarakan lagi..” setelah beberapa saat hanya kata-kata itu yang akhirnya keluar dari bibir Gabriel. Sungguh ada perasaan kecewa yang melanda hati sivia seketika itu juga. Perlahan sivia menghelakan napasnya, ia tak ingin memaksa Gabriel mengatakan tentang apa yang sebenarnya bisa dia bantu. Gabriel sudah mau cerita banyak sekali sore ini saja sudah begitu menyenangkan bagi sivia.
“ Besok aku akan mengatakannya. Ku lihat temanmu sudah cape menunggu kita dari tadi. Lihatlah dia terlihat letih menunggumu dengan skuter pink-nya itu.” Kata Gabriel sambil memandang ify yang sudah siap dengan skuternya, menunggu di depan taman. Sivia mengikuti arah pandangan Gabriel dan menyadari bahwa ify terlihat letih dan sudah tak sabar lagi. Gabriel tersenyum ketika melihat wajah sivia mulai panik, sivia jadi tak enak sendiri pada ify, tapi mau bagaimana lagi.. tak mungkin meninggalkan Gabriel begitu saja.
“Pulanglah… aku bisa kembali ke kamar sendiri.” Kata Gabriel yang seolah mengerti perasaan sivia.
“Gak mas, biar sivia antar mas Gabriel dulu.” Perlahan sivia melepas rem kursi roda Gabriel dan kemudian mengantarnya menuju kamar melati.
“Thanks for listened to me, via. nice talk with you.. see you tomorrow.” Kata Gabriel ketika sivia sudah akan meninggalkan kamarnya. Sivia membalikkan badannya dan tersenyum manis ke arah Gabriel.
“you’re welcome.”
***
“Hayo loh yang pacaran…. Lama bener di taman, sampe lupa kalau ini sudah sore dan bentar lagi maghrib!” goda ify ketika via sudah siap berdiri di depan skuter matik pink miliknya itu. Tapi via hanya diam dan sesaat kemudian tersenyum sendiri. Ify menatap heran ke arah temannya yang sekarang malah serta merta mulai berjalan ke arah gerbang rumah sakit, menginggalkan dirinya tanpa rasa berdosa sama sekali.
“… via,..! hey! Kamu mau kemana?” kata ify sambil meraih bahu sivia. Sivia kemudian perlahan menoleh ke arah ify.
“Pulang.. kemana lagi?” kata via dengan polos.
“Ha? Kenapa gak bareng? Aku kan dari tadi nungguin kamu..”
“Habisnya kamu malah ngobrol sama pohon cemara. Aku kira masih lama, jadi daripada aku kesorean mending aku jalan sendirian.” ify geleng-geleng kepala mendengar jawaban asal yang keluar dari bibir sivia.
“Dasar! Kamu sebenarnya udah tau kan kalau aku ngegodain kamu? Gitu deh kalau mau digoda, pinter banget nyerang balik, bikin mood aku hilang aja buat ngegodain kamu. Yah udah, pulang yuk..” kata ify yang setengah menyerah sambil kemudian menstarter skuter matiknya.
“ayuk pulang… gak ada acara goda-menggoda yah hari ini. Cape soalnya. hehehe” kata sivia sambil tersenyum penuh kemenangan dan kemudian segera naik ke skuter itu. Ify hanya sedikit mencibir ke arah sivia. Kemudian, perlahan melajukan motornya keluar dari gerbang rumah sakit.
***
Di kamarnya, Gabriel masih duduk di kursi rodanya. Pikirannya jauh melayang pada sosok yang sekarang telah perlahan tapi pasti ada di hatinya. Dia sudah bertekad meminta bantuan sivia, dia harus melakukannya… sebelum semuanya terlambat.
***
Deru suara berisik terdengar dari mesin kereta yang perlahan berhenti di sebuah stasiun itu membangunkan seorang ibu yang tanpa sadar telah tidur selama beberapa jam perjalannya. Perlahan dia mengemasi barang-barangnya, tak banyak memang, hanya sebuah tas dan juga jaket yang segera dia pakai karena udara sore itu sudah mulai dingin. Yah, daerah ini memang dingin karena terletak di daerah kaki pengunungan. Ibu itu berjalan perlahan keluar dari kereta yang penuh sesak.
“Kak Tina!” sebuah suara terdengar nyaring diantara banyak suara yang memenuhi stasiun itu.
Perlahan ibu itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang perempuan berkerudung putih tengah melambaikan tangan ke arahnya dia tersenyum melihatnya. Adik kecilnya itu kini terlihat seperti seorang ibu yang bahagia dengan seorang anak perempuan lucu yang ada di sampingnya. Perlahan dia berjalan mendekati adik kesayangannya itu.
“Kakak…kenapa sudah lama sekali gak pulang ke sini..” kata adiknya sambil memeluk ibu tina dengan erat.
“Kakak belum punya waktu, mi.” jawab ibu tina sambil melepaskan pelukannya dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah seorang lelaki di samping adiknya itu.
“Apa kabar tian?”
“Baik kak..”
Setelah sedikit melepas kangen dengan adik dan iparnya, Bu tina ikut ke rumah adik satu-satunya yang selisih umurnya 10 tahun dari bu tina.
Selama perjalanan, bu tina lebih banyak diam. Dia sedang merangkai kata untuk menyampaikan niatannya. Sedikit malu sebenarnya, tapi harus dia lakukan. Mungkin memang dia harus mempersiapkan semuanya, mempersiapkan kekuatannya untuk menceritkan semuanya.
***
Perlahan mobil keluarga Tian berhenti di rumah mungil sederhana, Istana mereka.
“Sudah sampai.. mari kak turun.” Ajak rahmi. Perlahan Bu Tina turun dari mobil kijang berwarna hijau keluaran tahun 1995 itu, matanya memandang lurus ke arah rumah sederhana itu. Mungkinkah? Tapi segera ditepisnya beberapa pertanyaan pesimistik yang mulai menyelimutinya.
“Mari kak, masuk..” kata tian sambil mengendong si kecil yang tertidur, membawanya masuk ke dalam rumah tanpa membangunkannya. Bu tina tersenyum ke arah iparnya itu.
“Kakak istirahat saja dulu di kamar Lisa, biar lisa tidurnya nanti sama kami. maaf yah kak kamarnya kecil.” Kata rahmi sambil membuka pintu sebuah kamar dengan nuansa biru dan beberapa boneka kecil.
“Gak apa-apa rahmi.. kakak malah mau berterima kasih banget sama kamu.maaf jadi merepotkan.”
“Ah kakak, rahmi malah seneng banget kakak mau ke sini. Tapi maaf kak kalau terlalu sederhana.” Kata rahmi sambil tersenyum, dia paham benar kalau kakaknya itu terbiasa hidup mewah. Dulu bu Tina adalah wanita karir dan kemudian menikah dengan konglomerat kaya, duda dengan satu anak. Mungkin tinggal di rumah ini akan sangat jauh dari bayangan kakaknya itu. Bu Tina hanya tersenyum. Belum saatnya dia membuka semuanya.. sebaiknya dia memang istirahat dulu sekarang.
Rahmi kemudian meninggalkan bu Tina sendirian di kamar lisa. Membiarkan kakaknya itu beristirahat sejenak setelah mengalami perjalanan jauh, terlebih kali ini dia tidak menggunakan mobil pribadinya.. kakaknya pasti cape sekali.
***
Bintang bertaburan dengan indahnya, membentuk jutaan formasi mengagumkan yang menghiasi langit malam yang tengah dipandang oleh dua bola mata indah sivia. Bersama hembusan angin malam dititipkannya salam rindu buat ibunya yang dulu amat suka memandang bintang bersamanya.
Perlahan dia menutup jendela kamarnya dan mulai duduk di ranjangnya. Tanggannya kemudian meraih diary coklat dan sebuah pena yang ada di atas lemari kecil di dekat ranjangnya itu.
Detik kemudian, tangannya mulai menari-nari menuliskan pengalamannya hari ini, kejutan-kejutan yang dia dapat hari ini, dan yang pasti adalah cerita masalalu Gabriel yang secara mengejutkan Gabriel ceritakan hari ini.
Tangannya kemudian mulai berhenti menulis. Tanpa sivia sadari dia mulai berfikir, mulai menyusun semua kejadian yang terjadi selama ini tentang pasien yang sejak awal dia anggap special itu.
Semuanya mulai sedikit jelas baginya, penyebab selama ini mengapa Gabriel diam dan juga sikap dinginnya kepada ibunya sendiri.. perlahan dia mulai mengerti dan semuanya terasa lebih masuk akal, tapi masih ada yang mengganggu pikirannya. Sebenarnya Gabriel mau dia membantu apa?
Sivia perlahan menutup diarynya dan perlahan meletakkannya kembali di samping ranjangnya sambil kemudian membaringkan tubuhnya. Dia mulai mengusir semua tanya yang mulai merasukinya tentang apa yang sebenarnya Gabriel mau dia lakukan, toh besok dia juga akan tau. Tapi apapun itu sivia berharap dia bisa melakukannya. Dia mulai memejamkan matanya dan berdo’a dalam hati. Beberapa saat kemudian dia sudah pergi ke alam mimpinya yang indah.
****bersambung****
Thanks udah mau baca.. kritiknya ditunggu. dan tetep tungguin lanjutannya yah. ^_^
Sankyou
_Yuliana Indriani_
Minggu, 25 Juli 2010
Senin, 21 Juni 2010
From Sivia's Notes 10
Hai all…. Ini lanjutannya, maaf yah pendek, semoga part selanjutnya bisa lebih panjang. Enjoy….
From Sivia’s Notes … 10
Desiran angin pagi itu berhasil mengoyang-goyangkan rambut Gabriel yang jatuh lemas karena kepalanya tertunduk, dia sudah kehabisan tenanganya sekarang. Setelah berteriak dan meluapkan semua kekesalannya dia sekarang terduduk dengan posisi kepala menunduk di tengah taman yang sepi itu. Dari arah timur, Matahari mulai menebarkan sinar hangatnya, namun tak cukup membuat hangat batin Gabriel,.. dia berubah menjadi sosok sedingin es sekarang. Matanya hanya memancarkan sinar redup dan sendu. Perlahan dia bangkit, masih dalam diam dia berjalan kembali menuju motornya..
Gabriel baru saja hendak kembali ke motornya ketika handphonenya berdering, entah kenapa.. sepertinya tiba-tiba batinnya merasakan sebuah perasaan yang sangat mengganggu. Kemudian perasaan itu memaksanya untuk menerima panggilan di handphonenya, meski hatinya sendiri lebih memilih untuk menonaktivkan handphone itu. Untuk sejenak gabriel bimbang, jarinya ragu untuk memilih dua buah tombol yang saling bersebrangan itu terlebih ketika dia melihat nama yang tertera di layar handphonenya.. tapi akhirnya dia memutuskan menekan salah satu tombol itu lalu mendekatkan handphone itu ke telinganya.
“Gabriel... ayah.......“ sebuah suara dengan penuh isak tangis mulai berbicara.
Tak begitu jelas kata-kata yang gabriel tangkap, tapi yang pasti hatinya hancur seketika itu juga. Dia tak tahu apa-apa lagi, yang dia tahu dia hanya harus memacu motornya secepatnya kembali ke rumah.
Gabriel diam terpaku, tubuhnya lemah seketika, tulang-tulangnya terasa melepuh, rapuh dan tak mampu menahan tubuhnya, wajahnya pucat dan dia hanya bisa diam terpaku ketika menatap seseorang yang pagi tadi menepisnya itu kini terbaring kaku, seseorang yang sangat dia sayangi meski sering bertentangan dengannya itu kini tak berdaya lagi, seseorang... seseorang yang menjadi satu-satunya orang tua kandungnya yang masih hidup itu kini...... kini pun telah meninggalkan dirinya sendirian.
Gabriel masih diam, sinar di matanya yang sejak tadi redup dan sendu sekarang bahkan tak tersisa lagi. Dia hancur, dia menangis sejadi-jadinya ketika tanah itu ditutup dan memisahkan dirinya dengan sang ayah untuk selama-lamanya, dan sampai semua itu terjadi dia tak sempat mengucapkan sebuah kata maaf... dan sepertinya dia memang tak akan mengucapkan satu kata lagi karena semenjak itulah dia hanya hidup dalam dunianya, dalam diam..
*****
Malam telah pekat, bintang-bintang sudah membentuk ribuan formasi indah di langit yang gelap, bahkan bulan pun sudah muncul untuk menggantikan sang mentari yang telah selesai tugasnya. Suasana duka masih meliputi rumah ini, meski tadi puluhan orang datang untuk memberikan do’a dan berusaha memberikan kekuatan agar duka tak perlu berlarut-larut.
Untuk kesekian kalinya pintu kamar gabriel di ketuk, tapi Gabriel sama sekali tak perduli. Dia hanya diam, terduduk lemah di samping ranjangnya dengan kepala tertunduk. Perasaan aneh itu tiba-tiba kembali menyerangnya, dan sungguh menyiksa batinnya. Dia sama sekali tak pernah membayangkan semuanya akan terjadi, dia masih belum bisa menerimanya..
Pertama ibunya… lalu sekarang ayahnya… mengapa semua orang yang sangat dia sayangi itu selalu diambil darinya? Apa salahnya? Ataukah benar dia harus menyalahkan wanita yang masih terus mengetuk pintu kamarnya itu? Menyalahkannya seperti yang selama ini dia lakukan. Tidak… mungkin memang dirinyalah yang paling bersalah. Ayah …. Ayahnya marah karena dirinya dan penyakit jantungnya pasti kambuh juga karena dirinya. Sedangkan ibunya, ibunya kecelakaan… bukankah waktu itu dia juga yang menyebabkannya. Meski selama ini dia terus menyalahkan wanita itu. Wanita yang menjadi istri ayahnya sekarang, tante tina, tante yang adalah sahabat ibunya sekaligus yang menyetir ketika kecelakaan itu terjadi. Tapi, bukankah dia yang memaksa ibunya pulang hari itu, padahal hari itu ibu masih ada pekerjaan di luar kota bersama tante tina, dan tante tina terpaksa harus ngebut hingga kecelakaan itu terjadi.
Jadi… semuanya sebenarnya adalah kesalahannya,.. kesalahan dirinya… kesalahannyalah ayah dan ibunya tiada sekarang. Semua adalah kesalaannya…
“Gabriel.... buka pintunya sayang, seharian ini kamu belum makan..“ suara lembut itu, meski terdengar serak sehabis menangis namun suara itu menunjukkan betapa pemilik suara itu sungguh berusaha keras menahan semua perih di batinnya.
Tak ada jawaban, gabriel masih diam. Matanya hanya menatap kosong karpet yang terbentang di depannya. Pikirannya kacau.. perasaan bersalah itu kembali menyiksa batinnya.
Wanita di balik pintu itu hanya bisa menghelakan napasnya sambil sesekali menahan isak tangis yang seolah-olah akan pecah lagi.
“Iel.. ayah gak akan senang kalau kamu begini terus. Kamu harus makan...“
Tak ada jawaban, hanya sebuah bantingan benda keras yang terdengar dari dalam kamar itu. gabriel kembali meraih apa saja yang ada di dekatnya untuk sekedar melampiaskan kekesalannya, dia masih belum bisa menerima semuanya.. belum bisa menerimanya... terutama karena ayahnya pergi ketika dia tak ada di sisinya dan terlebih lagi dialah yang membuat ayahnya pergi.. dan dia juga yang menyebabkan ibunya pergi... semua itu kesalahannya. Matanya kemudian menatap datar pada pecahan-pecahan kaca dari sebuah pigura gambar dirinya yang dia lemparkan tadi.
“Gabriel.... ibu mohon jangan hancurkan apapun lagi. Ibu mohon buka pintunya gabriel...“ airmatanya mulai mengalir, dia takut gabriel berbuat lebih nekat. Segera dipanggilnya mang ujang untuk mendobrak pintu kamar gabriel.
Benar saja gabriel hampir saja mengoreskan pecahan kaca pada pergelangan tangannya ketika pintu berhasil di buka. Tangan wanita itu segera menepis pecahan kaca dari tangan gabriel.
“PLAAK..!“ sebuah tamparan keras mendarat di pipi gabriel.
“Apa kamu sudah gila? Kamu boleh saja marah pada ibu! Marah pada diri kamu sendiri, tapi jangan pernah kamu berusaha membunuh diri kamu sendiri gabriel!! Kalau kamu marah, kamu boleh bentak ibu, kamu bahkan boleh menampar ibu! Ibu rela... asal kamu jangan pernah berfikir untuk menyakiti diri kamu sendiri!“ bibir itu bergetar ketika mengucapkan kata-kata barusan, tapi keyakinan dalam tiap kata itu tak tergetarkan, itu memang suara hatinya.. dan dia tidak berbohong dengan kata-kata itu.
Gabriel hanya diam, tangannya masih kaku.. tak ada reaksi, meski pasti dia masih bisa mendengarkan kata-kata barusan.
“Kamu berhak menyalakan ibu atas semua yang terjadi.... tapi jangan pernah kamu menyakiti dirimu gabriel, sungguh ibu hanya meminta itu. tolong ibu untuk tetap menjagamu seperti pesan ibumu..“
Dua buah tangan itu kemudian memeluknya erat, membiarkannya sejenak kemudian merasakan sebuah kehangatan yang sudah lama tak dia rasakan, membiarkan dia sejenak merasakan bahwa tak ada yang menyalahkannya atas semua yang terjadi. Namun, gabriel diam tanpa membalas sedikitpun pelukan hangat itu..
***** bersambung*****
_Yuliana Indriani_
Koment please.... saran dan kritik juga ditunggu.. please,, thanks udah mau bacanya. ^_^
From Sivia’s Notes … 10
Desiran angin pagi itu berhasil mengoyang-goyangkan rambut Gabriel yang jatuh lemas karena kepalanya tertunduk, dia sudah kehabisan tenanganya sekarang. Setelah berteriak dan meluapkan semua kekesalannya dia sekarang terduduk dengan posisi kepala menunduk di tengah taman yang sepi itu. Dari arah timur, Matahari mulai menebarkan sinar hangatnya, namun tak cukup membuat hangat batin Gabriel,.. dia berubah menjadi sosok sedingin es sekarang. Matanya hanya memancarkan sinar redup dan sendu. Perlahan dia bangkit, masih dalam diam dia berjalan kembali menuju motornya..
Gabriel baru saja hendak kembali ke motornya ketika handphonenya berdering, entah kenapa.. sepertinya tiba-tiba batinnya merasakan sebuah perasaan yang sangat mengganggu. Kemudian perasaan itu memaksanya untuk menerima panggilan di handphonenya, meski hatinya sendiri lebih memilih untuk menonaktivkan handphone itu. Untuk sejenak gabriel bimbang, jarinya ragu untuk memilih dua buah tombol yang saling bersebrangan itu terlebih ketika dia melihat nama yang tertera di layar handphonenya.. tapi akhirnya dia memutuskan menekan salah satu tombol itu lalu mendekatkan handphone itu ke telinganya.
“Gabriel... ayah.......“ sebuah suara dengan penuh isak tangis mulai berbicara.
Tak begitu jelas kata-kata yang gabriel tangkap, tapi yang pasti hatinya hancur seketika itu juga. Dia tak tahu apa-apa lagi, yang dia tahu dia hanya harus memacu motornya secepatnya kembali ke rumah.
Gabriel diam terpaku, tubuhnya lemah seketika, tulang-tulangnya terasa melepuh, rapuh dan tak mampu menahan tubuhnya, wajahnya pucat dan dia hanya bisa diam terpaku ketika menatap seseorang yang pagi tadi menepisnya itu kini terbaring kaku, seseorang yang sangat dia sayangi meski sering bertentangan dengannya itu kini tak berdaya lagi, seseorang... seseorang yang menjadi satu-satunya orang tua kandungnya yang masih hidup itu kini...... kini pun telah meninggalkan dirinya sendirian.
Gabriel masih diam, sinar di matanya yang sejak tadi redup dan sendu sekarang bahkan tak tersisa lagi. Dia hancur, dia menangis sejadi-jadinya ketika tanah itu ditutup dan memisahkan dirinya dengan sang ayah untuk selama-lamanya, dan sampai semua itu terjadi dia tak sempat mengucapkan sebuah kata maaf... dan sepertinya dia memang tak akan mengucapkan satu kata lagi karena semenjak itulah dia hanya hidup dalam dunianya, dalam diam..
*****
Malam telah pekat, bintang-bintang sudah membentuk ribuan formasi indah di langit yang gelap, bahkan bulan pun sudah muncul untuk menggantikan sang mentari yang telah selesai tugasnya. Suasana duka masih meliputi rumah ini, meski tadi puluhan orang datang untuk memberikan do’a dan berusaha memberikan kekuatan agar duka tak perlu berlarut-larut.
Untuk kesekian kalinya pintu kamar gabriel di ketuk, tapi Gabriel sama sekali tak perduli. Dia hanya diam, terduduk lemah di samping ranjangnya dengan kepala tertunduk. Perasaan aneh itu tiba-tiba kembali menyerangnya, dan sungguh menyiksa batinnya. Dia sama sekali tak pernah membayangkan semuanya akan terjadi, dia masih belum bisa menerimanya..
Pertama ibunya… lalu sekarang ayahnya… mengapa semua orang yang sangat dia sayangi itu selalu diambil darinya? Apa salahnya? Ataukah benar dia harus menyalahkan wanita yang masih terus mengetuk pintu kamarnya itu? Menyalahkannya seperti yang selama ini dia lakukan. Tidak… mungkin memang dirinyalah yang paling bersalah. Ayah …. Ayahnya marah karena dirinya dan penyakit jantungnya pasti kambuh juga karena dirinya. Sedangkan ibunya, ibunya kecelakaan… bukankah waktu itu dia juga yang menyebabkannya. Meski selama ini dia terus menyalahkan wanita itu. Wanita yang menjadi istri ayahnya sekarang, tante tina, tante yang adalah sahabat ibunya sekaligus yang menyetir ketika kecelakaan itu terjadi. Tapi, bukankah dia yang memaksa ibunya pulang hari itu, padahal hari itu ibu masih ada pekerjaan di luar kota bersama tante tina, dan tante tina terpaksa harus ngebut hingga kecelakaan itu terjadi.
Jadi… semuanya sebenarnya adalah kesalahannya,.. kesalahan dirinya… kesalahannyalah ayah dan ibunya tiada sekarang. Semua adalah kesalaannya…
“Gabriel.... buka pintunya sayang, seharian ini kamu belum makan..“ suara lembut itu, meski terdengar serak sehabis menangis namun suara itu menunjukkan betapa pemilik suara itu sungguh berusaha keras menahan semua perih di batinnya.
Tak ada jawaban, gabriel masih diam. Matanya hanya menatap kosong karpet yang terbentang di depannya. Pikirannya kacau.. perasaan bersalah itu kembali menyiksa batinnya.
Wanita di balik pintu itu hanya bisa menghelakan napasnya sambil sesekali menahan isak tangis yang seolah-olah akan pecah lagi.
“Iel.. ayah gak akan senang kalau kamu begini terus. Kamu harus makan...“
Tak ada jawaban, hanya sebuah bantingan benda keras yang terdengar dari dalam kamar itu. gabriel kembali meraih apa saja yang ada di dekatnya untuk sekedar melampiaskan kekesalannya, dia masih belum bisa menerima semuanya.. belum bisa menerimanya... terutama karena ayahnya pergi ketika dia tak ada di sisinya dan terlebih lagi dialah yang membuat ayahnya pergi.. dan dia juga yang menyebabkan ibunya pergi... semua itu kesalahannya. Matanya kemudian menatap datar pada pecahan-pecahan kaca dari sebuah pigura gambar dirinya yang dia lemparkan tadi.
“Gabriel.... ibu mohon jangan hancurkan apapun lagi. Ibu mohon buka pintunya gabriel...“ airmatanya mulai mengalir, dia takut gabriel berbuat lebih nekat. Segera dipanggilnya mang ujang untuk mendobrak pintu kamar gabriel.
Benar saja gabriel hampir saja mengoreskan pecahan kaca pada pergelangan tangannya ketika pintu berhasil di buka. Tangan wanita itu segera menepis pecahan kaca dari tangan gabriel.
“PLAAK..!“ sebuah tamparan keras mendarat di pipi gabriel.
“Apa kamu sudah gila? Kamu boleh saja marah pada ibu! Marah pada diri kamu sendiri, tapi jangan pernah kamu berusaha membunuh diri kamu sendiri gabriel!! Kalau kamu marah, kamu boleh bentak ibu, kamu bahkan boleh menampar ibu! Ibu rela... asal kamu jangan pernah berfikir untuk menyakiti diri kamu sendiri!“ bibir itu bergetar ketika mengucapkan kata-kata barusan, tapi keyakinan dalam tiap kata itu tak tergetarkan, itu memang suara hatinya.. dan dia tidak berbohong dengan kata-kata itu.
Gabriel hanya diam, tangannya masih kaku.. tak ada reaksi, meski pasti dia masih bisa mendengarkan kata-kata barusan.
“Kamu berhak menyalakan ibu atas semua yang terjadi.... tapi jangan pernah kamu menyakiti dirimu gabriel, sungguh ibu hanya meminta itu. tolong ibu untuk tetap menjagamu seperti pesan ibumu..“
Dua buah tangan itu kemudian memeluknya erat, membiarkannya sejenak kemudian merasakan sebuah kehangatan yang sudah lama tak dia rasakan, membiarkan dia sejenak merasakan bahwa tak ada yang menyalahkannya atas semua yang terjadi. Namun, gabriel diam tanpa membalas sedikitpun pelukan hangat itu..
***** bersambung*****
_Yuliana Indriani_
Koment please.... saran dan kritik juga ditunggu.. please,, thanks udah mau bacanya. ^_^
Minggu, 20 Juni 2010
From Sivia's Notes 9
Sorry kalau lama ngelanjutinnya…. Tapi seperti janji saya kepada diri saya sendiri. Saya akan tetap berusaha menyelesaikan cerita ini. Karena sebuah cerita tak akan bisa diambil hikmahnya bila belum selesai, lengkap dan sempurnya… so, enjoy this story!! Kalo lupa baca lagi aja yah part sebelumnya.. ^_^
From Sivia’s Notes … 9
Mas Gabriel menatap ke arahku, mata itu... dua bola mata itu sendu seperti biasanya namun senyum yang terukir di bibirnya membuat aku heran. Kenapa dia tersenyum?
“Via,.. Aku ingin minta tolong….” sebuah kalimat yang berhasil membuat dahi ku berkerut itu keluar langsung dari bibirnya yang tengah tersenyum kepadaku.
“Mas Gabriel mau minta tolong apa? Kalau via bisa bantu akan via bantu. ” jawabku. Ku lihat dia kembali tersenyum, matanya mulai menatap jauh ke depan ke arah matahari yang kian merendah dan bait-bait masalalunya yang mulai meluncur dari bibirnya perlahan menyelimutiku, membawa aku ke dalam perasaan yang dia rasakan.. membawaku melihat kembali cerita hidupnya.
**yuli**
Deru suara motor Tiger yang kencang itu tiba-tiba berhenti. Seorang pemuda turun dari motor yang dia parkir di depan rumah yang cukup mewah. Pemuda itu segera membuka pintu rumah dengan kunci yang memang sudah dia siapkan dan kemudian berjalan santai masuk ke dalam rumah yang sudah gelap itu.
Tiba-tiba sinar putih menyebar dari sebuah lampu yang tiba-tiba menyala. Seorang bapak menatap tajam ke arah pemuda itu.
“Gabriel!!! Kamu dari mana saja?! Pulang kuliah bukannya langsung ke rumah, malah keluyuran! Ini sudah tengah malam!! Mau jadi apa kamu?!“ bentak bapak itu. Di sampingnya sang istri sibuk mengusap-usap dadanya untuk sekedar sedikit menentramkan amarahnya.
Langkah gabriel terhenti sesaat ketika suara itu menggema. Namun, kemudian tanpa menoleh dia kembali melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
“Gabriel!!! Dasar anak kurang ajar!“
“Sabar yah... mungkin gabriel sedang capek. Biarkan saja dia istirahat dulu... kita bicarakan saja besok.“ kembali sang istri mencoba mencoba menenangkan suaminya yang mulai terhuyung. Penyakit jantung suaminya itu bisa kambuh kapan saja terutama bila terus-menerus marah dan stres seperti ini. Dengan sabar sang istri mengajak suaminya itu untuk kembali ke kamar.
Gabriel membating pintu kamarnya. Sebagian batinnya tak terima dengan bentakkan yang dia terima tadi, dia lalu menghempaskan tubuhnya ke sebuah kasur dengan badcover hitam-putih seperti papan catur di kamarnya yang nyaman itu. Diliriknya sebuah jam weker yang ada di buffet di samping kasurnya. Ini memang sudah larut malam, angka di jam itu menunjukkan pukul 00.40. Tapi apa pedulinya.. Dia berhak pulang jam berapa pun, ini adalah rumahnya. Gabriel bangkit dan duduk di kasurnya, jemari tangannya mulai mengacak-acak bebas rambut yang memang dia biarkan sedikit panjang.
“Aarrrrrgh…!!!” erangnya. Dia benar-benar pusing sekarang. Semua yang terjadi hari ini sangat mengesalkan. Hari ini... entah mengingatnya pun dia enggan, dan tadi melihat wajah ayahnya bersama wanita itu sungguh membuat gabriel semakin membenci hari ini!
“Semuanya karena wanita itu!“ batin gabriel sambil kembali mengacak-acak rambutnya. Mata gabriel kemudian menatap lurus ke sebuah foto yang ada di samping jam wekernya. Sebuah foto wanita yang amat dia cintai.
“Ibu, kenapa mesti dia yang sekarang ada di sini ? gabriel hanya mau ibu, bukan dia! dia hanya membawa petaka di rumah ini. Sekarang bahkan iel dan ayah tak pernah bisa akur! Iel hanya mau ibu...“ gabriel kemudian mengambil bingkai foto itu, memeluknya erat. Dia seperti berubah menjadi anak kecil kembali, dia tersenyum ke arah bingkai foto itu dan kemudian membawanya tidur.
**yuli**
Sinar matahari mengetuk-ngetuk jendela kamar gabriel, sebagian dari sinar itu bisa menerobos masuk selalui sela-sela tirai yang terbuka dan kemudian berhasil jatuh ke wajah gabriel yang masih terlelap. Tapi gabriel tetap saja tidur. Di tangannya, sebuah bingkai foto masih terjepit dalam pelukannya.
“Tok...tok..tok... gabriel.. bangun sayang.. sudah siang.. bukannya kamu ada kuliah?“ sebuah suara mulai menggelitik indra pendengaran gabriel. Dia sedikit menggeliatkan tubuhnya, namun tetap enggan untuk sekedar membuka matanya.
“Iel... bangun sayang...“ lagi-lagi suara itu mengganggu tidurnya.
“BERISIK!!!! Pergi jauh dari kamar gue! Gue gak suka!!!“ teriak gabriel. Seseorang di balik pintu itu terdiam seketika, tangannya yang tadinya hendak kembali mengetok pintu kamar itu menjadi lemas seketika. Tubuhnya dengan terpaksa diam, berdiri dengan kaku. Namun, dia menarik napas sejenak dan kemudian berusaha mengukir sebuah senyuman di wajahnya.
“Kalau begitu cepat bangun dan sarapan yah.. jangan sampai telat..“ kata-kata itu terucap lembut dari bibirnya. Tapi sebuah teriakkan kembali menjawab suara lembutnya itu.
“Gue udah gede!! Gak usah peduliin gue! “ wanita itu hanya kembali hanya bisa tetap berusaha mengukir senyuman tipis di wajahnya dan perlahan berjalan meninggalkan kamar itu.
Beberapa saat kemudian, Gabriel dengan malas bangun dari tidurnya, diliriknya sekilas jam weker yang ada di sampingnya. Angka yang tertera di sana adalah pukul 07.23.
“SHIT!!!!” Gabriel memukul bantalnya.. ini terlalu pagi untuknya, harusnya dia masih bisa menikmati mimpinya bersama sang ibu. Secara tak sengaja mata Gabriel kemudian menatap foto yang ada di atas tempat tidurnya itu terjatuh ketika dia menggeliatkan badannya tadi. Segera diraihnya bingkai foto itu. Gabriel tersenyum menatap potret wajah ibunya yang juga sedang tersenyum .
Setelah selesai mandi, dengan buru-buru Gabriel menyambar jaket kulit juga tas ranselnya dan kemudian berjalan santai keluar dari kamarnya sambil memegang erat kunci motornya. Dari meja makan, dua pasang mata mengamati Gabriel yang sedang menuruni tangga. Namun, dengan cuek Gabriel melewati meja makan itu dan menuju pintu depan. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika suara berat yang sempat membentaknya semalam itu memanggil namanya.
“Gabriel!”
Gabriel menoleh sesaat, mengamati ayahnya yang duduk di meja makan ditemani istrinya tercinta. Bibir Gabriel kemudian membentuk sebuah senyum sinis ketika matanya beradu dengan pandangan wanita yang sedang menemani ayahnya itu.
“Gabriel, kita harus bicara!” kembali suara berat itu memecahkan kesunyian yang ada. Terlihat sang istri sedikit kaget dan kemudian menunduk. Tak tahan mungkin dengan semua ini, bisa ditebak setelah ini aka nada adu mulut lagi… entah untuk yang keberapa kalinya.
“Aku sibuk.” Jawab Gabriel dingin. Ayahnya terlihat geleng-geleng kepala dan menghelakan napas guna menahan amarahnya.
“Kamu gak bisa seperti ini terus! kelakuan kamu itu semakin membuat ayah marah! Kalau kamu begini terus kesabaran ayah bisa habis!!“
“Kesabaran ayah? Apa ayah punya kesabaran??“ gabriel sedikit tertawa kecil. Sikapnya itu seolah benar-benar sedang mengejek ayahnya.
“Kamu ini!!!“ tiba-tiba dada ayahnya terasa sangat sakit. Sebuah tombak seolah ditancapkan tepat di jantungnya. Dia berusaha menekan dadanya untuk menahan sakitnya itu. Istrinya sudah mulai panik dan mengusap-usap dadanya.
“Bibi... ambilin obat tuan yah di laci.. cepat bi.. !! “ perintah sang istri.
Gabriel sedikit tersentak melihat ayahnya yang terlihat sangat lemah dan kesakitan, segera dia mendekat ke arah ayahnya. Namun sebuah tepisan dari sang ayah tiba-tiba menyambutnya. Semuanya kaget, termasuk istri ayahnya, wanita yang sekarang sedang memapah ayahnya untuk kembali ke kamar itu. Gabriel terdiam sesaat, namun sedetik kemudian dengan tergesa-gesa berjalan meninggalkan ruang makan itu. Sepasang mata menatap iba kepadanya, namun tak ada kata-kata yang keluar dari pemilik mata itu.
Gabriel kemudian meninggalkan rumahnya, dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Helm fullfacenya membuat semua orang tak tau bahwa sebuah bulir air mata jatuh di pipinya. Gabriel tak peduli.. dia terus memacu sepeda motornya hingga akhirnya menghentikan laju motornya di sebuah taman yang cukup sepi dan kemudian cepat-cepat membuka helmnya, dia berlari ke tengah taman dan kemudian berteriak sekencang yang dia bisa. Semua rasa yang ada di dalam batinnya selama ini mendadak berontak untuk segera keluar saat itu juga.
“AAAAArrrrrrghhhh...........!!!!!!!!!“
“Bahkan sekarang ayah tak mengizinkan aku membantu ayah..! Ayah lebih memilih wanita itu..!!!! Semuanya gara-gara dia…!! Dia !!!“
Gabriel kembali berteriak sekencang-kencangnya, ingin rasaanya dia meluapkan semua kemarahannya itu kepada ayahnya dan kepada wanita yang menjadi pendamping ayahnya sekarang tapi tak bisa, sesuatu selalu menahannya. Dia hanya bisa menjadi seorang anak yang pemberontak, anak yang nakal dan tak pernah menurut tanpa pernah memberi tahu sebab atas semua perilakunya itu. Dalam hatinya, Dia hanya benci satu orang. Orang yang membuat kehidupannya menjadi kacau seperti sekarang. Dan orang itu adalah wanita itu, wanita yang mendampingi ayahnya sekarana, istri dari ayahnya sekarang yang seharusnya dia panggil IBU….
**** bersambung****
Hua…. Maaf yah di-cut di sini…
koment please,..
Dengan segala keterbatasan, akhirnya saya kembali mencoba menulis. Jadi mohon diingatkan kalau saya banyak melakukan kesalahan yang dulu-dulu pernah saya lakukan, atau juga kesalahan baru dalam penulisan, tolong juga sarannya agar bisa menulis lebik baik.
Thanks… di tunggu komentnya yah. love you all…. ^_^
Semoga masih pada setia nungguin lanjutannya, karena ceritanya belum selesai!!..
_Yuliana indriani_
From Sivia’s Notes … 9
Mas Gabriel menatap ke arahku, mata itu... dua bola mata itu sendu seperti biasanya namun senyum yang terukir di bibirnya membuat aku heran. Kenapa dia tersenyum?
“Via,.. Aku ingin minta tolong….” sebuah kalimat yang berhasil membuat dahi ku berkerut itu keluar langsung dari bibirnya yang tengah tersenyum kepadaku.
“Mas Gabriel mau minta tolong apa? Kalau via bisa bantu akan via bantu. ” jawabku. Ku lihat dia kembali tersenyum, matanya mulai menatap jauh ke depan ke arah matahari yang kian merendah dan bait-bait masalalunya yang mulai meluncur dari bibirnya perlahan menyelimutiku, membawa aku ke dalam perasaan yang dia rasakan.. membawaku melihat kembali cerita hidupnya.
**yuli**
Deru suara motor Tiger yang kencang itu tiba-tiba berhenti. Seorang pemuda turun dari motor yang dia parkir di depan rumah yang cukup mewah. Pemuda itu segera membuka pintu rumah dengan kunci yang memang sudah dia siapkan dan kemudian berjalan santai masuk ke dalam rumah yang sudah gelap itu.
Tiba-tiba sinar putih menyebar dari sebuah lampu yang tiba-tiba menyala. Seorang bapak menatap tajam ke arah pemuda itu.
“Gabriel!!! Kamu dari mana saja?! Pulang kuliah bukannya langsung ke rumah, malah keluyuran! Ini sudah tengah malam!! Mau jadi apa kamu?!“ bentak bapak itu. Di sampingnya sang istri sibuk mengusap-usap dadanya untuk sekedar sedikit menentramkan amarahnya.
Langkah gabriel terhenti sesaat ketika suara itu menggema. Namun, kemudian tanpa menoleh dia kembali melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
“Gabriel!!! Dasar anak kurang ajar!“
“Sabar yah... mungkin gabriel sedang capek. Biarkan saja dia istirahat dulu... kita bicarakan saja besok.“ kembali sang istri mencoba mencoba menenangkan suaminya yang mulai terhuyung. Penyakit jantung suaminya itu bisa kambuh kapan saja terutama bila terus-menerus marah dan stres seperti ini. Dengan sabar sang istri mengajak suaminya itu untuk kembali ke kamar.
Gabriel membating pintu kamarnya. Sebagian batinnya tak terima dengan bentakkan yang dia terima tadi, dia lalu menghempaskan tubuhnya ke sebuah kasur dengan badcover hitam-putih seperti papan catur di kamarnya yang nyaman itu. Diliriknya sebuah jam weker yang ada di buffet di samping kasurnya. Ini memang sudah larut malam, angka di jam itu menunjukkan pukul 00.40. Tapi apa pedulinya.. Dia berhak pulang jam berapa pun, ini adalah rumahnya. Gabriel bangkit dan duduk di kasurnya, jemari tangannya mulai mengacak-acak bebas rambut yang memang dia biarkan sedikit panjang.
“Aarrrrrgh…!!!” erangnya. Dia benar-benar pusing sekarang. Semua yang terjadi hari ini sangat mengesalkan. Hari ini... entah mengingatnya pun dia enggan, dan tadi melihat wajah ayahnya bersama wanita itu sungguh membuat gabriel semakin membenci hari ini!
“Semuanya karena wanita itu!“ batin gabriel sambil kembali mengacak-acak rambutnya. Mata gabriel kemudian menatap lurus ke sebuah foto yang ada di samping jam wekernya. Sebuah foto wanita yang amat dia cintai.
“Ibu, kenapa mesti dia yang sekarang ada di sini ? gabriel hanya mau ibu, bukan dia! dia hanya membawa petaka di rumah ini. Sekarang bahkan iel dan ayah tak pernah bisa akur! Iel hanya mau ibu...“ gabriel kemudian mengambil bingkai foto itu, memeluknya erat. Dia seperti berubah menjadi anak kecil kembali, dia tersenyum ke arah bingkai foto itu dan kemudian membawanya tidur.
**yuli**
Sinar matahari mengetuk-ngetuk jendela kamar gabriel, sebagian dari sinar itu bisa menerobos masuk selalui sela-sela tirai yang terbuka dan kemudian berhasil jatuh ke wajah gabriel yang masih terlelap. Tapi gabriel tetap saja tidur. Di tangannya, sebuah bingkai foto masih terjepit dalam pelukannya.
“Tok...tok..tok... gabriel.. bangun sayang.. sudah siang.. bukannya kamu ada kuliah?“ sebuah suara mulai menggelitik indra pendengaran gabriel. Dia sedikit menggeliatkan tubuhnya, namun tetap enggan untuk sekedar membuka matanya.
“Iel... bangun sayang...“ lagi-lagi suara itu mengganggu tidurnya.
“BERISIK!!!! Pergi jauh dari kamar gue! Gue gak suka!!!“ teriak gabriel. Seseorang di balik pintu itu terdiam seketika, tangannya yang tadinya hendak kembali mengetok pintu kamar itu menjadi lemas seketika. Tubuhnya dengan terpaksa diam, berdiri dengan kaku. Namun, dia menarik napas sejenak dan kemudian berusaha mengukir sebuah senyuman di wajahnya.
“Kalau begitu cepat bangun dan sarapan yah.. jangan sampai telat..“ kata-kata itu terucap lembut dari bibirnya. Tapi sebuah teriakkan kembali menjawab suara lembutnya itu.
“Gue udah gede!! Gak usah peduliin gue! “ wanita itu hanya kembali hanya bisa tetap berusaha mengukir senyuman tipis di wajahnya dan perlahan berjalan meninggalkan kamar itu.
Beberapa saat kemudian, Gabriel dengan malas bangun dari tidurnya, diliriknya sekilas jam weker yang ada di sampingnya. Angka yang tertera di sana adalah pukul 07.23.
“SHIT!!!!” Gabriel memukul bantalnya.. ini terlalu pagi untuknya, harusnya dia masih bisa menikmati mimpinya bersama sang ibu. Secara tak sengaja mata Gabriel kemudian menatap foto yang ada di atas tempat tidurnya itu terjatuh ketika dia menggeliatkan badannya tadi. Segera diraihnya bingkai foto itu. Gabriel tersenyum menatap potret wajah ibunya yang juga sedang tersenyum .
Setelah selesai mandi, dengan buru-buru Gabriel menyambar jaket kulit juga tas ranselnya dan kemudian berjalan santai keluar dari kamarnya sambil memegang erat kunci motornya. Dari meja makan, dua pasang mata mengamati Gabriel yang sedang menuruni tangga. Namun, dengan cuek Gabriel melewati meja makan itu dan menuju pintu depan. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika suara berat yang sempat membentaknya semalam itu memanggil namanya.
“Gabriel!”
Gabriel menoleh sesaat, mengamati ayahnya yang duduk di meja makan ditemani istrinya tercinta. Bibir Gabriel kemudian membentuk sebuah senyum sinis ketika matanya beradu dengan pandangan wanita yang sedang menemani ayahnya itu.
“Gabriel, kita harus bicara!” kembali suara berat itu memecahkan kesunyian yang ada. Terlihat sang istri sedikit kaget dan kemudian menunduk. Tak tahan mungkin dengan semua ini, bisa ditebak setelah ini aka nada adu mulut lagi… entah untuk yang keberapa kalinya.
“Aku sibuk.” Jawab Gabriel dingin. Ayahnya terlihat geleng-geleng kepala dan menghelakan napas guna menahan amarahnya.
“Kamu gak bisa seperti ini terus! kelakuan kamu itu semakin membuat ayah marah! Kalau kamu begini terus kesabaran ayah bisa habis!!“
“Kesabaran ayah? Apa ayah punya kesabaran??“ gabriel sedikit tertawa kecil. Sikapnya itu seolah benar-benar sedang mengejek ayahnya.
“Kamu ini!!!“ tiba-tiba dada ayahnya terasa sangat sakit. Sebuah tombak seolah ditancapkan tepat di jantungnya. Dia berusaha menekan dadanya untuk menahan sakitnya itu. Istrinya sudah mulai panik dan mengusap-usap dadanya.
“Bibi... ambilin obat tuan yah di laci.. cepat bi.. !! “ perintah sang istri.
Gabriel sedikit tersentak melihat ayahnya yang terlihat sangat lemah dan kesakitan, segera dia mendekat ke arah ayahnya. Namun sebuah tepisan dari sang ayah tiba-tiba menyambutnya. Semuanya kaget, termasuk istri ayahnya, wanita yang sekarang sedang memapah ayahnya untuk kembali ke kamar itu. Gabriel terdiam sesaat, namun sedetik kemudian dengan tergesa-gesa berjalan meninggalkan ruang makan itu. Sepasang mata menatap iba kepadanya, namun tak ada kata-kata yang keluar dari pemilik mata itu.
Gabriel kemudian meninggalkan rumahnya, dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Helm fullfacenya membuat semua orang tak tau bahwa sebuah bulir air mata jatuh di pipinya. Gabriel tak peduli.. dia terus memacu sepeda motornya hingga akhirnya menghentikan laju motornya di sebuah taman yang cukup sepi dan kemudian cepat-cepat membuka helmnya, dia berlari ke tengah taman dan kemudian berteriak sekencang yang dia bisa. Semua rasa yang ada di dalam batinnya selama ini mendadak berontak untuk segera keluar saat itu juga.
“AAAAArrrrrrghhhh...........!!!!!!!!!“
“Bahkan sekarang ayah tak mengizinkan aku membantu ayah..! Ayah lebih memilih wanita itu..!!!! Semuanya gara-gara dia…!! Dia !!!“
Gabriel kembali berteriak sekencang-kencangnya, ingin rasaanya dia meluapkan semua kemarahannya itu kepada ayahnya dan kepada wanita yang menjadi pendamping ayahnya sekarang tapi tak bisa, sesuatu selalu menahannya. Dia hanya bisa menjadi seorang anak yang pemberontak, anak yang nakal dan tak pernah menurut tanpa pernah memberi tahu sebab atas semua perilakunya itu. Dalam hatinya, Dia hanya benci satu orang. Orang yang membuat kehidupannya menjadi kacau seperti sekarang. Dan orang itu adalah wanita itu, wanita yang mendampingi ayahnya sekarana, istri dari ayahnya sekarang yang seharusnya dia panggil IBU….
**** bersambung****
Hua…. Maaf yah di-cut di sini…
koment please,..
Dengan segala keterbatasan, akhirnya saya kembali mencoba menulis. Jadi mohon diingatkan kalau saya banyak melakukan kesalahan yang dulu-dulu pernah saya lakukan, atau juga kesalahan baru dalam penulisan, tolong juga sarannya agar bisa menulis lebik baik.
Thanks… di tunggu komentnya yah. love you all…. ^_^
Semoga masih pada setia nungguin lanjutannya, karena ceritanya belum selesai!!..
_Yuliana indriani_
Senin, 07 Juni 2010
From Sivia's Notes 8
Hai all... sorry lama ngepost part 8-nya, maaf.... tapi udah tau kan kalo semuanya karena UAS. So, forgive me please… Now please enjoy this story, hope all of you love this story.
From Sivia’s Notes ... 8
Aku masih terdiam di tempatku, dua buah bola mata bening itu masih menatapku, masih bersinar, sejuk dan menentramkan batinku. Sungguh dimensi waktu terasa berhenti saat ini juga, hanya ada aku dan pemilik dua buah bola mata bening itu, semilir angin pun tak sanggup membuat dimensi berjalan di sekitarku. Semuanya hanya diam dan terpaku… dan bahkan bibirku tak mampu bergerak meski untuk satu milimeter sekalipun.
“Kenapa matamu sembab? Menangis semalaman?“ suara itu kembali terdengar dan membuyarkan semuanya, dimensi waktu perlahan kembali berjalan dan mulai berlari di sekitarku. Dua buah bola mata bening itu juga telah menghilang dari pandanganku, sepertinya sang pemilik sudah kembali mengalihkan pandangannya dari diriku yang masih menatap ke arahnya dalam diam.
“Eng... enggak kok mas. Mungkin cuma karena kekurangan tidur.“ Jawabku ragu-ragu sambil sedikit menyeka mataku, begitu sembabkah sampai semua orang bisa tahu bahwa aku menangis semalaman?.
Dia kembali diam, sepertinya sudah cukup puas dengan jawabanku. Aku tersenyum ke arahnya, sedikit mengangguk memberi syarat bahawa aku akan pamit keluar. Dia masih diam, tak menatapku lagi. Aku melangkahkan kakiku pasti keluar dari kamar melati itu, perlahan ku tutup pintu kamar itu dan semuanya selesai. Dan entah kenapa pertahananku luluh seketika... Sebuah bulir air mata jatuh dari mataku.. Segera ku hapus air mata itu agar tak ada seorangpun yang melihatnya.
*****
Matahari bersinar terlalu cerah hari ini, belum tengah hari saja suasana sudah sangat panas. Aku dan ify sedang duduk di kantin ketika waktu istirahat, mencoba menghilangkan dahaga dengan segelas es jeruk yang memang menjadi minuman faforit kami berdua.
“Via, udah mau cerita?“ Tanya ify sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya bisa kembali mengaduk-ngaduk es jeruk yang ada dihadapanku sambil menggeleng pelan. Ify menghelakan napasnya, sedikit kecewa sepertinya dengar tanggapan yang kuberikan.
“Maaf fy, tapi memang tak ada yang perlu diceritakan saat ini..” Aku mencoba menatapnya dan tersenyum ke arahnya. Dia hanya kembali menghelakan napasnya dan kemudian menikmati es jeruknya. Aku diam, mataku tiba-tiba menangkap sosok yang sangat ku kenal tengah berjalan ke arah kantin. Sosok itu tersenyum ke arahku dan kemudian bergegas menuju mejaku dan ify.
“Via. Ibu boleh bicara sebentar? ” tanya ibu mas gabriel ke padaku. Aku mengangguk dan pamit pada ify, kemudian mengikuti langkah kaki ibu mas Gabriel yang sedikit menjauh dari meja kami tadi.
“Via, ibu mau minta tolong.. ” ibu mas gabriel mulai berbicara, aku mengangguk mantap. “Iya bu, kalau via bisa bantu akan via bantu...“
“Begini, ibu mau minta tolong agar kamu menjaga gabriel untuk beberapa hari ini. Ibu ada urusan ke luar kota sehingga tak bisa menjaganya. Lagi pula sepertinya Gabriel hanya bisa nyaman bersama kamu.“ Aku sedikit tersentak, sejumlah pertanyaan tiba-tiba hadir dibenakku. Apa maksudnya menjaga mas gabriel untuk beberapa hari ini? Urusan apa sebenarnya yang bisa membuat ibu mas gabriel terpaksa meninggalkan mas gabriel meski hanya bebarapa hari? Dan apa maksudnya mas gabriel hanya bisa nyaman bersamaku? Tapi... ah sudahlah, tak ada salahnya aku menolong, lagi pula hanya beberapa hari.. tak mungkin lama.
“Baik bu, via akan menjaga mas gabriel.“ Ibu mas gabriel tersenyum mendengar jawabanku.
“Terima kasih via. Kamu memang baik. Ibu pamit yah..“ ibu mas gabriel memelukku sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi. Aku hanya mengangguk dan kemudian menatap kepergian ibu mas gabriel. Sosok itu kembali mengingatkanku pada ibuku.
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju mejaku dan ify tadi. Ify melihat ke arahku sambil mendelik sepertinya ingin tahu apa yang tadi kami bicarakan.
“Kenapa via?“ tanya ify, aku tersenyum ke arahnya dan menceritakan apa yang tadi disampaikan oleh ibu mas gabriel.
“Jadi untuk beberapa hari ini kamu yang akan menjaganya?“ Aku mengangguk mantap dan ify hanya tersenyum ke arahku.
*****
Jemariku perlahan membuka halaman selanjutnya dari diary yang ku pegang. Baris-baris kata kembali mulai menyapaku, huruf demi huruf yang terukir di kertas itu pun mulai menari-nari dihadapanku, dan kemudian bagai sihir semuanya kembali membawaku menyususri lorong waktu dan kemudian membawaku ke masalalu..
*****
Harum dedaunan pohon cemara di sore hari segera menyambutku dan mas gabriel ketika kami sampai di taman sore itu. Mas gabriel sengaja memintaku untuk mengantarnya ke taman sebelum kembali ke kamarnya sehabis menjalani cuci darah. Di tangannya MP4 playerku masih tergenggam erat dan earphone-nya masih terpasang di kedua telinganya. Aku menghentikan laju kursi roda itu di dekat sebuah kursi taman dan menaruhnya persis disamping kursi itu. Aku sendiri kemudian duduk di kursi taman itu..
Sesaat kami berdua hanya diam, menatap lurus ke arah sebuah diorama indah lukisan sang alam yang terbentang indah di depan kami. Sebuah potret matahari yang mulai concong hendak terbenam dibalik gedung rumah sakit dan juga sekelompok burung yang terbang mencari jalan pulang ke rumahnya berhasil membuat semua orang yang menatapnya akan merasa tenang dan tentram.
Mas gabriel melepas earphone-nya dan mulai memejamkan matanya sejenak, menghirup udara sore hari itu lalu menggumam pelan... “selamat sore ibu....“ Aku tersentak saat itu juga, ku tatap dirinya yang masih duduk dikursi rodanya dengan mata tertutup. Kulihat dia mulai membuka matanya perlahan dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku yang masih menatapnya tak percaya.
“Mengapa memandangku seperti itu?“
“A... enggak, mas gabriel… tadi mas.. hm, tadi mas bilang….“ Dia tersenyum tipis melihat aku yang mulai terbata-bata, tak bisa melanjutkan kata-kataku. Sungguh aku bingung bagaimana mengatakannya.. apa benar dia merindukan ibunya ? bukankah baru beberapa jam yang lalu ibunya pergi,..
“Aku hanya bilang, ‘selamat sore ibu…‘ aneh kah ? “ Aku diam, dia masih menatapku. Kali ini dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya, senyum tipisnya telah berganti sebuah senyum berbeda, sebuah senyum hangat untuk sahabat.
“Enggak, tapi.... ibu mas gabriel kan tidak ada di sini, lagi pula baru beberapa jam saja beliau tak ada di sini. Apakah sangat rindu?.“ Mas gabriel kembali mengukir senyuman di wajahnya ketika mendengar kata-kataku.
“Ibuku.....“
Dia diam sejenak. Ada perasaan aneh yang mulai muncul ketika mendengar sebuah kata yang keluar dari bibirnya barusan, entah perasaan apa itu. Tapi sepertinya hati ini mengenal nada ketika kata itu disebut, hati ini mengenal iramanya, bahkan hati ini sepertinya sanggup menyusun irama selanjutnya. Aku masih menatapnya ketika dia kemudian mengalihkan pandangannya dariku dan kembali menatap lurus ke depan, menatap sekelompok burung yang terbang semakin menjauh ke arah matahari yang mulai memerah dan membuat langit menjadi jingga.
“Ibuku sudah ada di tempatnya yang terindah...“
Aku terdiam. Hatiku tiba-tiba mengalunkan irama dan nada yang selama ini hanya menemani malam-malamku dan entah kenapa hatiku seperti tak dapat dikendalikan kali ini, irama itu mulai mengisi ruang-ruang di hati dan nada-nada itu mulai mengetuk-ngetuk palung hatiku. Hanya sebuah kalimat yang menjadi syairnya...
...IBU... di tempatnya yang terindah...
*****bersambung*****
Thanks udah mau baca. Maaf dikit, masih sibuk UAS... thanks a lot. Masih berlanjut kok ceritanya, koment please…
Maaf kalo gak sempat di-tag yah. ^_^ Love u all..
From Sivia’s Notes ... 8
Aku masih terdiam di tempatku, dua buah bola mata bening itu masih menatapku, masih bersinar, sejuk dan menentramkan batinku. Sungguh dimensi waktu terasa berhenti saat ini juga, hanya ada aku dan pemilik dua buah bola mata bening itu, semilir angin pun tak sanggup membuat dimensi berjalan di sekitarku. Semuanya hanya diam dan terpaku… dan bahkan bibirku tak mampu bergerak meski untuk satu milimeter sekalipun.
“Kenapa matamu sembab? Menangis semalaman?“ suara itu kembali terdengar dan membuyarkan semuanya, dimensi waktu perlahan kembali berjalan dan mulai berlari di sekitarku. Dua buah bola mata bening itu juga telah menghilang dari pandanganku, sepertinya sang pemilik sudah kembali mengalihkan pandangannya dari diriku yang masih menatap ke arahnya dalam diam.
“Eng... enggak kok mas. Mungkin cuma karena kekurangan tidur.“ Jawabku ragu-ragu sambil sedikit menyeka mataku, begitu sembabkah sampai semua orang bisa tahu bahwa aku menangis semalaman?.
Dia kembali diam, sepertinya sudah cukup puas dengan jawabanku. Aku tersenyum ke arahnya, sedikit mengangguk memberi syarat bahawa aku akan pamit keluar. Dia masih diam, tak menatapku lagi. Aku melangkahkan kakiku pasti keluar dari kamar melati itu, perlahan ku tutup pintu kamar itu dan semuanya selesai. Dan entah kenapa pertahananku luluh seketika... Sebuah bulir air mata jatuh dari mataku.. Segera ku hapus air mata itu agar tak ada seorangpun yang melihatnya.
*****
Matahari bersinar terlalu cerah hari ini, belum tengah hari saja suasana sudah sangat panas. Aku dan ify sedang duduk di kantin ketika waktu istirahat, mencoba menghilangkan dahaga dengan segelas es jeruk yang memang menjadi minuman faforit kami berdua.
“Via, udah mau cerita?“ Tanya ify sambil tersenyum ke arahku. Aku hanya bisa kembali mengaduk-ngaduk es jeruk yang ada dihadapanku sambil menggeleng pelan. Ify menghelakan napasnya, sedikit kecewa sepertinya dengar tanggapan yang kuberikan.
“Maaf fy, tapi memang tak ada yang perlu diceritakan saat ini..” Aku mencoba menatapnya dan tersenyum ke arahnya. Dia hanya kembali menghelakan napasnya dan kemudian menikmati es jeruknya. Aku diam, mataku tiba-tiba menangkap sosok yang sangat ku kenal tengah berjalan ke arah kantin. Sosok itu tersenyum ke arahku dan kemudian bergegas menuju mejaku dan ify.
“Via. Ibu boleh bicara sebentar? ” tanya ibu mas gabriel ke padaku. Aku mengangguk dan pamit pada ify, kemudian mengikuti langkah kaki ibu mas Gabriel yang sedikit menjauh dari meja kami tadi.
“Via, ibu mau minta tolong.. ” ibu mas gabriel mulai berbicara, aku mengangguk mantap. “Iya bu, kalau via bisa bantu akan via bantu...“
“Begini, ibu mau minta tolong agar kamu menjaga gabriel untuk beberapa hari ini. Ibu ada urusan ke luar kota sehingga tak bisa menjaganya. Lagi pula sepertinya Gabriel hanya bisa nyaman bersama kamu.“ Aku sedikit tersentak, sejumlah pertanyaan tiba-tiba hadir dibenakku. Apa maksudnya menjaga mas gabriel untuk beberapa hari ini? Urusan apa sebenarnya yang bisa membuat ibu mas gabriel terpaksa meninggalkan mas gabriel meski hanya bebarapa hari? Dan apa maksudnya mas gabriel hanya bisa nyaman bersamaku? Tapi... ah sudahlah, tak ada salahnya aku menolong, lagi pula hanya beberapa hari.. tak mungkin lama.
“Baik bu, via akan menjaga mas gabriel.“ Ibu mas gabriel tersenyum mendengar jawabanku.
“Terima kasih via. Kamu memang baik. Ibu pamit yah..“ ibu mas gabriel memelukku sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi. Aku hanya mengangguk dan kemudian menatap kepergian ibu mas gabriel. Sosok itu kembali mengingatkanku pada ibuku.
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju mejaku dan ify tadi. Ify melihat ke arahku sambil mendelik sepertinya ingin tahu apa yang tadi kami bicarakan.
“Kenapa via?“ tanya ify, aku tersenyum ke arahnya dan menceritakan apa yang tadi disampaikan oleh ibu mas gabriel.
“Jadi untuk beberapa hari ini kamu yang akan menjaganya?“ Aku mengangguk mantap dan ify hanya tersenyum ke arahku.
*****
Jemariku perlahan membuka halaman selanjutnya dari diary yang ku pegang. Baris-baris kata kembali mulai menyapaku, huruf demi huruf yang terukir di kertas itu pun mulai menari-nari dihadapanku, dan kemudian bagai sihir semuanya kembali membawaku menyususri lorong waktu dan kemudian membawaku ke masalalu..
*****
Harum dedaunan pohon cemara di sore hari segera menyambutku dan mas gabriel ketika kami sampai di taman sore itu. Mas gabriel sengaja memintaku untuk mengantarnya ke taman sebelum kembali ke kamarnya sehabis menjalani cuci darah. Di tangannya MP4 playerku masih tergenggam erat dan earphone-nya masih terpasang di kedua telinganya. Aku menghentikan laju kursi roda itu di dekat sebuah kursi taman dan menaruhnya persis disamping kursi itu. Aku sendiri kemudian duduk di kursi taman itu..
Sesaat kami berdua hanya diam, menatap lurus ke arah sebuah diorama indah lukisan sang alam yang terbentang indah di depan kami. Sebuah potret matahari yang mulai concong hendak terbenam dibalik gedung rumah sakit dan juga sekelompok burung yang terbang mencari jalan pulang ke rumahnya berhasil membuat semua orang yang menatapnya akan merasa tenang dan tentram.
Mas gabriel melepas earphone-nya dan mulai memejamkan matanya sejenak, menghirup udara sore hari itu lalu menggumam pelan... “selamat sore ibu....“ Aku tersentak saat itu juga, ku tatap dirinya yang masih duduk dikursi rodanya dengan mata tertutup. Kulihat dia mulai membuka matanya perlahan dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku yang masih menatapnya tak percaya.
“Mengapa memandangku seperti itu?“
“A... enggak, mas gabriel… tadi mas.. hm, tadi mas bilang….“ Dia tersenyum tipis melihat aku yang mulai terbata-bata, tak bisa melanjutkan kata-kataku. Sungguh aku bingung bagaimana mengatakannya.. apa benar dia merindukan ibunya ? bukankah baru beberapa jam yang lalu ibunya pergi,..
“Aku hanya bilang, ‘selamat sore ibu…‘ aneh kah ? “ Aku diam, dia masih menatapku. Kali ini dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya, senyum tipisnya telah berganti sebuah senyum berbeda, sebuah senyum hangat untuk sahabat.
“Enggak, tapi.... ibu mas gabriel kan tidak ada di sini, lagi pula baru beberapa jam saja beliau tak ada di sini. Apakah sangat rindu?.“ Mas gabriel kembali mengukir senyuman di wajahnya ketika mendengar kata-kataku.
“Ibuku.....“
Dia diam sejenak. Ada perasaan aneh yang mulai muncul ketika mendengar sebuah kata yang keluar dari bibirnya barusan, entah perasaan apa itu. Tapi sepertinya hati ini mengenal nada ketika kata itu disebut, hati ini mengenal iramanya, bahkan hati ini sepertinya sanggup menyusun irama selanjutnya. Aku masih menatapnya ketika dia kemudian mengalihkan pandangannya dariku dan kembali menatap lurus ke depan, menatap sekelompok burung yang terbang semakin menjauh ke arah matahari yang mulai memerah dan membuat langit menjadi jingga.
“Ibuku sudah ada di tempatnya yang terindah...“
Aku terdiam. Hatiku tiba-tiba mengalunkan irama dan nada yang selama ini hanya menemani malam-malamku dan entah kenapa hatiku seperti tak dapat dikendalikan kali ini, irama itu mulai mengisi ruang-ruang di hati dan nada-nada itu mulai mengetuk-ngetuk palung hatiku. Hanya sebuah kalimat yang menjadi syairnya...
...IBU... di tempatnya yang terindah...
*****bersambung*****
Thanks udah mau baca. Maaf dikit, masih sibuk UAS... thanks a lot. Masih berlanjut kok ceritanya, koment please…
Maaf kalo gak sempat di-tag yah. ^_^ Love u all..
Minggu, 30 Mei 2010
Haikal...
HAIKAL…
Suasana sedang sunyi di dalam sebuah kamar, seorang pemuda sedang asik dengan bukunya ketika tiba-tiba “Drrrt… Drrrrt…” sebuah Handphone bergetar di atas meja tua yang terletak di samping sebuah ranjang. Pemuda itu segera mangambilnya, berniat menyambut panggilan yang masuk itu, tapi belum sempat dia berbicara, terdengar suara batuk dari kamar sebelah. Segera dia memanggil adiknya agar melihat keadaan Ibunya.
“Hallo.” sambut pemuda itu.
“Mision impossible...” seseorang dengan suara berat sedang berbicara padanya.
“Tapi, saya belum setuju untuk bergabung......” pemuda itu sedikit ragu, mungkinkah dia benar-benar akan melakukannya.
“Iya atau tidak?” tanya pemilik suara berat itu lagi tegas. Pemuda itu berfikir sejenak, suara batu terdengar lebih keras dari kamar sebelah. Inilah jalan terbaik….yah, hanya ini jalan satu-satunya..
“Iya..” jawaban itulah yang kemudian keluar dari mulut pemuda tadi dan telpon langsung terputus. Sebuah SMS kemudian masuk, menjelaskan semua yang harus dia kerjakan besok pagi.
“Bang, Ibu bang…” terdengar suara adiknya memanggil dari kamar sebelah. Pemuda itu segera menuju kamar sang Ibu yang terletak tepat di sebelah kamarnya.
“Ada apa Ran?“ tanyanya sambil mendekati adik dan Ibunya itu. Matanya melihat Ibunya yang masih sedikit batuk dan tetap terbaring lemah di ranjangnya. Rani mengajak Haikal keluar dari kamar itu agar sang Ibu tak perlu mendengar percakapan mereka.
“Ibu demam Bang dan batuknya juga tak kunjung sembuh. Tadi Ibu malah batuk sampai mengeluarkan darah.“ Kata Rani sambil menunjukkan saputangan yang dia gunakan untuk membersihkan mulut Ibunya tadi.
“Bang Haikal harus membawa Ibu ke rumah sakit besok...“ sambung Rani lemah. Haikal menatap adiknya itu, dikecupnya kening Rani, “Iya Ran, kita akan bawa Ibu ke rumah sakit besok..“ bisiknya. Rani hanya diam sambil menatap ke arah Ibunya yang mulai kembali mencoba tidur di dalam kamar. Semoga besok mereka benar-benar bisa membawa ibu ke rumah saki...
*****
Matahari belum juga menampakkan dirinya ketika Haikal sudah siap di meja makan. Rani bangun lebih pagi untuk menggantikan tugas Ibunya, dia terpaksa dibuat sibuk subuh ini karena abangnya mau berangkat pagi-pagi. Rani mulai memasak nasi goreng untuk abangnya sedangkan Ibunya, Ibunya masih terbaring lemah di kamar.
“Bang, nanti kalau Ibu batuk lagi bagaimana?“ tanya Rani sambil meletakkan sepiring nasi goreng dan secangkir teh ke atas meja makan. Haikal tersenyum ke arahnya.
“Kemungkinan siang nanti abang sudah dapat uang, jadi nanti sore kita sudah bisa bawa Ibu ke rumah sakit.“ Kata Haikal sambil menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Abang sudah dapat kerja? Dimana bang?“ tanya Rani sedikit kaget, bukankah sampai tadi malam abangnya masih menjadi seorang pengangguran setelah di-PHK oleh sebuah pabrik industri rumahan yang terpaksa gulung tikar karena kalah bersaing dengan produk Cina yang sekarang mulai merajai pasar Indonesia sejak AFTA diberlakukan, dan sekarang mereka hanya bergantung dari hasil warung kecil yang ada di depan rumah mereka.
“Iya sudah, semalam teman abang SMS katanya abang bisa kerja sama dia dan dapat gaji harian, jadi nanti sudah bisa dapat uang.“ Jawab Haikal yang kemudian buru-buru menghabiskan tehnya.
“Kerja apa memangnya bang?“ kata Rani sambil menatap abangnya heran.
“Mengantar barang.... Sudah, abang mau berangkat dulu. Nanti abang bisa telat.“ Kata Haikal sambil beranjak dari kursinya, Rani menyalaminya.
Sebelum berangkat Haikal sempat masuk ke kamar Ibunya dan mencium kening Ibunya yang masih tertidur. Sebentar lagi Ibu akan sembuh, Haikal janji Ibu akan sembuh....
*****
Awan berarak-arak dan burung-burung bernyanyi pagi itu seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan Rani karena sang abang sudah memperoleh pekerjaan. Rani sedang asik memasak sambil bersenandung ketika tiba-tiba suara gelas pecah mengagetkannya. Segera Rani berlari ke arah sumber suara itu dengan cemas.. Ibu....
Rani kaget ketika menemukan Ibunya sudah terbaring lemah di samping tempat tidurnya, sekuat tenaga Rani berusaha mengangkat kembali tubuh Ibunya yang lemah itu ke atas ranjangnya.
“Ibu kenapa?“ tanya Rani ketika sudah berhasil membaringkan tubuh Ibunya kembali ke tempat tidurnya, untunglah Ibunnya tidak terluka. Sang Ibu hanya menatapnya sendu.
“Ibu hanya ingin minum....“ jawab Ibunya lemah. Rani tersenyum getir, bahkan dalam keadaan lemah dan sakit pun Ibunya masih ingin mandiri. Rani segera mengambilkan segelas air minum untuk Ibunya dan kemudian membantu Ibunya minum.
“Mulai sekarang kalau Ibu perlu apa-apa, Ibu panggil Rani, yah. Ibu terlalu lemah untuk melakukan semuanya sendiri. Jadi, biarlah Rani yang membantu Ibu.“ kata Rani sambil meletakkan gelas air minum itu ke meja yang ada di samping ranjang Ibunya. Ibu Rani hanya tersenyum tipis dan kemudian mengangguk lemah.
Rani baru saja hendak kembali ke dapur ketika tangannya ditahan oleh Ibunya. Rani menatap Ibunya yang tiba-tiba terlihat sangat pucat, wajahnya semakit terlihat lelah.
“Rani... “ panggil Ibunya. Rani menatap Ibunya dalam, “Iya bu. “
“Haikal mana Ran?“ tanya Ibunya lemah. Rani langsung duduk di sampingnya, menggenggam tangan Ibunya yang tiba-tiba bergetar.
“Abang... abang Haikal sudah berangkat kerja bu.“ jawab Rani getir. Ibu Rani diam, sepertinya sedikit kecewa ketika mendengar bahwa anak laki-lakinya itu sudah pergi dan Rani bisa mengerti itu dari pancaran sinar di wajahnya yang semakin redup, seakan-akan mentari tak bersinar untuknya hari ini.
“Nanti siang abang pulang bu, dan mungkin nanti sore kita sudah bisa membawa Ibu ke rumah sakit.“ Ibu Rani hanya tersenyum getir mendengar jawaban Rani. Rani terdiam melihat senyum itu, beda.. senyum itu sangat beda dari biasanya. Senyum itu terlihat pahit, pahit sekali sampai-sampai Rani ingin menangis melihat senyum yang ada di wajah orang yang paling dia sayangi itu. Segera ia keluar dari kamar itu, dia takut kalau air matanya jatuh seketika itu juga di depan Ibunya. Terdengar dari dalam kamar Ibunya kembali batuk, air mata Rani tumpah seketika itu juga.
Ibu...ibu harus bertahan... Ibu harus sembuh...
*****
Haikal sampai di tempat tujuannya, sebuah gang sempit di kawasan padat penduduk. Seorang teman sudah memberitahukannya tentang apa yang mesti dia lakukan, dia hanya bertugas mengambil barang di ujung gang ini lalu memberikannya kepada seeorang yang telah menunggunya ditempat yang lain, hanya itu dan sepertinya sangat mudah. Haikal berjalan perlahan menyusuri gang sempit yang terlihat kumuh itu. Sesekali dilihatnya pemandangan yang sangat mengoyak hatinya, pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan, tempat apa ini sebenarnya?....
“Tekhein.“ Kata seseorang yang baru saja menabrak dirinya. Haikal tersadar, segera dijawabnya sapaan yang merupakan kata sandi itu. “Tekhein…” sebuah paket kecil berbentuk kubus berukuran 10x10 cm segera berpindah tangan ke tangannya. Walau sedikit kaget, Haikal akhirnya bisa bersikap normal seolah tak terjadi apa-apa, dia segera memasukkan paket itu ke dalam tas sandang yang dia pakai dan kemudian dia berjalan cepat ke arah lain yang berbeda dengan orang yang menabraknya tadi. Dia harus mengantarkan paket itu secepatnya tanpa ketahuan siapa pun, begitulah perintahnya.
Haikal mempercepat langkahnya ketika dia sudah ada di tempat yang dia tuju, ditelitinya setiap sudut tempat itu untuk mencari seseorang yang memegang handphone dengan tangan kirinya seperti yang diganbarkan oleh SMS semalam. Matanya berhasil menemukan orang yang dimaksud, seorang pemuda dengan pakaian kasual sedang menatapnya sambil mengangkat handphonenya dengan tangan kiri. Haikal segera menghampirinya.
“Hai Jason..“ sapa Haikal bersikap seolah-olah menyapa pemuda itu. Pemuda itu tersenyum ke arahnya dan kemudian menyambutnya dengan uluran tangan. Haikal menyambut uluran tangannya itu dan kemudian berdiri tepat di hadapannya.
“Kiriman ada?“ tanya laki-laki yang di panggil Jason tadi. Tanpa pikir panjang Haikal mengangguk dan kemudian mulai merogoh tas sandangnya. Dia ingin semuanya cepat selesai dan dia bisa segera mendapatkan uang untuk membawa Ibunya ke rumah sakit.
Haikal baru saja ingin menyerahkan paket itu ketika tiba-tiba suasana berubah kacau, suara sirine polisi mulai membahana, Haikal kaget.. dia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi, segera dia berlari kenang. Sebuah tembakan peringatan cukup mengagetkannya, tapi dia tak peduli. Dia tak boleh tertangkap, dia harus membawa Ibunya ke rumah sakit hari ini... Tiba-tiba sebuah tembakan mengenai kakinya, dia sempat terseok tapi dia tetap berlari sampai akhirnya sebuah pukulan telak mendarat di tengkuknya. Dan semuanya menjadi gelap seketika.
*****
“Ibu...“ panggil Haikal ketika mendapati sesosok perempuan yang sangat dia kenal itu sedang duduk di sebuah bangku taman. Ibunya berbalik menghadapnya, dia memandang Haikal lembut. Tanpa aba-aba Haikal langsung menghambur memeluk Ibunya itu, Ibunya sehat, sangat sehat.. bahkan sang Ibu dapat membalas pelukan Haikal itu.
“Haikal...“ Haikal melepaskan pelukan ibunya, ditatapnya wajah sang ibu yang terlihat tadinya berseri sekarang berubah menjadi sedikit sedih.
“Iya bu.“
“Kenapa Haikal?“ tanya sang ibu. Haikal menatap Ibunya heran. Apa yang dimaksud sang Ibu dengan ‘Kenapa?‘. “Kenapa kamu melakukannya?“ sambung sang Ibu. Haikal mengerti, matanya mulai berkaca-kaca, ibunya tahu dia telah melakukan kesalahan.
“Maafkan Haikal Ibu. Haikal hanya ingin ibu sembuh. Haikal akan melakukan apapun agar ibu bisa sembuh.. Haikal akan melakukan apapun untuk bisa membawa Ibu ke rumah sakit.“ Kata Haikal sambil menunduk. Sang ibu tersenyum mendengar jawaban polos anaknya tersebut. Dielusnya kepala anak laki-lakinya itu. Haikal terdiam seketika mencoba menikmati tiap elusan itu.
“Maafkan Ibu.“ Lirih sang Ibu. Haikal menatap ibunya, dua mata bening itu terlihat sedih.
“Maafkan Ibu jika Ibu menjadi alasan kamu melakukan semua itu Haikal. Sungguh Ibu tak pernah menginginkan kamu melakukan semua itu. Ibu jauh lebih bahagia terbaring lemah dibanding sembuh dengan menggunakan uang itu.“
“Ibu...“ Haikal tak sanggup meneruskan kata-katanya, lidahnya keluh seketika. Harusnya dia sadar sejak awal, harusnya dia tak pernah melakukan semua itu dengan alasan apapun, apalagi demi alasan Ibunya, seseorang paling mulia di hidupnya.
“Ibu hanya ingin kamu dan Rani selalu berada di jalan yang lurus, jalan yang selalu berusaha ibu tempuh, jalan yang Ibu ingin capai ujungnya,.“ Ibu terdiam sesaat, menatap wajah Haikal yang terlihat menyesal sekarang.
“...dan itu bukan jalan yang kamu tempuh sekarang Haikal...“ Tiba-tiba sang ibu berdiri dan mulai berjalan meninggalkannya. Haikal kaget, dia berusaha berlari mengejar ibunya. Tapi, semakin cepat dia berlari, sang Ibu malah semakin jauh meninggalkannya.
“Maafkan Haikal bu....maafkan..“ Haikal kemudian hanya bisa terduduk lesu menatap kepergian Ibunya.
*****
“Abang...“ lirih Rani ketika kembali dilihatnya sang kakak mengalirkan air mata. Rani benar-benar tak tega melihat keadaan abangnya sekarang, semua tubuhnya luka-luka. Rani masih tak dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Abangnya, yang dia tahu Abangnya hanya pergi bekerja. Tapi... tapi kemudian seorang polisi menghubunginya dan mengatakan bahwa abangnya ada di rumah sakit.
Perlahan Haikal membuka matanya, dilihatnya Rani sedang menangis sambil menatapnya. Seketika itu juga tiba-tiba seluruh anggota tubuhnya terasa sakit. Tapi dia tak perduli, hanya satu yang dia pikirkan sekarang.
“Ibu..“ lirih Haikal. Rani mendekatkan dirinya kepada Haikal dan kemudian menggenggam tangannya. Ada rasa yang ingin tumpah seketika itu juga ketika Haikal menyebutkan kata itu.
“Ibu dimana Ran?“ tanya Haikal lagi, tiba-tiba dia merasa suatu hal buruk telah terjadi pada ibunya. Bukankah dia tadi bermimpi baru saja ditinggal Ibunya, akankah itu tandanya.....
“Rani... Ibu dimana???“ Haikal mulai panik karena Rani tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Ibu, ibu sudah pergi bang.“ Lirih Rani lemah. Tak sanggup rasanya bila dia harus berbohong menutupi semua yang terjadi, abangnya pasti akan lebih sedih lagi nanti. Seketika itu juga Haikal tak dapat menahan kesedihannya. Air matanya mengalir deras di kedua pipinya, ingin sekali rasanya dia tak percaya pada ucapan Rani. Tapi… Rani tak mungkin berbohong untuk hal ini. Haikal sendiri melihat bagaimana Rani berusaha tegar, bagaimana Rani menggigit bibirnya sebelum mengatakan itu, dan sekarang Haikal sendiri bisa merasakan Rani juga terpukul ketika serta merta Rani memeluknya dan kemudian terisak dalam pelukannya. Mereka hanya bisa menangis sekarang, menangisi kepergian orang yang paling mereka cintai. …..Ibu……
*****
Matahari bersinar cerah dan hangat hari ini, udara pun terasa lebih segar dari biasanya. Haikal berhenti sejenak, dihirupnya udara dan dirasakannya hangatnya mentari hari ini. Dia kemudian melanjutkan langkah kakinya melewati sebuah pintu yang menjadi batas terakhirnya sekarang. Di balik pintu itu, seorang gadis manis tengah tersenyum menatapnya. Hari ini adalah hari kebebasannya, dan hari ini jugalah yang menandai terbayar sudah semua kesalahan yang pernah dia lakukan dulu.
Haikal menghampiri Rani dan kemudian memeluk adik perempuan satu-satunya itu. Satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang.
“Abang gendutan yah..“ komentar Rani ketika Haikal melepaskan pelukannya. Haikal kemudian mencoba meneliti bentuk badannya sendiri. Benarkah dia bertambah gendut?
“Kelihatannya.... ini pipinya tambah cubby..!“ Lanjut Rani sambil mencubit pipi Haikal. Haikal mengerti sekarang, sang adik hanya sedang menggodanya, segera dikejarnya Rani yang mulai berlari riang. Sudah tiga tahun dia tak dapat bercanda dengan adiknya itu. Semuanya karena dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Perbuatannya yang berupa sebuah kesalahan fatal karena dia sudah menjadi kurir narkoba…
*****
Haikal duduk di sebelah sebuah pusara, ditatapnya pusara itu sendu. Ini adalah tempat peristirahatan terakhir Ibunya.
Ibu…. Maafkan Haikal. Maafkan Haikal atas segala perbuatan yang telah Haikal lakukan. Haikal sudah menebus semuanya, bu. Hari ini, Haikal sudah bebas. Haikal sudah selesai menjalani hukuman atas kesalahan Haikal. Haikal harap ibu juga sudah memafkan Haikal..
Maaf telah membuat ibu kecewa.
Mulai saat ini Haikal akan selalu berusaha untuk berjalan di jalan yang lurus itu bu, jalan yang selalu ibu tunjukkan kepada Haikal… jalan yang selalu ibu tempuh, agar kelak Haikal dapat mencapai ujung jalan yang sama dengan ibu nantinya…
Maafkan Haikal, bu… semoga Ibu bahagia di ujung jalan yang indah itu….. syurganya.
Haikal menghapus air matanya, ditatapnya kembali pusara itu. Semuanya telah berakhir…. Semoga ini adalah awal baru yang lebih indah. Haikal memejamkan matanya sesaat, mencoba merasakan sesuatu yang beda, mencoba merasakan kehadiran Ibunya di sana.
Seukir senyuman tiba-tiba hadir ketika Haikal memejamkan matanya.
“Ibu sudah memaafkanmu, Haikal…”
________The end________
Yuliana Indriani, 2010
Suasana sedang sunyi di dalam sebuah kamar, seorang pemuda sedang asik dengan bukunya ketika tiba-tiba “Drrrt… Drrrrt…” sebuah Handphone bergetar di atas meja tua yang terletak di samping sebuah ranjang. Pemuda itu segera mangambilnya, berniat menyambut panggilan yang masuk itu, tapi belum sempat dia berbicara, terdengar suara batuk dari kamar sebelah. Segera dia memanggil adiknya agar melihat keadaan Ibunya.
“Hallo.” sambut pemuda itu.
“Mision impossible...” seseorang dengan suara berat sedang berbicara padanya.
“Tapi, saya belum setuju untuk bergabung......” pemuda itu sedikit ragu, mungkinkah dia benar-benar akan melakukannya.
“Iya atau tidak?” tanya pemilik suara berat itu lagi tegas. Pemuda itu berfikir sejenak, suara batu terdengar lebih keras dari kamar sebelah. Inilah jalan terbaik….yah, hanya ini jalan satu-satunya..
“Iya..” jawaban itulah yang kemudian keluar dari mulut pemuda tadi dan telpon langsung terputus. Sebuah SMS kemudian masuk, menjelaskan semua yang harus dia kerjakan besok pagi.
“Bang, Ibu bang…” terdengar suara adiknya memanggil dari kamar sebelah. Pemuda itu segera menuju kamar sang Ibu yang terletak tepat di sebelah kamarnya.
“Ada apa Ran?“ tanyanya sambil mendekati adik dan Ibunya itu. Matanya melihat Ibunya yang masih sedikit batuk dan tetap terbaring lemah di ranjangnya. Rani mengajak Haikal keluar dari kamar itu agar sang Ibu tak perlu mendengar percakapan mereka.
“Ibu demam Bang dan batuknya juga tak kunjung sembuh. Tadi Ibu malah batuk sampai mengeluarkan darah.“ Kata Rani sambil menunjukkan saputangan yang dia gunakan untuk membersihkan mulut Ibunya tadi.
“Bang Haikal harus membawa Ibu ke rumah sakit besok...“ sambung Rani lemah. Haikal menatap adiknya itu, dikecupnya kening Rani, “Iya Ran, kita akan bawa Ibu ke rumah sakit besok..“ bisiknya. Rani hanya diam sambil menatap ke arah Ibunya yang mulai kembali mencoba tidur di dalam kamar. Semoga besok mereka benar-benar bisa membawa ibu ke rumah saki...
*****
Matahari belum juga menampakkan dirinya ketika Haikal sudah siap di meja makan. Rani bangun lebih pagi untuk menggantikan tugas Ibunya, dia terpaksa dibuat sibuk subuh ini karena abangnya mau berangkat pagi-pagi. Rani mulai memasak nasi goreng untuk abangnya sedangkan Ibunya, Ibunya masih terbaring lemah di kamar.
“Bang, nanti kalau Ibu batuk lagi bagaimana?“ tanya Rani sambil meletakkan sepiring nasi goreng dan secangkir teh ke atas meja makan. Haikal tersenyum ke arahnya.
“Kemungkinan siang nanti abang sudah dapat uang, jadi nanti sore kita sudah bisa bawa Ibu ke rumah sakit.“ Kata Haikal sambil menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Abang sudah dapat kerja? Dimana bang?“ tanya Rani sedikit kaget, bukankah sampai tadi malam abangnya masih menjadi seorang pengangguran setelah di-PHK oleh sebuah pabrik industri rumahan yang terpaksa gulung tikar karena kalah bersaing dengan produk Cina yang sekarang mulai merajai pasar Indonesia sejak AFTA diberlakukan, dan sekarang mereka hanya bergantung dari hasil warung kecil yang ada di depan rumah mereka.
“Iya sudah, semalam teman abang SMS katanya abang bisa kerja sama dia dan dapat gaji harian, jadi nanti sudah bisa dapat uang.“ Jawab Haikal yang kemudian buru-buru menghabiskan tehnya.
“Kerja apa memangnya bang?“ kata Rani sambil menatap abangnya heran.
“Mengantar barang.... Sudah, abang mau berangkat dulu. Nanti abang bisa telat.“ Kata Haikal sambil beranjak dari kursinya, Rani menyalaminya.
Sebelum berangkat Haikal sempat masuk ke kamar Ibunya dan mencium kening Ibunya yang masih tertidur. Sebentar lagi Ibu akan sembuh, Haikal janji Ibu akan sembuh....
*****
Awan berarak-arak dan burung-burung bernyanyi pagi itu seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan Rani karena sang abang sudah memperoleh pekerjaan. Rani sedang asik memasak sambil bersenandung ketika tiba-tiba suara gelas pecah mengagetkannya. Segera Rani berlari ke arah sumber suara itu dengan cemas.. Ibu....
Rani kaget ketika menemukan Ibunya sudah terbaring lemah di samping tempat tidurnya, sekuat tenaga Rani berusaha mengangkat kembali tubuh Ibunya yang lemah itu ke atas ranjangnya.
“Ibu kenapa?“ tanya Rani ketika sudah berhasil membaringkan tubuh Ibunya kembali ke tempat tidurnya, untunglah Ibunnya tidak terluka. Sang Ibu hanya menatapnya sendu.
“Ibu hanya ingin minum....“ jawab Ibunya lemah. Rani tersenyum getir, bahkan dalam keadaan lemah dan sakit pun Ibunya masih ingin mandiri. Rani segera mengambilkan segelas air minum untuk Ibunya dan kemudian membantu Ibunya minum.
“Mulai sekarang kalau Ibu perlu apa-apa, Ibu panggil Rani, yah. Ibu terlalu lemah untuk melakukan semuanya sendiri. Jadi, biarlah Rani yang membantu Ibu.“ kata Rani sambil meletakkan gelas air minum itu ke meja yang ada di samping ranjang Ibunya. Ibu Rani hanya tersenyum tipis dan kemudian mengangguk lemah.
Rani baru saja hendak kembali ke dapur ketika tangannya ditahan oleh Ibunya. Rani menatap Ibunya yang tiba-tiba terlihat sangat pucat, wajahnya semakit terlihat lelah.
“Rani... “ panggil Ibunya. Rani menatap Ibunya dalam, “Iya bu. “
“Haikal mana Ran?“ tanya Ibunya lemah. Rani langsung duduk di sampingnya, menggenggam tangan Ibunya yang tiba-tiba bergetar.
“Abang... abang Haikal sudah berangkat kerja bu.“ jawab Rani getir. Ibu Rani diam, sepertinya sedikit kecewa ketika mendengar bahwa anak laki-lakinya itu sudah pergi dan Rani bisa mengerti itu dari pancaran sinar di wajahnya yang semakin redup, seakan-akan mentari tak bersinar untuknya hari ini.
“Nanti siang abang pulang bu, dan mungkin nanti sore kita sudah bisa membawa Ibu ke rumah sakit.“ Ibu Rani hanya tersenyum getir mendengar jawaban Rani. Rani terdiam melihat senyum itu, beda.. senyum itu sangat beda dari biasanya. Senyum itu terlihat pahit, pahit sekali sampai-sampai Rani ingin menangis melihat senyum yang ada di wajah orang yang paling dia sayangi itu. Segera ia keluar dari kamar itu, dia takut kalau air matanya jatuh seketika itu juga di depan Ibunya. Terdengar dari dalam kamar Ibunya kembali batuk, air mata Rani tumpah seketika itu juga.
Ibu...ibu harus bertahan... Ibu harus sembuh...
*****
Haikal sampai di tempat tujuannya, sebuah gang sempit di kawasan padat penduduk. Seorang teman sudah memberitahukannya tentang apa yang mesti dia lakukan, dia hanya bertugas mengambil barang di ujung gang ini lalu memberikannya kepada seeorang yang telah menunggunya ditempat yang lain, hanya itu dan sepertinya sangat mudah. Haikal berjalan perlahan menyusuri gang sempit yang terlihat kumuh itu. Sesekali dilihatnya pemandangan yang sangat mengoyak hatinya, pemandangan yang tidak pernah dia bayangkan, tempat apa ini sebenarnya?....
“Tekhein.“ Kata seseorang yang baru saja menabrak dirinya. Haikal tersadar, segera dijawabnya sapaan yang merupakan kata sandi itu. “Tekhein…” sebuah paket kecil berbentuk kubus berukuran 10x10 cm segera berpindah tangan ke tangannya. Walau sedikit kaget, Haikal akhirnya bisa bersikap normal seolah tak terjadi apa-apa, dia segera memasukkan paket itu ke dalam tas sandang yang dia pakai dan kemudian dia berjalan cepat ke arah lain yang berbeda dengan orang yang menabraknya tadi. Dia harus mengantarkan paket itu secepatnya tanpa ketahuan siapa pun, begitulah perintahnya.
Haikal mempercepat langkahnya ketika dia sudah ada di tempat yang dia tuju, ditelitinya setiap sudut tempat itu untuk mencari seseorang yang memegang handphone dengan tangan kirinya seperti yang diganbarkan oleh SMS semalam. Matanya berhasil menemukan orang yang dimaksud, seorang pemuda dengan pakaian kasual sedang menatapnya sambil mengangkat handphonenya dengan tangan kiri. Haikal segera menghampirinya.
“Hai Jason..“ sapa Haikal bersikap seolah-olah menyapa pemuda itu. Pemuda itu tersenyum ke arahnya dan kemudian menyambutnya dengan uluran tangan. Haikal menyambut uluran tangannya itu dan kemudian berdiri tepat di hadapannya.
“Kiriman ada?“ tanya laki-laki yang di panggil Jason tadi. Tanpa pikir panjang Haikal mengangguk dan kemudian mulai merogoh tas sandangnya. Dia ingin semuanya cepat selesai dan dia bisa segera mendapatkan uang untuk membawa Ibunya ke rumah sakit.
Haikal baru saja ingin menyerahkan paket itu ketika tiba-tiba suasana berubah kacau, suara sirine polisi mulai membahana, Haikal kaget.. dia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi, segera dia berlari kenang. Sebuah tembakan peringatan cukup mengagetkannya, tapi dia tak peduli. Dia tak boleh tertangkap, dia harus membawa Ibunya ke rumah sakit hari ini... Tiba-tiba sebuah tembakan mengenai kakinya, dia sempat terseok tapi dia tetap berlari sampai akhirnya sebuah pukulan telak mendarat di tengkuknya. Dan semuanya menjadi gelap seketika.
*****
“Ibu...“ panggil Haikal ketika mendapati sesosok perempuan yang sangat dia kenal itu sedang duduk di sebuah bangku taman. Ibunya berbalik menghadapnya, dia memandang Haikal lembut. Tanpa aba-aba Haikal langsung menghambur memeluk Ibunya itu, Ibunya sehat, sangat sehat.. bahkan sang Ibu dapat membalas pelukan Haikal itu.
“Haikal...“ Haikal melepaskan pelukan ibunya, ditatapnya wajah sang ibu yang terlihat tadinya berseri sekarang berubah menjadi sedikit sedih.
“Iya bu.“
“Kenapa Haikal?“ tanya sang ibu. Haikal menatap Ibunya heran. Apa yang dimaksud sang Ibu dengan ‘Kenapa?‘. “Kenapa kamu melakukannya?“ sambung sang Ibu. Haikal mengerti, matanya mulai berkaca-kaca, ibunya tahu dia telah melakukan kesalahan.
“Maafkan Haikal Ibu. Haikal hanya ingin ibu sembuh. Haikal akan melakukan apapun agar ibu bisa sembuh.. Haikal akan melakukan apapun untuk bisa membawa Ibu ke rumah sakit.“ Kata Haikal sambil menunduk. Sang ibu tersenyum mendengar jawaban polos anaknya tersebut. Dielusnya kepala anak laki-lakinya itu. Haikal terdiam seketika mencoba menikmati tiap elusan itu.
“Maafkan Ibu.“ Lirih sang Ibu. Haikal menatap ibunya, dua mata bening itu terlihat sedih.
“Maafkan Ibu jika Ibu menjadi alasan kamu melakukan semua itu Haikal. Sungguh Ibu tak pernah menginginkan kamu melakukan semua itu. Ibu jauh lebih bahagia terbaring lemah dibanding sembuh dengan menggunakan uang itu.“
“Ibu...“ Haikal tak sanggup meneruskan kata-katanya, lidahnya keluh seketika. Harusnya dia sadar sejak awal, harusnya dia tak pernah melakukan semua itu dengan alasan apapun, apalagi demi alasan Ibunya, seseorang paling mulia di hidupnya.
“Ibu hanya ingin kamu dan Rani selalu berada di jalan yang lurus, jalan yang selalu berusaha ibu tempuh, jalan yang Ibu ingin capai ujungnya,.“ Ibu terdiam sesaat, menatap wajah Haikal yang terlihat menyesal sekarang.
“...dan itu bukan jalan yang kamu tempuh sekarang Haikal...“ Tiba-tiba sang ibu berdiri dan mulai berjalan meninggalkannya. Haikal kaget, dia berusaha berlari mengejar ibunya. Tapi, semakin cepat dia berlari, sang Ibu malah semakin jauh meninggalkannya.
“Maafkan Haikal bu....maafkan..“ Haikal kemudian hanya bisa terduduk lesu menatap kepergian Ibunya.
*****
“Abang...“ lirih Rani ketika kembali dilihatnya sang kakak mengalirkan air mata. Rani benar-benar tak tega melihat keadaan abangnya sekarang, semua tubuhnya luka-luka. Rani masih tak dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Abangnya, yang dia tahu Abangnya hanya pergi bekerja. Tapi... tapi kemudian seorang polisi menghubunginya dan mengatakan bahwa abangnya ada di rumah sakit.
Perlahan Haikal membuka matanya, dilihatnya Rani sedang menangis sambil menatapnya. Seketika itu juga tiba-tiba seluruh anggota tubuhnya terasa sakit. Tapi dia tak perduli, hanya satu yang dia pikirkan sekarang.
“Ibu..“ lirih Haikal. Rani mendekatkan dirinya kepada Haikal dan kemudian menggenggam tangannya. Ada rasa yang ingin tumpah seketika itu juga ketika Haikal menyebutkan kata itu.
“Ibu dimana Ran?“ tanya Haikal lagi, tiba-tiba dia merasa suatu hal buruk telah terjadi pada ibunya. Bukankah dia tadi bermimpi baru saja ditinggal Ibunya, akankah itu tandanya.....
“Rani... Ibu dimana???“ Haikal mulai panik karena Rani tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Ibu, ibu sudah pergi bang.“ Lirih Rani lemah. Tak sanggup rasanya bila dia harus berbohong menutupi semua yang terjadi, abangnya pasti akan lebih sedih lagi nanti. Seketika itu juga Haikal tak dapat menahan kesedihannya. Air matanya mengalir deras di kedua pipinya, ingin sekali rasanya dia tak percaya pada ucapan Rani. Tapi… Rani tak mungkin berbohong untuk hal ini. Haikal sendiri melihat bagaimana Rani berusaha tegar, bagaimana Rani menggigit bibirnya sebelum mengatakan itu, dan sekarang Haikal sendiri bisa merasakan Rani juga terpukul ketika serta merta Rani memeluknya dan kemudian terisak dalam pelukannya. Mereka hanya bisa menangis sekarang, menangisi kepergian orang yang paling mereka cintai. …..Ibu……
*****
Matahari bersinar cerah dan hangat hari ini, udara pun terasa lebih segar dari biasanya. Haikal berhenti sejenak, dihirupnya udara dan dirasakannya hangatnya mentari hari ini. Dia kemudian melanjutkan langkah kakinya melewati sebuah pintu yang menjadi batas terakhirnya sekarang. Di balik pintu itu, seorang gadis manis tengah tersenyum menatapnya. Hari ini adalah hari kebebasannya, dan hari ini jugalah yang menandai terbayar sudah semua kesalahan yang pernah dia lakukan dulu.
Haikal menghampiri Rani dan kemudian memeluk adik perempuan satu-satunya itu. Satu-satunya keluarga yang dia miliki sekarang.
“Abang gendutan yah..“ komentar Rani ketika Haikal melepaskan pelukannya. Haikal kemudian mencoba meneliti bentuk badannya sendiri. Benarkah dia bertambah gendut?
“Kelihatannya.... ini pipinya tambah cubby..!“ Lanjut Rani sambil mencubit pipi Haikal. Haikal mengerti sekarang, sang adik hanya sedang menggodanya, segera dikejarnya Rani yang mulai berlari riang. Sudah tiga tahun dia tak dapat bercanda dengan adiknya itu. Semuanya karena dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Perbuatannya yang berupa sebuah kesalahan fatal karena dia sudah menjadi kurir narkoba…
*****
Haikal duduk di sebelah sebuah pusara, ditatapnya pusara itu sendu. Ini adalah tempat peristirahatan terakhir Ibunya.
Ibu…. Maafkan Haikal. Maafkan Haikal atas segala perbuatan yang telah Haikal lakukan. Haikal sudah menebus semuanya, bu. Hari ini, Haikal sudah bebas. Haikal sudah selesai menjalani hukuman atas kesalahan Haikal. Haikal harap ibu juga sudah memafkan Haikal..
Maaf telah membuat ibu kecewa.
Mulai saat ini Haikal akan selalu berusaha untuk berjalan di jalan yang lurus itu bu, jalan yang selalu ibu tunjukkan kepada Haikal… jalan yang selalu ibu tempuh, agar kelak Haikal dapat mencapai ujung jalan yang sama dengan ibu nantinya…
Maafkan Haikal, bu… semoga Ibu bahagia di ujung jalan yang indah itu….. syurganya.
Haikal menghapus air matanya, ditatapnya kembali pusara itu. Semuanya telah berakhir…. Semoga ini adalah awal baru yang lebih indah. Haikal memejamkan matanya sesaat, mencoba merasakan sesuatu yang beda, mencoba merasakan kehadiran Ibunya di sana.
Seukir senyuman tiba-tiba hadir ketika Haikal memejamkan matanya.
“Ibu sudah memaafkanmu, Haikal…”
________The end________
Yuliana Indriani, 2010
Langganan:
Postingan (Atom)